
Suan membersihkan air yang tersisa di rambutnya.
Ia tidak berniat mengeringkannya dengan Hair Dryer dan memilih untuk menggunakan handuk saja.
Piyama berwarna biru telah ia kenakan.
Ia melangkah keluar kamar mandi lalu sedikit terkejut ketika menemukan Aria telah berdiri di hadapannya dengan mata memerah.
“Maaf,” ucap Aria pada Suan yang tadinya sedang kaget.
Suan yang telah mendengar ucapan Aria tersebut, mulai meletakan handuk kecil yang ia pegang ke dalam kamar mandi melalui pintu yang masih terbuka.
“Kau sudah tidak marah lagi padaku, ya?” Suan mulai mendekati Aria lalu memeluk tubuh langsing wanita yang tingginya hampir sedagu laki-laki tersebut.
“Maaf,”
“Aku memaafkanmu,” ucap cepat Suan lalu melepaskan pelukan pada tubuh Aria saat itu.
Ia meraih tangan Aria lalu membawanya mendekati kasur kemudian duduk di tepian benda tersebut sembari memangku Aria dan memeluknya dari belakang, “ Aria, sebenarnya apa yang terjadi padamu?, katakan saja padaku, kau tidak perlu takut pada apapun karena aku akan selalu melindungimu.” Ucap Suan yang tampak memandang wajah Aria dari samping.
Laki-laki itu mendekap Aria, ia memeluknya dengan lembut agar wanita di hadapannya merasa nyaman.
“Suan, aku tahu .......”
“Kau tahu apa?” tanya Suan kebingungan sembari memutar tubuh Aria dan melihat wajah wanita yang telah berdiri di hadapannya tersebut.
“...........”
“Kenapa kau berbisik, Aria?” tanya Suan semakin dibuat penasaran dengan ucapan aneh Aria saat itu.
“..........”
Aria menggertakan gigi-giginya geram namun Suan tampak berpikir keras melihat tingkah aneh Aria malam itu.
“Aria, kau ini bicara apa?” tanya Suan sangat kebingungan hingga dahinya mulai mengerut.
“Ah sudahlah, dijelaskanpun percuma, kau tidak akan pernah mengerti.” Bentak Aria mulai marah lalu berusaha keras menahan emosi dengan menundukan kepala dan melepaskan tangan Suan dari kedua lengannya.
“Tanganmu kenapa?” lalu bertanya ketika ia melihat tangan Suan terluka.
“Hem,” Suan menghela nafas berat, ia pikir sebaiknya ia mencari tahu tentang keadaan Aria saat ini dengan sendirinya, “aku memukul siapapun wanita yang mencoba mendekatiku dan terluka.” Jawab Suan berbohong sontak mengejutkan Aria hingga mata wanita tersebut memerah karena merasa tertipu.
“Kau kira aku bodoh?”
“Lalu bagaimana aku seharusnya?, aku mengatakan yang sebenarnya tetapi kau tidak percaya, lalu aku berbohong, kau juga tidak percaya.” Suan membalas tatapan mata Aria dengan tatapan mata penuh kesedihan malam itu, “Aku harus bagaimana lagi, Aria?, percayalah padaku, hanya itu yang bisa aku harapkan saat ini.” Lanjut Suan lalu menundukan kepala, mengalihkan tatapannya.
“Aku akan mengambil P3K,” Aria mulai berbalik cepat,
“Aku masih ingin dekat denganmu, “ tapi langkahnya dengan segera ditahan oleh Suan yang langsung berdiri dan memeluknya, “Aria, sebenarnya apa yang terjadi padamu?” tanya Suan sembari mempererat pelukannya untuk Aria yang tampak kebingungan memikirkan cara untuk menjelaskan keadaannya pada Suan saat itu.
********
Pagi itu, Apartemen telah ramai kembali.
Beberapa pelayan silih berganti masuk dan keluar membersihkan seluruh bagian ruangan di sana.
Jendela kaca di buka,
Cahaya Matahari pagi, menembus cepat masuk ke dalam ruangan tamu di Apartemen tersebut.
Secangkir teh hijau tampak sedang diseruput oleh Aria,
Sementara itu, Suan yang duduk di samping wanita tersebut, tampak sedang membaca koran harian untuk melihat kabar berita.
Mereka masih mengenakan piyama meskipun telah mandi di pagi hari.
Aroma natural dari shampo pada rambut keduanya menyerbak wangi hingga menenangkan indera penciuman pada masing-masing hidung mereka.
Suan melipat koran lalu meraih sepotong Sandwich dan menggigitnya.
Tiiiittt...
“Tuan, Ada yang mencari anda.” Ucap pelayan yang datang tersebut sedikit mengejutkan Suan karena tidak biasanya ia memiliki tamu dan para rekan kerjanya juga tidak banyak yang mengetahui tempat tinggal laki-laki tersebut.
Dia juga berpikir, tamu tersebut tidak mungkin berasal dari keluarga Aria ataupun keluarganya sendiri karena setelah mereka datang, mereka akan masuk begitu saja tanpa menanyakan terlebih dahulu kepada pelayan.
“Siapa?” tanya Suan tampak enggan menerima tamu pagi hari itu, tanpa menoleh ke arah pelayan di belakangnya dan hanya memfokuskan diri dengan mengunyah sandwich di mulut.
“Seorang wanita, tuan.”
“Uhukk uhukkk..” Suan tersedak, hal itu sontak membuat Aria menepuk-nepuk punggungnya.
Pikirnya saat itu, akan sangat berbahaya karena tadi malam, ia baru saja bertengkar dengan Aria yang membahas tentang perselingkuhan.
“Suan, kau baik-baik saja?”
“Katakan padanya, aku tidak ingin menerima tamu.” Ucap Suan mengejutkan Aria yang tampak mulai curiga.
“Kenapa kau tidak mau menerimanya?” pertanyaan Aria sungguh membuat Suan menjadi serba salah.
Pikirnya lagi, jika ia dekat dengan wanita, Aria akan marah, lalu ketika ia enggan bertemu dengan wanita, Aria juga akan curiga.
Hidup Suan saat itu benar-benar berada pada jalan buntu yang tidak memiliki arah pilihan manapun.
“Huh,” di pagi hari itu, Suan telah berusaha keras untuk menahan emosi, segera ia berdiri lalu mendekati pintu Apartemen untuk menemui tamu yang mencarinya.
Terus melangkah hingga wajahnya semakin dibuat resah,
“Kak, maaf menggang...”
“Pulanglah!” usir Suan merasa pusing lalu berbalik, enggan untuk melanjutkan pembicaraan.
“Kenapa kau mengusirnya?” tanya Aria yang telah berdiri di depan Suan saat itu, sementara Suan terlihat mulai kebingungan menghadapi sifat wanita di hadapannya.
“Kenapa kau datang kemari?” tanya Suan yang telah berbalik kembali, menghadap ke seorang gadis yang pernah ia beli sebelumnya.
“Aku datang hanya,..”
“Lucu sekali kalian ini, anehnya terkadang, semakin ditolong, kalian semakin tidak tahu diri dan juga tidak tahu malu.” Sindir Suan merasa gerah dengan keadaan di ruangan tersebut hari itu.
“Kau pasti datang ingin meminta pertanggung jawaban, bukan?, mungkinkah kau sedang hamil anak dari Suan?” pertanyaan yang dilontarkan Aria, benar-benar semakin membuat hati Suan resah dan gelisah.
“Aria, percayalah!, aku tidak pernah menyentuhnya bahkan menyentuh wanita manapun kecuali hanya dirimu saja.” Jelas Suan saat itu berusaha keras meyakinkan Aria.
“Tapi kau pernah bilang akan menghabiskan malam pertamamu bersamanya waktu itu dan sekarang dia pasti datang untuk meminta pertanggung jawaban."
“Benarkah kau dan aku pernah tidur bersama?” bentak Suan marah pada gadis yang langsung terkejut lalu tubuhnya mulai gemetaran. “Katakan pada ibumu bahwa aku sedikitpun tidak tertarik padamu. Sejujurnya aku malah ingin kau mati, Ahh benar, karena kau sudah mengacaukan pagiku hari ini, kenapa tidak kusiksa saja kau sampai mati agar ibumu itu tahu diri.” Lanjut Suan begitu kesal lalu melangkah mendekati gadis itu namun sayang tangannya telah ditahan oleh Aria.
“Aku, aku datang kemari hanya ingin mengucapkan terima kasih saja karena telah menyelamatkanku dari pelelangan waktu itu. Aku, haa, aku benar-benar minta maaf karena telah mengganggumu.” Ucap gadis yang sedang ketakutan itu sembari meletakan sebuah bingkisan yang berisi aneka kue ke atas lantai lalu pergi dari sana.
Suan yang kesal melepaskan tangan Aria dengan cepat lalu bergerak menendang bingkisan tersebut dengan begitu emosi, hingga kue yang berada di dalamnya, berserakan di atas koridor lantai.
“Aku ingin kau membunuhnya tapi kenapa kau malah berubah?” bentak Suan marah mengejutkan Aria yang langsung menundukan kepala, “ Aku sengaja memancing emosimu saat itu, tapi kau sedikitpun tidak bergerak menyiksanya, kau bilang mencintaiku, terus menerus kau katakan kalimat itu tapi kenapa kau malah mengikuti laki-laki brengsek itu, Sebenarnya yang selingkuh sekarang kau atau aku?” tambah Suan lagi begitu membabi buta dan mengejutkan penghuni ruangan hingga para pelayan mulai berlarian masuk ke dalam dapur untuk menghindari pertengkaran tuan mereka. “ Kau harusnya tahu dia itu siapa?, dan kau juga harusnya tahu kau itu siapa?, kau tahu aku bisa gila lama-lama memikirkan cara agar kau bisa percaya padaku, Aria.”
“Aku,”
“Ibunya,” Suan mulai memperpelan suara, “ Ibunya memohon padaku untuk menyelamatkannya ketika dia akan dijual oleh ayahnya pada rentenir, karena aku membenci ibunya yang telah kau gunakan untuk menyetujui penghancuran gedung panti asuhan kami, “ mata Suan mulai memerah mengingat masa lalu dan kenangannya bersama teman-teman masa kecilnya, “Hari itu, aku sangat ingin kau menghancurkannya dengan tanganmu sendiri karena aku tidak bisa melakukannya. Itu semua karena Kakekmu melindungi wanita tua brengsek itu.”
Ucap Suan begitu sedih hingga ia menggenggam erat kedua tangannya.
“Kakekku melindunginya tapi kenapa..”
“Kakekmu melindunginya bukan berarti dia selalu memberikan uang padanya, kakekmu hanya melindunginya dari pembalasan dendamku dan sekarang ayahmu juga turut menggantikannya maka dari itu hanya melaluimu saja, aku bisa menghancurkannya,” Jelas Suan yang tampak berusaha untuk menahan emosi pagi hari itu, lalu mulai melangkah kaki kembali ke meja makan tapi terhenti ketika Aria memeluknya dari belakang.
“Maafkan aku, aku yang salah, maafkan aku Suan!” Ucap Aria semakin mempererat pelukannya pada Suan saat itu.
“Berhentilah menangis jika kau ingin memaafkanmu!" ucap Suan yang telah berbalik lalu memeluk tubuh Aria saat itu.
Aria hanya menganggukan kepala, ia membalas pelukan Suan namun belum dapat menghentikan tangisannya.