Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Kedatangan Bigboss



Sangat ramai orang-orang berkerumun di lantai pertama bangunan hingga beberapa orang mulai keluar hanya untuk melihat pengusaha kaya yang sangat terkenal di kota mereka.


Tiga buah mobil mewah berwarna hitam telah berhenti tepat di depan pintu masuk utama.


Belasan laki-laki bertubuh besar terlihat menjaga serta melindung dan juga mengawasi keadaan sekitarnya ketika ayah Aria keluar dari mobil lalu disambut hormat oleh laki-laki tua, yang adalah pemilik perusahaan dan juga disambut hormat oleh para anggota dewan Direksi.


Memang, ayah Aria sendiri sangat jarang mengunjungi perusahaan lain kecuali hanya perusahaan Dikintama saja karena perusahaan tersebut menjalin hubungan kekeluargaan yang erat melalui Suan. Maka dari itu, ketika laki-laki tersebut datang, semua orang tampak sangat antusias untuk melihat secara langsung pengusaha terkenal tersebut dari jarak dekat.


“Arson, senang sekali perusahaan kecil ini dikunjungi oleh pengusaha cerdas seperti anda.”


Pemilik perusahaan melontarkan pujian sembari mengulurkan tangan yang langsung disambut baik oleh tangan ayah Aria, hingga keduanya kini saling bersalaman.


“Tidak ada maksud apapun aku berkunjung kecuali hanya untuk melihat kesayanganku saja.”


Pemilik perusahaan dibuat tersenyum kecut, ia mengetahui makna pernyataan yang dilontarkan oleh ayah Aria saat itu. “.. Tapi tenang saja, karena anda telah berbaik hati membiarkan kesayanganku bersenang-senang di tempat ini, aku dengan senang hati juga akan menanamkan modal di perusahaan anda tanpa perlu membeli saham.”


“Hahaha, “ tawa Pemilik Perusahaan menggelega. Ia bahkan masih berdiri pada tempatnya dan tidak kunjung melangkah dari sana, “itulah tujuan utamaku menyambut kedatangan anda dengan sangat hormat di perusahaanku ini.”


Lalu melanjutkan kalimat dengan mengutarakan maksudnya secara terang-terangan.


“Aku mengerti, itulah mengapa anda harus menjaga kesayanganku lebih baik untuk ke depannya lalu kita akan saling bergantung mulai dari sekarang.”


Senyuman kecut menghiasi bibir ayah Aria, laki-laki tersebut bahkan masih belum berminat untuk melangkah meskipun jalur lewat telah disediakan untuknya.


“Tentu saja, tentu saja. Kesayangan anda bahkan sangat betah bermain di perusahaan ini, ada begitu banyak karyawan kami yang melayaninya dengan sangat baik.”


Jawab Pemilik perusahaan begitu menyenangkan ayah Aria yang langsung mengembangkan senyuman bahagia hingga laki-laki tua itu juga ikut tersenyum bahagia.


“Wanita gila itu datang.” Seru Seorang karyawan sedikit mengejutkan ayah Aria saat itu.


“Kau tahu tidak, Direktur Harry bahkan sampai memarahinya karena sangat kesal.” Lanjut seorang lagi ketika Aria telah keluar dari pintu lift bersama dengan Suan.


“Kudengar namanya Aria, dia itu benar-benar wanita murahan yang tak tahu diri dan tak tahu malu.”


Tambah seorang karyawan semakin mengejutkan ayah Aria yang langsung menoleh ke sekitarnya.


“Mungkinkah sekarang dia ingin mencari perhatian pada Bigboss?, astaga wanita sampah itu, semua laki-laki ingin didekatinya.” Seru seorang karyawan lagi hingga membuat ayah Aria begitu marah lalu melirik ke arah Pemilik perusahaan yang tampak kebingungan dan bertanya-tanya tentang yang terjadi pada Putranya - ayah Harry.


“Ayah,”


Panggil Aria mengejutkan semua karyawan yang melihatnya.


“Ayah?”


Sebagian dari mereka bahkan tampak menutup mulut saking terkejut, sebagian lainnya mulai berdiri menggigil karena tadinya sedang membicarakan buruk tentang Aria.


“Apa yang terjadi padamu?, “tanya Ayah Aria dengan mata memerah karena khawatir melihat perban di dahi dan juga kedua lutut kaki putrinya, “apa yang terjadi padanya?” lalu membentak Pemilik perusahaan yang langsung menundukan kepala karena merasa takut dan merasa bersalah.


“Tadinya aku ingin memberikan puluhan miliyar, tapi sepertinya modal itu akan kugunakan untuk menghancurkan perusahaanmu ini.” Ancaman Ayah Aria mengejutkan semua anggota dewan Direksi begitu pula Pemilik perusahaan yang langsung jatuh terduduk,


“Tolong Arson, aku sendiri bahkan tidak tahu bahwa putrimu pernah terluka di perusahaan ini.”


Lalu memohon dengan sangat memelas dan mengisyaratkan semua orang untuk memohon juga pada ayah Aria.


“Ayah, apa yang terjadi?” tanya Aria kebingungan yang langsung berjongkok dan memandang laki-laki tua di dekat ayah Aria, “kakek, terima kasih ya sudah mengizinkan aku berada di tempat yang menyenangkan ini.” Ucap Aria sembari menepuk bahu Pemilik Perusahaan dan mengejutkan Ayahnya saat itu.


“Aria, kau..”


“Ayah, di sini sangat menyenangkan, tapi sepertinya sekarang ayah sangat merindukanku jadi sebaiknya kita pergi saja karena di sini terlalu ramai, bagaimana kalau kita makan di restoran biasa?, hari ini suasana hatiku sangat baik karena telah selesai memukuli anak orang, jadi aku sangat ingin memakan Caviar.”


Ucap Aria yang telah berdiri sembari meraih lengan tangan ayahnya dan mengajak laki-laki tersebut untuk pergi dari bangunan perusahaan bersamaan dengan Suan yang telah berjongkok,


“Kakek, apa yang anda lakukan?” lalu bertanya pada laki-laki tua yang tampak bersiap untuk berdiri.


“Kau yakin, Arson tidak akan menghancurkan perusahaanku?” tanya laki-laki tua tersebut ketika Suan telah ikut berdiri dengannya.


“Tenanglah, Aria sudah berubah.”


Jawab Suan melegakan hati laki-laki tua tersebut lalu ia melangkah ke arah pintu keluar bangunan, menuju mobil Ayah Aria yang pintunya masih terbuka karena sedang menunggu laki-laki tersebut untuk bergabung bersama.


“Dimana Bigboss?, kenapa aku tidak melihatnya?” tanya Harry yang telah datang dengan setelan jas baru dan tatanan rambut begitu rapi pada Elbram dan juga Rena yang masih berdiri di depan kerumunan karyawan-karyawan perusahaan.


“Kau datang lama sekali, mereka sudah pergi beberapa menit yang lalu.”


“Kenapa kau memarahi Aria?”


Baaakkk baaakkkk baaakkkk..


Berkali-kali Harry menahan pukulan tangan kakeknya yang begitu cepat.


“Kakek, kenapa kau bisa tahu?”


Harry berusaha keras melepaskan diri dari pukulan kakeknya ketika laki-laki tua tersebut telah berhasil ditahan oleh paman serta ayah Harry di sana.


“Tenanglah ayah, tenanglah, Aria bahkan sudah bilang kalau dia sangat suka berada di perusahaan kita.”


Ucap paman Harry berusaha keras untuk menenangkan hati ayahnya yang sangat marah saat itu.


“Umumkan pada semua orang bahwa Nona Anderston berada di perusahaan ini, Perintahkan semua orang untuk menghormatinya, kalian paham?” ucap keras Pemilik Perusahaan setelah melepaskan diri dari penahanan kedua putranya sembari memperbaiki setelan jasnya lalu bergerak memasuki lift, meninggalkan Harry yang telah bersembunyi dikerumunan karyawan-karyawan perusahaannya saat itu.


**********


Suasana di perusahaan begitu berbeda dari sebelumnya.


Semua orang tampak hormat pada Aria ketika wanita tersebut melewati mereka.


Tidak ada yang berani menyapa, semuanya menundukan kepala.


Hal itu sontak membuat Aria merasa tidak nyaman dengan perlakuan istimewa yang lagi dan lagi selalu ia rasakan dan itu terasa begitu canggung serta membosankan.


Aria yang telah keluar dari pintu lift dan membiarkan Suan tetap berada di sana untuk melanjutkan naik ke atas lantai bangunan tempat dimana ruangan kerja laki-laki tersebut berada, mulai melangkah mencari keberadaan Rena di ruangan khusus para karyawan Cleaning Service.


Tapi sayang, setelah sampai, ia tidak menemukan orang yang dicari karena mungkin wanita tersebut datang terlambat.


Karena sangat bosan dan tidak lagi menyenangkan berada di sana, wanita tersebut mulai melangkah menuju ke ruangan Michelle.


Pikirnya saat itu, lebih baik bersantai di sana saja karena perlakuan semua karyawan padanya kini terlalu kaku dan bahkan ketika ia lewat, semua orang yang tadinya berbincang-bincang mulai menutup mulut dan menundukan kepala.


Langkah Aria terhenti ketika ia telah memasuki ruangan Michelle dan melihat wanita yang tadinya sedang sibuk bekerja, melangkah mendekati Aria dengan sangat sopan dan Aria mulai merasakan perbedaan sikapnya.


“Aria, kau membutuhkan sesuatu?” tanya Michelle begitu hormat hingga Aria hanya bisa tersenyum pahit dan menahan rasa sedih di dalam hati.


“Katakanlah sejujurnya, bagaimana perasaanmu padaku saat ini ?” tanya Aria secara terang-terangan mengejutkan Michelle saat itu.


“Aria, kau ini bicara apa?, aku akan menyuruh Sekretarisku membuatkan teh hijau untukmu, ya.”


Michelle mulai melangkah menuju ke luar pintu untuk menemui Sekretarisnya yang sedang duduk sembari mengerjakan tugas di sana, namun sayang, langkahnya terhenti ketika Aria berhasil menahan tangan wanita tersebut dan dia sontak berbalik kembali menghadap ke arah Aria. “Aria kenapa?”


“Katakan kubilang!, kau tidak dengar ya?”


Perintah Aria dengan nada tinggi dan penuh tekanan hingga Michelle langsung menunduk dan melangkah sedikit menjauh,


“Tolong!” lalu mulai mengungkapkan isi hatinya, “tolong jangan dekat denganku lagi Aria,” dan matanya mulai memerah memandang mata Aria yang juga mulai memerah, “kau adalah nona Anderston yang sangat kaya, jika suatu hari kau mendapatkan masalah dan aku sedang bersamamu, kau tahu bukan, apa yang akan terjadi padaku dan keluargaku?, kami sangat mengenal keluarga Anderston, kami sangat mengenal bahwa kakekmu akan menghancurkan siapapun yang melukaimu walau sedikit saja, dan aku pikir, ayahmu juga akan melakukan hal yang sama, jadi aku mohon Aria,” lanjut Michelle dengan sesekali tertegun lalu menundukan kepala, enggan untuk melihat mata Aria kembali, “menjauhlah dariku!” kemudian mengutarakan permintaannya pada Aria yang langsung tersenyum kecut.


“Baiklah aku mengerti.” Lalu mengubah senyumannya menjadi senyuman pahit kemudian melangkah sembari mengacak-acak rambut Michelle, “tenang saja, aku pasti menjauh, jaga dirimu baik-baik, ya,” dan segera berlalu pergi dari ruangan temannya itu, membawa rasa pahit di dalam hati.


Dia ingin sekali menangis, dia juga ingin sekali marah tapi tidak tahu, kemarahan tersebut akan ia tujukan pada siapa.


Semua orang kini telah berubah, tidak ada lagi yang berbisik buruk tentangnya, tidak ada lagi yang menyapanya dengan sembarangan kata, tidak ada lagi yang mau berteman baik dengannya tanpa rasa hormat.


“Hoi,” kecuali hanya seorang saja.


“Haaa hikkss hikkss..”


“Kenapa kau menangis?” tanya Rena yang telah datang menghampiri Aria dan memukul punggung belakang wanita itu, “ kau ini cengeng sekali.”


“Kau tidak takut berteman denganku, ya?” tanya Aria yang telah mengikuti langkah Rena sembari menghapus air mata dengan punggung telapak tangannya.


“Aku tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini, kalau aku mati karena berteman denganmu, juga tidak masalah.”


“Haaa hikss hikss.” tangisan Aria terdengar semakin keras,


“Diamlah, kau ini berisik sekali.” Namun mulai terhenti ketika Rena memarahinya.


Kedua wanita tersebut mulai melangkah menuju ke ruangan Cleaning Service, melewati banyaknya orang yang memberi hormat pada mereka.