
"Huh."
Helaan nafasnya terdengar sungguh sangat berat. Dia berdiri tepat di depan sebuah gedung yang menjulang tinggi. "Sekarang sudah tidak ada lagi yang tersisa." Gumamnya pelan mulai melangkah menghampiri mobil yang terparkir di dekat sebuah pohon buah cherry pendek sembari memandangi nominal angka yang tertera di dalam layar ponsel miliknya, bukti pembayaran penjualan apartemen yang telah berhasil diterima oleh wanita itu.
Dia tersenyum getir, mengingat banyaknya waktu yang telah ia habiskan di apartemen tersebut selama ini. Hatinya terasa cukup perih karena harus merelakan sesuatu yang cukup berharga baginya itu.
Tukk.. tukk... tukkk...
Dia berjalan menundukan kepala sembari menarik naik tali tas merek ternama yang ia kenakan siang hari itu, meninggalkan apartemen yang pernah menjadi bagian dari hidupnya di masa lalu.
"Aria, Wajahmu?"
Suara panggilan seseorang membuat senyuman getir menghilang, berganti menjadi senyuman kecut diiringi dengan kepala yang mulai terangkat.
"Cecil," sapa wanita itu, memandang wajah seorang wanita berambut pendek yang berdiri di hadapannya. "Tidak usah pikirkan wajahku ini." Wanita itu mengangkat tangan lalu memegangi salah satu di antara kedua pipi yang tampak terbalut perban berwarna putih sejenak.
"Aria, tapi..”
"Aku mohon Cecil, jangan bahas tentang wajahku lagi!" Pinta wanita yang telah menurunkan tangan gemetarannya karena mungkin ia sedang mengingat kembali mimpi buruknya sehari yang lalu.
"Hmmm, baiklah," jawab wanita berambut pendek itu menyetujui, "ahh Aria, bolehkah aku menginap di apartemenmu?" wanita berambut pendek itu mulai mendekati wanita di hadapannya, senyuman manis terlihat menghiasi bibir.
Wanita yang tak lain adalah Aria terlihat mengalihkan pandangan ke arah mobilnya lalu melangkah. "Aku sudah menjualnya." Dia terus berjalan diikuti wanita berambut pendek yang dipanggil Cecil tersebut.
"Me.. me..menjualnya?, kenapa kau menjual hadiah pemberian dari ayahmu itu?" Cecil terlihat sangat terkejut, ia kini telah berjalan beriiringan dengan Aria yang telah membuka pintu mobil lalu duduk di kursi pengemudi.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan lagi, Cecil segera bergerak cepat menghampiri pintu mobil bagian depan lainnya lalu duduk tepat di samping Aria.
"Aku hanya sudah bosan dengannya, tidak ada alasan lain." Jawab santai Aria mulai menyalakan kemudian mengemudi mobilnya tersebut, meninggalkan gedung yang menjulang tinggi ke atas langit di sana.
"Aria, aku dengar kau bertengkar dengan paman dan memutuskan untuk pergi dari rumah, benarkah itu?" tubuh Cecil mulai menyamping, ia memandang Aria dengan tatapan penuh kekhawatiran hari itu.
"Hm." Jawab santai Aria tanpa sedikitpun terlihat penyesalan di raut wajahnya.
"Aria, aku yakin meskipun marah, paman pasti sangat khawatir padamu, jadi ayo kita pulang ke rumahmu." Ajak Cecil sembari menggenggam tangan aria yang berada pada bagian setir mobil.
"Aku tidak mau pulang, aku tidak mau mati bunuh diri, aku masih sangat ingin hidup." Jawab Aria mulai meneteskan air mata dan tangannya masih terus bergemetaran.
"Aria, ayolah pulang." Ajak Cecil kembali, terlihat sedikit memaksa.
"Aku bilang aku tidak mau, aku takut mati Cecil." Kali ini suara Aria terdengar membentak dan dia mengalihkan pandangan ke arah sahabatnya tersebut lalu menginjak rem hingga mobilnya berhenti mendadak.
Tiiiiiiiittt....
Suara mobil di belakang mobilnya terdengar menggema karena perilaku Aria tersebut.
"Aria, kenapa kau menangis? Sebenarnya apa yang terjadi hingga kau semarah ini kepadaku?" pertanyaan Cecil membuat tangisan Aria semakin pecah.
TIiiitttt....
"Jalan woiii." Teriakan suara orang menambah kacau suasana hati Aria yang mulai melanjutkan kemudinya.
"Mati, maa... ti.." Ucap Aria sembari melihat sejenak ke arah Cecil, memberikan isyarat dengan mulutnya.
"Ma.. maa.. maksudmu? Aria, dari tadi kenapa kau tidak mempedulikan permintaanku dan hanya berbisik tak jelas lalu tiba-tiba menangis dan menghentikan mobil tiba-tiba?, sebenarnya ada apa denganmu?, cerita saja padaku." lagi, pertanyaan Cecil semakin memperparah suasana hati Aria hari itu. Suara yang tak terdengar terulang kembali, kali ini dengan kata MATI, yang dianggap sebagai bisikan sama seperti anggapan Arkas pada waktu itu.
"Aku takut mati," gumam Aria menghapus air mata karena tak satupun orang yang bisa mengetahui masalah anehnya. "Aku tidak mau mati hiks hiks hikss." Aria memarkirkan mobilnya di pinggir jalan tepat di bawah pohon, setelahnya ia terus menangis, menyembunyikan wajah di antara kedua tangan yang bersandar pada setir mobil.
"Aria, ada apa denganmu?, ceritakan sajalah padaku." Cecil terlihat cemas, ia berkali-kali mengelus punggung Aria yang membungkuk karena wajahnya yang ia sembunyikan.
***********
Mobil sedan berwarna putih perlahan-lahan mulai memasuki gerbang sebuah perumahan biasa, perumahan dengan tipe rumah sederhana, sejenis perumahan yang mungkin mendapatkan bantuan dari pemerintah dalam hal pengurangan harga.
Setelah lega menangis, Aria tetap diam dan sedikitpun tidak menjawab pertanyaan yang terus menerus diajukan Cecilia, wanita itu hanya fokus menyetir mobil karena usahanya untuk berbicara percuma saja, menurutnya.
"Aria, kenapa kau memasuki rumah ini?"
Cecilia terlihat terkejut karena baru pertama kalinya bagi wanita itu melihat perumahan sederhana setelah sekian lama selalu tinggal di Pusat Kota.
Pusat kota yang tempatnya lumayan jauh dari pinggiran kota, tempat dimana mereka tinggal selama ini.
"Aria," pertanyaannya tidak dijawab, begitupula dengan panggilannya. Ia melihat Aria seperti patung manusia yang terus bernafas dan berkedip namun tidak sedikitpun memiliki semangat untuk hidup saat itu.
"Akh.." Mobil Aria kembali berhenti mendadak dan saat itu Aria terlihat sedang kesakitan memegangi dada.
"Aria, ada apa lagi denganmu?" tanya Cecil semakin khawatir ketika melihat tingkah aneh Aria untuk yang ke sekian kalinya.
Keringat dingin terlihat bercucuran membasahi gaun yang ia kenakan, begitupula dengan air mata yang juga membasahi wajah.
"Ahh, aah,” Aria mengerang kesakitan, sesekali ia memukuli dadanya pelan.
"Aria, aku akan segera panggil kakak." Cecil yang panik mulai meraih ponsel di kantung celana, " Aria!," belum sempat wanita itu menerima panggilan dari kakaknya, Aria telah terlebih dahulu turun dan tampak berlari kencang. " Aria!”
"Cecil," tidak lagi menjawab panggilan kakaknya melalui ponsel, Cecil segera membuka pintu mobil lalu mengejar Aria yang telah berlari memasuki sebuah gang sempit di perumahan tersebut."Cecil, halo,”
"Aria," teriakan keras Cecil mengejutkan suara yang berada di balik ponsel.
"Aria?" sebut pelan suara di balik ponsel yang tampak tergenggam erat di tangan Cecil saat itu.
"Aku akan bayar, akan kubayar." Teriakan Aria terdengar dari jauh hingga Cecil menghentikan langkahnya lalu terbelalak lebar ketika melihat sahabatnya terlihat berdiri dengan kedua tangan terlentang, melindungi seorang laki-laki yang terbaring lemah di depan sebuah rumah kumuh kecil di sana.
"Aria!”
"Ahhh 3 miliar bukan?, aku lunasi sekarang tapi jangan ganggu Arkas lagi." Ucap Aria terus terdengar dari jauh lalu tubuh wanita itu menghilang ditutupi kerumunan warga perumahan yang menyaksikan kejadian tersebut.
Cecil mulai berlari kembali, berniat untuk menghentikan Aria membuang-buang uang demi laki-laki yang sebelumnya pernah ditolong oleh sahabatnya di Stadion Sepak bola.
Takkkk...
"Kembalikan!" nada keras Aria terdengar marah karena Cecil dengan sengaja meraih ponsel Aria yang akan wanita itu gunakan untuk mentransfer uang kepada para rentenir, penagih hutang Arkas.
"Kau akan membayarkan hutang laki-laki itu lagi," bentak Cecil sembari menunjuk ke arah Arkas yang terlihat terbaring miring dengan tubuh penuh luka dan bercak darah serta tanah yang menempel di kaos abu-abu laki-laki itu.
"Bukan urusanmu, kembalikan!" balas bentak Aria penuh amarah dengan mata memerah yang berapi-api sembari mengambil paksa ponsel miliknya kembali.
Sungguh, itu adalah pertama kali baginya melihat wajah marah Aria setelah sekian lama menjalin persahabatan dengan wanita itu.
"Aria," Cecil hanya bisa berdiri dengan perasaan berkecamuk di dalam hati.
"3 Miliyar," Aria memperlihatkan bukti transfer di layar ponselnya kepada tiga orang laki-laki bertubuh besar di hadapannya."Mulai sekarang, jangan ganggu Arkas lagi, kalian paham?” teriak keras Aria untuk yang kesekian kali.
"Oke," sebuah lembaran kertas yang telah dibumbui tanda tangan dan sebuah cap, tanda pelunasan hutang selesai dilunasi, terlihat disodorkan kepada Aria. Dengan segera wanita itu meraih kertas tersebut dengan tangannya yang gemetaran.
Bagaimana tidak?, dia yang baru saja menjual apartemen pemberian ayahnya terpaksa harus menghabiskan uang hasil penjualannya tersebut hanya untuk membayar hutang laki-laki yang bahkan baru ia temui.
Aria mulai berjongkok lalu memeluk tubuh sendiri, "yang penting aku tidak mati, yang penting aku tidak mati." Gumamnya dengan menahan getaran di tubuh dan juga menahan sisa rasa sakit luar biasa di dada yang kini telah berhenti.
Drtttttrr drrtttt..
Aria yang berjongkok tiba-tiba membelalak mata.
“Pesan baru,”
Kepala yang tadinya tertunduk, saat itu mulai menengadah.
Begitu terkejut, wanita itu bahkan sampai menggertakan gigi-giginya karena geram, memandang sebuah layar ponsel yang menyala. Layar ponsel itu terlihat berada di depan mata setelah laki-laki bertubuh besar di depannya berjongkok mendekati wanita itu, dan memberitahukan sesuatu.
"Ha.. ha.. Hahaahha hiks hahaha .." Air matanya menetes tetapi dia tertawa. "Sialan," maki Aria begitu marah hingga ingin sekali ia memecahkan ponsel di depan matanya. "Aku akan membuatmu hancur, pasti hancur sehancur-hancurnya." Ucap wanita itu begitu geramnya sembari menghapus air mata di pipi.
Wanita lain segera bergerak ketika melihat tubuh gemetaran sahabatnya. Secepat kilat ia meraih ponsel lalu membaca isi pesan yang ditujukan untuk Aria dengan mata yang terbelalak.
"Bukan dia yang berhutang, tapi kenapa kalian malah menagih hutang orang lain kepadanya?" teriak marah wanita lain itu, yang tak lain adalah Cecilia.
"Yang berhutang adalah ayahnya, tentu saja dia yang harus membayar hutang itu." Begitu santai laki-laki bertubuh besar itu menjawab pertanyaan lalu berdiri kemudian bergerak mendekati tubuh Arkas yang masih terbaring lemah di atas tanah.
Baaaakk, "hoi, bayar hutang ayahmu ini!" perintahnya dengan menendang betis kaki Arkas yang masih terbaring lemah di sana.
"Hentikan!"
"Kau yang harusnya berhenti Aria!" Cecil menarik tangan Aria ketika wanita itu hendak datang menghampiri Arkas.
" Lepaskan!"
"Kau sudah mengeluarkan begitu banyak uang untuknya, biarkan saja dia mati daripada harus menjadi benalu untukmu...”
Paaakkkk.. " Benalu?"
Mata Cecil terkejut, ia bahkan tertegun dengan tamparan yang mendarat di pipinya. "Ah benar," di balik tangisan hati akan takut kematian, Aria tersenyum tipis. "Iya benar, sejujurnya kaulah benalu sesungguhnya untukku."
"Aria!"
"Berapa?"Aria yang tadinya menghadap ke arah Cecil mulai membalikan tubuh ke arah laki-laki bertubuh besar di dekat Arkas. "Berapa banyak uang yang dipinjam ayahnya dari perusahaanmu?" tanya Aria mulai menenangkan diri sendiri.
" Aria, kau benar-benar keterlaluan."
"10juta dengan bunganya 50%, maka total hutang ayahnya adalah 15juta." Jawab laki-laki bertubuh besar yang telah bergerak mendekati Aria. Sepertinya ia sedang menunggu wanita itu mengirim uang kembali untuk membayar hutang yang baru saja berlangsung.
"Tunggu!" Aria bergerak cepat, memegang bahu Cecil yang hendak pergi berlalu dari sana, pergi meninggalkan kebodohan sahabat wanita itu menurut anggapannya.
"Apa lagi? Bukankah kau sudah memukul pipiku?" bentak marah Cecil, begitu emosi sampai urat di dahinya terlihat. Wanita berambut pendek itu menghempaskan tangan Aria lalu berbalik menghadap ke arah sahabatnya itu dengan gertakan gigi-gigi geram yang terbuka.
"Tentu saja aku ingin menagih hutangmu kepadaku." Jawab Aria begitu santai sembari mengangkat ponsel.
OKE, AKAN KUBAYAR HUTANGKU SECEPAT MUNGKIN, TAS ITU PASTI AKAN KUDAPATKAN HARI INI JUGA.
Lalu memutar rekaman di dalam ponselnya dan memperdengarkan bukti kepada Cecil di sana.
"Aria!" semakin dibuat geram, Cecil bahkan sampai menggenggam ponsel yang sepertinya masih dalam panggilan di salah satu tangannya.
"Hm, bayar hutangmu?, bukankah sudah lebih setahun lamanya hutangmu ini belum juga kau bayar kepadaku, belum lagi hutang yang lain, lalu sepertinya aku juga ingin semua barang-barang pemberianku kepadamu segera kau kembalikan, Ah benar, aku sedikitpun tidak lagi berniat untuk mengejar kakakmu, jadi," Aria menghapus sisa air mata di pipi dengan punggung telapak tangannya. "... Kau tidak perlu lagi bermuka dua dan berpura-pura menjadi temanku, kau juga tidak perlu lagi menolongku untuk mendekati kakak tersayangmu itu." Lalu melanjutkan kalimat dengan begitu santai hingga kemarahan Cecil semakin bertambah.
"Berapa?" Baaaakkkkk...
Suara seseorang terdengar bersamaan dengan suara keras bantingan pintu mobil. Semua warga yang berkerumun perlahan-lahan menyingkir, memberikan jalan untuk seorang laki-laki mendekati pusat perhatian di sana. "Berapa banyak hutang dan seluruh pemberianmu untuk Cecil?"
"Kakak!" Cecil mulai menangis, " Hiks..kakak!" panggilnya yang telah membalikan tubuh, memandang ke arah laki-laki yang datang dari belakangnya.
"Sekarang kau mengenalnya,bukan? Padahal aku telah berkali-kali melarangmu untuk mendekati wanita ini."
Ucap Suan, laki-laki yang baru saja tiba dengan rasa kesal yang memenuhi hati.
"Oh kau datang?, Ah benar, tidak perlu berlama-lama lagi, Suruh saja adik tersayangmu itu mengembalikan jam pemberianku, lalu jam tangan, lalu jam tangan lagi, lalu sepatu, aku pikir, aku pernah memberikan tas limited edition juga kepadanya, lalu jam tangan, sepertinya adik tersayangmu itu memang sangat suka mengoleksi jam tangan lalu hutangnya..."
"Katakan saja total uang yang harus Cecil ganti!, bukankah nantinya kau juga akan menjual barang-barang pemberianmu untuk membayar hutang laki-laki itu?"
"Kakak!" Cecil memandang kemarahan Suan untuk yang kesekian kali, dan kali ini, ia tidak lagi berniat untuk memihak ke arah Aria seperti saat-saat sebelumnya.
"Bagaimana kalau 75juta?, aku sudah mengurangi harga semua.."
Drrrrtttttt..
Ponsel Aria bergetar, mata wanita itu sontak terbelalak.
Begitu cepatnya uang telah masuk ke dalam rekening miliknya.
Masih memandang tidak percaya, Wanita itu bahkan sampai harus berusaha keras mengendalikan detak jantungnya yang kencang ketika Suan datang mendekat tepat di hadapan wanita tersebut.
Detak jantung yang tidak pernah berubah, detak jantung akan perasaan cinta yang begitu dalam, perasaan cinta yang tidak pernah sedikitpun terbalaskan hingga tetesan air mata mengalir tak tertahankan.
"Kau butuh uang, bukan?, bagaimana jika kau menjual mobil kesayanganmu itu kepadaku?, aku akan membelinya dengan harga yang sama dengan harga pembelian darimu sebelumnya, hm," Suan memberikan penawaran, penawaran yang sepertinya bertujuan untuk mempermalukan Aria saat itu.
Menurutnya, Aria telah berada di bawah hingga ia sangat ingin membuat wanita itu kehilangan harga diri sebagai wanita dari kalangan kelas atas di kota mereka.
"Baiklah."
Melupakan rasa kesal dan kebencian, tujuan utama Aria adalah menolong arkas saat ini. Bahkan jawabannya sontak mengejutkan kedua teman masa kecilnya tersebut.
Pikir mereka, bagaimana mungkin seorang Aria merelakan mobil kesayangannya kepada orang lain padahal selama ini, wanita tersebut sangat berhati-hati menjaga mobil tersebut?
"Hmm, hahaha, Jadi kau sudah jatuh?, kau yang tidak pernah berharga bahkan semakin bertambah tidak berharga lagi tanpa memiliki apapun." Hina Suan begitu senang sembari memainkan jari-jari tangan lalu mengirim uang ke akun rekening milik Aria. "Kunci?" tanya Suan setelah selesai menyerahkan uang pembelian mobil Aria.
" Dia meninggalkannya di dalam mobil."
Ucap Cecil begitu puas ketika melihat raut sedih di wajah Aria saat itu, sepertinya ia sangat ingin membalas tamparan sahabatnya jika saja tidak mengingat bahwa wanita itu merupakan putri dari sahabat ayahnya.
"Pergilah! Bawa mobilnya lalu buang ke tempat sampah!" perintah tegas Suan mengejutkan Aria yang langsung membelalak mata, memandang tatapan tajam laki-laki itu.
"Tapi kak,.."
"Buang!, bekas mobil orang tak berharga lebih baik dibuang untuk menghindari virus tak berharga darinya."
Masih dengan menghina, Suan bahkan begitu senang melihat wajah marah dari Aria.
Aria menahan rasa sakit di dalam hati atas hinaan yang selalu dilontarkan Suan untuknya.
Ia menggenggam tangan, lalu tersenyum, "hm, huh, " dan menghela nafas kemudian segera berlalu meninggalkan Suan menuju ke Arkas. "Aku akan membayar hutangnya." dan berteriak tanpa mempedulikan ucapan Suan lagi hingga membuat Suan terus memandangi punggung wanita itu dengan keterkejutan yang mendalam.
"Kak!, kakak!"
"Ah,," Suan yang terkejut mulai berbalik ke arah adiknya. "Aku akan membawa mobilnya, kau bawa saja mobilku." lalu memberikan kunci mobil kepada Cecil dan mulai berjalan dengan langkah lebar menuju ke arah mobil Aria yang berada sedikit lebih jauh dari sana.
"Arkas, Arkas, tolong bantu saya!" sembari terus mendengarkan ucapan Aria yang entah mengapa tiba-tiba menyakiti hatinya.