
Hari itu, suasana di bandara sangat berisik. Hiruk pikuk keramaian silih berganti datang dan pergi.
Sesekali suara pesawat yang melandas juga tak kalah ikut meramaikan suasana, begitupula dengan suara pegawai bandara yang juga ikut terdengar menggema, memberitahukan info jadwal penerbangan.
Suan berdiri dengan menggenggam gagang koper di tangan.
Bola matanya terlihat menelusuri ke segala penjuru arah, mencari-cari sesuatu.
Sesekali ia melihat jam tangan untuk memastikan bahwa jadwal penerbangannya masih belum dimulai, hingga ketika datang seseorang, mata laki-laki tersebut mulai memerah dan berkaca-kaca.
“Paman, dimana Aria?”
Suan menarik koper mendekati seorang laki-laki yang baru saja sampai di bandara dan menemuinya.
Ia telah menunggu laki-laki tersebut datang setelah meminta ibu dan adiknya pergi tanpa harus melihat kepergiannya terlebih dahulu. Itu semua dia lakukan karena tangisan keluarganya sedikit membuat Suan merasa sedih untuk meninggalkan mereka saat itu.
Laki-laki itu adalah ayah Aria, dia mengacak-acak rambut Suan dengan rasa bangga yang tak terkira setelah Suan datang mendekatinya, “Kau tahu jika kau pergi, Aria akan ikut bersamamu, bukan?, Dia tidak akan melepaskanmu dan akan mengejarmu sampai ke ujung dunia sekalipun, maka dari itu paman tidak mungkin membawanya.”
Laki-laki itu mengeluarkan sebuah kartu ATM dari dalam dompet lalu memberikannya pada Suan yang saat itu tampak menundukan kepala karena sedih.
Suan menerimanya, ia mengetahui bahwa laki-laki di hadapannya tersebut telah menganggapnya seperti anak sendiri maka dari itu, ia tidak sungkan lagi untuk menerima uang pemberian dari laki-laki tersebut. “Itu adalah kartu debit bank Wells fargo, Maaf, paman hanya bisa memberikan sedikit dollar saja untukmu.”
“Tidak paman, berapapun isinya, uang ini sangat berarti untukku bertahan di sana.” Suan tertegun, ia menatap mata laki-laki di depannya dengan tatapan penuh rasa syukur, “sebenarnya paman tidak perlu memberiku uang, kau tahu aku akan bekerja di perusahaan Alp*abet, bukan?, Goog*e akan memberikan gaji padaku lebih banyak dan aku juga tidak akan mungkin kekurangan uang di California nanti.”
Suan memasukan kartu debit itu di dalam dompet yang telah ia raih dari kantung celana. “Paman, aku pergi...”
“Kalau kau tidak ingin kembali maka jangan pernah kembali lagi Suan, jangan paksakan dirimu!, saat ini kau bukan lagi pelayan Aria.”
Suan yang tadinya akan berbalik, mengurungkan niatnya.
Ia sedikit terkejut dengan pernyataan yang dilontarkan laki-laki di depannya untuk yang kedua kali ia dengar.
“Kalau kau memang ingin kembali, maka jadilah orang yang lebih hebat dariku ataupun ayahku. Aku tidak akan membiarkan Aria menikah dengan laki-laki manapun yang tidak mampu mencukupi segala kebutuhannya. Kau tahu, bukan?, saat ini Perusahaan ayahmu saja selalu bergantung padaku, jadi...”
“Aku paham, paman!” Suan menyela, “aku pergi, sampai jumpa lagi,” dia mulai berbalik dan melangkah meninggalkan ayah Aria dengan membawa perasaan sedih yang tak terkira.
Terus melangkah melewati para pegawai bandara, “ Aria, tunggu aku!" melewati pintu ruang tunggu menuju Garbarata yang terhubung dengan pesawat terbang dengan tujuan ke luar negeri hari itu.
**********
Ckrriikkk..
Suan menekan tombol potret kamera.
Di depannya, sepasang kekasih tampak berdiri dengan gaya kasual sederhana.
Saat itu, mereka tampak berada pada sebuah taman pepohonan. Musim semi telah tiba, dedauanan maple berwarna merah dan jingga terlihat jatuh berguguran dari pepohonan di taman sana.
“Bagaimana hasilnya?” Tanya seorang laki-laki dengan menggunakan bahasa internasional—bahasa Amerika yang begitu fasih sembari menunggu kedatangan Suan melangkah mendekati.
Suan memberikan kamera berkualitas tinggi ke laki-laki tersebut, “kau bisa melihatnya sendiri, Direktur.” Suan menjawab pertanyaan laki-laki itu dengan menggunakan bahasa yang sama, ia begitu fasih dalam berbahasa Amerika.
“Kau hebat sekali.”
Laki-laki di depan Suan begitu kagum dengan hasil jepretan yang Suan lakukan, ”aku pikir, kau sangat ahli seperti seorang photographer.”
“Itu adalah cita-citaku dulu, tapi tidak dengan sekarang.”
Suan sedikit menyingkir ketika pasangan laki-laki di depannya datang lalu meraih kamera dari tangan kekasihnya.
“Sayang sekali,”
“Tidak masalah bagiku, Direktur.” Suan tersenyum, membalas senyuman laki-laki di depannya yang telah memasukan kedua tangan di dalam kantung celana lalu mereka berdua memandang dedauanan maple yang berguguran jatuh di udara, “ Calon istriku sangat manja, jika aku melanjutkan cita-citaku, aku takut tidak akan bisa mencukupi kebutuhannya. Menjadi seorang photographer sangat sulit bagiku untuk naik ke atas permukaan, dan lagi, selama hidup, aku hanya memperdalam ilmu pengetahuan tentang Software saja, untuk meneruskan usaha keluargaku dan juga untuk menjaga wanitaku dengan baik nanti.”
“Kau benar-benar laki-laki yang baik,”
Laki-laki itu menoleh ke arah Suan yang tampak menengadah kepala memandang langit di sore hari.
Saat itu Suan sedang bergumam di dalam hati, ‘Apa yang sedang kau lakukan Aria?’ bertanya-tanya tentang Aria lalu berkata : “Terima kasih, Direktur.” Pada laki-laki di sampingnya yang turut ikut memandang langit yang sama.
**********
Setelah menerima piala penghargaan, Suan kembali duduk ke kursinya.
Ia menoleh ke arah kursi tamu yang terdapat keluarganya di sana dengan mata memerah karena tidak menemukan sesosok yang dicarinya.
Orang-orang yang duduk di sekeliling Suan memandangi laki-laki tersebut begitu kagum dan terpana, Suan membalas pandangan mereka dengan senyuman lembut sembari menggenggam erat piala yang ia terima.
“Maaf Direktur, aku belum bisa mengenalkannya pada anda.”
Hati Suan begitu piluh dan kalut, dia sangat marah padahal dirinya telah berkali-kali meminta Aria untuk datang melalui pesan.
Aria tidak pernah memberi kabar padahal mereka telah terpisah hampir 2 tahun lamanya.
*********
Suan berdiri sembari memberikan surat pengunduran diri pada laki-laki yang tampak menyayangkan keputusan Suan saat itu.
“Kau yakin akan keluar dari Alp*abet?, kau tahu bukan, perusahaan ini adalah perusahaan software paling besar di dunia.”
Laki-laki itu berusaha meyakinkan Suan untuk memikirkan ulang keputusannya, ia bahkan sempat menggeser kembali surat pengunduran tersebut untuk menolak permintaan Asisten kepercayaannya.
“Maaf Direktur,”
“Padahal aku berniat memberikan sebagian sahamku padamu, aku juga telah merekomendasikan untukmu menjadi wakil Direktur di perusahaan ini.” Laki-laki itu tersenyum kecut, ia menahan rasa sedih karena akan kehilangan orang yang berbakat seperti Suan, “ Suan, pikirkan ulang kembali!, kau bahkan bisa menjadi orang yang sangat kaya jika kau membatalkan pengunduran dirimu ini.”
Laki-laki itu menatap lekat wajah Suan yang sedari tadi hanya mengembangkan senyumannya. Ia benar-benar tidak ingin melepaskan Suan dan mengganti orang kepercayaan lainnya hari itu.
“Maaf Direktur!” Ucapan Suan mengecewakannya, “ Saat ini, calon istriku sedang sakit dan dia benar-benar membutuhkanku untuk menjaganya.”
“Kau mengorbankan jabatan besarmu hanya karena wanita?, Suan, kau benar-benar mengecewakanku.”
Dengan rasa kesal laki-laki itu meraih surat pengunduran diri Suan lalu menandatangani persetujuan.
“Maaf Direktur! “ dia tidak lagi ingin melihat Suan saat itu, dia berdiri lalu memandang kota melalui dinding kaca, membiarkan Suan berlalu dari ruangannya.
***********
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Suan tersenyum lucu, memandang wajah sembab Aria yang dipenuhi dengan air mata siang hari itu.
“Hikkss, kau pasti akan meninggalkanku, iya kan?”
Cahaya matahari menyinari kulit putih Aria yang tampak berjongkok sembari menghapus air mata berkali-kali dengan lengan tangannya.
Cahaya itu juga mulai dilalui oleh Suan yang telah melangkah mendekati Aria.
“Kenapa aku harus meninggalkanmu?”
Suan duduk bersila, menyandarkan punggung tepat di samping Aria dan menoleh kepala ke arah wanita tersebut.
“Kau pasti akan selingkuh, kau pasti akan mencari wanita lain yang lebih baik dariku, benarkan apa yang aku tahu di masa depan?, aku pasti ........”
“Kau ini bicara apa?, suaramu bahkan tidak kedengaran di telingaku.”
Suan meraih kepala Aria lalu menyandarkan kepala tersebut di bahunya, “Masa depan apa yang kau bicarakan?, kau punya indera keenam ya?”
Aria terus menangis sesenggukan tapi ia memperpelan suaranya karena hatinya sedikit merasa lebih baik dengan perlakuan Suan saat itu.
“Kau akan meninggalkanku, hikss hikkss, sekarang kau sudah sangat kaya, bagaimana dengan nasibku?”
Aria terus membersihkan air mata yang tak kunjung menghilang dari wajahnya, hal itu membuat Suan semakin ingin mengeluarkan tawanya.
“ Aku melakukan ini semua untukmu, kalau bukan karenamu, aku tidak akan mungkin berjuang sampai sejauh ini.”
Aria terkejut, ia melepaskan tangan Suan dari kepalanya lalu terduduk dan menoleh ke arah Suan serta menghentikan tangisannya.
“Benarkah?”
“Hm,”
Suan menganggukan kepala, meyakinkan Aria pada ucapan yang baru saja ia lontarkan. “Anehnya kau selalu mengatakan aku berselingkuh, tapi ketika aku terus menghubungimu selama dua tahun kita berpisah, kenapa kau selalu menolakku?”
“Kita pernah berpisah?, aku bahkan tidak pernah mengingat bahwa kita pernah berpisah, Su.. Suan...”
Suan membelalak mata, ia terkejut ketika melihat tubuh Aria yang mulai menggigil saat itu.
“Kita tidak pernah berpisah, dan tidak akan pernah berpisah.” Suan mengembalikan kepala Aria kembali ke atas bahunya dengan sejuta pertanyaan di dalam hati. Ia berpikir dan terus berpikir tentang kegiatan Aria selama dua tahun mereka berpisah saat itu.
Dalam hatinya mulai mengira,’mungkinkah Aria pernah mengalami kecelakaan waktu itu, lalu kehilangan sebagian ingatannya?’
Hembusan angin menerpa tubuh kedua orang yang sedang duduk bersama, terik panas matahari tak kalah turut menyinari kulit mereka berdua yang tampak begitu santai menetap di sana, hingga teriknya menghilang ketika awan gelap mulai menutup langit cerah pada siang hari itu di atap gedung perusahaan keluarga Harry.