
Malam itu Aria telah kembali lebih awal.
Ia telah menghubungi Harry untuk menanyakan tentang Arkas dan Harry menjawab bahwa Arkas masih berada di perusahaannya.
Mobil Aria perlahan-lahan memasuki gerbang perusahaan keluarga Harry. Aria memarkirkannya di depan halaman gedung dan tidak berniat meletakan mobil tersebut di dalam Basement.
Aria kini telah keluar, lalu melangkah memasuki pintu masuk utama.
Aria benar-benar merasa berkewajiban untuk menemui Arkas, begitulah yang diinginkan perasaannya.
Dia merindukan bangunan itu.
Ia menghentikan langkah dan memandanginya.
Ia memandang perkarangan tempat Suan pernah berdiri. Ia melihat taman tempat dirinya dan Rena terkadang berada.
Dia tidak melihat Rena lagi, mungkin karena Aria tidak lagi berada di perusahaan tersebut, Rena juga tidak lagi bekerja di sana.
Aria memasuki gedung, ia memandang pintu lift dan mengingat dirinya sering memasuki benda tersebut bersama Michelle.
Dia merindukan Michelle, entah sejak kapan ia menjadi peka terhadap pertemanan.
Aria mulai memasuki lift menuju ke lantai dimana ruangan Harry berada.
Hingga lift terbuka dan Aria melangkah keluar dari sana.
Aria hanya berdiri dan memandangi koridor tempat dimana ia menghabis waktu bersama Suan.
Rasanya sangat sakit,
Mengapa Suan tidak memberi kabar padanya?
Dia ingin marah, sangat marah karena dirinya merasa ditinggalkan. Tapi perlahan-lahan hatinya ia usahakan untuk tetap tenang.
Aria mulai melangkah, ia mendekati ruangan Elbram sebelumnya. Ruangan itu kini telah menjadi milik Arkas.
Elbram yang bekerja untuk Suan telah ikut pergi ke California.
Michelle yang telah bertunangan, tidak lagi bekerja sebagai wakil direktur, mungkin dia sedang dipersiapkan untuk menjadi pengantin.
Aria memandang Arkas, laki-laki itu tampak tertidur di meja kerjanya.
“Dia selalu tertidur.” Gumam Aria pelan lalu ia menoleh kepala ketika mendengar derap langkah kaki sepatu seseorang.
“Kenapa kau harus datang malam-malam seperti ini?”
Harry mendekati Aria, laki-laki yang mengetahui Aria akan datang ke perusahaannya mulai meraih kursi Sekretarisnya dan meletakannya di dekat Aria lalu ia duduk di sana, menengadah, memandang Aria yang sedang berdiri.
“Aku hanya ingin melihat Arkas, itu saja.”
Aria mulai berbalik, “aku pulang,”
“Kau datang terburu-buru, pulang juga begitu cepat.”
Harry tersenyum pahit, seolah-olah ia enggan melihat Aria pergi dari sisinya.
“Aku butuh istirahat, besok aku harus kembali ke kantor jam 7 pagi.”
Tatapan mata sedih Aria mengejutkan Harry.
Harry pikir, Aria yang ia kenal sudah tidak ada lagi.
Wanita di sampingnya telah benar-benar berbeda saat itu.
“Baiklah, aku akan mengantarmu ke bawah.”
Harry berdiri ketika melihat Aria menganggukan kepala.
Lalu ia mengikuti langkah Aria memasuki pintu lift.
“Suan tidak memberimu kabar, ya?”
Pertanyaan Harry memperpiluh hati Aria yang benar-benar merindukan Suan.
“Bagaimana denganmu?”
Aria bertanya balik, ia enggan untuk melihat Harry karena kedua mata wanita itu telah memerah.
“Kau saja tidak dihubungi apalagi aku.”
Harry berusaha menenangkan kesedihan Aria. “tenang saja, Elbram juga tidak bisa dihubungi, mereka benar-benar sangat sibuk.”
“Aku tahu itu,” Aria sedikit mengembangkan senyumnya namun terpaksa, ia mengingat kembali bahwa pegawai di perusahaan Dikintama juga sampai tertidur di sana jadi ia telah menyadari bahwa memang benar, Suan sangatlah sibuk hingga tidak sempat memberikan kabar kepadanya.
Pintu lift terbuka, Aria mulai membuka kacamata yang tadinya masih ia kenakan lalu meletakannya di dalam tas kecil yang ia bawa.
“Berhati-hatilah, aku telah menyuruh bawahanku untuk melindungimu dari jauh, jadi tenang saja, meskipun tidak ada Suan, kau masih memiliki aku di sisimu.”
“Hm,” Aria menganggukan kepala, lalu mulai melangkah kaki menapaki halaman bangunan.
“Ahh jadi benar di sini tempat kerja Aria, ya?”
Suara seseorang mengejutkan Aria yang langsung menghentikan langkah.
Tubuh Aria tampak gemetaran, wanita itu memegangi perutnya yang terasa sakit ketika memandang seorang wanita bertubuh mungil perlahan-lahan mendekatinya.
Harry terkejut melihat keadaan Aria, ia memandang ke sumber suara dan matanya terbelalak ketika melihat sesosok orang yang pernah mengunjungi pestanya.
“Aahh... “ Aria mulai mengeluh kesakitan.
Wajahnya pucat pasih lalu keringat bercucuran membasahi tubuh.
“Kau siapa?” tanya Harry sembari memerintahkan penjaga keamanan untuk menghalangi langkah wanita itu mendekati Aria.
“Aku,” wanita itu menghentikan langkah, “... terbaring lemah dan tak berdaya.”
“Ahhh haa hikkss..hikkss...”
“Aria!”
Harry berlari cepat, mengejar Aria yang telah membuang tasnya lalu berlari kencang tak tentu arah.
Wanita bertubuh mungil tersenyum puas, matanya kalut dalam emosi, “minggir!” lalu memerintahkan penjaga keamanan untuk menyingkir dari langkahnya.
Tetapi penjaga keamanan tidak menyingkir hingga ia mengeluarkan lembaran uang ratusan ribu dan memberikan pada kedua penjaga keamanan yang langsung menuruti perintahnya.
“Mudah sekali kalian menerima suap, aku pikir para pegawai di perusahaan ini sangat berbeda jauh dari pegawai di perusahaan Dikintama dan Anderston.”
Ucap wanita itu merasa muak, ia enggan lagi untuk melihat pemandangan yang tadinya ia anggap akan menyenangkan.
“Maaf nona,”
“Tidak, lanjutkan saja!, dan aku sangat menyukai orang-orang seperti kalian.”
Sela wanita itu cepat, ia mulai berbalik dan melangkah masuk ke dalam mobilnya kembali.
Sementara itu, Aria terlihat berlari kencang menelusuri trotoar jalanan kota, “ Ahh Suan, aku takut sekali.” Air mata wanita itu terbawa angin malam yang menerpa, “Ahh hikss hikss Suan, Suan tolong aku, uweekk..” Perutnya tidak dapat ia tahan lagi, “Akkhh,” hingga ia lemah lalu terbaring miring jatuh tak berdaya, “Akkhh, Suan, kakek, kalian dimana?, uweekk,” Aria yang masih memegangi perutnya, perlahan-lahan berusaha untuk duduk.
Seorang pengendara mobil tampak akan mendekati namun mengurungkan niat ketika Harry telah datang mendekat.
“Aria, Aria, kau kenapa?, kau baik-baik saja?”
Harry berjongkok, ia memandang dahi dan lutut Aria yang terluka.
“Suan dimana?, kakekku dimana?”
Aria membersihkan air mata berkali-kali sembari memegangi perutnya yang sakit, ia masih menangis sesenggukan, membingungkan Harry malam itu.
“Suan masih di California, dan kakekmu,” Harry mengangkat tubuh Aria ke atas kedua tangannya, “bukankah dia sudah tidak ada?”
“Lalu siapa yang akan melindungiku?, aku takut sekali.”
Aria berkali-kali mengusap wajahnya, malam itu Harry berniat membawanya ke rumah sakit.
“Ada aku,”
“Tidak, Kau tidak bisa melindungiku, Aku butuh Suan, Tolong panggilkan Suan untukku.”
Ucapan Aria menyakiti hati Harry, meskipun begitu Harry tetap membawa Aria kembali ke perusahaannya untuk mengambil mobil.
“Direktur, kau baik-baik saja?”
Suara seseorang mengejutkan Aria.
“Turunkan aku!”
Harry terpaksa menurunkan tubuh Aria.
“Kau baik-baik saja?”
Lalu terkejut ketika Aria telah menghentikan tangisan dan menanyakan kabar Arkas saat itu.
Arkas kebingungan, Harry juga tak kalah ikut kebingungan.
“Bukankah kau yang terluka?, kenapa kau malah menanyakan kabarku yang baik-baik saja?”
Arkas mengernyitkan dahi, ia memandang Aria yang telah mengusap wajahnya.
“Syukurlah ternyata kau baik-baik saja, aku takut sekali kau lemah dan tak berdaya.”
Harry terkejut, ia mengingat sekali ucapan yang membuat Aria tadinya berlari kencang tiba-tiba.
“Kau ini bicara apa?, obati dulu sana kakimu yang luka.”
Ia enggan sekali melihat sikap aneh Aria terhadapnya.
“Hm,” angguk Aria lalu menoleh ketika Harry meraih lengannya.
“Kau baik-baik saja?” tanya Harry begitu khawatir, ia memandang mata Aria yang tadinya takut telah berubah menjadi normal kembali.
“Aku baik-baik saja selama Arkas baik-baik saja.”
Aria mulai berjalan dengan kaki pincangnya. Ia melewati Arkas yang tadinya telah berhenti melangkah ketika mendengarkan kalimat yang dilontarkan Aria.
Harry tertegun, ia masih berdiri memandang punggung Aria.
“Kau ingin melindungiku ya, Aria?”
“Hm, tentu saja.” Aria menghentikan langkah, ia berbalik ketika mendengar pertanyaan Arkas.
“Kenapa kau selalu ingin melindungiku?”
Aria tersenyum lembut,
“.........”
Lalu berbalik arah dan meninggalkan Arkas serta Harry yang kebingungan dengan ucapan Aria yang berbisik.
“Kenapa kau ingin selalu melindungiku, Aria?” tanya ulang Arkas membuat Aria tersenyum pahit.
“Sudahlah dijelaskanpun percuma saja.”
Ucap Aria dari kejauhan, ia terus melangkah meninggalkan keterkejutan yang mendalam bagi kedua laki-laki yang masih memandang punggungnya dari kejauhan.
**********
“Dijelaskanpun percuma saja, mereka juga tidak akan mengetahui perasaan aneh yang aku alami.”
Tatapannya sayu, perlahan-lahan kaki Aria memasuki ruangan apartemen Suan lalu menutup pintu.
Aria benar-benar membutuhkan Suan tetapi ia harus bertahan tanpa laki-laki tersebut agar tidak selalu menyusahkan.
Langkah kaki Aria terus bergerak hingga ia meraih kotak P3K di lemari ruang keluarga.
Sembari berjalan, ia melewati ruang kerja Suan dan lagi hatinya merasa kesakitan.
“Tega sekali dia tidak memberi kabar.”
Aria membersihkan air matanya kembali lalu meletakan tas di atas kasur kemudian duduk di depan cermin sembari meraih antiseptik lalu menuangkannya di kapas untuk membersihkan darah pada dahi.
Setelah meletakan plester pada goresan luka di dahi, Aria mulai membersihkan kedua lutut kakinya dengan antiseptik kembali.
“Suan,” gumam Aria membersihkan air matanya lagi yang keluar.
Malam itu dia tidak memanggil dokter, ia pikir, mandiri lebih baik meskipun ia masih belum terbiasa.
Taaakkk...
“Haaa..”
Lampu mati, menyeluruh.
“Kenapa bisa listrik padam di tempat semahal ini?”
Aria meraih ponsel di kantung celana sebelum selesai ia membersihkan luka.
Sepi sekali dan juga gelap.
Hal itu membuat Aria merasa takut menetap di sana.
Aria mulai melangkah keluar Apartemen lalu menuju ke pintu kaca lobi.
Listrik memang padam, tidak ada cahaya yang terlihat dari pintu kaca kecuali hanya cahaya bintang di langit saja.
Aria meraih kunci mobil yang masih ia kantungi di dalam kantung celana bagian depan.
Ia membuka pintu Apartemen lalu dengan pincang menuruni anak tangga.
Sesekali terlihat pemilik apartemen lain juga turut menuruni anak tangga hingga ia tidak merasa sendirian lagi.
Aria terus melangkah menuju ke arah mobil yang terparkir dekat dengan pintu masuk utama. Lalu ia membuka kunci pintu dan memasukinya kemudian menyalakan serta mengemudikannya pergi dari sana.
Malam itu ia berniat pulang ke rumah keluarganya.
Ia merindukan pulang. Dia pikir tidak masalah untuk pulang walau sebentar saja tetapi setelah sampai di sana.
Kosong,
Tidak ada seorangpun di sana.
Berkali-kali ia menekan tombol pintu gerbang namun tidak ada panggilan.
“Ayah,”
Aria mulai menghubungi ayahnya, namun tidak terjawab.
Ia menghubungi ibunya.
“Ibu dimana?” tanya Aria ketika panggilan telah terjawab.
“Ibu ada di Singapur, tempat nenek, Aria, kau merindukan ibu ya?”
Suara ibu Aria telah terdengar hingga membuat Aria meneteskan air mata karena merasa sangat merindukannya.
“Ibu, ayah dimana?, kenapa tidak ada seorangpun yang keluar membuka pintu gerbang?, aku tidak memiliki kunci rumah, ibu tahu waktu itu aku pergi secara tiba-tiba, bukan?”
Aria mengusap air matanya, Ia berpikir segalanya cepat sekali berubah karena perasaan aneh yang ia alami.
“Hmmm ayah, “
Suara ibu Aria terdengar gugup, “Kenapa kau tidak datang ke kantornya saja langsung?” perintahnya seperti tidak memiliki pilihan untuk menjawab, “kalau kau tidak ada di sana, untuk apa lagi rumah itu dihuni, kau tahu ibu suka berpergian bukan?, kau juga tahu ayahmu sangat sibuk bekerja jadi rumah itu memang seharusnya dikosongkan.”
“Hikss hikks, ibu aku merindukanmu.”
Aria menyela ucapan ibunya.
“Ibu akan pulang malam ini, tunggu ya!”
Suara ibu Aria juga terdengar menyedihkan.
“Hm,” Aria menggelengkan kepala lalu masuk ke dalam mobilnya kembali, “Ibu sedang hamil, ibu tidak boleh keluar malam-malam, kapan saja ibu boleh pulang menemuiku, atau aku akan menyempatkan waktu datang ke rumah nenek nanti.”
Aria menyalakan mobil.
“Baiklah, ibu tunggu Aria datang ya.”
“Hm,” lalu memutuskan panggilan dan menangis sesenggukan sebelum mengemudikan mobilnya yang telah menyala.
Tidak ada Suan, ibunya juga tidak ada di kota itu, ayahnya tidak dapat dihubungi, kakeknya juga telah tiada.
Aria, malam itu tidak memiliki siapapun untuk bersandar dari kesedihannya.
“Haa hikss hikkss.”
Setelah selesai menangis, Aria menyentuh layar ponselnya lagi, ia menghubungi seseorang yaitu Asisten ayahnya.
“Paman,”
Panggilan diterima, Aria sedikit tersenyum lega, “dimana ayahku?”
“Nona,”
Suara Asistennya terdengar tidak menyangka bahwa Aria akan menghubunginya.
“Kami sedang berada di New Delhi, nona. Perusahaan di sini sedikit bermasalah.”
“Jadi begitu ya!”
Aria memutuskan panggilan, ia benar-benar tidak memiliki siapapun di kota itu.
Ia teringat Rena tapi tidak mengetahui dimana tempat tinggal wanita itu, Maka dari itu, Aria memutuskan kembali ke Apartemen Suan.
Mobil terus ia kemudi hingga berhenti di pinggiran jalan, Aria melihat lampu Apartemen telah menyala namun sepertinya bukan berasal dari tenaga listrik, hal itu terlihat karena di bangunan lain, lampu masih tetap padam.
Aria keluar, dia melangkah memasuki taman di depan gedung Apartemen, membiarkan mobil tetap di tepian jalan.
Wanita itu duduk dengan perasaan kalut di bangku taman, memandang jalanan kota dengan tatapan penuh dengan kesedihan.
“Karena kau selalu melindungiku maka malam ini giliran aku yang melindungimu.”
Aria menoleh kepala,
“ Arkas!”
“Kau ini kemana saja, aku melihatmu keluar tadi tapi ketika aku panggil kau tidak mendengarnya.”
Arkas duduk di bangku lain sembari menghadap ke arah Aria.
“Jadi aku tidak sendirian ya, haaa hikkss..”
“Hei berhentilah menangis, kau tidak malu ya!”
Arkas mulai berdiri lalu mendekati Aria dan mengelus punggung wanita yang tampak menutup wajah dengan kedua tangan.