
Tempat parkir tamu khusus memang berbeda, bahkan suasananya terlihat begitu mempesona mata. Terlebih lagi di malam hari dengan banyaknya bintang di atas langit dan juga cahaya bulan yang menyinari.
Bakkk...
Aria menutup pintu mobil.
Twiiitt.
Lalu menguncinya.
Dia yang telah membawa tas mewah di tangan telah melangkahkan Kakinya menapaki lantai atap gedung yang lumayan tinggi karena di sanalah tempat parkir khusus tamu istimewa berada.
Dua orang laki-laki tampan dengan bentuk tubuh profesional datang menyambut kedatangan wanita itu. Mungkin mereka adalah Gigolo yang bekerja untuk melayani wanita dan telah dipesan oleh Aria.
Wuuuuzzzzz....
Hembusan angin menerpa kulit putih yang melangkah melewati pepohonan palem pendek dengan lampu-lampu hias berwarna-warni. Terus melangkah hingga kedua laki-laki tampan yang seorangnya berambut cepak dan seorang lagi berponi menyamping sedikit naik datang mendekat dan mengulurkan tangan.
“Wah, tidak biasanya nona Aria yang begitu menawan ini datang mengunjungi kami. Kami bahkan harus membatalkan pesanan tamu lain hanya untuk memberikan pelayanan istimewa pada anda.” Uluran tangan diabaikan, laki-laki yang memujinya terlihat menghela nafas berat dengan penolakan Aria terhadapnya.
“Hm,” Aria yang terus melangkah melewati bangku-bangku kayu jati menjawab dengan teramat dingin. Wanita itu bagai orang yang tidak memiliki semangat hidup saat itu. Ia berjalan dengan tatapan lurus namun terlihat kosong.
Kedua laki-laki yang tadinya menyambut kedatangan Aria, segera mengikuti wanita itu. Seorang dari mereka ingin menyentuh tangan Aria namun wanita itu berhasil menepisnya.
“Aku disewa tetapi tidak digunakan.” Gumam laki-laki yang tadinya ingin menyentuh wanita itu, pelan. Ia tampak sedikit kesal karena tidak dapat menyentuh kulit lembut yang sepertinya sangat ia inginkan.
Tuk.. tukkk.. tukkk..
Duuuuppp daaapppp duuuppp...
Suara musik Hip Hop terdengar menggema di telinga ketika ia melangkah kaki memasuki koridor menuju tempat utama.
Suara teriakan beberapa orang yang menikmati alunan musik di sana juga tak kalah ikut meramaikan suasana.
Aria yang telah memasuki ruang utama, memandang ke arah bawah, tempat dimana ada banyak orang yang menari-nari mengikuti alunan musik.
Suara sepatunya tak lagi terdengar saking kerasnya musik yang dipandu oleh seorang DJ, berbunyi.
Wanita itu terus melangkah hingga seorang pelayan membukakan pintu untuknya masuk ke ruangan VIP yang telah ia pesan.
Pelayan lain tampak berdiri di samping sofa tamu mewah dengan memegang sebotol minuman beralkohol berjenis Vodka.
“Kau, di sini?, Wahhh.. seorang Aria berada di tempat seperti ini?” belum sempat Aria melangkah masuk ke dalam ruangan yang ia pesan, wanita itu terpaksa berbalik, menghadap ke arah sumber suara yang berada di belakangnya.
“Hm,” Aria tersenyum remeh, ia bahkan memandang seorang wanita cantik berambut panjang lain dengan tatapan tidak menyenangi. “Michelle, kau mengangguku.”
“Ck, kau benar-benar tidak berubah dari dulu,” belum sempat Aria kembali melangkah karena tidak ingin berurusan dengan teman sekelasnya sewaktu SMA, wanita itu kini harus mendengarkan suara sindirannya lagi, “.. merasa hidup sendiri di dunia ini.”
“Hm,” jawab cepat Aria mengiyakan. Wanita itu benar-benar enggan berbicara dengan temannya tersebut.
“Kau sudah menerimanya?, undangan pertunanganku dengan Harry.” Teman Aria tersebut melangkah masuk mengikuti Aria yang tampak tidak mempedulikan perilakunya tersebut.
“Bukan urusanku.” Aria terus melangkah lalu duduk di atas sofa menyandarkan punggung sembari menatap langit-langit ruangan karena merasa lelah dengan hari-harinya.
Wanita yang mengikutinya segera mengambil posisi duduk di sofa lain yang terdapat seorang laki-laki di sana. Dengan gerakan cepat, ia bahkan telah bergelayut manja di lengan laki-laki yang telah di sewa Aria malam itu.
Seorang pelayan mendekati, ia menuangkan alkohol ke dalam gelas di depan Aria dan juga temannya tersebut.
“Haa.. padahal dia adalah mantan kekasihmu, kenapa bisa kau berbicara seperti itu?” Wanita itu meraih gelasnya lalu meneguk isi di dalamnya, tetapi Aria masih terlihat menatap langit-langit ruangan dan belum menyentuh gelas miliknya.
“Aku tidak ingat pernah berhubungan dengannya.” Jawab Aria bersamaan dengan alkohol yang telah dituangkan kembali ke dalam gelas temannya yang telah kosong.
“Wahh keterlaluan, bukankah karena kau dia hampir mati karena pukulan Suan?”
“Aku?” Aria terkejut lalu menegakan tubuh dan menoleh ke arah temannya tersebut, “hm, konyol, mungkin kau salah informasi.” Lanjut jawab Aria mengingat kembali semua perilaku Suan yang tidak pernah sedikitpun lembut terhadapnya sembari menyentuh gelas di depannya.
Teman wanita Aria segera meraih gelas dari tangan Aria,” aku bahkan sangat terkejut kau datang ke tempat ini padahal kau begitu tidak nyaman dengan keramaian.”
“Kau terlalu banyak bicara.” Aria meraih gelas yang tadinya diambil oleh temannya kembali lalu bergerak untuk meneguknya.
Degg... degguuuppp...
“Haaa..” Tapi sebelum itu terjadi, perasaan aneh itu muncul hingga Aria yang tadinya berharap dirinya akan tenang, saat itu membungkuk lalu menundukan kepala sembari menggenggam erat gelas di tangannya.
“Aria, percayalah yang kukatakan benar adanya. Harry bahkan sangat ........ “ Deg.. deguppp.. deguuuppp..deguuupp.. Suara teman wanita itu tidak lagi terdengar jelas. “Aria!” Panggilannya juga tidak membuat Aria bergerak dari posisinya. “ Aria, kau baik-baik saja?”
“Nona!” panggilan laki-laki bayaran yang sempat terdengar, ia abaikan.
“Nona, nona, anda baik-baik saja?” Laki-laki bayaran lain juga tak kalah khawatir dengan keadaan Aria hingga ia hendak menyentuh punggung wanita itu, Paaaakkkk..
Tapi tangan Aria menepisnya.
“Non..”
“Diamlah!” bentak Aria marah dengan keringat tubuh yang bercucuran karena menahan rasa sakit yang perlahan-lahan menyiksa.
“Aria, kau kenapa?" teman Aria terlihat panik, terlebih lagi ketika melihat Aria telah berdiri dan air mata wanita tersebut jatuh membasahi pipi, “ Aria!"
“Nona!” Semua orang dibuat terkejut ketika Aria berlari keluar ruangan dengan cepat Tarrrr... dan menabrak seorang pelayan yang tak sengaja berpas-pasan dengannya.
Tubuhnya basah karena terkena air minum yang tumpah, ia jatuh terduduk dengan wajah pucat dan tangan berdarah yang tidak sengaja menyentuh pecahan gelas kaca.
“Aria!”
“Nona!”
“Harry kau dimana?”
Suara orang-orang yang panik, ia abaikan.
Wanita itu segera berdiri lalu mulai berlari kembali tanpa mempedulikan perhatian orang-orang yang melihatnya.
“Aria!” suara seorang laki-laki terdengar memanggilnya tetapi wanita itu tidak mempedulikannya.
Terus berlari hingga sampai ke parkir mobil.
“Aria!, huh,” seorang laki-laki berhasil mengejarnya dan berdiri dengan nafas terengah-engah, “ Aria, ada apa denganmu?” tanya laki-laki yang telah berhadapan dengan Aria dan memegang siku wanita itu.
“Lepas bodoh, cepat lepas!” bentak Aria keras sembari menghempaskan tangan laki-laki itu lalu masuk ke dalam mobilnya.
“Aria!” laki-laki itu kesal, ia hanya bisa berdiri dan memandang kepergian mobil Aria serta tampak enggan mengejarnya padahal ia tahu bahwa keadaan wanita tersebut terlihat kacau malam itu.
“Harry!, bagaimana Aria?” tanya teman Aria yang telah melangkah kaki mendekati.
“Kau yakin kau tidak melakukan apapun pada Aria?” tanya laki-laki tersebut, kini telah membungkuk dengan kedua tangan menyentuh lutut untuk menahan rasa lelah.
“Apakah kau bodoh?, bagaimana mungkin aku bisa melawan Aria?”
“Aria lemah, haa.. haa..” Bentak laki-laki itu keras dengan nafasnya yang masih terengah-engah.
“Apa?”
“Aria telah membatalkan pertunangannya dengan Suan, jadi saat ini dia pasti sedang kesakitan.” Jawab laki-laki itu kini telah berdiri tegak kembali.
“Lalu kau ingin kembali bersamanya lagi?” tatapannya mulai terlihat menyedihkan, wanita itu bahkan mulai menundukan kepala merasa gelisah.
“Tidak,” dia menggenggam erat kedua tangannya, lalu melepaskan ketika puas melakukannya. “ Aku hanya ingin tahu kenapa Aria melakukannya.” Jawab laki-laki itu berusaha menenangkan wanita di hadapannya.