Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Menolak Makan Malam Bersama



Wuuuzzz..


Angin yang berhembus kencang, menggerakan pepohonan yang berdiri sejajar rapi di pinggiran jalan.


Jalanan itu sangat sepi, sedikit masuk ke dalam dari jalanan lintas dan hanya diperuntukan untuk satu tujuan saja, yaitu pemakaman umum.


Wuuuzzzz...


Angin tak henti-hentinya berhembus menerpa apapun yang ia lewati termasuk tubuh Aria yang sedang berdiri di bawah pohon rindang dan menyandarkan punggung pada pintu mobil bagian belakang, menunggu kedatangan seseorang.


Hari itu, ia memang tidak merasakan perasaan aneh yang ia alami muncul kembali. Dia hanya berpikir untuk melihat keadaan Arkas saja dari kejauhan dan tidak berniat untuk menyapa.


Sedikit tersenyum senang, orang yang ia tunggu-tunggu kini telah terlihat berada di seberang jalan. 


Dia melangkah dengan santai, mendekati namun masih tetap berada di seberang jalan lalu menghentikan langkah dan berdiri serta bersembunyi di balik pohon.


“Kau yang melakukannya?” suara seseorang yang tadinya ia tunggu kedatangannya terdengar hingga ke telinga karena di jalanan tersebut memang lumayan sepi, mungkin hanya beberapa penziarah saja yang berada di sana, itupun kebanyakan dari mereka berada di dalam area pemakaman. “Iyakan?” suara keras orang tersebut semakin membuat hati Aria merasa bahagia.


“Apa maksudmu?”


Paaakkkkk... Arkas yang tadinya hendak kembali ke rumah saat itu dibuat terkejut dengan kedatangan Rena secara tiba-tiba lalu menamparnya.


Memang, Aria sendiri telah mengutus seseorang untuk mengawasi Rena tadinya maka dari itu  ia mengetahui arah dan tujuan kemanapun wanita itu pergi dan menunggu saat-saat yang sangat ia nantikan itu.


“Kau yang menyuruhnya menggagalkan pernikahanku, iyakan?, hanya karena kau berteman dengan wanita kaya bukan berarti kau bebas untuk melakukan apapun terhadapku sesuka hatimu, Arkas.” Bentak Rena teramat marah, hingga matanya memerah dan dia mendorong Arkas mundur ke belakang.


Arkas panik, pernyataan yang dilontarkan Rena membuatnya terlihat  semakin menyedihkan. “Aku tidak melakukan apapun, aku tidak pernah...”


“Aku membencimu, sangat membencimu tapi..”gertakan gigi dan genggaman tangan wanita di depan Arkas terlihat jelas sekali. Sepertinya ia tidak memiliki pilihan lain, selain mengatakan : “tolong, aku mohon, tolong katakan pada teman wanitamu itu untuk menghentikan perbuatannya kepadaku, aku tidak tahan lagi Arkas,” Aria terkekeh, ia menahan mulutnya dengan telapak tangan karena merasa puas dengan perbuatannya sendiri.


Ia memang telah dibenci oleh Arkas, dan tidak berniat lagi agar laki-laki itu berlaku baik kepadanya hingga dengan cara seperti itulah, ia berpikir akan mengendalikan laki-laki tersebut.


Bencilah maka benci, sekeras apapun ia berbuat baik kenyataannya laki-laki yang ia tolong tidak pernah tahu bagaimana cara membalas budi, menurut Aria.


Wanita itu melangkah dengan kepuasan penuh, meninggalkan pasangan yang dianggapnya sangat bodoh di seberang sana, “Aku bahkan tidak tahu dia tinggal dimana, bagaimana mungkin....”


“Tolonglah Arkas,” dia mulai masuk ke dalam mobil miliknya namun telinga wanita itu yang tajam tetap  dipasang dengan baik hingga ia masih bisa mendengarkan percakapan kedua orang yang telah membuatnya kesal, Baaakkk.. lalu menutup pintu.


“Jalan!” dan memerintahkan supirnya untuk meninggalkan pemakaman, masih dengan mengembangkan senyuman bahagia karena ia mengira sebentar lagi, segalanya akan berjalan dengan mudah.


***********


Dia menghempaskan tubuh ke atas kasurnya yang sangat empuk, bahkan saking empuknya, tubuh wanita itu mampu dibawa hingga masuk sedikit tenggelam.


Warna spreinya merah, ia sangat menyukai warna tersebut, entah mengapa. Bukan hanya itu saja, kebanyakan peralatan yang berada di ruang kamar luasnya juga berwarna merah, hanya saja dinding ruangan kamar yang terbuat dari keramik, tidak memungkinkan Aria untuk memilih warna tersebut, mungkin karena hal tersebut dirasa sangat aneh menurutnya.


Kaki Aria terlihat bergerak, tubuhnya terlentang memandang langit-langit ruangan yang dihiasi lampu mewah, tangan yang tadinya memegang tali tas berantai ia buka hingga tasnya jatuh dari atas kasur, “nona!” panggilan suara yang terdengar, menghilangkan semua kenyamanan yang ia rasakan malam itu.


“Ahh,” Aria meraih bantal lalu berbaring miring, menutup telinga menggunakan benda tersebut.


“Nona!”


“Aku tidak ingin diganggu.” Ucap keras Aria masih dengan menyembunyikan kepala di bawah bantal miliknya.


Perlahan-lahan pelayan tersebut melangkah masuk. Di dalam hatinya, sebenarnya ia sangat tidak ingin mengganggu nonanya namun apa daya, ia harus melaksanakan perintah dari tuan besar, pemilik rumah.


“Nona, keluarga Dikintama telah menunggu anda di ruang makan.”


“Hm, sakit?” suara seseorang mengejutkan Aria yang langsung terduduk bersila lalu tersenyum kecut dan membalas tatapan remeh orang yang bersandar di pintu, dengan tatapan tidak menyenangi.


Saat itu, Ia benar tidak ingin mati meskipun hatinya sangat ingin memiliki laki-laki di hadapannya itu.


Melihat kedatangan pasangan nonanya, pelayan itu menghela nafas lega lalu berangsur-angsur bergerak meninggalkan kamar, menyisakan kedua orang tersebut saja di dalam sana.


“Pergilah!” perintah Aria dengan nada pelan karena enggan berurusan dengan Suan, sementara sebenarnya hati wanita itu begitu senang ketika laki-laki tersebut datang menghampiri kamarnya, setelah sekian lama laki-laki itu tidak pernah hadir kembali untuk mengunjungi tempatnya tersebut.


Aria kembali menghempaskan tubuh, kali ini dengan posisi telungkup lalu meraih bantal lain dan meletakannya di atas kepala bagian belakang.


“Kau tidak ingin melihat permainan?” laki-laki itu mulai melangkah mendekat, lalu berbaring telentang santai dengan menahan kepala menggunakan salah satu tangan di samping Aria, “permainanku sebelum akhirnya kau jatuh ke bawah.”


“Ha..” Suara yang dekat sontak mengejutkan Aria hingga wanita tersebut berdiri seketika,  “apa yang kau lakukan di sampingku?, pergilah!, aku tidak ingin makan bersama malam ini.” Ucap Aria yang masih merasa terkejut lalu membalikan tubuh, menahan detak jantung yang memompa kencang saat itu.


Suan duduk bersila, ia memandang punggung Aria yang masih berdiri, “lakukan sesuatu, aku ingin melihatnya!”


“Apa maksudmu?” Aria yang mulai penasaran saat itu sontak berbalik, lalu memandang Suan penuh dengan tanda tanya.


“Ahh,, sebenarnya aku tidak suka,” Suan berdiri lalu memasukan kedua tangan ke dalam kantung celana, “... menikah denganmu secepat itu. Tetapi mau bagaimana lagi, karena aku, hm lebih menikmati untuk melihatmu menderita dan gagal hidup bahagia dengannya. Dia, Arkas, benarkan?”


“Suan!” Suan beranjak dari ruangan tersebut, mengeluarkan salah satu tangan dan menyisakan tangan yang lain di dalam kantung celana tanpa mempedulikan panggilan Aria, “ Suan, berhentilah merencanakan hal gila!” sekalipun Aria mengeraskan suara dan bahkan sempat melemparkan bantal ke arahnya yang telah menghentikan langkah dan bersandar kembali di depan pintu, ia tetap tidak mengurungkan niat untuk melakukan rencananya.


“Kenapa?, bukankah dari dulu kau ingin menikah denganku?, sekarang aku sudah pasrah, aku terima pernikahan kita lalu kenapa tiba-tiba kau ingin membatalkannya?, hmmm... mungkinkah kau menganggap pernikahan itu adalah sebuah permainan?” 


“haa, Konyol.” Aria dibuat geram melihat tingkah Suan yang akhir-akhir ini sangat berbeda menurutnya, “kau sendiri yang terus menolak cintaku selama ini, bukan? dan kau juga telah menghabiskan malam pertamamu dengan wanita lain, lalu sekarang kau memintaku untuk bertanggung jawab atas hubungan gelap yang telah kalian lakukan di belakangku, jangan bercanda Suan!”


“Jadi kau kira aku wanita?” Suan dibuat tersenyum kecut mendengar ucapan Aria, ia bahkan sempat menggertakan giginya karena mendengarkan hal tersebut.


“Meskipun kau laki-laki, tetap saja, ..” perlahan-lahan kepala Aria menunduk, “tetap saja, rasanya sangat sakit, kau tahu tidak?, aaah,” Aria menghempaskan cepat tubuhnya kembali ke atas kasur, ia menyembunyikan wajah di sana.


“Kau bilang begitu, lalu bagaimana...”


“Suan,” suara seseorang tiba-tiba terdengar muncul menghentikan kalimat Suan yang tadinya akan marah, “dimana Aria?” tanya seorang wanita yang tak lain adalah ibu Aria. Wanita itu mulai datang mendekati ruangan tersebut.


Aria mengabaikan, ia tidak mempedulikan kehadiran ibunya karena sangat enggan berurusan dengan Suan lagi.


“Aku sudah mengatakannya bibi, dan Aria..” Suan tersenyum licik, tipis dan sangat sulit untuk diketahui, “.. menyetujui tanggal pernikahan kami, dia bahkan menyerahkan penentuan tanggalnya kepadaku begitu saja,”


“Oh jadi Begitu ya?” sambut ibu Aria terdengar antusias dan bahagia, namun Aria tidak mempedulikannya karena ia telah berniat akan menghancurkan rencana pernikahan mereka nantinya.


“Aku pikir tidak ada lagi yang perlu dipersiapkan, lusa aku akan membawa Aria ke kantor sipil dan mendaftarkan pernikahan kami..”


“Berhentilah Suan, dasar brengsek!” maki Aria, wanita itu sontak berdiri dengan tatapan penuh kekhawatiran dan kesedihan.


“Kau ini kenapa, sayang?, bukankah kau sendiri yang mengatakan semuanya padaku tadi?”


“Ibu, aku tidak ingin mati, tolong jangan biarkan aku menikah dengan Suan,” deg.. deguppp.. deguuppp.. Rasa pusing kembali menghampiri, wanita yang berdiri itu mulai menunduk, memegangi kepalanya yang terasa sakit.


“Iya benar, bibi. Tidak masalah bagi keluarga kami jika malam ini Aria tidak bergabung makan malam bersama.” Suara Suan terdengar menjauh bersama dengan suara langkah kaki ibunya.


Deg.. degupp..


Aria tertegun lalu berpikir keras.


Mungkinkah mereka tidak mendengar ucapan yang baru saja ia lontarkan?