
Suan terbaring terlentang pada sofa ruangan pribadi di perusahaan Dikintama. Ia menutup mata dengan salah satu lengan tangan dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Di dalam hatinya, ia sedang bertanya-tanya tentang keadaan Aria lalu mulai duduk ketika mendengar suara derap langkah beberapa orang tiba.
Sekretaris Suan membawa dua orang laki-laki masuk ke dalam ruangan tersebut.
Seorang dari mereka terlihat menarik sofa kecil dan mengarahkannya tepat ke hadapan Suan kemudian ia duduk, seorang lagi lebih memilih untuk duduk di sofa lain pada bagian depan samping Suan berada.
Sementara itu, Sekretaris Suan segera berlalu pergi dari sana sembari menutup pintu.
Suan mengangkat tangan, ia meraih lembaran foto dari tangan laki-laki di hadapannya yang tak lain adalah Harry.
Matanya sedikit terbelalak, ia melihat foto dirinya bersama seorang wanita berambut panjang dan berponi, menutupi dahi.
“Laudia.”
“Kau mengenalnya?”
Harry bertanya, dia cukup terkejut karena tidak menyangka bahwa Suan akan berfoto bersama wanita lain selain Aria.
Yang dia ketahui selama ini, Suan tidak pernah dekat dengan wanita lain.
“Hm,” Suan menganggukan kepala, “ketika aku bekerja di Alphabet, dia pernah memohon untuk foto bersamaku. Hari itu, aku benar-benar sangat sibuk jadi karena dia terus menghalangiku pergi, aku terpaksa menuruti permintaannya.”
Suan meletakan foto tersebut di atas meja, lalu meraih foto lain dan dia tertegun.
Wajah Suan mulai pucat, ia mulai memikirkan tentang Aria yang saat ini berada di rumah, karena ia tidak mengizinkannya ikut sebelum luka pada lutut kaki wanita itu sembuh.
“Wanita di pesta itu memberikan foto-foto itu padaku, Tahukah kau apa yang dikatakan wanita dalam foto itu pada Aria?”
“Apa?”
Tangan Suan mulai gemetaran, ia masih berfokus pada foto yang ia pegang lalu meraih foto lain dengan orang yang sama.
“ ‘ibumu adalah wanita murahan maka dari itu Suan berpaling pergi darimu dan memilihku menjadi pasangannya’, itulah yang dia katakan.”
Jawaban Harry semakin menyentakan hati Suan hingga detak jantung laki-laki itu terpacu kencang. “ Wanita di pesta itu mengatakan bahwa dia sangat membenci Aria yang telah menabrak kakaknya hingga sekarat diambang maut.”
Mata Suan memerah, berkali-kali ia tertegun hingga dadanya mulai terasa sesak.
“Bagaimana dengan kakaknya?”
“Kakaknya selamat tapi wanita itu tidak ingin memberitahukan keberadaannya.” Harry menggertakan gigi-giginya kecewa namun ia mulai memberanikan diri untuk bertanya, “kenapa kau meninggalkannya Suan?, kenapa kau selalu saja melakukan itu?, kau tahu, ketika kau pergi ke California, Aria seperti orang yang hanya bergantung padamu dan kakeknya. Dia ketakutan tidak jelas, dan tetap terus ketakutan. Bahkan ketika aku mengatakan akan melindunginya, dia tidak percaya. Malam itu jika tidak ada Arkas, aku takut Aria akan mengalami Absence Seizure seperti waktu itu kembali.”
Suan menundukan kepala, ia terlihat menyesali perbuatannya sembari terus berpikir.
“Jadi dia berhenti ketakutan karena bersama Arkas.”
“Bukan,” Arkas mulai membuka suara, “Dia berhenti ketakutan ketika melihatku baik-baik saja, aku melihatnya seperti itu.”
Laki-laki itu memandangi wajah pucat Suan. Dia mungkin memahami perasaan khawatir yang dirasakan oleh Suan dan dirinya hanya bisa menghela nafas, turut ikut merasa khawatir.
Suan meletakan foto yang ia pegang ke atas meja, “kau tahu, siapa yang menyuruh wanita itu menyiram wajah Aria dengan Alkohol?” Suan mengangkat kepala, ia memandang Harry yang mulai penasaran.
Harry menggelengkan kepala, “kenapa kau malah bertanya padaku?, tentu saja aku tida...”
“Michelle.”
“Apa?”
Harry tertegun, ia sendiri telah mendengar percakapan di pesta bahwa Aria tidak mengatakan hal buruk pada tunangannya.
“Kenapa Michelle melakukannya?”
“Pada akhirnya selama hidup, Aria hanya sendirian.” Suan menunduk, ia sungguh merasa sangat bersalah, “mungkinkah itu alasan dia menginginkanku?”
“Aku benar-benar tidak paham, Suan.”
Wajah Harry terlihat kecewa, laki-laki itu benar-benar marah atas sikap tunangannya pada Aria.
“Lihat ini!” Suan menunjukan foto seorang wanita tampak memeluk lengan seorang laki-laki dan keduanya tersenyum bahagia, “selama ini dia tahu bahwa ibunya selingkuh di belakang ayahnya tapi dia berpura-pura tidak tahu, dia mungkin juga tahu bahwa selama ini, tidak ada seorangpun yang benar-benar tulus berteman dengannya maka dari itu dia menginginkanku. Aria tahu, ayahnya sangat sibuk bekerja dan sangat jarang memiliki waktu untuknya maka dari itu dia pergi ke arah kakeknya dan percaya hanya kakeknyalah yang mampu melindunginya lalu dia berpikir bahwa kakeknya memiliki banyak penyakit maka dari itu, ia menginginkanku untuk melindunginya dari kesendirian.”
Suan kembali terbaring terlentang, ia menutup mata menahan rasa sakit di dalam hati atas kesalahannya sendiri. “Kenapa aku baru menyadari hal ini?”
“Aku tidak tahu, ternyata selama ini Michelle hanya berpura-pura baik di hadapannya.”
“Suan, kau masih membenciku?”
“Kenapa kau tidak bisa menutup mulutmu dan membiarkan aku melupakan masa lalu?” Suan geram, ia mengepalkan tangan dan sangat ingin memukul wajah Harry saat itu, terlebih lagi dengan hatinya yang begitu berkecamuk.
“Hanya saja sangat aneh jika kau masih membenciku, mungkinkah kau belum melakukan itu padanya?”
“Kau memang harus di pukul, Harry.” Suan mulai bangkit dan berdiri, ia begitu emosi pada Harry yang terlihat tetap duduk, memasrahkan diri terhadap pukulan dari Suan nantinya.
“Aria bilang dia melindungiku hanya untuk dirinya sendiri, Direktur.”
Arkas yang tidak ingin terjadi pertengkaran berusaha menahan tubuh Suan mendekati Harry, ia juga melontarkan informasi yang ia ketahui pada Suan hingga Suan mengurungkan niat untuk memukul Harry dan memandang ke wajah Arkas yang kini telah melangkah mundur, melepaskan tangan yang tadinya berusaha untuk menahan gerakan Suan mendekati Harry.
“Dia bilang begitu?”
“Benar Direktur,”
Suan kembali duduk di atas sofa, ia mulai memikirkan sesuatu yang membuat detak jantungnya semakin terpacu kencang.
“Entah mengapa setiap hari dia selalu ingin memastikan keadaanku baik-baik saja, setelahnya ia berlalu pergi dan terkadang tanpa mengatakan apapun padaku.”
Arkas juga turut ikut duduk dan kini giliran dia yang akan menjelaskan sesuatu, “Saat wanita itu datang lagi, reaksi ketakutan Aria muncul, tapi setelah aku katakan bahwa aku baik-baik saja, ketakutan Aria tiba-tiba menghilang dan dia normal kembali.”
Arkas mengingat percakapan demi percakapan yang pernah terjadi. “Ketika wanita itu mengatakan ‘kau melupakannya,’ Aria menjawab bahwa dia tidak lupa, tetapi,..”
“Tetapi apa?”
Tanya Suan dan Harry secara bersamaan.
“Tetapi ketika Aria melihat ke arahku, Dia mengatakan pada wanita itu bahwa aku baik-baik saja. Aria menganggapku seolah-olah aku adalah orang yang mereka bicarakan saat itu, padahal aku tidak mengenal wanita itu.”
Suan memijat kepalanya merasa sangat pusing. ia menunduk, menahan rasa sakit yang menusuk hati dan kekhwatiran penuh sembari menghela nafas berat berkali-kali.
“Itu artinya kau adalah dia dalam ingatan Aria.”
Harry tak kalah ikut bersedih saat itu.
“Maaf Direktur,”
“Kau adalah Wanita sekarat yang ditabrak Aria saat itu.” Harry melanjutkan kalimatnya sembari melihat ke arah Suan yang terus menundukan kepala dan tak bergeming. “begitulah Aria sekarang menganggapmu, dan dia merasa berkewajiban untuk memastikanmu baik-baik saja maka dari itu dia selalu melindungimu.”
Ruangan itu mulai sepi, semua orang tampak diam.
Karena tidak lagi mendengar Suan berbicara, Harry memutuskan untuk pergi, “Aku tidak pernah menyentuh Aria, kalau kau masih belum percaya, Kau, “ Harry tertegun, ia mengecewakan teman yang tidak pernah percaya padanya, “.. harusnya membuktikan sendiri daripada terus menyimpan rasa benci padaku.”
Harry melangkah pergi setelah melontarkan kalimat terakhirnya diikuti oleh Arkas yang sesekali memandang Suan sebelum keluar dari ruang pribadi laki-laki tersebut.
Dia kini mulai mengerti alasan Aria selalu muncul di hadapannya, dia juga mengerti alasan dirinya merasa diikuti oleh sesuatu selama ini.
Setelah kepergian mereka, Suan mulai berdiri dan berjalan dengan langkah gontai, ia mendekati meja di ujung ruangan lalu membuka laci dan mengeluarkan lembaran foto di dalamnya.
Suan meraih ponsel lalu membalik lembaran foto seorang dokter kemudian menekan nomor yang tertera di balik lembaran tersebut pada layar ponsel dan Suan menghubunginya.
“Hallo,”
“Benarkah kau orang suruhan Aria Anderston?”
Setelah panggilan terjawab, tanpa basa basi Suan langsung bertanya.
Mata laki-laki itu sayu, ia seperti tidak memiliki tenaga.
“Ini siapa?”
“Suan Dikintama.”
Suan tidak lagi mendengar jawaban dari balik ponsel yang tiba-tiba terputus.
Ia tersenyum pahit lalu mulai menghubungi Elbram.
“Suan, kau mencariku?”
“Temukan dokter itu!”
“Baiklah aku mengerti.”