Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Sakit



Semua mata memandang terkejut, sebagian terlihat tidak menyukai dan sebagian lagi terlihat sangat takut.


“Arkas dimana?” tanya Aria yang telah menjadi pusat perhatian dari penghuni ruang divisi tersebut.


Wanita itu terlihat berdiri di depan pintu sembari menoleh kepala ke segala penjuru arah untuk mencari keberadaan Arkas di sana.


Seorang laki-laki mulai berdiri dari meja kerjanya lalu ragu-ragu datang mendekati Aria. Dia mengingat jelas bahwa Arialah yang menyebabkan divisinya tersebut, dipermalukan oleh divisi-divisi lain di perusahaan itu.


“Jika kau mencari Arkas, pergi dan tanyakanlah pada Sekretaris Direktur Harry.” Ucap laki-laki yang telah mendekati Aria lalu melewatinya karena ia sangat enggan untuk bertatap wajah dengan wanita tersebut.


“Kenapa aku harus ke sana?” tanya Aria yang telah berbalik, memandang punggung laki-laki yang mungkin saat itu akan pergi ke Pantry kantor ataupun ke toilet.


“Arkas telah diangkat sebagai Asisten Direktur Harry.” Jawab ketus seorang wanita tanpa menoleh ke arah Aria dan hanya duduk pada kursi kerjanya.


“Hm, jadi begitu ya.” Ucap Aria merasa sedikit kecewa lalu berniat untuk mencari Arkas di ruangan Harry pada lantai lain bangunan itu.


“Hei, kau!” Panggil seseorang membuat Aria membalikan tubuhnya kembali.


“Aku?” tanya Aria sembari menunjuk ke arah dirinya sendiri dengan menggunakan jari-jari tangan lalu melihat dua orang wanita mendekatinya.


“Benar kau,” seorang mulai berdiri di depan Aria, seorang lagi memeluk bahu Aria hingga Aria sedikit terkejut dan menolehkan kepala, “mungkinkah kau selingkuhannya Direktur Suan?” bisik seorang yang memeluk bahu Aria di telinga membuat Aria sontak tersenyum tipis.


“Memangnya kenapa?” tanya santai Aria yang telah menoleh kepala ke arah wanita tersebut dan melihat senyuman cerianya.


“Wow, gila, kau Hebat sekali.” Wanita di samping Aria melepaskan pelukan di bahu, lalu menutup mulut sejenak ketika terkejut, mengagumi.


“Hebat?” tanya Aria kebingungan dengan perilaku aneh dua orang wanita di hadapannya.


“Bagaimana caramu menghancurkan hubungan Direktur Suan dan nona Anderston?” tanya seorang dari mereka mulai berbisik pelan, “tolong beritahu rahasiamu pada kami!” lanjutnya lagi semakin membuat Aria tersenyum lucu, namun sangat tipis.


“Kalian tidak pernah melihat nona Anderston ya?” tanya Aria sembari mengikuti perilaku mereka berbisik saat itu lalu tangannya tiba-tiba ditarik dan Aria dibawa ke kursi kerja mereka.


“Berita tentang Nona Anderston telah ditarik dari peredaran, kami bahkan tidak dapat melihat wajah dari situs manapun, di majalah juga tidak ada. Hanya majalah lama, itupun telah kurobek hehe.” Ucap seorang dari mereka yang telah duduk di depan Aria saat itu.


“Kenapa kalian merobeknya?” tanya Aria terlihat sedikit kecewa.


“Siapa juga yang ingin melihatnya, semua orang bilang Nona Anderston adalah wanita tercantik di kota ini, itu membuatku merasa risih lalu merobeknya dan mengambil foto Direktur Suan saja untuk kukumpulkan.” Jawab wanita tersebut sembari memperlihatkan sebuah album yang terisi penuh dengan foto-foto Suan dari majalah dan internet yang telah ia download.


“Risih?” Aria mengernyitkan dahi, ia mulai tidak menyenangi.


“Benar, Desas-desus yang kudengar, Nona Anderston adalah wanita yang sangat licik, dia bisa mendapatkan segala yang dia mau karena ayahnya sangat kaya, maka dari itu, aku senang jika Direktur Suan lebih memilihmu daripada dia.” Tambah seorang lain yang tampak berdiri di belakang Aria yang sedang duduk saat itu.


“Jadi begitu ya,”


“Kau itu sangat keren, kau bahkan berani melawan manajer Hiliyah, padahal dia terkenal sangat galak.” Puji wanita yang berdiri itu hingga membuat Aria tersenyum sedikit senang, “katakan pada kami, sejak kapan kau menjadi wanita simpanan Direktur Suan?, pasti kau bahagia sekali bisa menjadi wanita simpanan dari laki-laki penerima penghargaan perancang dan pembuat Aplikasi Antivirus terbaik dari Play St*re, iya kan?”


“Apa?” tanya Aria terkejut saat itu hingga matanya sedikit terbelalak.


“Direktur Suan sangat terkenal dikalangan para programmer, sebagian karyawan perusahaan teknologi dunia juga mengenalnya terlebih lagi karyawan di seluruh kota ini, bukan hanya wajahnya yang sangat tampan, otaknya yang cerdas dan mampu menyelesaikan sarjana tingkat tiga diusia muda juga semakin membuatku terkagum-kagum padanya, aahh aku ingin sekali menyentuh kulit wajah...”


“Kapan Suan menerima penghargaan itu?” tanya Aria menyela kalimat dari wanita di hadapannya.


“Kau tidak mengetahuinya?, ahhh kau pasti baru mengenalnya beberapa minggu ini ya?” Suara wanita itu terdengar samar-samar ketika Aria mulai memutar ulang ingatannya kembali, “3 bulan yang lalu, Direktur Suan bahkan menolak untuk bergabung di perusahaan Software terkemuka dunia dan memilih untuk menjalankan bisnis ayahnya, aku kira tadinya dia kembali karena Nona Anderston, karena setelah kembali mereka mengadakan acara pertunangan...”


“Tunggu, kepalaku sangat pusing,” Ucap Aria sembari mengangkat tangan, memegangi kepalanya yang sakit.


Wajahnya terlihat pucat, bahkan perutnya mulai terasa mual.


“Ada apa dengannya?”


“Tolong bawa ke ruang kesehatan.”


***********


Samar-samar matanya mulai terbuka lalu melihat Suan sedang berdiri dan berhadapan dengan seorang dokter.


“Bagaimana keadaannya?” Pertanyaan Suan terdengar di telinga Aria yang mulai menoleh ke arah sekitarnya.


Ah,


Dia kini telah kembali ke kamar di Apartemen Suan.


Kepalanya terasa sangat sakit, wanita itu bahkan merasa tubuhnya sangat panas.


Ia mulai memegang dahi dan mendapati sebuah alat kompres berada di sana.


“Dia hanya kurang istirahat saja, sebaiknya tenangkan dia dan usahakan jangan bebankan pikiran untuknya, saat ini kondisi tubuhnya juga terlihat kurang baik, lalu satu lagi, jaga pola makannya. ” Jawab seorang Dokter yang terlihat berdiri di hadapan Suan sembari menuliskan sesuatu di lembaran kertas kecil, “ Ini resep Vitamin terbaik untuknya.” setelahnya memberikan benda tersebut kepada laki-laki di samping Aria.


“Bagaimana demamnya?” tanya Suan merasa khawatir saat itu, nada suaranya juga terdengar sangat cemas.


“Tenang saja, setelah istirahat, dia akan baik-baik saja.” Dokter tersebut mulai berlalu dari sana, meninggalkan Suan yang tampak memegang sebuah lembaran kertas di tangan lalu menoleh kepala ke arah Aria, dan tersenyum lega.


“Kau sudah bangun?” tanya Suan yang telah duduk di tepian kasur lalu memegang wajah Aria dengan punggung telapak tangannya. “Ayahmu tadi sempat datang tapi karena harus menemui Kliennya, dia pergi sebelum kau membuka mata, ibumu juga sempat menelpon, dia akan datang besok karena hari ini dia sedang liburan bersama teman-temannya di paris.” Jelas Suan yang telah berbaring miring menghadap ke arah Aria saat itu, “ kau ingin makan apa?” lalu bertanya cepat ketika Aria telah menganggukan kepala.


“Aku tidak ingin makan...”


“Kau ingin makan apa?” tanya Suan, memaksa Aria untuk menentukan pilihan makanannya saat itu.


Aria yang terlentang, saat itu mulai memiringkan tubuhnya.


“Kau ingin makan apa?” lalu menanyakan ulang pertanyaan dari Suan.


“Kenapa kau malah balik bertanya padaku?” tanya Suan sembari tersenyum tipis, sangat mengenali kebiasaan Aria yang selalu menyukai semua makanan kesukaan Suan.


“Aku ingin makan makanan apapun yang kau makan, Suan.” Jawab Aria lalu mendekati Suan dan memeluk tubuh laki-laki itu.


“Kau ingin aku ketularan demam ya?”


“Bagaimana kalau kita sakit berdua saja?” Ucap Aria menanyakan pendapat sembari mengangkat kepala memandang wajah tampan Suan yang mampu menyihir matanya lalu memegang wajah tersebut, “ Ah aku menyentuhnya.”


“Hm,” Suan dibuat tersenyum lucu, “Apa maksudmu?” tanyanya sembari menggenggam tangan Aria yang tadinya menyentuh wajah.


“Tidak, aku hanya ingin menyentuh wajah laki-laki yang banyak dikagumi oleh wanita di kota ini.” Jawab Aria memberikan pujian yang mengejutkan Suan hingga laki-laki itu segera menarik tubuh wanita tersebut lebih naik ke atas.


“Kau tidak hanya bisa menyentuhnya, tetapi juga menciumnya.” Bisik Suan ketika mata mereka saling beradu hingga membuat Aria sontak berbalik karena sangat malu namun Suan berhasil mengembalikan tubuh wanita itu kembali,


“Eumm,” dan mencium bibir mungilnya namun segera dilepaskan Aria, “ Jangan lakukan itu!, kau akan ketularan demam nanti,” ucap Aria sangat khawatir sembari menjauh dari tubuh Suan.


“Bagaimana kalau kita sakit berdua saja?” Suan segera menarik tubuh Aria kembali mendekat.


Lalu mencium bibir bawah wanita itu berkali-kali.


Aria yang merasakan sensasinya tidak lagi mampu untuk menahan gejolak hati, dan dia memilih untuk membalas ciuman Suan.