
Seperti biasa, meja makan yang panjang diisi penuh dengan makanan mewah. Berbagai jenis Minuman juga terlihat disana.
Begitu pula dengan beberapa orang pelayan yang mulai menuangkan Jus Anggur ke dalam gelas-gelas kaca di samping beberapa orang yang terlihat duduk di kursi depan meja makan tersebut.
Lampu hias mewah terlihat menggantung jauh di atas mereka. Cahaya lampu, bersinar terang di ruangan yang luas.
Seorang yang terlihat sedikit tua tampak sedang duduk di ujung meja sembari mengobrol dengan seorang Laki-laki yang mungkin berusia lebih muda darinya dan duduk tepat di samping depan kanannya.
Dua orang wanita dengan wajah yang terlihat masih muda meskipun usianya sudah lumayan tua, juga terlihat saling berhadapan dan sesekali membuka obrolan.
Dua orang wanita muda lain terlihat saling duduk berdampingan dan juga saling mengobrol bahagia.
"Aku kembali." Suan masuk ke dalam ruangan, dia yang baru saja kembali dari kesibukannya, kini telah terlihat di pandangan mata semua orang di ruangan makan tersebut.
Memang, mereka sedang menunggu kedatangannya sebelum memulai acara makan malam bersama, tetapi sebelum memulai acara tersebut, sepertinya telah terjadi sesuatu hingga semua orang kini menghentikan obrolan masing-masing dan menatap marah kepada laki-laki yang baru saja tiba tersebut.
"Duduklah!" wajah salah seorang kepala rumah tangga di sana terlihat dingin dan begitu serius.
Suan yang masih berdiri sontak tertegun memandang wajah marah Ayahnya. Dia mulai menyadari sesuatu hal yang mungkin telah terjadi karena ulah Aria.
Lagi dan lagi,
Pikirnya, memang wanita tersebutlah yang selalu mengadukan segala keinginan hatinya yang tidak terpenuhi oleh Suan kepada ayah laki-laki tersebut.
Suan bahkan merasa jerah dan teramat lelah menghadapi sikap manja Aria yang terus-menerus memaksakan kehendaknya sendiri tanpa mempedulikan perasaan laki-laki itu.
"Bawa dia kemari!” perintah ibu Suan kepada salah seorang pelayan sebelum Suan bergerak menuju kursi dan duduk di sana.
Mata Suan sontak terbelalak.
Ia yang tadinya akan mendekati kursi saat itu telah menghentikan langkah dan melihat sekretaris Pribadinya sedang menangis sesunggukkan serta melangkah maju dengan terpaksa karena didorong oleh seorang pelayan hingga ia jatuh terduduk di depan semua orang di sana. "Ma.. hiks hiks.. maafkan aku, tuan.” Pinta wanita itu teramat memohon, tubuhnya gemetaran hebat, tangisannya juga tidak kunjung berhenti, dengan gugup ia juga berusaha berbicara.
"Apa maksud ini semua, Ayah?" tanya Suan terlihat tidak terima, ia bahkan merasa kasihan melihat sekretarisnya diperlakukan sedemikian rupa.
Aria tersenyum getir ketika mendengarkan ucapan Suan tersebut. "Benarkan paman?, Suan telah berselingkuh dengan sekretarisnya di belakangku, sekarang dia bahkan membelanya,” wanita itu berpura-pura merasa tersakiti. Malam itu, ia bahkan ingin sekali menampar wajah Suan karena geram mengingat mimpinya sendiri. "Ayah bagaimana ini?” kali ini ucapannya ia tujukan kepada ayahnya yang duduk di samping wanita itu." Terus-menerus, haa.. aku saja yang terus-menerus mengejar Suan, sementara Suan malah bermain hati dengan wanita lain. Ayah, sakit sekali hatiku ini." lanjut wanita tersebut menambahkan amarah ke dalam hati semua orang di sana terhadap perilaku Suan. "Sudahlah, batalkan saja..”
"Aria jangan bilang begitu, pasti saat ini sedang terjadi kesalahpahaman di antara kalian berdua, benarkan Suan?” senyuman kepuasaan mengembang di bibir, Ayah Suan bahkan terlihat begitu berusaha untuk meyakinkannya agar pernikahan dia dan laki-laki yang ia cintai, tidak berakhir gagal.
"Batalkan?, hm, ya sudah batalkan saja.” Tidak lagi sanggup menahan kekangan yang selalu membebani hidupnya, Suan mulai berjalan menghampiri sekretaris pribadinya untuk membantu wanita itu berdiri.
Paaaaaakkkk...
Tetapi sebelum ia mendekat, sebuah tangan telah menarik lengan tangannya dan tangan yang lain memukul kuat pipi laki-laki tersebut.
Mata merah karena marah memandang wajah Suan dengan menengadah kepala, "berani sekali kau berselingkuh dengan wanita murahan itu?” Ibu Suan yang telah datang mendekati, mengeluarkan amarah dan membentak Suan di depan semua orang di sana. Suaranya menggema, ia terlihat begitu sangat emosi dan tidak tahan lagi melihat sikap putranya.
“Haah,” Aria semakin tersenyum puas, "baiklah, Batalkan. Ayah, ibu kita pulang saja." Aria mengancam, ia bahkan berani menipu dirinya sendiri yang sangat tidak ingin pernikahan mereka berdua dibatalkan, tetapi mau bagaimana lagi. Menurutnya dengan cara itulah ia bisa menyingkiri Sekretaris dari laki-laki yang ia cintai.
"Aria, Aria jangan bilang begitu, apa yang kau ucapkan ini?, bukankah kau bilang sangat ingin bergabung dengan keluarga kami?" Cecilia yang sedari tadi diam bahkan ikut membuka suara, ia menahan Aria untuk tidak pergi dari rumahnya dengan menggenggam lengan atas wanita itu. “Jangan pergi!, Aku bahkan sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.”
“Aku, aku tidak ada hubungannya dengan wanita ini." Suan mengalah, ia menahan emosinya untuk yang kesekian kali. Sungguh, dia benar-benar tidak sanggup melihat keluarganya untuk selalu memohon kepada Aria.
"Benarkah kau tidak memiliki hubungan dengan Suan, wanita murahan?” Aria menghina, ia begitu geram mengingat saat terakhir kali pertemuannya dengan wanita itu di Hawai dan Suan membelanya.
"Kau," bukannya marah kepada sekreatrisnya, Suan yang memang mengetahui Sifat Aria sontak menoleh kepala ke arah wanita yang terlihat berwajah Sedih dan berpura-pura itu, “ Kau merencanakannya, benarkan?” Suan geram, ingin sekali ia mendekati wanita itu namun keinginannya ia tahan karena enggan melihat keluarganya mendapatkan masalah dengan keluarga Aria.
"Aku,” Aria terus saja berpura-pura, "bukankah sudah kukatakan padamu jadikan aku sekretarismu tapi kau menolaknya?, lalu ketika aku memintamu untuk mencari sekretaris laki-laki saja, kau juga menolaknya, jadi kenapa sekarang kau menuduhku?, Hiks, mungkinkah karena aku begitu mencintaimu dan merasa tertekan dengan perselingkuhan kalian lalu mengadu kepada ayahmu, maka dari itu kau membenciku?” begitu hebat wanita itu memainkan perannya dan mengatakan kebohongan yang nyata hingga semua orang merasa iba terhadapnya dan semakin marah kepada Suan saat itu.” Sudahlah, terserah saja, Aku menyerah, rasa cintaku yang tulus ini, kubuang saja.” Lanjutnya berteriak keras hingga menggema.
"Tenanglah Aria, kau tidak perlu menyerah." Ibu Suan dan ibu Aria datang mendekati, mereka berdua berusaha menenangkan tangisan wanita itu.
"Jangan khawatir Aria, paman akan mengatasi masalah ini dan pasti, tidak akan terulang lagi." Ayah Suan juga terlihat berusaha untuk menenangkan tangisan Aria hingga membuat Suan merasa sangat muak untuk melihat wajah Aria lagi dan pergi berlalu dari tempat tersebut.
"Huh." Ayah aria mulai menghela nafas berat "aku tahu dari dulu hanya Aria saja yang mencintai Suan,“ Dia yang sedari tadi diam kini mulai membuka Suara,”... maka dari itu, aku mulai takut Jika Putriku akan tersakiti seperti ini lagi dikemudian hari nanti," tambahnya mengejutkan semua keluarga Dikintama yang mendengarnya,”Ron, tolong beri peringatan kepada putramu agar hal ini tidak terulang kembali, atau kalau tidak bisa, lebih baik kita akhiri saja hubungan kekeluargaan ini.” Lalu melontarkan ancam dan meraih tangan Aria, membawa wanita tersebut meninggalkan ruangan makan keluarga Dikintama diikuti oleh ibu Aria yang terlihat kesal dengan kejadian yang berlangsung saat itu.
Rencanananya berhasil sempurna, ia yang tadinya menangis kini telah tertawa begitu bahagia di dalam hati.
Baginya, segala cara akan ia lakukan agar Suan tidak pergi darinya bahkan menipu keluarganya sendiri sekalipun ia tidak peduli.
**********
Tik tik tik..
Suara detik jarum jam berbunyi.
Keringat dingin mengguyur deras ketika ia sedang terbaring nyenyak di dalam mimpi tadinya.
“Haaaa..”
Matanya terbuka, dengan cepat ia segera duduk dengan memegang dada.
“Sakit sekali, haa.. haa..” Dia mengeluh, nafasnya terengah-engah.
Bahkan ketika sedang beristirahat sekalipun, ia diganggu dengan perasaan menyakitkan itu.
Perasaan yang menyatakan bahwa saat itu Arkas akan berada dalam bahaya.
Swaaapp..
Disingkapnya selimut yang menutupi tubuh tadinya.
Dilihatnya jam weker di meja yang jarumnya menunjukan angka 6.
Segera wanita itu berdiri untuk membersihkan diri, setelah itu ia berniat pergi ke tempat Arkas berada sebelum rasa sakit itu semakin parah.
Rasa sakit yang menyiksa karena bus yang akan ditumpangi Arkas mengalami kecelakaan nantinya.
Luar biasa mengerikan hidupnya.
Pikir wanita yang telah menggulung rambut dan mengikatnya lalu memakai sandal santai menuju ke kamar mandi di dalam ruang kamarnya.
Perasaan yang tiba-tiba muncul semakin terasa sakit jika saja ia tidak memikirkan Arkas di dalam otaknya. Yang membuatnya bertanya-tanya saat itu adalah mengapa Arkas selalu berada di dalam kesialan?, lalu mengapa ia yang tidak sengaja menabrak laki-laki tersebut, harus ikut merasakan kesialan itu?
Langkahnya terus berjalan hingga masuk ke dalam kamar mandi yang semerbak harumnya mampu menenangkan jiwa namun sayangnya tidak berpengaruh kepada hati Aria yang gelisah.
“Brengsek,” maki Aria karena rasa sakitnya kini semakin bertambah dan dia tidak memiliki banyak waktu lagi untuk membersihkan diri.