
Hanya ada satu selimut, ia juga belum membeli baju ganti. Hanya ada satu Kasur, juga satu tempat tidur.
Dia mengalah, hanya dapat memandang tubuh Suan yang telah terbaring di atas kasur dan memejamkan mata.
Langkahnya ia gerakan keluar kamar yang jauh lebih kecil dari kamar mewah di rumah keluarganya.
Dingin,
Suasana tersebut dihasilkan dari banyaknya pepohonan di dekat perumahan tersebut karena terletak di pinggiran kota dengan nuansa alami yang masih terjaga.
Ia terbaring miring dengan menekuk tubuh menahan rasa dingin, lalu berbalik miring ke arah lain, masih dengan menekuk tubuh dan menggenggam kedua tangan di depan dada.
Tubuhnya menggigil, “Ah,,” dia tidak tahan lagi lalu duduk dan berpikir untuk berada di kasur yang sama dengan Suan, “tidur bersama bukan berarti menikah, iyakan?” tanya Aria pada diri sendiri mulai berdiri sembari memeluk tubuh lalu ragu-ragu melangkah. “Aku tidak akan mungkin mati hanya karena berbaring di samping Suan.” Gumamnya pelan meyakinkan diri yang tadinya ragu, lalu bergerak perlahan-lahan mendekati kamar dan memandang wajah Suan dengan detak jantungnya yang kencang. “Huh, terserah saja dia akan marah ataupun menghina.” Aria menguatkan diri lalu perlahan-lahan berbaring di atas bagian kasur yang masih kosong dan menjaga jarak dari Suan lalu menarik selimut.
“Ha..” Aria kesal, dia sedikit geram karena selimut tidak dapat ia tarik mengenai tubuhnya. Perlahan-lahan tubuhnya mendekat, memasuki bagian selimut yang masih tersisa meskipun hanya sedikit saja, “ Suan!” panggilnya berbisik, ragu-ragu membangunkan Suan untuk berbagi sedikit saja lembaran selimut di sana.
“ Suan!” kali ini suara panggilannya di perkeras tetapi Suan yang terbaring miring dan memunggunginya, tidak kunjung membuka mata.
Mata Aria terasa berat karena kesunyian tempat dan dinginnya cuaca. Ia tidak lagi peduli dengan sikap Suan nantinya, yang ia lakukan saat itu adalah mendekati punggung Suan dan menarik bagian selimut yang tersisa untuk menutup tubuh dan mulai memejamkan mata.
Mimpi yang indah, ia duduk dari baringannya berada di tempat kosong dan tak berwarna.
“*********..” Mata Aria berbinar-binar ketika memandang wajah Suan di depan mata. Laki-laki itu terlihat mengeluarkan kata namun tidak terdengar di telinga Aria.
Aria tersenyum, ia hanya terus memandang wajah tampan Suan dan menikmati perasaan cintanya yang menggebu-gebu lalu ketika wajah Suan mendekat, ia mendekatkan bibirnya dan mencium pipi Suan.
Terasa sangat hangat, bahkan rasa dingin tidak lagi terasa menusuk di kulit.
Perlahan-lahan Aria membuka mata lalu pandangannya tertuju pada langit-langit atap rumah.
Setelah berkali-kali mengedipkan mata, ia memandang ke sekitarnya dan tidak menemukan Suan di atas kasurnya, ia juga tidak menemukan selimut menutupi tubuh, “ haa..” hingga tubuhnya mulai menggigil kembali karena Embun pagi yang mungkin masuk melalui celah-celah lubang sempit di rumah tersebut.
“Suan brengsek.” Maki Aria lalu melangkah menuju ke ruang tamu dan menemukan Suan sedang terbaring di atas sofa dan berselimut nyaman di sana, “keterlaluan,” lanjut Aria enggan kembali memejamkan mata ketika memandang jarum jam dinding menunjukan angka 5.
********
Udara yang segar tanpa ada asap kendaraan. Meskipun demikian, di sana terasa sepi. Hanya suara jangkriklah yang terdengar, terkadang juga suara burung berkicau.
Wuuuzzzz...
Pintu terbuka, Angin pagi menghembus masuk ke dalam hingga membuat Suan yang masih tertidur, menekukan tubuhnya.
Air di pagi hari memang sangat baik untuk kesehatan tubuh, Aria yang telah selesai membersihkan diri, pagi itu berniat untuk berdiri merasakan hangatnya mentari pagi yang masih belum muncul.
Menunggu matahari tiba, ia mulai merenggangkan otot-otot tubuh lalu terhenti ketika melihat seseorang keluar dari dalam rumah yang ada di depan rumahnya.
Aria tersenyum, Cahaya matahari yang mulai menyinari, menambah keindahan senyuman manis wanita itu.
“Kau tinggal di sini?” Arkas yang masih berada di depan pintu bertanya sembari mengunci pintu rumahnya tersebut.
“Hm,” angguk Aria mengiyakan, “kau mau kemana?” tanya Aria mulai melangkah kaki,
“Huaamm,” tapi sayang langkahnya terhenti karena tangan Suan telah memeluk bahunya dan laki-laki tersebut menyandarkan dahi di atas kepala Aria hingga mengejutkan wanita itu.
“Suan!” Aria melepaskan tangan Suan dan melangkah maju, namun langkahnya terhenti ketika laki-laki di belakangnya menarik siku wanita itu dan membalikan tubuhnya bersamaan dengan Arkas yang telah melangkah kaki keluar perkarangan rumah.
“Kau sudah mandi?” tanya Suan yang telah memegang kedua pipi Aria dengan kedua tangannya dan menekan bagian wajah tersebut.
“Tentu saja sudah mandi.” Jawab Aria berusaha melepaskan kedua tangan Suan untuk menekan pipi wanita itu, “lepas dulu!”
“Kau tidak melihat cermin, ya?”
“Cermin?” Aria mengernyitkan dahi kebingungan, masih belum mampu melepaskan tangan Suan dari pipinya, “untuk apa aku melihat cermin?” tanya wanita itu penasaran namun mimik wajahnya tersebut sepertinya membuat hati Suan senang.
“Hm,” Suan melepaskan tangan lalu mengantungi kedua tangan, menatap tajam ke arah Arkas yang langsung membuang wajah, setelah tadinya tidak sengaja melihat perilaku kedua tetangga di depan rumahnya tersebut.
“Tanda merah itu, kau tidak malu ya keluar rumah dengan tanda merah di lehermu itu?” Sindir Arkas yang telah berjalan cepat, menjauhi mereka.
“Tanda merah?” Aria terkejut, sementara Suan terlihat begitu senang di pagi hari itu sembari menaikan tangan ke atas untuk merenggangkan otot-otot tubuh.
“Suan, kenapa kau melakukan ini?” teriak Aria yang telah memasuki rumah dan memandang lehernya melalui cermin kamar mandi lalu berjalan ke ruang tamu dan membantingkan tubuh telungkup di atas sofa, karena merasa sangat malu.
“Mau bagaimana lagi, sudah terjadi.” Jawab santai Suan yang telah memasuki rumah dan duduk di sofa, atas kepala Aria.
“Ahh,, aku bahkan belum membeli pakaian, bagaimana cara menutupi leher ini nanti?” keluh Aria sedikit menaikan kepala menatap Suan yang sedang menggeser layar ponsel dengan santai dan melipat kaki, lalu menurunkan kepalanya kembali karena Suan meliriknya.
“Aku tidak ingin membelikan pakaianmu.” Jawab ketus Suan, menolak permintaan yang belum dilontarkan.
“Kau ingin mengadu pada siapa?” Suan terlihat sangat puas, ia bahkan mulai memandang ke bawah, ke arah kepala belakang Aria.
“Aku mau tidur lagi saja.” Aria bangun lalu meraih selimut yang tadinya berada di atas sofa lain kemudian melangkah masuk ke dalam kamar.
“hm, lebih baik kau tidur saja, jangan kemana-mana!” Ucap Suan keras, menasihat sembari tersenyum lucu, tipis karena menyenangi perilakunya sendiri kepada Aria malam itu.
***********
Aria tidak ingin keluar rumah bahkan untuk melihat Suan yang tadinya akan pergi ke kantor saja ia merasa sangat malu karena untuk pertama kalinya, ia mendapati tanda-tanda merah memenuhi leher.
Wanita itu bertanya-tanya alasan Suan melakukan hal tersebut saat ia masih terbaring dalam tidurnya. Ia merasa bahagia namun juga kesal serta kecewa karena ia begitu bodoh, tidak terbangun saat Suan melakukan hal tersebut.
Dia bertanya lagi pada dirinya sendiri tentang kemungkinan mimpinya adalah nyata, ketika Suan mengatakan kata tak terdengar lalu Aria mencium pipi laki-laki tersebut.
“Ahh malu sekali,” Aria terbangun lalu menutup wajah dengan kedua telapak tangannya, lalu terbaring telungkup dengan senyuman bahagia.
Sungguh, terlihat jelas bahwa wanita itu benar-benar mencintai Suan, bahkan ia terlihat sangat ceria hari itu.
Dia melupakan rasa sakitnya, dia melupakan penderitaannya, dia sangat bahagia jika hal tersebut berhubungan dengan Suan, karena memang di dalam hatinya mungkin telah terukir nama laki-laki yang kini telah pergi ke kantornya.
Tapi sayang, perasaan bahagianya hanya berlangsung sebentar saja.
Degg.. Deguuupppp... deguppp...
Jantungnya mulai terpacu kencang.
“Akh,,, “
Dia yang tadinya terbaring, segera berdiri sembari memegangi dadanya yang sakit.
“Akhh..” lalu melangkah cepat sembari memukul pelan dada tersebut keluar dan berlari tanpa mengunci pintu rumahnya.
Terus berlari bahkan mengundang banyak mata untuk melihat tingkah wanita tersebut.
“ikkkhh..” masih terus berlari, sepertinya kini ia mulai terbiasa berlari sembari memikirkan keadaan Arkas hingga tanpa sadar telah berada di jalanan raya lalu mencari kendaraan umum yang melintas.
Wanita itu terus bertanya-tanya, sampai kapan keadaannya tersebut berlalu. Begitu menyedihkan, kehidupannya yang selalu mengejar cinta Suan saat itu berubah seketika.
Ia ingin pulang, ingin sekali mengobrol dengan ibunya lagi.
Ia ingin pergi ke kantor ayahnya, ingin sekali memakan makanan kesukaannya.
Ia ingin mobilnya kembali agar dapat melihat Suan dari kejauhan.
Ia sungguh ingin kembali ke kehidupannya yang lalu.
Lumayan lama ia duduk di sana.
Ada begitu banyak mata yang memandanginya namun tidak ia sadari.
Walaubagaimanapun, selama hidupnya, ia sangat jarang sekali mempedulikan orang-orang di sekitarnya, maka dari itu, setiap orang yang menyapanya dengan senyuman, ia sekalipun tidak akan mengetahuinya.
Setelah turun dari bus kota, wanita itu segera berlari kencang menuju sebuah bangunan tua, lalu masuk dan matanya memerah,
Dia sangat geram,
“Elbram!” bentak keras wanita itu mengejutkan seorang laki-laki bertubuh gemuk yang terlihat berdiri memandang tubuh lemah Arkas.
“Aria!”
“Aria?”
Paaaaakkkkk...
Pukulan keras mendarat di pipi laki-laki tersebut, “Berhenti brengsek!” maki Aria membuat semua bawahan laki-laki yang tadinya memukuli Arkas menghentikan gerakan mereka. “Suan, benarkan Suan yang menyuruhmu?, iyakan?” Suara keras Aria menggelega di ruangan tersebut, wanita itu kini mulai mendekati Arkas dan membantunya.
“Minggir!” Arkas menjauhkan tubuh Aria dari tubuhnya setelah ia duduk, “Benarkan yang kubilang?, pasti, aku akan menderita berada dekat denganmu.”Perlahan-lahan Arkas berdiri sembari memegangi perutnya yang sakit.
“Arka..., “ Mata Aria membelalak marah ketika bawahan laki-laki bertubuh gemuk, menahan tubuh Arkas kembali. “Elbram!” bentak Aria marah lalu mendekati kembali laki-laki yang dipanggil Elbram itu.
“Huh, Aria, jika kau ingin dia selamat, mintalah kepada Suan saja, bukan kepadaku.” Elbram mulai melangkah sembari menyerukan bawahannya untuk membawa tubuh lemah Arkas bersama, meninggalkan Aria yang terlihat sangat ketakutan hari itu.
“Jangan pukul dia aku mohon, Haa.. hikkss!”
“Maka katakan itu pada Suan saja sana!” Balas Elbram dengan cepat dari kejauhan, meninggalkan Aria dengan rasa sakit dan kekhawatirannya yang begitu menyiksa.