
Tiiinnnn tinnnn tinnnnn...
Jarak antara pinggiran kota dan pusat kota sebenarnya tidak terlalu jauh jika ditempuh dengan menggunakan motor maupun mobil, namun terkadang cuaca di antara keduanya berbeda-beda.
Jika di pusat kota terang benderang pada malam hari itu, Cuaca di pinggiran kota malah sebaliknya, hujan deras dengan hembusan angin kencang serta gemuruh menggelega yang terkadang diikuti sambaran petir di atas langit.
Jalanan macet, mungkin karena banjir menghadang serta lampu merah yang kadang sangat lama berganti dengan hijau.
Tiiiinnnn..tinnn..
Aria yang mengemudi mobil dibuat tak sabar dengan kemacetan lalu lintas yang terjadi hingga berkali-kali ia membunyikan klaksonnya.
Rasa sakit terus menyiksanya, terkadang ia bahkan sempat sesak nafas karena hal tersebut. Tiiinnnn.. lampu merah telah berganti lampu hijau tetapi mobil-mobil di depannya tidak juga kunjung melaju.
Tiiinnn..
Tok.. tokk..
Suara ketukan jendela kaca mengejutkannya yang masih bertahan dengan rasa sakit.
Wwwuuuuzzzz...
Segera ia membuka kaca jendela yang dialiri air hingga karenanya ia tidak dapat melihat dengan jelas si pengetuk pintu, Sreeekk..” Kecelakaan neng, jangan klakson lagi, semua orang sedang panik,” lalu mendengar berita dari mulut seorang yang mungkin adalah pengendara kendaraan juga.
“Haaa... haaa.. “ Tetesan air hujan masuk ke dalam mobil karena jendela kaca yang terbuka meskipun tidak lebar.
Jeddddduuuaaarrr..
Suara gemuruh semakin membuatnya panik karena hari itu, ia harus menyelamatkan Arkas dari bahaya dan jika ia tidak melakukannya, ia takut bahwa dirinya akan mati tersiksa.
Jeddduuuarrrr...
Segera ia mengirim peta lokasi keberadaannya kepada Supirnya ,lalu setelahnya ia meletakan ponsel di dalam tas kemudian membuka pintu , Twiiiittt dan mengunci mobilnya serta memasukan kunci mobil ke dalam kantung celana lalu ia lari.
Berlari kencang.
Wuuuuzzzzz... menerjang derasnya hujan di trotoar jalanan kota.
Padahal jaraknya cukup jauh dan ia tidak lagi sempat untuk memesan kendaraan umum mengingat kemacetan lalu lintas yang parah, namun wanita itu tetap berlari untuk menyelamatkan Arkas saat itu.
Menyelamatkan Arkas yang mungkin akan segera membunuh dirinya sendiri.
************
“Ahhh..”
Jedduuuuarrr...
Aria terus berlari malam itu, melewati gedung-gedung tinggi, “haaa..haaa...” Lalu gedung berganti pepohonan karena telah mendekati pinggiran kota, “haaa..” ia tidak lagi peduli dengan rasa lelah serta rasa dingin hingga membuatnya menggigil atau bahkan rasa sakit karena kulit yang terluka tadinya.
Bukkkk..
“Akkhh..” Kaki wanita itu tersandung, tapak sepatu tak berhak yang ia kenakan terlepas. Ia terjatuh berjongkok lalu lututnya kembali terluka, meskipun demikian Aria tetap berdiri hanya untuk memperjuangkan hidupnya.
Dia tidak ingin mati, dia belum siap mati, dia sangat takut jika kematian itu seperti di dalam mimpinya, Gelap, sepi dan sendirian bahkan ia akan dilupakan oleh orang-orang yang ia sayangi perlahan-lahan.
Wanita itu sempat menangis, juga sempat membersihkan air yang bercampur air mata di pipi.
Wwwuuuuzzzz.
Jeduaaaarr...
Hampir sampai, hampir sampai.
“Arkas!” panggilnya merasa sangat lelah, “ Arkas!” lalu dengan berusaha keras ia mengumpulkan sisa tenaga dan berteriak ketika kakinya telah melangkah di atas sebuah jembatan sepi yang di tepiannya tampak Arkas sedang berdiri.
***********
“Aku pulang!”
Arkas masuk ke dalam rumah.
Seperti biasa, ia yang tidak sempat memasak, membawakan bubur untuk ibunya yang tidak bisa bergerak.
Tokk tokk tokk..
Lalu sebelum ia sempat masuk, suara ketukan pintu terdengar hingga ia terpaksa menuju dan membuka pintu yang tadinya telah ia tutup.
“Kau.. kau datang!”
Wajahnya sumringah, ia begitu bahagia ketika melihat seorang wanita yang ia cintai berada di depan mata.
“Aku akan menikah.”
“A.. apa?” tubuh Arkas gemetaran ketika melihat sebuah undangan di tangannya yang telah diberikan paksa oleh wanita di hadapannya.
“Aku harap kau datang dan memberikan hadiah terbaik untukku sebagai perpisahan.”
Wanita itu berbalik, “Rena!” lalu menghempaskan tangan ketika Arkas memegangnya, “ Rena, bukankah ini keterlaluan?, bagaimana mungkin kau menikahi laki-laki tua?”
“Aku butuh harta, aku tidak ingin hidup miskin lagi, aku juga lelah menunggumu kaya. Arkas, ini kesempatanku, “ wanita tersebut terus memunggungi Arkas, ia terlihat tidak ingin melihat wajah laki-laki itu. “... Sangat jarang aku bisa bertemu dengan laki-laki kaya yang mau menikahiku, kau tahu bukan?, orang kaya sangat tipis kemungkinan mau menikahi orang-orang susah seperti kita. Jadi meskipun tua, tidak masalah bagiku asalkan aku kaya.”
“Rena!” wanita itu melangkah pergi, bahkan untuk mengejarnya sekalipun Arkas tidak mampu karena kakinya telah menggigil gemetaran. Laki-laki itu hanya bisa memandang wanita yang ia cintai berlalu dan masuk ke dalam sebuah mobil, merasakan sakit yang luar biasa karena harus ditinggalkan menikah.
Langkahnya gontai.
Ia membiarkan pintunya terbuka begitu saja mengingat bahwa ibunya belum makan malam dan dia tidak memberikan makan siang karena harus bekerja serta tidak mampu membayar orang untuk mengurus ibunya tersebut.
WUuzzzz.. angin malam masuk ke dalam rumah, laki-laki itu berdiri di depan pintu dan membukanya.
Ia masih tetap berdiri dan tidak kunjung masuk ke dalam, menahan rasa sakit yang begitu dahsyat karena ibunya tak lagi bernafas.
“Hikss..” Tidak terlihat gerakan mata, perut ibunya juga tidak tampak kembang kempis seperti sebelumnya. Wanita tua itu terlihat terbaring dengan tubuh kurus kering dan wajah pucat pasi, tubuhnya kaku dan benar, ia telah tiada.
“Hikss..hikss..” Malam itu, Arkas tidak lagi mampu menahan goncangan rasa sakit yang meluluh lantakan hatinya.
**********
Wwwuuuuzzzz..
“Akhhh..” Lututnya yang terluka menghantam sudut tepian lantai jembatan yang lumayan tajam. “Akkhh, “ Aria mengerang kesakitan tetapi ia berhasil menabrak tubuh Arkas dan menjauhkannya dari tepian jurang.
Arkas seperti orang mati, dia berdiri kembali dan mendekati tepian jembatan.
Jeddduuuarrrr..
Gemuruh terdengar dan kilatan petir menyambar.
Jembatan yang berada di pinggiran kota terlihat begitu sepi, tidak ada kendaraan yang melewati karena derasnya hujan dan juga mungkin karena terjadinya kecelakaan di jalanan lintas.
Wwuuuuz.. angin kencang menerpa.
Aria yang tadinya terjatuh berusaha keras berdiri dengan menahan rasa sakit hingga sampai masuk ke tulang tubuh.
Langkahnya tertatih, tetapi ia harus mendekati Suan yang sedang melangkah perlahan-lahan mendekati tepian jembatan.
“Hikkss.” Paaaakkkk..” Aku juga sakit, kau kira kau saja yang menderita, hikss hikss.” Aria berdiri di depan Arkas, ia menggenggam kemeja di dada Arkas dan menundukan kepala, menahan Arkas untuk tidak melangkah lagi setelah menampar pipi laki-laki tersebut. “Mati itu tidak enak apalagi dengan bunuh diri, kau tidak akan pernah bahagia setelah kematianmu, berpikirlah Arkas!, berpikirlah!, hiksss...hikss.” Suara Aria menggema namun Arkas tidak peduli. Laki-laki itu hanya menyingkirkan tubuh Aria yang menghalanginya hingga Aria terjatuh kembali.
“Haaa.. haaa..” Suara nafas Arkas terdengar dari mulut, mungkin karena hidungnya tersumbat ketika ia tadinya sempat menangis.
Dengan sekuat tenaga Aria berdiri kembali, “pikirkanlah ibumu!, kalau bukan kau yang mengantarkan kepergiannya, kau kira orang lain akan mengetahui kalau dia sudah mati." Aria tidak terlalu sanggup lagi melangkah. Di bawah guyuran hujan, wanita itu hanya berdiri memandang langkah pelan Arkas, “ setidaknya jika kau masih hidup, kau akan berguna untuk Rena nanti jika ia dalam kesusahan, mungkinkah kau mengira bahwa dia akan selalu bahagia?, bagaimana jika istri pertama suaminya menyiksa Rena?, mungkinkah kau akan membiarkannya begitu saja?, Rena pasti akan membutuhkanmu Arkas, jadi aku mohon..hikss.” Perlahan-lahan Aria melangkah dengan menahan rasa sakit dan rasa dingin yang kian menguat, menyiksa fisiknya, mendekati Arkas yang telah menghentikan langkah.
“Haaaa.. hiksss.. Aaaahhh.. ” Suara tangisan Arkas terdengar, laki-laki itu kini telah duduk menopang tubuh dengan kedua kaki. “Hiksss.. ibuku, ibuku.” Ucapnya menangis memanggil ibunya dan membiarkan Aria memeluknya serta menyandarkan kepala laki-laki tersebut di dada.
“Hksss hikks...”
Malam itu mereka berdua menangis, di atas jembatan dan di bawah guyuran hujan.
Rasa sakit di tubuh bagi mereka tidak lagi sebanding dengan penderitaan yang datang menerpa, silih berganti tiada henti-hentinya.
WUuuzzzz....
Hembusan angin kencang menerpa kedua tubuh mereka yang saling menangis di kegelapan malam.