
Suan membawa Aria kembali menuju Festival makanan.
Mereka berdua terlihat hanya diam dengan perasaan masing-masing.
Mobil perlahan-lahan terparkirkan. Suan membukanya terlebih dahulu kemudian ragu-ragu Aria turut ikut serta.
Alunan musik masih terdengar berbunyi, keramaian tempat kini semakin bertambah.
Beberapa orang dari kewarganegaraan asing terlihat bergabung dan berkumpul.
Sebagian dari pengunjung festival terlihat duduk di alam terbuka, menyaksikan panggung dan juga hembusan sepoi-sepoi angin malam.
Suan datang menghampiri Aria, “kau masih takut?” dia menggenggam tangan Aria sembari memandang wajah wanita itu yang telah menengadah.
“Hm,” Aria tersenyum, menggelengkan kepala, “Asal ada Suan, aku tidak takut apapun.” Wanita itu mulai melangkah mengikuti laki-laki tersebut menuju ke area acara. “Bukankah kau telah berjanji bahwa kau akan selalu melindungiku?, jadi aku percaya padamu, Suan.” Hati Suan terenyuh, merasa sakit karena kepercayaan yang diberikan Aria untuknya sementara ia pernah meninggalkan wanita itu begitu saja.
Perlahan-lahan langkah kaki mereka memasuki jalanan utama yang diapit oleh tenda-tenda makanan yang saling berhadapan.
“Kau ingin makan apa?”
Suan menoleh, ia sedikit terkejut ketika melihat Aria menundukan kepala saat itu, “ Aria, kau baik-baik saja?” Aria mengangkat kepala cepat, ia tidak mau Suan mengkhawatirkannya dan membuat laki-laki itu marah seperti yang ia lakukan pada Elbram.
“Aku hanya berpikir bahwa saat ini aku tidak sendirian.”
Ucapan wanita itu benar-benar membuat Suan kebingungan. Laki-laki itu bahkan bertanya-tanya di dalam hati maksud perkataan dari Aria saat itu.
“Kau ini bicara apa?, kau tidak akan sendirian lagi Aria.”
Suan membawa Aria pada satu tenda, “Aku ingin yang ini, yang ini juga dan yang ini.” Ia memandang ke arah sebuah bangku panjang yang memiliki sandaran punggung, bercatkan warna putih.
Di depan bangku itu, ada sebuah meja yang di atasnya terletak sebuah papan kecil bertuliskan angka.
“Meja 23.”
“Baik tuan.”
Suan membawa Aria ke bangku berwarna putih itu, namun ketika ia melangkah, kakinya terhenti karena beberapa orang menghampiri dan menyapa.
“Yo Suan,”
“Suan,”
“Ahh, Direktur.” Aria tersenyum pada seorang laki-laki yang dihormatinya. Laki-laki itu adalah atasannya ketika ia pernah bekerja di perusahaan Dikintama.
“Roy,” Suan membalas sapaan laki-laki yang tersenyum lembut pada Aria.
Aria memandang pada seorang wanita di samping laki-laki tersebut, ia mengernyitkan dahi tanda tidak menyukai tatapan lembut wanita tersebut untuk Suan.
“Kau mengenalnya?”
Tanya laki-laki di hadapan Suan tentang seorang wanita manis, berkulit cerah yang mengenakan gaun setumit kaki di sampingnya.
Suan menggelengkan kepala, “aku tidak kenal,” sepertinya ia sedang berbohong karena dirinya menyadari kecemburuan hati Aria dari genggaman tangan wanita itu yang dipererat.
“Kau melupakanku, Aku Ayunna. Kita pernah berada di satu panti asuhan yang sama dulu.”
Suan tertegun, ia terlihat berpura-pura berpikir saat itu.
Ia mulai memandang ke arah penjual kue yang telah melangkah sembari membawa beberapa kue pilihannya menuju kursi yang tadinya ingin ia tempati.
“Hm,” Suan tersenyum lembut, berkali-kali ia membalas sapaan orang-orang yang menyapanya dengan senyuman itu, “Maaf, aku tidak ingat.”
“Wah Suan kau keterlaluan, kau bahkan melupakan temanmu sendiri.” Sindir laki-laki di hadapan Suan terlihat begitu kecewa.
“Mau bagaimana lagi, aku memang tidak ingat.” Suan mulai melangkah membawa Aria menuju ke arah bangku bercatkan putih, meninggalkan kedua teman laki-laki tersebut begitu saja.
“Baiklah kalau kau melupakanku, tapi setidaknya kau akan mengingat namaku kembali, bukan?” teman wanita Suan menghentikan langkah laki-laki itu dengan genggam tangan di lengan hingga membuat Aria terlihat mulai terpancing emosi dengan perilakunya yang tidak sopan, menggenggam tangan pasangan orang lain begitu saja.
Suan yang menyadari hal tersebut segera melepaskan tangan wanita itu dari lengan tangannya, “Akan kuusahakan.” Jawab ketus laki-laki tersebut segera melangkah lebih cepat membawa Aria yang sangat kesal malam itu.
Mereka terus melangkah hingga duduk di atas kursi yang di bawahnya terdapat rerumputan hias yang di tanam, “Kau tidak mau makan ini?” Suan meraih potongan kue kering lalu menggigitnya kemudian mengarahkan sisanya untuk Aria.
“Aku mau.” Aria membuka mulut lalu Suan meletakan potongan kue ke dalam mulut wanita tersebut, dan Aria mulai mengunyah. “Hm, enak sekali.”
“Benarkan?” Suan meraih kue lain dan Aria turut mengikuti. “Semua makanan di sini adalah makanan yang sangat aku sukai.”
“Sebanyak itu?” tanya Aria yang belum sempat memasukan kue yang sama dengan kue yang diambil oleh Suan ke dalam mulutnya.
“Hm, benar,” Suan memandang Aria yang terkejut lalu memegang tangan wanita itu dan mengarahkan tangan yang memegang kue tersebut ke dalam mulut Aria, “makanlah!”
Aria mengunyah lagi kue yang berada di dalam mulutnya, “ini enak sekali,” Suan tahu bahwa Aria sebenarnya sangat menyukai makanan namun wanita itu tidak pernah berselera untuk memakannya.
Entah apa yang terjadi namun Suan masih berusaha untuk mencari tahu tentangnya.
Suan meraih kue kembali dan Aria meraih kue yang sama, “karena aku harus tetap sehat agar bisa terus menjagamu, kakek tidak pernah mengizinkanku untuk makan makanan sembarang maka dari itu aku sangat jarang makan makanan seperti ini.” Suan mengunyah makanan sembari memandang ke arah Aria, beberapa orang terlihat mulai mendekati untuk menyapa, Suan hanya tersenyum dan menggelengkan kepala sebagai isyarat bahwa mereka tidak perlu menghampiri Suan saat itu.
Teman-teman Suan mengerti meskipun mereka terlihat kecewa, tetapi Suan hanya bisa menghela nafas merasa bersalah dan dia tidak ingin Aria merasa terganggu karena kehadiran mereka.
Suan, seperti sedang menyembunyikan sesuatu yang memberatkan hatinya. Ia tampak hanya ingin menjaga Aria saja malam itu.
Suan mulai melihat ke arah jam tangan lalu membaringkan tubuh dan menempatkan kepala di atas paha kaki Aria hingga wanita itu terkejut pada perilaku laki-laki yang ia cintai.
“Suan, Apa yang kau lakukan?”
“Ambilkan padaku kue dan aku ingin memakannya!”
Aria tersenyum senang dengan perintah Suan, ia meraih sepotong kue lalu meletakannya ke mulut Suan, “tunggu saja sebentar lagi!” Suan menatap langit dengan tatapan penuh kesedihan yang mendalam.
“Apa yang harus aku tung...”
Cuupppp cuuuppp duaaaarrrr...
“ Wah kembang api.” Mata Aria berbinar-binar memandang langit yang dipenuhi percikan cahaya kembang api.
Dia sangat menyukai hal tersebut sampai melupakan kue yang berada di tangan untuk diberikan pada Suan.
Suan meraih tangan Aria, ia mengarahkan kue pada mulut lalu mengunyahnya. “Hm, kau sangat menyukainya tapi kenapa kau selalu merasa lelah untuk melihatnya dulu?” gumam Suan pelan sembari memandang wajah Aria dari bawah dan sesekali ia menoleh ke arah samping, memandang kerumunan karyawannya yang menyaksikan kembang api tersebut.
“Bagus sekali, aku seperti berada di jepang saat ini.”
Ucap Aria mengingat sesuatu hingga Suan kembali menoleh ke arahnya saat itu.
“Jadi kau ingat kita pernah pergi ke jepang?” tanya Suan pada Aria yang masih memandang ke atas langit.
“Tentu saja aku ingat.”
Aria menundukan kepala, memandang Suan sejenak lalu menatap ke arah langit kembali.
“Bagaimana dengan Barcelona?”
Aria mengernyitkan dahi lalu memandang Suan kembali, “aku juga mengingatnya Suan.”
“Paris?”
“Kau ini bicara apa?, tentu saja aku ingat semuanya.”
Aria memandang wajah Suan dengan seksama, tatapan mereka mulai beradu sejenak lalu Aria membuang wajahnya karena sangat malu.
“Jadi kau tidak hilang ingatan ya?”
“Brengsek Suan, jadi kau kira aku hilang ingatan dari tadi?” Bentak Aria marah sembari memukul bahu Suan malam itu.
“Hahaha aku kan mengiranya seperti itu.” Suan terduduk menghindari pukulan Aria kepadanya.
Laki-laki itu bergerak cepat meraih tangan Aria yang akan memukulnya lalu memandang mata Aria dengan lekat di bawah percikan kembang api yang terus meluncur cepat menghiasi langit di atas mereka.
“kau menginginkannya?”
“Apa?”
Aria panik, ia mulai bertingkah serba salah sembari mencoba melepaskan tangan Suan namun tidak kuasa.
“Bagaimana kalau aku menginginkannya?, mungkinkah kau mau memberikannya padaku?” Suan menarik tubuh Aria untuk semakin mendekatinya lalu melepaskan tangan Aria dan memandang ke arah langit di atasnya. “Ah, aku sangat gugup, bahkan untuk mengatakan itu saja, aku berusaha keras menahan hati.”
“Suan, kau gugup?”
Aria menoleh ke arah Suan di sampingnya.
Suan menurunkan kepala, memandang Aria dari atas.
“Hm, Aku selalu gugup,” Suan tersenyum lembut lalu meraih kedua pipi wanita tersebut, “aku berpikir, aku sedang bermimpi dicintai wanita secantik dirimu, bahkan hanya untuk mengatakan bahwa aku telah sukses meraih usahaku waktu itu, aku tidak mampu dan hanya membiarkan Elbram yang mengatakannya padamu.”
“Jadi waktu itu kau gugup maka dari itu berbaring di atas pangkuanku?” Mata Aria terlihat berkaca-kaca memandang mata lembut Suan yang tertuju padanya.
“Hm,” Suan menganggukan kepala, “ aku selalu gugup bersamamu Aria, maka dari itu aku selalu diam dan mengabaikanmu. Aku tidak pernah membencimu, aku hanya membenci laki-laki yang kau cintai maka dari itu aku menghancurkan perumahannya. Aku sangat marah ketika aku mengira bahwa kau mencintai laki-laki lain dan melupakanku.”
“Aku,” Aria bergerak cepat memeluk Suan, air matanya mengalir deras begitu bahagia, “.. aku tidak pernah melupakanmu, aku tidak pernah mencintai laki-laki lain selain dirimu.” Wanita itu membenamkan wajahnya di dada Suan, ia mengeratkan pelukan hingga membuat Suan tersenyum lucu dan mencium ujung rambutnya.
“Lalu bagaimana kau membuktikannya padaku?”
Suan melepaskan tangan Aria dari tubuhnya, ia memandang wajah wanita itu dan menghapus air matanya.
CUuuppp.. Duaaaammmm...
Suara ledakan kembang api di atas langit masih terus berbunyi, tatapan mereka saat itu saling beradu.
Perlahan-lahan wajah mereka saling mendekat dan aroma nafas telah saling terhirup.
“Yaaa.. kalian tidak melihat kondisi tempat ya.”
“Harry brengsek,” Suan menoleh ke arah samping, sementara itu Aria terlihat melompat dan berdiri, memiringkan tubuh dan enggan untuk melihat ke arah Harry yang telah duduk di samping Suan, diikuti Elbram dan juga Arkas.
“Aria, yang tadi..”
“Aku minta maaf Elbram,” Elbram membelalak mata, ia tidak menyangka bahwa Aria akan melontarkan kalimat tersebut untuknya.
“Jadi kau di sini, aku mencari-carimu tapi tidak menemukanmu sedari tadi.”
Seorang wanita terlihat datang mendekati mereka.
“Rena,” Aria tersenyum senang lalu melangkah cepat mendekati Rena yang telah berjalan menghampirinya, meninggal Elbram yang masih terkejut dengan sikap Aria padanya.
“Bagaimana kabarmu?”
“Kau tidak lihat aku baik-baik saja, ya?” Jawaban ketus Rena, Aria pahami. Mereka berdua terlihat berdiri sembari memandang ke arah langit yang bermunculan ledakan kembang api.
Malam itu mereka menghabiskan waktu di keramaian festival makanan yang menyenangkan hati, bercanda ria dengan mencicipi begitu banyak makanan yang ada.
Hati Aria tidak merasa sendirian lagi seperti di dalam mimpi yang ia alami, ia juga tidak lagi kelaparan, ia juga tidak lagi bersedih hati.
Ia bahagia, ia merasa bahwa perasaan aneh itu memberikan kehidupan baru yang mampu mengubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik.