
Aria keluar dari ruangan, jantungnya yang berdetak kencang membuat tubuhnya gemetaran tiada terkira.
Senang dan bahagia, mungkinlah itu yang ia rasakan, perasaan itu bahkan mampu melupakan segala ucapan kasar Suan untuknya.
Wajah memerah Aria terasa panas, ia mulai berhenti lalu menghadap ke arah dinding bangunan, “Ah malu sekali,” ucapnya begitu kegirangan sembari membenturkan dahi kepala beberapa kali ke dinding saking senangnya hati wanita itu.
Menyadari perilaku anehnya sendiri di tempat ramai, Aria mulai menoleh ke kanan dan ke kiri lalu melihat ada begitu banyak karyawan perusahaan yang melihat ke arahnya dengan tatapan aneh.
“Ehm,,”hal itu sontak membuat Aria mendehem, lalu berjalan dengan menahan rasa malu yang semakin bertambah.
“Jangan dilihat kalau kau tidak ingin dalam bahaya!” Bisik seorang karyawan sedikit mengejutkan Aria saat itu.
Benar,
Dia menyadari bahwa di masa lalu memang dirinya adalah orang yang sangat jahat dan sedikitpun tidak memiliki rasa iba.
Entah sejak kapan ia mulai merasa bersalah dengan semua yang ia lakukan di masa lalu, dan kini, ketika mengingat perbuatan buruknya itu, ia merasa sangat kesakitan.
Sementara itu, di dalam ruangannya,
Suan terlihat mengepalkan tangan geram setelah mendengar laporan dari bawahannya.
Matanya memerah, wajahnya terlihat teramat marah.
Ia memutar tubuh lalu Braaaakkk... mengangkat kaki dan menendang laptop di atas meja, hingga laptop yang terbuka tersebut jatuh ke atas lantai, “haa, dia membenturkan kepala hanya karena aku menciumnya?, jadi dia pikir aku ini apa.” gumamnya geram lalu melangkah keluar ruangan pribadinya menuju ruang kerja membawa emosi yang memenuhi hati.
********
Mobil yang mengantar Aria perlahan-lahan melaju memasuki sebuah pintu gerbang yang di jaga oleh beberapa orang penjaga keamanan.
Palang yang menghalang mulai di buka ketika penjaga keamanan tersebut telah melihat kartu tanda kepemilikan di kaca mobil bagian depan.
“Kita mau kemana?” tanya Aria yang masih kebingungan melihat area di sekitarnya.
“Direktur memerintahkan saya mengantar anda ke Apartemennya, Nona.” Setelah menjawab, supir Suan mulai melajukan kembali mobil yang tadinya telah berhenti.
“Apartemen?” Aria terkejut, baru kali ini ia mengetahui bahwa Suan ternyata telah membeli apartemen tanpa sepengetahuan darinya yang selalu mengawasi laki-laki tersebut selama ini.
Mobil mulai terparkir di tempat parkir khusus pemilik Apartemen VIP, tempat yang sangat dekat dengan pintu masuk utama.
Perlahan-lahan Aria turun dari mobil setelah Supir Suan membukakan pintunya, lalu memandang ke area sekitarnya.
“Silakan Nona!”
Supir pribadi Suan memberikan sebuah pintu kartu, setelah Aria menerimanya, laki-laki tersebut mulai memberikan petunjuk arah untuk Aria menuju ke Apartemen Suan.
Terus melangkah, memasuki lift dan menuju ke lantai 15, langkah mereka mulai terhenti ketika telah mendekati sebuah pintu dan meletakan pintu kartu ke mesin pemeriksa.
Aria memasuki apartemen Suan yang sangat rapi dengan desain interior yang mewah. Pemandangan kota di luar dinding kaca juga sangat indah ketika Aria menyingkap kain gorden mewah berwarna emas di sana.
Lobi yang nyaman, peralatan yang lengkap, mengingatkan Aria kepada rumah yang ia rindukan.
Taaakkk, tiiiittt..
Supir Suan menutup pintu lalu berlalu dari tempat tersebut. Hari itu, Aria merasa kesunyian masuk ke dalam jiwa, entah mengapa.
Rasanya ia sangat kesepian karena tidak ada seorangpun pelayan di sana, tidak seperti di rumahnya. Ia rindu ayah dan juga ibunya, ia juga rindu makan bersama. Ia ingin pergi ke restoran tempat biasa ia menghabiskan waktu siangnya, juga ingin berada di kamar untuk melihat foto-foto kebersamaannya dengan Suan.
Wanita itu mulai mendekati Sofa, dia menghidupkan televisi untuk menghilangkan kesunyian. Meskipun berbunyi, namun suara di dalam televisi tidak juga mampu menghilangkan rasa sepinya.
“Haa..,” air mata mulai jatuh tanpa mampu terkendali, “haa hikss..” ia menuntup wajah dan membungkukan tubuh mengingat kehidupan bahagianya di masa lalu namun tidak pernah sekalipun ia syukuri. “haa... hikss..”
Lelah lama menangis, Aria mulai membaringkan tubuh miring di atas sofa empuk. Perlahan-lahan matanya tertutup sebelum ia melihat-lihat semua isi bagian dari ruangan apartemen Suan itu, dan mematikan televisi di depannya.
Tiiit... taakkk..
“Itu Aria?” belum sempat temannya melangkah, laki-laki bertubuh besar itu dikejutkan dengan adanya Aria di sana, “ kenapa kau membawanya ke sini?” bisik temannya tersebut bertanya-tanya karena selama ini Suan selalu merahasiakan tempat tersebut dari wanita di atas sofa itu.
“Berisik, letak saja barang-barangku lalu cepat pergi!” ketus Suan menjawab pertanyaan hingga membuat temannya tersenyum pahit lalu melangkah kaki meninggalkan Suan yang telah berjalan mendekati Aria dan mengangkat tubuhnya setelah meletakan jas di gagang sofa.
“Kenapa kau mengangkatnya?”
“Kau ini banyak tanya sekali.” Suan mulai kesal dengan sikap penasaran dari temannya yang telah selesai meletak barang-barang Suan, ia tetap terus melangkah lalu membuka pintu kamar meninggalkan temannya yang merasa aneh dengan sikap Suan saat itu.
Bagaimana tidak?,
Suan yang selama ini menghindari Aria dan enggan untuk bertemu dengan wanita tersebut, tiba-tiba saja berubah menjadi baik kepada wanita yang selama ini ia anggap sangat menganggu.
Dia yang telah lelah, malam itu tidak ingin berlama-lama untuk tinggal di apartemen Suan dan bergegas pergi dari sana.
Sementara itu, di ruang kamarnya, Suan telah meletakan Aria di atas kasur lembutnya lalu menyalakan AC ruangan kemudian menutup tubuh wanita itu dengan selimut.
“Kau aneh,” Ucapnya yang sedang memandang wajah Aria begitu lekat lalu menyingkap rambut wanita tersebut yang menutupi wajah. “Haa.. gila, ada apa denganku?” Suan mulai berbalik lalu melangkah pergi ke ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai kembali.
Jari-jari tangannya bermain cepat di atas keyboard laptop, kacamata bening yang ia kenakan, menambah ketampanan dari wajah Suan yang sangat mempesona.
Poni rambutnya turun, ia terlihat begitu fokus di depan layar komputer. Ruangan yang ia tempati, dipenuhi dengan rak buku, di sana juga terlihat sofa namun hanya satu buah saja, berseater tiga.
Jarum jam tangan telah menunjukan angka 2 namun Suan masih berpacu melawan waktu, menyelesaikan tugas-tugasnya yang begitu padat sebagai seorang Direktur utama perusahaan ternama di kota tempatnya berada.
“Suan, kau sudah pulang?”
“Kau sudah bangun?”tanya Suan ketika mendengar Suara Aria yang baru saja memasuki ruang kerjanya tanpa menoleh ke arah wanita itu.
“Kau pulang juga ya ternyata?” Ucap Aria sedikit bahagia namun bercampur sedih. Mungkin ia mengira bahwa Suan tidak akan pulang, mengingat betapa bencinya laki-laki tersebut kepada dirinya.
Suan menghela nafas, ia membuka kacamata lalu menoleh ke arah Aria yang sontak membuang wajah karena masih sangat malu dengan kejadian siang tadi di kantor laki-laki tersebut.
“Kau sudah mandi?”
“Mandi?, ahh benar,” Aria terkejut lalu mengingat bahwa dirinya telah tertidur tanpa membersihkan tubuh tadinya. Dia mulai melangkah tapi terhenti, “aku tidak punya pakaian..”
“Itu,” Suan menoleh kepala, menunjukan dua buah pakaian yang berada dalam plastik dan gantungan di atas sofa.
Sebuah gaun selutut kaki terlihat sangat menawan, berwarna biru tua dan sebuah piyama sutra polos bercelana panjang, juga berwarna merah. Di sisi dua pakaian itu, terdapat sebuah pakaian dalam dengan Bra dan ****** ***** berwarna sama.
“Kau membelikanku semua pakaian itu?” tanya Aria terkejut dan tidak menyangka. Untuk pertama kalinya, Suan membelikan hadiah kepadanya tanpa ia minta seperti sebelumnya.
“Hm,” Jawab Suan santai yang kini telah bertempur kembali di depan layar komputer dengan menggunakan kacamatanya kembali.
Aria bergerak cepat, meraih perlengkapannya lalu keluar dari ruangan kerja Suan untuk membersihkan diri.
Cukup lama, ia berada di kamar mandi sana.
Ia yang tadinya telah mengeringkan rambut, perlahan-lahan masuk kembali ke dalam ruang kerja Suan dan mendapati laki-laki tersebut masih berfokus pada pekerjaan.
“Bukankah ini sudah sangat malam?”tanya Aria tidak menyenangi kesibukan Suan saat itu.
“Hm,” jawab Suan begitu saja tanpa menghentikan pekerjaannya.
Aria kesal, dia sangat ingin marah seperti hari-hari sebelumnya, “ Suan!” teriaknya keras menggema, lalu terkejut ketika Suan menoleh dan menatap tajam ke arahnya yang telah menutup mulut, menyadari sikapnya yang selalu membentak laki-laki tersebut, semaunya.
“Ahh itu,, ma.. maaf.” Aria menundukan kepala, detak jantungnya mulai terpacu kencang karena mengingat kesalahannya. Dia sangat khawatir Suan akan mengusirnya malam itu, lalu dengan cepat berbalik untuk melangkah keluar pintu.
“Hm,” namun langkahnya terhenti ketika Suan telah memeluknya dari arah belakang, dan menyandarkan kepala di salah bahu Aria sejenak lalu membalikan tubuh wanita itu kembali, menghadapkan ke arahnya. “Aku akan tidur sebentar lagi, jadi tunggu saja di sini,” ucap Suan mengejutkan Aria yang mulai melangkah ketika laki-laki tersebut menarik tangannya dan membawa wanita itu ke kursi kerja lalu setelah duduk ia membuka lebar kedua kakinya dan memberikan tempat bagi Aria untuk duduk di sana.
“Suan!"
“Hm,” jawab Suan yang telah menggerakan kembali jari-jari tangannya di atas keyboard laptop sembari meletakan dagu di atas kepala Aria yang terlihat tersenyum malu dan bahagia.