
Malam itu mereka pulang lebih cepat dari hari biasanya.
Mungkin karena pekerjaan Suan yang tidak lagi padat dan hasil pendapatan harian perusahaan keluarga Harry yang telah meningkat.
Mereka yang telah membersihkan diri, kini tampak duduk di depan televisi yang menyala.
Meskipun menyala, mereka berdua tampak tidak memandang saluran televisi di dalamnya.
Aria tampak terbaring terlentang dan menyandarkan kepala belakang pada salah satu paha kaki Suan di atas sofa.
Suan tampak memegang ponsel dan bermain game dengan sesekali memandang Aria yang hanya terus memandang laki-laki tersebut penuh dengan rasa cinta.
Terkadang Aria berbaring miring karena merasa malu dengan pandangan mata Suan, terkadang ia terlentang kembali karena sangat ingin memandang wajah tampan Suan yang sangat ia sukai.
Suan tersenyum lucu, melihat tingkah yang dilakukan Aria berulang kali.
Ia mulai menutup permainan di layar ponselnya dan memilih fokus untuk memandang Aria dari atas hingga ketika Aria mulai terlentang kembali, wanita itu sontak menutup mata lalu memiringkan tubuhnya lagi dengan cepat karena sangat malu melihat tatapan mata Suan saat itu.
“Berhentilah menatapku seperti itu!” Pinta Aria masih dengan menutup mata lalu menelungkupkan tubuh begitu gugup saat itu.
“Bukankah kau duluan yang menatapku seperti itu?”
Tolak Suan sembari memegang rambut belakang Aria yang halus, sesekali ia bahkan memainkannya, dengan menggulung-gulung beberapa helaian rambut tersebut.
“Berbeda denganmu yang biasa saja,” Aria yang tadinya telungkup kini mulai memiringkan kembali tubuhnya, kali ini menghadap ke arah perut Suan, “ketika kau menatapku, rasanya jantungku ingin meledak, hem, rasanya malu sekali.” Lalu duduk memunggungi Suan ketika ia tidak lagi mampu menahan rasa malu yang menyelimuti hati.
“Padahal kita selalu tidur bersama, kenapa kau masih sangat malu padaku?, kau ini aneh sekali.”
“Ini karena rasa cintaku padamu yang begitu dalam, dan kau harus memahami itu semua!, Aku hanya malu sebentar saja dan sekarang sudah tidak lagi.”
Sela cepat Aria sembari menurunkan kedua kaki dan mulai menghadap ke arah televisi dengan tubuh yang ia geser perlahan-lahan mendekati Suan lalu menempel pada laki-laki yang ia cintai tersebut tanpa berani memandang wajahnya.
“Benarkah?”
Tanya Suan dengan menoleh ke arah Aria dan membiarkan wanita tersebut memeluk lengan tangannya.
“Hm, tentu saja, maluku pertanda bahwa aku telah bersungguh-sungguh memberikan hatiku ini padamu, dan Suan, kau tidak perlu khawatir karena kau adalah laki-laki maka tentu saja kau tidak akan mungkin merasakan malu seperti yang kurasakan, jadi aku memaklumimu karena kau tidak malu menerima tatapan penuh cinta dariku.”
Pernyataan Aria membuat Suan sedikit tersenyum lucu malam itu.
“Aria, darimana kau belajar cara merayu laki-laki?”
Suan bahkan mulai membungkuk untuk memandang wajah Aria, namun Aria membuang wajahnya, ia menolak untuk membalas tatapan Suan saat itu.
“Tentu saja aku belajar dari buku, kalau tidak, mana mungkin aku bisa bicara sehebat itu.”
Aria menghela nafas, sesekali ia menelan Salivanya karena masih merasa sangat gugup dengan perlakuan lembut Suan yang akhir-akhir ini sering kali ia rasakan padahal menurutnya, di masa lalu laki-laki tersebut sangat jarang menjawab pertanyaan Aria dan lebih sering diam ketika mereka bersama.
“Baiklah, aku juga akan belajar untuk merayumu nanti.”
“Benarkah?”
Tanya Aria kaget sembari menengadah, memandang ke arah Suan dari bawah lalu dengan cepat ia membuang wajahnya kembali.
“Hm, tentu saja,” Jawab Suan membuat Aria tersenyum kegirangan, ia bahkan berusaha keras untuk menyembunyikan kebahagiaannya tersebut dengan menundukan kepala sesekali, “ah benar, aku ingat, mungkinkah lusa kau akan pergi?”
“Kemana?” tanya Aria yang telah menoleh ke arah Suan namun masih belum memandang wajah laki-laki tersebut.
“Pesta pertunangan Harry dan Michelle.”
Jawab Suan yang mulai menggerakan tangan dan meraih pinggang Aria untuk semakin mendekatkan wanita tersebut ke tubuhnya.
“Aku dengar dari Harry, Michelle mengundang banyak teman SMA kita dan mengatakan bahwa kau pasti akan datang ke pesta pertunangannya. Dia berbohong seperti itu agar semua teman-teman yang menganggumimu ikut datang, maka dari itu Harry memintaku untuk membawamu ke acara mereka agar Michelle tidak ketahuan berbohong.”
Jelas Suan berusaha meyakinkan Aria yang masih terlihat ragu-ragu saat itu, terlebih lagi ketika Michelle tidak lagi ingin wanita tersebut mendekatinya.
“Tapi Michelle mengatakan bahwa dia tidak ingin dekat denganku.” Adukan Aria dengan mata berkaca-kaca saat itu, ia yang merasa sedih mulai melepaskan tangan Suan dan berbaring telungkup kembali, menyembunyikan kesedihannya dari laki-laki yang sangat ia cintai.
“Benarkah?, aku kira dia tidak akan mungkin mengatakan terang-terangan seperti itu padamu, mungkinkah kau yang memaksanya untuk mengatakan hal itu?”
Tanya Suan yang sangat mengenali Aria.
“Hm,” angguk Aria yang masih menutup wajah di atas paha kaki Suan.
“Kalau dia berani jujur, maka seharusnya kau juga berani jujur dengan perasaanmu.” Ucap Suan sedikit mengejutkan Aria dan membuat wanita itu sontak duduk kembali, “kalau dia tidak ingin dekat denganmu, masih ada aku yang akan selalu dekat dan melindungimu.” Lanjut Suan hingga Aria menggertakan gigi-giginya karena merasa sangat terharu saat itu.
“Suan, aku sangat menyukaimu.”
Aria memberanikan diri untuk memandang wajah Suan,
Suan membalas tatapan Aria yang menengadah.
Wajah mereka kini saling mendekat dengan tatapan yang juga saling beradu.
Aria sangat menyukai aroma nafas Suan yang menurutnya sangat harum, begitupula dengan Suan yang kini tampak lebih mendekati wajah Aria dan menghirup aroma nafas wanita itu.
“Kau mengganti pasta gigimu ya?” tanya Suan yang telah menyadari aroma berbeda dari nafas Aria.
“Haa..” Aria mulai menurunkan wajah lalu menghirup nafasnya sendiri, “aku pikir aku menggunakan pasta gigi yang sama dengan punyamu.”
“Jadi kau menggunakan barang milikku, ya?” tanya Suan sedikit merasa kesal saat itu, “bukankah aku sudah membelikanmu merek yang berbeda?, kau tidak seharusnya memakai barang laki-laki, Aria.”
“Aku menyukai semua hal tentangmu, aku tidak peduli dengan perbedaan barang kita dan lagi, kenapa pasta gigi juga harus dikhususkan untuk laki-laki dan perempuan?” keluh Aria tampak kecewa karena gagal mencium Suan yang sangat ia inginkan malam itu.
“Pasta gigiku itu barang limited, mengandung bahan kimia yang memang dikhususkan untuk laki-laki, sudahlah kau tidak akan memahaminya, dan kuperingatkan padamu, jangan gunakan pasta gigi itu lagi, kau mengerti?”
Perintah Suan mulai berdiri sembari meraih remote televisi dan mematikan layar yang tadinya menyala lalu mengulurkan tangan pada Aria untuk mengajaknya ikut berdiri.
“Sudah waktunya tidur ya?”
Tanya Aria terlihat begitu kecewa sembari meraih tangan Suan lalu berdiri.
“Tidak,” jawab Suan yang telah melingkarkan salah satu tangannya pada pinggang Aria hingga wanita itu terkejut dan membelalak mata memandang mata Suan saat itu. “Aku hanya ingin leluasa mencium dan memelukmu saat ini,” lanjut Suan yang mulai meraih leher Aria dan membawa wajah wanita tersebut mendekati wajahnya.
Tiiinggggg...
“Permisi, aku datang untuk mengganti perban nona Aria.”
Suara bel dan suara seseorang yang terdengar dari balik pintu mengejutkan Suan yang mulai merasa kesal malam itu.
Laki-laki yang tadinya akan meraih bibir Aria terpaksa melepaskan pelukannya hingga Aria yang tadinya memejamkan mata mulai terkejut dan kecewa.
Sepertinya wanita itu tidak menyadari bahwa seorang tamu telah datang dan menggagalkan Suan untuk mencium bibirnya malam itu hingga Aria mulai marah dan melempar Suan dengan bantal Sofa, lalu ketika mengenai punggung Suan, dia terkejut karena seorang dokter telah datang dan masuk ke dalam Apartemen tersebut.
“Kenapa kau marah padaku?” tanya Suan kebingungan dengan lemparan bantal dari Aria saat itu.
“Tidak,” ucap Aria dengan matanya yang memerah, “kenapa kau datang mengganggu acara mesra kami?” lalu berbalik dan melangkah meninggalkan Suan dan Dokter yang baru saja tiba dengan kekesalan yang mendalam.
“Haruskah aku pergi?” tanya dokter yang baru saja tiba pada Suan yang tampak tersenyum lucu dengan tingkah Aria saat itu.
“Tidak perlu,” lalu mempersilahkan dokter tersebut untuk masuk ke dalam Apartemennya.