
“Kenapa kau di sini?” Aria yang telah memerintahkan supirnya untuk berhenti, saat itu keluar dari dalam mobil ketika ia melihat Arkas berdiri di pintu gerbang gedung perusahaan milik keluarga Suan.
“Benar, ternyata kau di sini.” Wajah Arkas yang tadinya tenang berubah menjadi kesal. Dia yang berdiri, bersandar pada dinding pos penjaga saat itu mulai mendekati Aria yang telah memerintahkan Supirnya untuk menjauhi mobil dari mereka.
“Bukankah sebaiknya kita masuk ke dalam saja, aku tahu cafe terkenal di tempat ini?”
“Tidak usah, di sini saja.” Tolak Arkas cepat, laki-laki itu kini mulai bergerak mendekati Aria. “kau..”
“Hm,” Aria menganggukan kepala cepat menyela kalimat yang akan dilontarkan oleh Arkas. “Aku yang melakukannya, Aku juga yang menggagalkannya, terserah padamu menilaiku bagaimana, benci sekalipun aku tidak peduli.” Lalu menjawab pertanyaan Arkas yang belum terlontarkan.
Di pinggir jalan raya, di depan gerbang masuk gedung yang menjulang tinggi ke atas langit, di keramaian hiruk pikuk kendaraan yang berlalu lalang, mereka berdua beradu pandangan.
“Kenapa?”
“Aku hanya ingin kau bahagia?, bukankah hanya Renalah satu-satunya harapanmu untuk tetap bertahan hidup dan aku yang menyukaimu telah membantumu untuk mendapatkannya, jadi terima ataupun tidak, itu urusanmu.” Aria enggan lagi berbicara pada Arkas, ia mulai melangkah menuju mobilnya yang telah terparkir di tempat yang lebih baik.
“berhentilah mengatakan kau mencintaiku ataupun menyukaiku!” suara perintah Arkas menghentikan langkah Aria dan membuat wanita itu berbalik kembali namun kini ia terlihat berdiri di pertengahan jalan masuk ke pintu gerbang.
“Huh,” Aria menghela nafas, ia terlihat lelah untuk berkaitan dengan laki-laki di hadapannya. Pikirnya, jika saja ia tidak memiliki perasaan aneh itu, pasti, dia tidak akan mau turun dari mobil dan membuang-buang waktu untuk berbicara dengan laki-laki di hadapannya tersebut, “maka jadikanlah aku temanmu, aku hanya ingin dekat denganmu saja, kenapa sulit sekali bagimu untuk menerimaku?
Aria melontarkan permintaannya lalu bergeser maju mendekati Arkas kembali ketika sebuah mobil meluncur keluar dari dalam pintu gerbang bangunan.
“Kau tahu aku adalah seorang laki-laki bukan?”
Arkas menunduk sejenak, lalu menghadapkan tubuhnya ke arah pepohonan di pinggiran jalan.
“Pertanyaan konyol..”
“Kau adalah wanita, dan juga sangat kaya. Kau tahu?, aku mengenal sekali sifat sebagian orang kaya. Mustahil bagi orang seperti itu akan berteman baik dengan orang sepertiku jika tanpa ada tujuan tertentu, dan aku pernah merasakannya.”
“Jadi kau pernah kaya lalu memiliki sifat sedemikian rupa dan sekarang malah menyalahkanku, kau kira semua orang kaya sama sepertimu.” Sambut cepat Aria, merasa sedikit tidak terima dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Arkas.
“Karena itu aku berjaga-jaga agar tidak menderita lagi, aku ingin tetap berada di Zonaku sendiri, aku tidak ingin berteman denganmu, aku juga takut jika perasaan gila itu tiba-tiba muncul kembali lalu aku akan mencintaimu, kemudian hidupku semakin menderita.” Arkas segera berbalik, ia menghadapkan diri ke arah Aria kembali dan tersenyum kecut setelah lega melontarkan pemikirannya selama ini kepada Aria.
“Ahhh, Logika semacam itu..”
“Jika aku diberi kesempatan kembali ke masa lalu, aku lebih memilih untuk tidak mengenal apa yang disebut dengan cinta,” Arkas menghela, ia memandang ke atas langit dan mengantungi kedua tangan, lalu tersenyum dan memandang ke arah Aria kembali. “Berhentilah mengganggu Rena lagi, Aria. Aku sungguh tidak bahagia dengan apa yang telah kau lakukan itu.” Kemudian mengutarakan permintaannya.
“Apa kau bodoh?, dia sudah ada di genggamanmu tapi kau malah mau melepaskannya, konyol. Aku katakan padamu, aku hanya ingin kau bahagia memilikinya...”
“Ketika kau merasakan perasaan penolakan cinta, kau tidak memiliki pilihan lain selain bertahan. Hidupmu berada pada titik serba salah. Kau akan kesakitan ketika melihat orang yang kau cintai bahagia dengan orang lain, dan jauh lebih kesakitan lagi ketika kau melihat orang yang kau cintai itu menderita.” Arkas tertegun, matanya terlihat memerah ketika memandang wajah Aria yang terlihat terkejut, “Kau,” dia menggertakan gigi-giginya sejenak, “pernahkah kau merasakan sakit yang begitu menyiksa ketika melihat orang yang kau cintai menderita?, jika kau tidak pernah, maka tolonglah, berhenti mengganggu hidup kami karena kau tidak akan pernah mengerti bagaimana perasaan kami. Aku yakin saat ini kau hanya terobsesi dengan cinta dan tidak pernah memahaminya sedikitpun.” Arkas berlalu setelah puas melontarkan semua isi hatinya kepada Aria yang terlihat tercengang dengan ucapannya.
Dipikir kembali, ia mengulang semua ingatan yang tersimpan di dalam otaknya lalu berkata : “Benarkah aku mencintai Suan?” gumam Aria mulai menangisi perbuatannya di masa lalu sembari melangkah tertatih ketika mobil yang dikemudi supirnya datang menghampiri.
************
“Ha?” Suan tersenyum kecut, ia melepaskan headset yang ia kenakan lalu berdiri sebelum menghentikan rapat pagi itu kemudian melangkah pergi dengan cepat.
“Suan!” meninggalkan temannya dan juga para peserta rapat yang sangat kebingungan melihat tingkah aneh pimpinan mereka tersebut.
Terus melangkah, “jadi kau tidak pernah mencintaiku?” lalu bergumam geram hingga sampai ke ruangannya kemudian menghempaskan tubuh di atas sofa serta meletakan salah satu tangan di atas mata yang tertutup dan meletakan yang lainnya di atas perut atletisnya. “Lalu bagaimana dengan usahamu selama ini?” lanjutnya bergumam lalu mengingat masa lalu, teramat geram.
**********
“Aria, you know it dangers?”
“Didn’t you hear me?, get out.” Aria mengeratkan genggaman sebuah vas bunga di tangan.
Di ruang kelasnya, semua teman-teman wanita itu terlihat tegang ketika mendengar pertengkaran antara wanita itu dengan Suan, hingga wanita itu meraih vas bunga dan bergerak kembali ke arah Suan yang terlihat berdiri, memandangnya penuh kekesalan.
“Aria, please.!”
“Won’t you out?”teriak Aria keras kepada salah seorang teman sekolahnya, semakin mengejutkan seisi kelas hari itu.
“Berhentilah Aria!, aku sudah lelah dengan semua tingkahmu.” Suan menggenggam erat kedua tangannya, menahan diri untuk tidak memukul wajah Aria yang tiba-tiba muncul dan memakinya penuh dengan emosi.
“Aku bilang jangan pergi kenapa kau pergi? , wanita itu, kenapa kau bersamanya?” bentak Aria marah, masih melontarkan pertanyaan akan kecemburuannya.
“Let’s go, it’s not okay to be here.” Suara seorang teman Aria terdengar mengajak teman-temannya yang lain untuk keluar kelas hari itu, meninggalkan kedua orang yang masih bertengkar di sana.
“Bukankah aku sudah bilang, aku hanya menyelamat..”
“Lalu kenapa kau harus menggendongnya?,” balas bentak Aria mengingat perilaku Suan kepada salah seorang murid di sekolah mereka.
“Aria, dia terluka...”
“Kau kira aku percaya padamu, kau pikir aku akan percaya.”
Tarrrr....
“Aria, no!, Suan, Everybody help..”
“Kau puas?” Suan geram, ia berlalu pergi meninggalkan Aria yang masih berdiri marah setelah memukulkan Vas bunga keramik ke kepala Suan hingga terluka dan berdarah.
**********
“Suan, aku ingin caviar.”
“Aria, kau tidak lihat aku sedang belajar, kenapa kau tidak pergi sendiri saja?” Suan yang duduk di dalam kursi perpustakaannya sembari memegang buku, dibuat gerah dengan permintaan Aria sedari tadi yang mengganggunya.
“Aku tidak ingin sendiri, aku hanya ingin bersamamu.”
“Aria berpikirlah, besok ujian akan di mulai...”
“Aku bilang saja pada ayahmu..” Bakkkkk...
Suan membanting buku yang ia pegang, ia terlihat begitu geram namun tetap ia tahan.
Laki-laki yang sedang emosi itu mulai melangkah mengikuti keinginan Aria dan meninggalkan buku-bukunya begitu saja.
*********
“Bibi, kenapa Paman memukul Suan?” tanya Aria yang baru saja sampai di rumah laki-laki itu.
“Mereka hanya berlatih karate saja.” Ibu Suan menggiring Aria untuk tidak masuk ke dalam ruangan keluarga saat itu,
“Bagaimana aku bisa belajar jika kau terus memaksaku untuk menuruti perintah Aria?” Bakkkkk..
“Bibi!” teriakan Suan terdengar bersamaan dengan suara pukulan tangan, hal itu sontak membuat Aria berhenti dan menoleh ke arah sumber suara.
“Kau pikir mudah mencari uang Haaa?, kau hanya belajar dan menuruti permintaan Aria lalu ibumu bisa hidup mewah di rumahku dan tidak perlu hidup di jalanan, kau pikir, siapa kau berani melawanku, .. kau dan ibumu, haruskah aku meletakan kalian kembali ke panti asuhan?” maki ayah Suan keras.
“Bibi, apa yang paman katakan itu?”
Aria yang tersentak, mulai melangkah kaki untuk menghampiri.
“Aria, tinggalkan saja mereka, kau tidak ingin melihat hadiah yang dibelikan Suan untukmu ya?”
Ibu Suan memaksa Aria menjauhi tempat tersebut.
“Bukankah aku ini darah dagingmu?”
Suara Suan terdengar lirih, mungkin laki-laki itu sedang kesakitan saat itu.
“Maka karena kau adalah darah dagingku, aku tetap membiarkan wanita malam seperti ibumu tinggal di rumahku.”
Aria berbalik, ia melepaskan pelukan tangan ibu Suan yang telah berhenti melangkah dan menahan rasa sakit di dalam hati atas penghinaan suaminya.
“Paman, apa yang kau lakukan?”
“Aria kau datang?”
**********
“Hiks hikss, “ Aria terus menangis.
“Aria, ada apa denganmu?” bahkan mengabaikan panggilan ibunya yang terlihat khawatir melihat tangisan putrinya itu. “ada apa dengannya?”lanjut ibu Aria kepada seorang pelayan yang membukakan pintu untuk wanita itu tadinya.
“Saya tidak tahu, nyonya”
“Doni!” ibu Aria yang khawatir bergegas menemui Supir Aria untuk menanyakan perihal tentang putrinya saat itu.
Sementara itu, Aria terus berjalan mendekati pintu kamarnya dan membuka benda tersebut lalu masuk.
Setelah menutup pintu, ia duduk bersandar di sana dan menangis mengingat semua ingatannya terhadap Suan selama ini.
Dia merasa bersalah, dia baru sadar ternyata dia memang pantas dibenci oleh laki-laki tersebut jika saja ia tidak mengingat perkataan yang dilontarkan oleh Arkas, tadinya.
Rasanya sakit, hatinya mulai menyadari penderitaan Suan selama ini dan dia mulai membenci dirinya sendiri yang telah membuat Suan hidup tersiksa.
“Suan, maafkan aku, maafkan aku hiks Suan."