
“Ehmm.”
Dia menggelengkan kepala berkali-kali untuk menyadarkan dirinya dari khayalan semu dan hasrat membara.
Sesekali ia memandang Suan yang tampak fokus memperhatikan beberapa lembaran kertas di tangan. Setelahnya, Suan meraih lembaran kertas lain dan kadang-kadang menandai tulisan dengan lingkaran pena.
Sesekali Aria juga mengkhayalkan tentang Suan lalu menelan salivanya.
Aria sungguh, mampu dibuat tergila-gila hingga ingin sekali dirinya mencium bibir Suan yang tipis namun sedikit memanjang.
“Ehmm,” dia berdehem kembali lalu menutup wajah dan memukulnya pelan.
Dirinya yang telah diizinkan Suan untuk datang kembali ke perusahaan itu, terlihat sedang duduk salah tingkah di samping Suan.
Dia ingin sekali tidur karena matanya mulai mengantuk, namun dia tidak ingin menjauh dari Suan.
Dia tidak bisa mengendalikan hatinya walaubagaimanapun kerasnya ia berusaha.
“Kau kenapa?” tanya Suan sedikit melirik ke arah Aria dan melihat sikap aneh wanita di sampingnya tersebut.
“Hm,” Aria menggelengkan kepala, “ Suan aku ingin...”
“Hm, tidurlah!, aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku.” Sela cepat Suan, menyadari kalimat yang akan dilontarkan Aria.
“Suan, aku masih ingin bersamamu.” Aria menunduk lalu menggeser kursi yang ia duduki mendekati kursi Suan.
Melihat tingkah Aria, Suan yang tadinya masih membaca lembaran laporan penting sontak menghentikan bacaannya lalu meraih ponsel dan menghubungi seseorang.
“datanglah!, aku membutuhkan bantuanmu.” Ucapnya ketika panggilan telah diterima oleh pengguna nomor yang ia hubungi lalu memutuskan panggilan.
“Kau memanggil siapa?” tanya Aria merasa sedikit kesal karena dirinya mengira bahwa saat itu, dia telah mengganggu pekerjaan Suan, lalu mulai menggeser kursinya menjauh kembali.
“Kau memanggilku? Huaaaa..” Elbram masuk sembari menguap menahan rasa kantuk malam itu, ia yang tadinya masih bekerja di ruangannya, saat itu terpaksa datang memenuhi panggilan.
“Bantu aku memindahkan sofa!”
“Memindahkan?”
“Memindahkan?”
Sontak kedua orang yang berada di ruangan tersebut terkejut dengan ucapan Suan saat itu, mereka bahkan sampai mengucapkan kata yang sama.
“Bukankah kau ingin tidur?, aku akan memindahkan sofa itu ke dekatku, jadi kau bisa tetap tidur di sampingku.” Jelas Suan mulai berdiri dan melipat lengan kemeja panjang berwarna merah maron yang ia kenakan saat itu.
“Benarkah?” gumam Aria pelan sembari menundukan kepala dan tersenyum begitu senang dengan sikap Suan malam itu.
“Kau yang di depan!”
“Kenapa harus aku yang kesusahan?” keluh Elbram karena diperintahkan untuk berjalan mundur membawa sofa berseater tiga tersebut sembari melirik ke arah Aria yang tampak tersenyum puas, mengejeknya.
“Apa yang kalian lakukan?” Harry yang baru saja datang, merasa aneh melihat perilaku kedua laki-laki lain di dalam ruangan tersebut.
“Bukan urusanmu!” Suan yang masih berdiri dan sedang bersiap-siap untuk mengangkat sofa, menjawab pertanyaan Harry dengan nada ketus, “pergilah!” lanjut Suan, mengusir laki-laki yang tidak ia senangi tersebut.
“Kenapa kau melakukannya, Suan?, mungkinkah semua ini karena kejadian 12 tahun yang lalu?”
Baakkk...
“Suan, apa yang kau lakukan?” tanya Aria terkejut ketika Suan memukul Harry tiba-tiba hingga wanita itu sontak berdiri namun tetap berada di tempat dan melihat Harry membersihkan luka di mulutnya.
“Hem, aku hanya ingin melakukannya, itu saja.”Jawab Suan sembari memandang tajam, menghadap ke arah Harry yang tampak tersenyum pahit membalas tatapan laki-laki tersebut, “Keluarlah Aria!” lalu memerintahkan Aria dan mengisyaratkan kepada Elbram untuk membawa wanita itu keluar dari ruangannya.
“Huh,” Harry menoleh ke belakang sejenak, melihat Aria yang telah keluar dari ruangan tersebut mengikuti langkah Elbram. “Semakin lama, sifat kalian berdua terlihat semakin mirip.” Ucap Harry yang kini telah melangkah lalu duduk di atas sofa.
“Hm,” Suan tersenyum kecut lalu melangkah dan duduk di kursi yang tadinya digunakan oleh Aria, “tentu saja, karena kami berdua dididik oleh orang yang sama, Orion Anderston.” Ucap laki-laki yang telah melipat kaki dan meletakan kedua tangan di atas lutut kakinya.
“Benar,” Harry tersenyum pahit lalu menundukan kepala sejenak kemudian membalas tatapan tajam Suan, “Kenapa kau melakukannya?” lalu menanyakan pertanyaan yang tadi ia lontarkan kembali dengan mata sedih.
“Bisnis ini hutan bro,” Suan mulai berdiri lalu memunggungi Harry dan menghadap ke luar gedung melalui kaca jendela, “karena kau lemah maka dari itu kau kalah.” Lanjut Suan sembari mengantungi kedua tangannya begitu santai, lalu tatapan tajamnya bertambah tajam, sepertinya ia sedang mengingat masa lalu.
“Aku akan membantumu, sebenarnya apa tujuanmu menguasai perusahaan ini?, Aria juga begitu, dia sangat aneh karena tiba-tiba datang dan mencari-cari orang biasa yang aku sendiri tidak pernah mengenal laki-laki itu sebelumnya..”
“Arkas.”
“Arkas?” tanya Harry tidak mengerti, ia memandang punggung Suan yang masih berdiri dengan rasa penasaran.
“Dia mencintai laki-laki itu dan aku ingin kau menyingkirkannya!” perintah Suan mengejutkan Harry yang langsung melebarkan mata dan sedikit membuka mulutnya.
“Lalu kenapa tidak kau sendiri saja yang menyingkirnya?” rasa penasaran di dalam hati Harry semakin bertambah, laki-laki tersebut bahkan mulai melangkah mendekati Suan dan bersandar di meja kerja temannya tersebut sembari mengantungi celana dan menoleh kepala ke arah Suan.
“Aria melindunginya, dia akan menuruti semua perintahku asalkan aku tidak menyingkirkan Arkas, bukankah tadi siang, kau juga melihat sendiri tingkah aneh Aria?, dia bahkan rela berlutut demi laki-laki itu.” Gertakan gigi-gigi geram Suan mulai terdengar, Harry bahkan mulai menyadari bahwa saat itu temannya sedang sangat marah.
“Jadi bagaimana mungkin aku bisa menyingkirkannya?, kau sendiri sangat mengenal Aria, bukan?, sedikit saja aku mengganggu, kau pasti tahu apa yang akan terjadi pada perusahaanku dan bahkan keluargaku juga akan terkena akibatnya.” Harry menunduk, ia sedikit merasa menyesal karena tidak dapat membantu Suan saat itu.
Sejujurnya, laki-laki tersebut benar-benar menganggap Suan sebagai temannya dan sangat ingin membantunya. Ia juga sangat menyesal karena di masa lalu dirinya pernah menyatakan perasaan pada Aria meskipun ia mengetahui bahwa Aria tidak mungkin memiliki perasaan untuknya.
“Aku melihatnya, laki-laki itu benar-benar tidak menyukai Aria sedikitpun, bahkan si brengsek itu berani mendorong Aria sampai jatuh ke dalam parit. Saat ini aku benar-benar ingin memukul wajahnya.”
Suan yang tadinya berdiri kini telah berbalik dan melangkah ke kursinya lalu menghempaskan tubuh di sana.
“Jadi maksudmu Aria yang mengejar cintanya?” tanya kaget Harry, laki-laki itu bahkan dengan cepat meraih kursi kosong lain dan duduk menghadap ke arah Suan yang tampak memejamkan mata.
“Hm,” Jawab Suan sembari tersenyum kecut, masih dengan menutup mata.
“Wah wanita itu, kenapa dia selalu menerima penolakan dari laki-laki yang dia suka?”
“Siapa yang menolaknya?” mata Suan sontak terbuka, ia bahkan sampai melirik tajam ke arah temannya tersebut dan bertanya dengan nada dingin.
“Bukankah kau selalu menolak cintanya?”
“Hm konyol, kapan aku menolak cintanya?” Suan mulai menegakan tubuh lalu menyadarkan kedua siku di atas meja dan menyingkap poni rambut ke atas dengan kedua telapak tangannya, “aku hanya pernah mengatakan tidak ingin menikah dengannya, itu juga karena aku sangat kesal padanya.”
“Benar, hm, padahal aku sangat berharap dia akan datang dan memberikan ucapan selamat padaku, konyol sekali. Aku pikir aku mengerjakan hal sia-sia hari itu,” Suan mulai meraih penanya kembali, dia terlihat berusaha untuk melupakan masa lalunya, “sudahlah lupakan!, Sekarang aku hanya ingin kau mengawasi mereka saja.” Lalu memberikan perintah kepada temannya tersebut.
“Baiklah, aku mengerti maksudmu.”
************
Aria terus mengikuti langkah Elbram,
Dia juga terus mengajukan pertanyaan yang sama, “sebenarnya apa yang terjadi pada 12 tahun yang lalu?”
Namun Elbram hanya menjawab hal yang sama berulang kali, “Sudah kubilang, Aku tidak tahu, Aria, “ laki-laki itu benar-benar takut jika ia salah berbicara dan akan membuat Suan marah. “Kenapa kau terus menanyakan hal itu saja?” lanjut Elbram yang mulai memasuki pantry kantor, berniat untuk membuat kopi.
“Sebenarnya apa yang terjadi...”
“Husshh Diam!” ucap Elbram yang telah berbalik dan menatap wajah Aria. Aria yang sangat penasaran mulai memandang tajam ke arah Elbram.
“Katakan!”
“Aku tidak tahu, astaga.” Elbram mulai kebingungan untuk mengatasi Aria, dia bahkan sampai berjongkok lalu menundukan dan memegangi kepalanya, “Aku mohon, mengerti...” Laki-laki yang telah menengadah sontak terkejut ketika tidak menemukan Aria lagi di sana, “Aria, Woii, Aria..” panggilnya mulai panik dan mencari-cari keberadaan wanita yang saat itu sedang berlarian kecil menuju ke pintu lift untuk mengejar seseorang.
**********
Tiiiittt..
Pintu Lift terbuka, Aria kini telah berada di lantai bawah yang sepi dan hanya diisi oleh dua orang penjaga keamanan.
Lampu di lantai tersebut mati, hanya cahaya dari lampu bangunan luar dan tiang-tiang lampu jalananlah yang menerangi melalui dinding kaca di sana, hingga Aria mampu melihat pintu utama yang terbuka.
Ia terus berjalan melewati dua orang penjaga keamanan yang duduk di kursi samping pintu utama dan menyapa wanita itu dengan sopan namun diabaikannya.
Terus berjalan keluar bangunan lalu menghentikan langkah,
Paaaakkkkk..
Suara tamparan keras terdengar, “kau sengaja pulang terlambat, bukan?” teriakan seorang wanita terdengar dihiruk pikuk malam kota yang masih lumayan ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang di jalanan kota.
“Hari ini aku memang sedang lembur.” Suara laki-laki yang dikenali Aria juga ikut terdengar, dia adalah Arkas yang tadinya Aria ikuti ketika laki-laki tersebut keluar gedung perusahaan. “ Aku akan memberimu uang, jadi tenanglah, hari ini aku sengaja lembur agar bisa mendapatkan uang tambahan.” Lanjut Arkas menjelaskan sembari memberikan dua lembaran kertas uang lima puluh ribu rupiah.
“huh, ini semua karenamu, kalau bukan karena kau yang menyuruh wanita itu untuk menggagalkan pernikahanku dengan Pak Onsen, pasti malam ini aku bisa bahagia di klub temanku.” Wanita di depan Arkas menarik uang pemberian laki-laki tersebut lalu berjalan meninggalkannya.
Arkas yang berdiri hanya bisa diam, “huh,” dan menghela nafas lega, malam itu, ia harus kembali ke ruangannya untuk mengerjakan tugas dari teman yang telah memberikan uang untuknya.
“Kenapa kau memberinya uang?”
Tanya Aria tiba-tiba hingga membuat Arkas melompat lalu memegangi dada.
“Kau mengejutkanku saja, brengsek.” Maki laki-laki tersebut sembari bergerak menjauhi Aria. “Menjauhlah, itu bukan urusanmu.” Ucap ketus laki-laki itu, sangat enggan untuk melihat Aria yang dia anggap sangat mengganggu.
“Kenapa kau memberinya uang?”
“Kenapa kau menanyakan itu lagi?”
“Karena kau belum menjawabnya.” Jawab Aria yang tampak mengikuti langkah kesal Arkas saat itu.
“Perlukah aku menjawabnya?” tanya Arkas yang telah menghentikan langkah diikuti oleh Aria yang juga turut menghentikan langkahnya.
“Hm,” Aria menganggukan kepala, mengiyakan pertanyaan Arkas.
“Kalau aku sudah menjawabnya maka kau harus pergi dariku, berjanjilah!” pinta Arkas yang saat itu telah berbalik dan menghadap ke arah Aria kembali.
Aria menundukan kepala sejenak, lalu mengangkatnya, “baiklah,” kemudian memberikan janji.
“Itu semua karenamu, “
“Aku tahu, tapi bukan itu yang kumaksud.” Sela cepat Aria, tidak ingin terus-menerus disalahkan saat itu. Wanita itu mulai memandang mata sedih Arkas yang dialihkan ke bawah.
“Aku harus bertanggung jawab padanya.”
Arkas mulai bercerita, ia tampak tersenyum pahit mengingat masa lalu.
“Maksudmu?” Aria yang tidak tahan lagi menunggu Arkas melanjutkan kalimat, mulai bertanya kembali.
“Aku pernah berhubungan badan dengannya waktu SMA dan menghamilinya..”
Paakkkk “Astaga kau ini..” Aria memukul kepala Arkas hingga membuat laki-laki tersebut memandang marah ke arahnya.
“Kau ingin dengar tidak?”
Bentak Arkas marah hingga membuat Aria merasa bersalah.
“Maaf, aku tidak akan memukulmu lagi,” Ucap Aria dengan senyuman terpaksa, berniat untuk menenangkan kemarahan Arkas. “ Lalu bagaimana dengan anakmu?”
“Dia menggugurkannya karena tidak ingin menikah denganku yang sudah miskin, lalu ketika orang tuanya tahu, mereka mengusirnya dari rumah dan menghapusnya dari daftar keluarga, aku tidak tahu itu karena waktu itu aku sempat mendapatkan beasiswa kuliah ke luar negeri dan dia juga tidak menghubungiku lalu setelah aku kembali, hidupnya sudah berantakan, itu semua karena aku.” Wajah Arkas terlihat begitu menyedihkan, ia bahkan sempat tersenyum pahit mengingat masa lalunya.
“Aku sudah mengatakannya, sekarang menjauhlah dariku!” Ucap Arkas yang telah berbalik lalu terkejut ketika melihat orang yang pernah memukulnya berdiri di belakang dua orang pemimpin perusahaan mereka.
“Terima kasih telah bercerita, “ ucap Aria lalu melangkah meninggalkan Arkas dan mendekati Suan yang tampak berdiri marah.
Terus mendekat lalu mengikuti langkah laki-laki tersebut memasuki gedung perusahaan kembali.
Arkas tertegun lalu menundukan kepala karena enggan melihat Elbram yang pernah memukulnya, ia masih berdiri untuk menunggu ketiga orang tersebut memasuki gedung.
“Benarkah kau Arkas?” tanya Harry yang telah mendekati Arkas hingga membuat Arkas semakin menundukan kepala.
“Benar Direktur,” jawab Arkas pada salah seorang yang menjabat sebagai Direktur biasa di perusahaan mereka. Walaubagaimanapun, Harry memang telah melepaskan jabatan Direktur Utama dan kini hanya menjabat sebagai dewan direksi biasa.
“Mulai sekarang kau bisa bekerja sebagai Asistenku, sekarang pulanglah dan besok datang tepat waktu ke ruanganku, kau paham?” Harry yang telah menyampaikan pesan, mulai melangkah meninggalkan Arkas dengan keterkejutan yang mendalam.