
Ruangan itu sedikit berbeda,
Tidak terlalu luas seperti tempat ia biasa bekerja.
Harry yang tampak duduk di kursi depan meja kerjanya terlihat mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat tebal ketika Arkas yang telah ia panggil, datang memasuki ruang kerja tersebut.
“Terimalah!” Ucap Harry tanpa membuang-buang waktu saat itu, ia meletakan Amplop coklat tersebut ke depan Arkas yang tampak berpikir.
“Jadi aku sekarang telah dipecat, ya?” tebak Arkas sedikit merasa sedih sembari menundukan kepala lalu tersenyum pahit kemudian meraih amplop coklat tersebut.
“Ahh bagaimana bilangnya ya, tapi uang itu bukanlah uang pesangonmu.” Jawab Harry cepat dan mulai mengisyaratkan Arkas untuk mengambil kursi lain dan duduk di depannya.
Arkas yang mengerti maksud Harry, segera meraih sebuah kursi kerja di dekat sofa, lalu membawanya ke depan meja Harry saat itu.
“Maaf, tapi aku tidak mengerti maksud anda memberikan uang ini, Direktur.” Ucap Arkas yang telah duduk tegak dan rapi di depan Harry yang mulai melepas kacamata lalu menyatukan jari-jari tangan ke depan mulut.
“ Jauhi Aria!” pinta Harry sedikit mengejutkan Arkas, “ pergilah ke luar kota ataupun ke negara lain dengan uang itu, aku akan meminta temanku untuk memberikan pekerjaan layak bagimu nanti jika kau benar-benar tidak mendapatkan pekerjaan di tempat tujuanmu.”
“Maaf,” Sela cepat Arkas lalu mengembalikan uang Harry, “ aku bisa keluar dari perusahaan ini, dan juga menjauhi Aria tapi aku tidak bisa pergi dari kota ini karena ada beberapa orang yang harus aku lindungi.” Kemudian menolak permintaan Harry yang tampak sedikit kecewa mendengar ucapan tersebut.
“Kau bisa membawa orang-orang yang kau lindungi untuk pergi dari kota ini, bagaimana kalau ke Medan saja atau kau juga bisa pergi ke Surabaya?, kau tidak perlu khawatir, aku memiliki teman di sana.” Harry bersikeras untuk meminta Arkas pergi dari kota tersebut. Dengan perlahan-lahan, ia menggeser amplop berwarna coklat tersebut ke hadapan Arkas kembali.
“Sekali lagi maaf Direktur,” Arkas mengembalikan Amplop ke dekat Harry kembali, “Orang yang kulindungi memiliki orang yang dia cinta di kota ini. Karena tidak mencintaiku maka dia tidak akan mungkin pernah mau ikut denganku, dan lagi, kedua adikku juga sangat membenciku, mereka tidak akan mungkin mau jika aku ajak pergi.” Lanjut Arkas menjelaskan kondisinya saat itu pada Harry yang sontak tercengang dan tidak tahu lagi cara untuk memaksa Arkas pergi dari kota tersebut.
“Hemm, begitu ya, Baiklah, terima saja uang itu dan jauhi Aria ketika mendekatimu!” Ucap Harry terlihat berpikir keras, “jika kau masih tinggal di kota ini, kau masih harus bekerja sebagai Asistenku karena jika kau pergi dari perusahaan ini, Aria juga pasti akan mengikuti kemanapun kau pergi.” Lanjut Harry mulai menghela nafas berat karena tidak berhasil membantu Suan saat itu.
Laki-laki tersebut terlihat kecewa pada dirinya sendiri.
“Terima kasih, Direktur.”
“Kau menerimanya semudah itu?” tanya Harry begitu cepat ketika Arkas telah mengambil Amplop coklatnya kembali lalu berdiri.
“Hm,” Angguk Arkas mulai berpikir kembali, “Aku pikir, sebenarnya anda tidak perlu memberikanku uang ini karena aku pasti akan menjauh dari Aria, hanya saja, agar anda yakin bahwa aku pasti melakukannya, Maka dari itu aku mengambil uang ini.” Ucap Arkas sembari membuka amplop tersebut lalu mengeluarkan satu tumpukan lembaran uang ratusan ribu dari dalam amplop kemudian meletakannya di meja Harry.
Hingga Harry sontak kebingungan, lalu bertanya, “Apa yang kau lakukan?”
“Bisakah aku membayar anda untuk melakukan satu hal padaku?” pinta Arkas lalu mengeluarkan tumpukan kertas lain sebelum akhirnya ia duduk dan mengosongkan amplop coklat yang ia pegang.
“Maksudmu, kau ingin memerintahkanku, begitu?” tanya Harry mulai emosi saat itu.
“Aku tidak punya banyak uang sekarang, tapi dulu ketika aku memiliki banyak uang, aku sering melakukan hal sama seperti yang anda lakukan saat ini,” ucap Arkas sembari memandang mata Harry dengan tatapan sedih, “tolong, jauhkan Aria dari hidupku, Direktur!, kalau bukan anda, aku tidak tahu siapa lagi yang dapat menolongku untuk menghindari wanita itu.”
“Aaaahhh jadi kau merasa terbebani dengan kehadiran Aria, begitu ya?” tanya Harry yang mulai mengerti maksud Arkas sembari meraih tumpukan uang pemberiannya dan menghitung lembaran uang tersebut.
“Dia aneh sekali,” Arkas mulai menyatakan pemikirannya hingga membuat Harry sedikit terkejut lalu memandang laki-laki yang telah mengalihkan pandangan ke atas meja.
“Aneh?”
Jelas Arkas menceritakan perasaan yang ia alami pada Harry yang tampak terkejut dengan pernyataan laki-laki tersebut.
“ Pernahkah kau mengira bahwa dia sedang mengejar cintamu saat ini?” tanya Harry begitu penasaran, terlebih lagi melihat tingkah aneh Aria akhir-akhir ini.
“Tidak, “ Jawab Arkas sembari tersenyum kecut, “aku tidak sedikitpun merasa Aria menyukaiku, hanya saja aku berpikir bahwa Aria selalu gelisah lalu setelah melihatku dia merasa lega, namun tetap saja aku tidak menyenanginya, anda tahu, aku bahkan sampai dipukuli oleh Asisten Direktur Suan, dan sampai sekarang aku masih sangat takut untuk melihatnya.”
“Ah, sebenarnya aku sempat berniat mencelakakanmu,” Ucap Harry merasa sedikit bersalah, sembari melontarkan senyuman pahit saat itu, "aku memerintahkan supirku untuk melakukannya, tetapi benar-benar telah kuurungkan, percayalah!"
“Aku paham karena aku juga pernah mencelakakan orang lain yang mencoba mendekati wanita yang kusuka, jadi tidak masalah bagiku, buktinya sekarang aku baik-baik saja.” Arkas membalas senyuman Harry dengan senyuman pasrah, lalu dengan cepat mengalihkan pandangan kembali ke atas meja.
“Kau berlapang dada sekali.”
“Bukan begitu,” sela cepat Arkas yang saat itu terlihat menghela nafas berat, “aku hanya pasrah menerima hukuman balik atas kesalahanku di masa lalu.” Lanjut laki-laki tersebut menjawab pertanyaan dan membuat Harry semakin terkejut.
*********
Aria memasuki ruang kerja Suan dengan perasaan bingung serta bertanya-tanya lalu menghentikan langkah lalu memandang ke luar pintu dan melihat seorang laki-laki di sana.
“Kenapa kau mengganti Sekretarismu?” tanya Aria yang kebingungan lalu bertambah bingung ketika seorang karyawan laki-laki datang dan meletakan kopi ke atas meja Suan lalu dengan cepat berlalu dari sana.
Suan yang tadinya menggerakan pena, mulai memandang ke arah Aria.
“Bukankah itu lebih baik agar kau percaya padaku bahwa aku tidak selingkuh?”
“Suan,”
“Aku pastikan padamu bahwa aku tidak akan dekat dengan wanita manapun kecuali hanya Klien kerja saja, itupun aku akan usahakan Harry untuk menggantikanku jika aku bisa nanti.” Lanjut Suan sembari mengalihkan pandangan ke arah dokumen di depan mata dan mulai membubuhkan tanda tangan lalu mengganti lembaran lainnya.
“Suan,” panggil Aria masih tidak menyangka bahwa Suan akan melakukan hal tersebut untuknya, “ Suan, mungkinkah kau sudah mencintaiku?” lanjut Aria sedikit ragu-ragu bertanya.
“Hm,” jawab santai Suan tidak meyakinkan hingga membuat Aria sedikit kecewa saat itu. “Aku mencintaimu, sekarang kau sudah paham?, aku harap kau mengerti bahwa aku tidak akan pernah berselingkuh.” Lanjut Suan yang telah memandang mata Aria hingga wanita tersebut sontak berbalik, lalu memegangi mulutnya saking terkejutnya ia, kemudian berlalu dari sana dan mengejutkan Suan karena tingkahnya tersebut.
“Mungkinkah aku salah bicara?” tanya Suan pada dirinya sendiri sembari mengernyitkan dahi bersamaan dengan Elbram yang telah memasuki ruangannya.
“Kau kenapa?” tanya Elbram yang merasa aneh dengan sikap Suan saat itu.
“Aku katakan bahwa aku mencintainya tapi dia malah pergi dariku.” Ucap Suan merasa sedikit kecewa saat itu lalu meletakan pena karena tidak lagi fokus untuk bekerja dan bersandar pada kursinya.
“Dia pergi, itu artinya dia menolakmu.” Jawab Elbram yang telah sering mengalami penolakan cinta di masa lalu hingga membuat Suan semakin kecewa saat itu.
“Sial sekali nasibku, “ gumam Suan kesal, “brengsek, “ lalu berdiri dan mencoba untuk menenangkan diri bersamaan dengan Elbram yang telah membawa kopi laki-laki tersebut ke sofa dan menyeruputnya di sana.
“Kopimu untukku, ya?” Ucap Elbram setelah meminum kopi tersebut namun tidak mendapatkan jawaban dari Suan yang masih kesal dan memandang keluar jendela kaca.