Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Ke atas Atap



Suara keributan di luar Apartemen mengejutkan Aria yang telah menyelesaikan mandi dan mengenakan piyama.


Suara tersebut membuat rasa penasaran Aria muncul dan ia segera melangkah keluar Apartemennya.


Baaakkk...


Berkali-kali pukulan kepalan tangan, mengenai wajah ayah Suan dan laki-laki yang hampir memasuki usia tua tersebut tidak mampu menyerang balik karena Suan memang tidak mengizinkannya untuk memukul laki-laki itu.


“Paman!” Aria yang telah membuka pintu apartemen terkejut, “ Suan, apa yang kau lakukan pada ayahmu?”


“Aria,” Ayah Suan berusaha berdiri tegak sembari memegang perutnya dan memandang Aria, “Suan mengambil hak seluruh saham keluarga Dikintama, tolong paman, Aria!”


Pinta laki-laki itu pada Aria yang masih kebingungan, karena Aria memang tidak mengerti perihal tentang perusahaan.


“Aria, kau ingin pulang, ya?, “


Ucap Suan memberikan ancaman hingga mengejutkan Ayah Suan yang tidak menyangka bahwa Aria saat itu mulai menundukan kepala.


“Aria,”


“Aku tidak tahu apapun paman,” Ucap Aria sedikit merasa bersalah hingga membuat mata ayah Aria memerah dan tatapan mata Suan semakin tampak puas.


“Suan,”


“Ah benar,” Suan menarik tangan Aria hingga wanita itu jatuh ke pelukannya, “Wanita ini, tidak akan pernah berani lagi melawanku, jadi enyahlah dari hadapanku sekarang, atau aku akan mengusirmu juga dari kediaman Dikintama.”


“Pikirkan kakek, bagaimana dengan pamanmu?”


Teriak marah Ayah Suan berusaha mendekati namun Suan telah membalikan tubuh Aria hingga ayah Suan menghentikan langkah ketika menatap wajah wanita tersebut.


“Pernahkah mereka memikirkan keadaanku sebelumnya?” Nada dingin Suan terdengar bercampur kesedihan ketika ia mengingat masa lalunya, “Enyahlah!, atau haruskah aku memerintahkan Pewaris tunggal aset kekayaan keluarga Anderston mengusirmu dari sini?”


“Aria!”


“Paman, maaf.” Ucap Aria yang berdiri membelakangi Suan dan menundukan kepala di hadapan ayah dari laki-laki yang ia cintai, “Aku mohon, pergilah dari sini, paman.” Lanjut Aria mengejutkan hati Ayah Suan yang mau tidak mau terpaksa pergi dari sana.


********


“Dia tidak mau menyentuhku, tapi dia memanfaatkanku untuk mengusir ayahnya.”


“Mungkin karena kau tidak menarik maka dari itu dia tidak ingin menyentuhmu, kasihan sekali.”


Tatapan mata Aria begitu sedih, ia memandang Rena yang tampak sedang mengganti air pel yang kotor.


“Tapi dia bilang dia mencintaiku.”


Dengan nada begitu sedih Aria mengingat kembali ucapan Suan, ia mulai melangkah ketika Rena telah keluar dari toilet sembari mendorong ember pengepel beroda menuju ke koridor yang masih kotor di dekat mereka.


“Kau tidak seharusnya percaya dengan ucapan laki-laki, kebanyakan dari mereka adalah penipu.”


Ucap Rena yang telah mengangkat kain pel, lalu meletakannya pada lubang peniris air kemudian mulai mengepel lantai bersamaan dengan Aria yang telah menghentikan langkah.


“Tapi Suan berbeda,”


“Iya, tentu saja berbeda karena dia sangat tampan.” Ucap Rena sembari menyeringai senang mengingat wajah Suan, “kalau itu aku, sekalipun ditipu olehnya, tidak masalah yang terpenting aku bisa bersama dengannya.”


“Rena,” tatapan mata Aria mulai kesal terhadap Rena yang telah menoleh kepala ke arahnya dan menghentikan gerakan mengepel lantai, “ Aku baru tahu, ternyata kau adalah pengkhianat.”


“Tentu saja aku akan mengkhianatimu kalau itu berhubungan dengan Suan, kau tahu dia sangat tampan dan cerdas, bukan?”


Dengan santainya Rena menjawab lalu melanjutkan kembali gerakan tangannya mengepel lantai.


“Benar juga, karena aku tahu kau telah berkhianat maka dari itu aku akan berjaga-jaga agar kau tidak mengambil Suan dariku.”


Ucap Aria mulai kesal lalu enggan memandang Rena kembali.


Lalu memandang punggung Aria yang telah memandang ke arah Elbram saat itu.


“Aria, Suan memanggilmu.”


Ucap Elbram memberitahukan lalu segera berlalu pergi.


“Aku akan menemui Suan dulu,”


Aria mulai melangkah meninggalkan Rena yang masih mengepel lantai dan tidak menjawab ucapan wanita tersebut.


Terus berjalan hingga memasuki lift lalu setelah sampai ke lantai yang dituju, ia keluar dari sana dan melangkah menuju ke ruangan Suan.


Langkah Aria terhenti, wanita itu mulai memandang Harry yang tampak memeluk bahu Suan dengan ceria dan juga memandang senyuman senang Suan serta tangisan kebahagiaan Elbram melalui pintu ruangan.


“Suan, kau memanggilku?” tanya Aria melanjutkan langkah memasuki ruangan kerja Suan.


“Pergilah!” dan mendengar perintah Suan pada kedua temannya yang langsung pergi dari ruangan tersebut, melewati Aria lalu menutup pintu ruangan.


Suan tersenyum lembut memandang Aria yang sedang kebingungan dengan sikap aneh laki-laki tersebut.


Dengan langkah cepat Suan berjalan mendekati Aria lalu memeluknya, “Kau ingin makan apa?” tanya Suan yang telah memeluk Aria dengan lembut dan hangat siang itu.


“Aku tidak ingin makan apapun.” Jawab Aria yang masih kebingungan, “ Suan, ada apa denganmu?” tanya Aria merasa sangat aneh dengan sikap Suan yang dia anggap tidak biasa.


“Aku telah memesankan Caviar untukmu, jadi tunggulah!”


Suan melepaskan pelukannya dari tubuh Aria lalu membawa wanita tersebut mendekati sofa, kemudian setelah Aria duduk, Suan berbaring di atas kedua paha wanita itu dan memejamkan mata.


“Benarkah?” tanya Aria yang mulai bersemangat karena ia lumayan menyukai untuk memakan telur ikan beluga yang sangat mahal.


“Hm,” jawab Suan yang masih menutup mata lalu mendapati elusan lembut dari tangan Aria yang begitu menyayanginya.


“Suan, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Aria memandang lekat wajah Suan namun ia tidak mendengar jawaban dari laki-laki tersebut, “ Suan!” panggil Aria lagi, namun tidak kunjung mendapat jawaban, “ Suan, kau sudah tidur ya?” tanya Aria bersamaan dengan Elbram yang telah datang dengan bingkisan mewah di tangan.


“Dia lebih dahulu mentraktirmu padahal aku yang bersusah payah membantunya.”


Keluh Elbram sembari meletakan bingkisan di tangannya lalu mengeluarkan sebuah mangkuk keramik mewah yang berisi beberapa potong nasi gulung rumput laut dan juga telur-telur ikan berwarna hitam di sekitar nasi tersebut ketika tutupnya telah dibuka.


“Elbram, kau ini bicara apa?” tanya Aria mulai tersenyum bahagia sembari meraih sumpit di dalam bingkisan.


“Jadi Suan belum memberitahukan padamu, ya?”


“Memberitahukan apa?” tanya Aria yang telah membuka bungkus sumpit dan mengeluarkan dua buah batang sumpit lalu mulai mengambil satu potong gulungan nasi yang bercampur telur-telur ikan beluga kemudian melahapnya.


“Aplikasi-aplikasi buatan Suan mendapatkan hak paten dari mereka ponsel ternama dunia, Ipho*e,”


“Haa?” Sumpit Aria terjatuh, wanita itu benar-benar terkejut saat itu.


“Kau pasti terkejut bukan?, Aria, Omset pendapatan perusahaan Dikintama sekarang tidak lagi hanya puluhan miliyar, omsetnya bahkan bisa melewati pendapatan perusahaan ayahmu yang hanya ratusan miliyar sebulan,” Jelas Elbram bersamaan dengan air mata Aria yang telah menetes jatuh ke bawah, “Puluhan triliun Aria, puluhan triliun, Suan akan menjadi bos besar muda di negara ini, bahkan dia sempat menerima undangan dari pemerintah.”


Lanjut jelas Elbram semakin menambah rasa sedih di dalam hati Aria yang langsung berdiri dan meletakan kepala Suan di atas sofa, “kau pasti terharu bahagia, bukan?”


Teriak Elbram dari kejauhan ketika Aria telah keluar dari sana sembari membersihkan air mata dan memasuki lift menuju ke lantai bangunan paling atas.


Terus melangkah menaiki anak tangga hingga berada di atas atap gedung perusahaan keluarga Harry.


“Ahhh hikks hikss.” Teriak Aria keras ketika tubuhnya telah bersandar di pagar pembatas atap, “ Aku kaya saja dia tidak mau denganku, apalagi kalau dia lebih kaya dari aku, hikkss hikks “ ucap Aria begitu kesakitan siang itu. “Aahhh hikss hikss, kenapa Suan harus jadi kaya?, hikss, jadi bagaimana nasibku?, Aku tidak mau dengan orang lain selain Suan, bagaimana ini?”


Aria berbalik lalu berjongkok sembari menyandarkan punggung di dinding pembatas.


Ia masih terus menangis memikirkan nasibnya yang dianggapnya malang saat itu, hingga tangisannya mulai sedikit terhenti ketika melihat Suan berdiri di depan pintu atap, memandang Aria dengan senyuman lucu.


“Apa yang kau lakukan di sini?”