
Kraaakkk..
Bukkk..
Twwwiiiittt..
Pintu terbuka, setelahnya, Suan memasukan Aria ke dalam mobil pada bagian belakang lalu mengunci pintu menggunakan kunci mobilnya kemudian bergerak ke arah kursi pengemudi.
“Haa.. haa..” Nafas Aria terengah-engah, raut wajahnya terlihat sekali penuh dengan kekesalan terlebih lagi ketika melihat seorang gadis tampak duduk pada kursi bagian depan di samping Suan.
Pikir wanita itu,
Bagaimana mungkin dia sebagai tunangan dari pemilik mobil di tempatkan pada kursi bagian belakang, sementara gadis yang baru dikenali tunangannya tersebut malah berada pada bagian depan mobil?
“Buka Suan!, buka!” Aria tidak tahan jika terus-menerus berada di dalam kecemburuannya yang mendalam. Berkali-kali ia menarik paksa handle pintu dan tidak peduli jika benda itu akan patah. “Buka!” Bummmmmmm..
Suan mengabaikan permintaan Aria yang menggema memenuhi ruangan di dalam mobilnya, ia bahkan mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi seperti orang yang sedang sangat marah.
Baaakkk..
“Akh,”
“Hiks,, hikss.”
Aria terpental bersamaan dengan suara gadis di depannya yang terdengar menangis takut karena kecepatan laju mobil Suan yang sangat tinggi.
“Suan!”
Semakin Aria berteriak, laju mobil Suan semakin di percepat.
Buuummmm..
Pusing sekali,
Rasa pusing itu kembali muncul.
“Haaa.” Sangat sakit hingga Aria mengernyitkan dahinya yang telah bercucuran keringat, “Aku tidak ingin mati.” Gumam Aria yang telah menahan tubuhnya agar tidak terpental jatuh lagi namun perlahan-lahan kekuatan tubuhnya melemah karena rasa sakit di kepala kian menyakiti hingga membuat perutnya terasa mual. “Haa.. haa...” Aria masih terengah-engah, ia kini telah duduk di celah antara kursi depan dan kursi bagian belakang mobil, menyembunyikan diri dengan menutup kedua telinga dan melipat kedua kakinya ke depan, “Haa. Haa..” serta menahan rasa takut yang tiba-tiba menyelimuti hati dan pandangannya mulai terasa gelap sekali.
********
"Dimana?" Tanya Aria pada dirinya sendiri.
Hampa dan gelap gulita. Tempat itu terlihat berkebalikan dengan tempat yang biasa ia mimpikan. Di sana, ia bahkan tidak mampu melihat kulit tangannya sendiri.
"Dimana?" Tanyanya lagi penuh kegelisahan dan ketakutan. “Dimana?” dia semakin dibuat takut karena tempat itu terasa begitu mengerikan baginya.
Tidak ada suara apapun, matanya yang terbuka lebarpun tidak dapat menemukan sedikitpun cahaya di sana hingga ia semakin takut dan tubuhnya bergetar hebat.
“Ada orang?, apakah ada orang di sini?” teriak Aria berusaha berdiri namun ia tidak sedikitpun merasakan keadaan udara di sana. “Mungkinkah aku sudah mati?, ada orang?, ada orang?, apakah ada orang?” tanyanya berkali-kali masih tetap diam di tempat karena hatinya merasakan takut melebihi rasa takut di hari-hari sebelumnya. “ haaa .. haaa,,”Aria menangis namun air matanya juga tidak terasa muncul di pipi seperti biasanya, “Hikss.” hal tersebut sontak membuat Aria memegangi wajah, tapi, “Haaa.. haa.. haaa...“ lagi dan lagi wanita itu dibuat terkejut ketika tangannya tidak bisa menyentuh wajah. “Wajahku,” wuuuzz berkali-kali ia memukuli wajah namun tangannya seperti memukuli udara begitu saja. “Ahhhh aahhh wajahku, aahhh tolonglah aku tolong, aahh..hikss hikk, tolonglah aku siapa saja, haaa.” Ia terus memukuli wajahnya berkali-kali, berharap tangannya dapat menyentuh wajahnya tersebut, “Ahhh, hikss hikss aaahhh.”
Paakkkk paakkk paaakkk..
“Aria, Aria, Aria!” berkali-kali Aria memukuli wajahnya, membuat Suan yang telah menghentikan laju mobilnya tepat di depan rumah wanita itu, bergerak cepat menuju ke bagian belakang mobil untuk mendekati Aria yang telah duduk di lantai mobil tersebut. “Aria!,” Suan terus memanggil penuh kekhawatiran sembari menahan tangan Aria untuk tidak lagi memukuli pipinya sendiri yang telah tergores kuku dan terluka, “ Aria!” lalu memeluk wanita tersebut dengan tubuhnya yang terlihat gemetaran untuk menenangkan wanita itu, “ Aria tenanglah, Aria!”
“Aku tidak ingin mati, tidak ingin mati,” teriak keras Aria yang tampak meronta-ronta dipelukan Suan. “Haaa hikss hikss.”
“Aria!” Wajah Suan mulai pucat, sepertinya ia merasa sangat bersalah karena telah mengemudikan mobilnya dengan begitu laju hingga membuat Aria berada pada kondisi sedemikian rupa.
Gadis yang berada pada bagian depan mobil hanya dapat terdiam dan rasa takutnya semakin bertambah ketika melihat perilaku Aria tersebut.
“Aria!” perlahan-lahan tubuh Aria berhenti memberontak, lalu matanya sedikit demi sedikit terbuka.
Wanita itu terengah-engah, lalu menghapus air mata dengan telapak tangannya,”Huh,”serta menghela nafas lega ketika ia melihat cahaya matahari dari balik jendela kaca. “Syukurlah,” Tangisan yang tadinya perlahan-lahan berhenti, kini pecah kembali, “Hikss hiks.. Syukurlah.” Ucapnya lega sembari memegangi dada dan menundukan kepala, terus menangis untuk menghilangkan ketakutannya.
“Huh, Aria, kau baik-baik saja?”
Paaakkk, tangan Suan yang tadinya akan membersihkan darah pada goresan luka di wajah wanita itu berhasil ditepis.
Sikap Aria yang begitu dingin tersebut membuat Suan terkejut hingga raut wajah khawatirnya berubah menjadi raut wajah marah. Meskipun demikian, Aria tidak mempedulikannya.
Segera ia mengangkat tangan lalu meletakannya di atas kursi kemudian berbalik menarik handle pintu dan pintupun terbuka.
Dengan masih ketakutan, pelan-pelan Aria bergerak keluar dari mobil,
“Haaa..” Tetapi sayang, tangan Suan menahan dengan memegang siku tangan wanita itu.
“Kau,” ragu-ragu Suan terlihat ingin berbicara, “baik-baik saja?” tanyanya yang telah menghentikan gerakan Aria untuk keluar dari sana.
“Bukan urusanmu,” Aria menghempaskan tangan Suan, lalu bergerak cepat kembali, “Berhentilah menggangguku!” namun tangan wanita itu tertahan oleh tangan Suan lagi, dan dia berteriak marah terlebih lagi dengan adanya wanita lain di dalam mobil tersebut.
"Mengganggumu?" Suan segera menyadari tindakannya, dengan cepat ia melepaskan pergelangan tangan wanita yang membentaknya tersebut.
Setelah menyadari tangannya tak lagi berada di genggaman tangan lebar Suan, Aria menoleh kepala melihat ke arah laki-laki tersebut, " jangan bilang, tuan Suan yang terhormat mulai jatuh cinta kepadaku setelah puas mengambil darah perawan gadis itu." Sindir tajam Aria yang tak lagi tahan berada di dekat laki-laki berwajah tampan tersebut sebelum ia keluar dari mobil.
“Berhentilah bermimpi!” Ucap Suan untuk yang kesekian kalinya, menolak harapan Aria yang telah keluar dari mobil dan memandang Suan dengan membungkukan tubuh.
“Ya, tentu saja.” Baakk lalu wanita itu menutup pintu mobil tersebut dan pergi berlalu meninggalkan laki-laki yang ia cinta.
Hari itu, Hatinya berkecamuk marah meskipun ia sebenarnya sedikit senang karena Suan tampak memberi perhatian walau hanya sedikit saja untuknya.
Perasaan itu terus Aria bawa menuju ke sebuah rumah besar dan mewah yang halamannya tertumbuhi rerumputan hias hijau dan terpotong rapi.
Rumah itu bertingkat dua dan memiliki lantai dasar di dalamnya. Untuk menuju ke pintu rumah tersebut, Aria bahkan harus menaiki beberapa anak tangga yang di bawahnya terdapat garasi mobil.
Beberapa pelayan datang dan terkejut melihat keadaan wajah Aria saat itu.
Goresan luka dan darah yang mengering serta wajah memerah karena tangisan parahlah yang membuat para pelayan tersebut mulai khawatir dan gelisah melihat keadaan nona mereka.
“Nona,”
“Minggir!” belum sempat seorang pelayan yang datang menghampiri bertanya, Aria telah mengusirnya terlebih dahulu hingga pelayan tersebut menyingkir dan mengisyaratkan kepada temannya untuk membukakan pintu bagi Aria.
Pintu terbuka, “Ck,” Aria berdecik, dia terpaksa berbalik menuju mobil Suan kembali karena mengingat bahwa ia meninggalkan tasnya di sana.
“Benarkah?, Dimana dia?” suara ibu Aria terdengar khawatir. Mungkin karena seorang pelayan telah memberitahukan keadaan Aria kepada wanita itu tadinya.
“bibi!”
“Caca, bibi di sini,”
Deg ... deguppp...
“Caca?” sebut Aria begitu terkejut dan mengingat sesuatu.
Suara teriakan ibu Aria tersebut berhasil menghentikan langkah wanita itu untuk menuruni tangga di depan pintu.
Aria yang telah berada di teras rumah, segera berbalik arah kembali,
Deg.. degupp.. degupp...
Detak jantungnya kini memompa kencang kembali seperti tidak ada henti-hentinya ia akan terus berdetak dan menyiksa Aria dengan berbagai jenis emosi.
“Aria sudah pulang?” Suara Ayah Aria terdengar bersamaan dengan kemunculan ibu Aria yang menggandeng seorang gadis kecil.
“Aria, kenapa wajahmu?” ibu Aria tersentak kaget dan matanya dipenuhi dengan kekhawatiran, segera ia melepaskan tangan yang menggandeng tangan gadis kecil di depan mata Aria lalu bergerak mendekati putrinya.
“Berhentilah!” mata merah Aria tak kunjung berubah normal, bahkan kali ini gigi-gigi wanita itu terlihat bergemeretakan karena mulutnya sedikit terbuka.
“Aria, siapa yang berani melukaimu?” Ayah Aria muncul bersamaan dengan langkah kaki ibunya yang telah terhenti. “Kenapa kalian diam saja?, cepat panggil Dokter sekarang juga?” lanjut Ayah Aria kali ini ditujukan untuk para pelayan yang berdiri di dekatnya.
“Berhenti kubilang!”
“Aria, mungkinkah ibu melakukan kesalahan padamu?” tanya ibu Aria yang masih sangat kebingungan dengan sikap putrinya hari itu.
“Ada apa dengan kalian berdua?” Ayah Aria mulai mendekati,
“Berhenti kubilang!” tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara teriakan keras putrinya.
“Aria!”
“Dia siapa?, siapa anak itu?” deggg.. degupp.. rasanya sangat sakit ketika ia mengingat kembali mimpinya. Mimpi dimana kedua orang tuanya melupakan dirinya dan bahkan mengusir wanita itu dari rumahnya sendiri.
“Aria, dia Caca, putri bibimu Anita.” Jawab ibu Aria berusaha bersikap lembut untuk menenangkan Aria.
“Keluar!,” bentakan Aria menambah keterkejutan di ruangan tersebut, “Keluar dari rumahku kubilang!” air mata Aria berderai jatuh tak lagi terbendung.
“Aria, kau ini kenapa?”
Ayah Aria mendekat namun dengan cepat Aria bergerak menghampiri gadis kecil yang terlihat ketakutan itu di depannya.
“Bibi, hiks bibi, tolong aku.” Gadis kecil itu sontak menangis dan akan berlari menuju ibu Aria namun berhasil ditahan oleh wanita itu.
“Keluar, keluar kubilang!, Keluar!” Aria yang telah berhasil meraih tangan gadis itu, memaksanya untuk melangkah keluar dari rumahnya karena wajah dan nama gadis itu sangat mirip dengan gadis di dalam mimpinya.
“Aria!” dengan cepat ayah Aria melepaskan tangan putrinya dari genggaman tangan keponakannya, “dia sepupumu, kenapa bisa kau setega ini padanya?” bentak laki-laki itu tidak tahan lagi melihat sikap Aria yang dirasa aneh akhir-akhir ini.
“Aku tidak peduli, aku mau dia pergi dari sini, kubilang keluar dari rumahku, kau tidak dengar ya, hikss hikss, kau tidak dengar ya?” Aria terus mengusir sembari menangis menahan rasa sakit di dalam hati.
“Kau benar-benar keterlaluan, bagaimana bisa aku membesarkan anak sepertimu?”
“Jadi ibu membelanya!” balas cepat Aria, “Ahh, jadi kalian sudah melupakanku, jadi kalian lebih memilih dia?, Akkhhh,” teriak keras Aria kesal ketika mendengar ucapan ibunya.
“Bawa dia masuk!” perintah Ayah Aria kepada istrinya agar Aria tidak lagi melihat keponakannya tersebut.
“Ahhh, jadi kalian tidak mau mengusirnya ya?, hm baiklah, biar aku saja yang pergi dari rumah ini.”
“Pergilah!” balas bentak ayah Aria, tidak tahan lagi melihat sifat putrinya yang dianggap sangat keterlaluan.
“Hm,”
“Sekali kau melangkah kaki keluar, kau kira aku akan mengizinkanmu kembali?” ancam ayah wanita itu, tetapi ia tidak mempedulikannya. “ Aria!” dia berbalik, memunggungi ayahnya lalu melangkah dan terus melangkah keluar rumah tersebut, “Aria!” dia tidak mempedulikan sedikitpun panggilan ayahnya, dia mengira bahwa mungkin dirinya akan mati dengan membunuh dirinya sendiri jika ia terus tinggal bersama gadis kecil itu seperti mimpi yang ia alami.
Terus melangkah hingga langkah Aria berhenti di depan Suan yang terlihat menghentikan kaki juga sembari membawa tas wanita itu, “Hm,hm, hahahaha, kau melihatnya?, ahh atau perlu kuberitahukan kepadamu ketidakadilan yang saat ini sedang kurasakan?,” teriakannya menggema, belum berakhir masalahnya dengan Arkas dan juga Suan, kali ini masalah yang harus ia hadapi berasal dari keluarganya sendiri hingga ia terlihat begitu membenci dunia.
“Kau gila?”
“Hm, huh, benar aku gila, bagaimana aku tidak gila ketika mengetahui wanita dari kalangan bawah tiba-tiba muncul lalu merebut tunanganku?, lalu wanita lain tiba-tiba muncul lagi dan kini telah merebut orang tuaku, kau kira manusia mana yang bisa bertahan dengan itu semua Uwaaah,, “ Aria membuang wajah lalu menoleh kembali ke arah Suan untuk menyembunyikan tangisan yang melemahkannya, “aku orangnya, akulah orangnya.”
“Benar, aku akui kau sudah gila, bahkan ucapanmu saja sudah sama seperti ucapan orang gila.”
Suan melepaskan tas yang tadinya ia bawa ke atas rerumputan di sana bersamaan dengan gadis yang telah keluar dari mobilnya dan menundukan kepala ketika Aria memandanginya dengan penuh kebencian.
“Hm,” Aria membenarkan, dia bahkan sampai melayangkan senyuman kecut lalu mengangkat salah satu alis mata naik, “Kau sudah puas?, kau pasti bahagia benarkan?, hahaha aku gila karena begitu bodoh mencintaimu, gila karena begitu berharap kau akan membalas cintaku hahaha, aku gila karena salah mencintai laki-laki, ha.. haa haahahahaha, bodohnya aku ini, hiks hiks ha.” Aria melangkah cepat lalu meraih tas yang dijatuhkan oleh Suan sembari menghapus air mata dengan punggung telapak tangan berkali-kali. Setelah berdiri, ia segera pergi melewati Suan dan datang menghampiri gadis yang berdiri di depan pintu mobil.
“Ehm,” tubuh gadis yang dihampiri Aria mulai gemetaran.
“Kau mau apa?” Suara Suan terdengar khawatir. Dengan langkah cepat laki-laki tersebut mengejar Aria, “kau mau apa?” lelaki itu membentak dan juga menarik tangan Aria hingga wanita itu berbalik ke arahnya.
“Ahh begitu khawatirkah dirimu jika aku melukainya?, tenanglah!”Aria menepuk-nepuk dada Suan yang berada tepat di depan mata wanita itu, ”aku hanya ingin memuji keberuntungannya saja, dan kupastikan bahwa wanitamu ini baik-baik saja.”
“Berhentilah jika kau ingin terus berbuat keributan, Aria!”
“Haa, aku hanya ingin memuji tapi kau sudah begitu ketakutan, konyol.” Aria menghempaskan tangan Suan lalu bergerak menjauh dan menoleh ke belakang, ke arah gadis itu berada. “ Ah kuperjelas padamu, dia adalah tunanganku, aku harap kau sadar diri dan tidak berharap lebih. Lucu sekali, kau mendapatkan cinta dengan begitu mudah, mungkinkah cintamu itu akan bertahan lama?, harusnya orang sepertimu itu mendapatkan orang yang setara, lalu berjuang dan berusaha bersama untuk mendapatkan kebahagiaan kalian sendiri hingga tidak perlu lagi merebut pasangan orang lain.”
“Aria!”
“Ah iya iya, aku gila, orang gila dilarang bicara, bukan?” Aria mulai melangkah, meninggalkan Suan dan rumah keluarganya dengan membawa rasa sakit dan penderitaan yang terus-menerus datang menerpa tanpa ada jedah bahkan hanya untuk waktu sehari saja.
Begitu pedih hatinya, hingga wanita itu terus menangis dan berulang kali membersihkan air mata yang tak kunjung berhenti membasahi pipi. Dia berjalan terus berjalan, menghampiri seorang supir yang memberikan kunci mobil miliknya.