
Rambutnya ia ikat naik satu ikatan ke belakang.
Gaun yang tadinya ia kenakan, kini telah berganti dengan kemeja abu-abu dan celana panjang berwarna hitam.
Sepatu hitam juga ia kenakan, sebuah papan nama juga tak kalah turut mengalung di lehernya.
Meskipun bukan sebagai karyawan, tetapi Aria yang tidak ingin dibedakan saat itu meminta teman wanitanya untuk menganggapnya sebagai karyawan perusahaan tersebut agar bisa leluasa keluar masuk untuk memantau keadaan Arkas di sana.
“Benarkah kau teman SMA Direktur Harry?” bisik Sekretaris Harry yang terlihat duduk di mejanya, di depan pintu ruangan Harry yang tertutup sembari memandang ke arah Aria.
Saat itu, Aria terlihat duduk di kursi plastik berkaki empat tanpa sandaran sembari memakan permen lolipop di mulutnya dan memandangi koridor, menunggu kedatangan Michelle.
“Hm,” Jawab Aria tanpa menoleh ke arah Sekretaris Harry sembari memegang gagang lolipop dan mengeluarkan isinya, kemudian memasukan lolipop tersebut kembali ke dalam mulut.
“Kau ingin makan apa?, aku akan membelikan cemilan sehat untukmu.” Tawar wanita di depan Aria tersebut secara tiba-tiba, mengejutkannya.
“Hm,” Aria tersenyum sedikit geli, “ Semua jenis cemilan yang harganya paling mahal.” Bisik Aria sembari melepaskan lolipop dan mendekatkan kursinya ke meja kerja wanita di depannya, kemudian menyadarkan kedua tangan di atas meja sembari masih memakan permen lolipop yang hanya tersisa sedikit lagi.
“Tenang saja, aku akan menghabiskan uang 50ribu khusus untukmu tapi dengan satu syarat..”
“Apa?” Jawab cepat Aria yang mulai terlihat begitu tertarik dengan penawaran tersebut.
“Katakan apapun yang kau ketahui tentang Direktur Harry padaku.” Wanita di depan Aria menaikan alisnya, menunggu respon dari Aria saat itu.
Aria menundukan kepala sejenak, menyembunyikan senyumannya, “oke.” Lalu memberikan jawaban memuaskan untuk wanita di hadapannya.
**********
“Makanan kesukaannya?”
“Aku tidak tahu.” Jawab Aria dengan santai sembari menggigit batang cemilan yang terbuat dari olahan campuran rumput laut dan buah-buahan.
“Warna kesukaannya?”
Sekretaris Harry yang telah membelikan makanan untuk Aria terlihat mulai geram saat itu, sepertinya ia sangat menyesal karena telah menghabiskan uang cuma-cuma untuk wanita di hadapannya yang tampak begitu tenang menyandarkan pipi di tangan yang sikunya menyandar di atas meja sembari masih melahap cemilan darinya.
“Hobinya?”
“Tidak tahu.”
“Jumlah saudaranya?”
“Tidak tahu.”
Wanita itu mulai geram,
Braakkk ia bahkan sampai menggebrak meja hingga membuat Aria yang tadinya menoleh ke samping, mulai menghadapnya.
“Kalau semua tidak tahu, jadi apa yang kau ketahui tentangnya?” bentak wanita tersebut geram hingga ia melipat tangan lalu enggan melihat ke arah Aria.
“Aku tahu satu hal tentangnya.” Jawaban Aria mulai meredakan kemarahannya, dia yang tadinya membuang wajah, dengan cepat menghadap ke Aria kembali.
“Apa?” ucapnya dengan berbisik, menatap senang ke arah Aria.
“Tunangannya adalah Michelle.”
Jawab Aria dengan santai lalu membuang wajah.
“Semua orang juga tahu hal itu, brengsek, akh..” Wanita yang marah, semakin dibuat marah. Ia kini bahkan mulai melangkah meninggalkan Aria untuk menenangkan diri sembari membawa cangkir miliknya.
Aria tersenyum geli, ia yang jarang memiliki selera makan saat itu tiba-tiba merasakan nikmat tersendiri ketika makan cemilan gratis dari orang lain.
“Enak sekali,” ucap wanita itu sembari mengedipkan kedua mata lalu meraih bungkus cemilan lain dan memakannya.
“Kau karyawan bagian pemasaran, bukan?” Seseorang tiba-tiba datang mendekati Aria lalu menarik tangannya.
Aria yang tadinya hendak membuka bungkus cemilan terpaksa ikut melangkah dan meletakan makanan tersebut kembali ke atas meja.
Dia terus melangkah mengikuti wanita yang menarik tangannya, menuruni anak tangga karena lift yang lama, lalu menuju ke lantai dimana ada begitu banyak karyawan perusahaan yang tampak bekerja di masing-masing ruangan, melalui dinding kaca.
Langkah mereka mulai memasuki sebuah ruangan.
Di dalam ruangan tersebut, terlihat beberapa orang karyawan baik laki-laki maupun perempuan berdiri menundukan kepala di depan seorang wanita yang mungkin adalah seorang manajer dan seorang laki-laki yang mungkin adalah seorang kepala bagian divisi tersebut.
“Semua sudah berkumpul?” bentak wanita itu marah bersamaan dengan Aria yang turut ikut berdiri dan menundukan kepala sembari menoleh ke arah kiri, melihat Arkas yang tampak terkejut ketika melihat wanita itu ada di ruangan yang sama dengannya.
Pakkk.. paakkk.. paakkk..
Beberapa kumpulan lembaran kertas, dia pukulkan ke kepala semua karyawan yang berdiri di sana termasuk Aria yang tampak terkejut karena baru kali itu, ia menerima pukulan dari orang tak dikenal.
“Penjualan macam apa ini haa?, bagaimana bisa beberapa hari ini hanya terjual 500 unit, kalian bodohkah?” tambahnya membentak begitu emosi, “ gunakan otak kalian, berpikirlah bagaimana cara meningkatkan penjualan, tekan sales kalian Ahhh, Paaakkk..” lagi wanita itu mulai memukul kepala seorang dari mereka. “500unit ponsel terjual di seluruh wilayah, bagaimana cara kalian berkomunikasi dengan sales kalian, brengsek bocah, paaakkk..” lagi dan lagi ia memukul seorang karyawan di sana, “kau, kau, kau, kau..” dia terus memukul satu persatu karyawan di sana sembari berjalan, “berapa lama kalian bekerja sebagai Supervisor, kenapa bisa begitu bodoh?, menjual barang saja tidak bisa, Paaaakkk..” Kali ini pukulannya mendarat pada kepala Aria hingga wanita itu mulai mengangkat kepala tidak menyukai.
“Kau berani melawanku?”
Wanita di depan Aria mulai memandang tajam ke arahnya.
“Bukankah kebodohanmu itu terlihat jelas sekali?” ucap Aria sembari tersenyum kecut hingga semua orang dibuat terkejut begitupula dengan Arkas.
“Kau bilang apa?, berani sekali mulutmu berbicara?” wanita itu mengangkat tangannya yang memegang kumpulan kertas kembali, namun sebelum mendarat di kepala, Aria telah berhasil menahannya terlebih dahulu.
“Bahkan seorang karyawan juga dilarang berbicara, karenanya kebodohanmu itu juga semakin terlihat bertambah.”
“Brengsek,” taakkk.. gagal memukul dengan tangan yang berhasil digenggam Aria, tangan lain wanita itu berhasil memukul kepala Aria yang langsung memandangnya tajam hingga wanita tersebut sedikit tertegun.
Paaakkk..
“Haaa..” Wanita di depan Aria memegang pipi, menahan rasa sakit ketika Aria berhasil mendaratkan pukulan di pipinya.
“Konyol, beginikah cara kerjamu sebagai atasan?” paaaakk.. Aria kembali memukul.
“Akhhhh.. akhhh rambutku.” Teriak wanita tersebut, mengerang kesakitan.
“Jangan mengganggu, atau kalian akan terima akibatnya!” ancam Aria dengan bola mata berapi-api sembari terus berjalan.
Baaaakk..
Lalu mengarahkan kepala manajer wanita tersebut ke dinding. “Lihat dulu karyawanmu, bodoh?” baaaakkk..
Satu kali benturan mendarat di dinding, mengejutkan seisi lantai gedung dan membuat para karyawan dari divisi lain berbondong-bondong datang untuk menyaksikan pertengkaran di sana. “Kenali dulu mereka, sebelum kau marah-marah!” baaakkk
“Aakhhh, lepaskan, tolong!” Aria membenturkan kepalanya lagi tanpa mempedulikan permintaan manajer wanita tersebut hingga beberapa orang penjaga keamanan datang, lalu terkejut ketika melihat Aria.
“Berhenti, jangan ada yang mendekat!, mungkinkah kalian melupakanku?, Ahhh, “ Baaakkkk... Tidak terlihat sekali rasa iba di wajah dan mata Aria saat itu, padahal kepala wanita yang ia siksa mulai mengeluarkan darah, “orang yang tadinya datang dengan Wakil Direktur kalian.” Ingatkan Aria sembari menghempaskan manajer wanita tersebut ke atas lantai lalu beberapa orang mulai menghampiri manajer tersebut dan menolongnya.
Tidak seorangpun dari penjaga keamanan yang berani mendekati Aria, terlebih lagi ketika mereka melihat Wakil Direktur yang tampak berdiri di depan kerumunan sembari mengisyaratkan kepada mereka untuk tidak menganggu Aria saat itu.
“Adakah aku menyuruh kalian untuk menolongnya?” ucap Aria dengan nada dingin, hingga orang-orang yang mendekati manajer wanita tersebut tertegun lalu perlahan-lahan melepaskan tangan untuk membantu.
“Maaf nona, aku tidak...”
“Hm, kau sudah memukul orang sembarang, sekarang malah mau minta maaf, kau pikir aku akan memaafkanmu?” Aria mulai melangkah mendekati lagi hingga sampai membuat manajer wanita tersebut menggigil.
“Aria!” panggil seorang laki-laki, mengejutkan semua orang di sana.
Dengan santai Aria menoleh kepala lalu melihat Harry tampak melangkah cepat menuju ke arahnya dan meraih tangannya lalu membawa wanita itu menuju ke pintu lift dan membuat banyak karyawan di sana bertanya-tanya tentang hubungan keduanya.
Wakil Direktur, Michelle segera mendekati manajer wanita yang masih menggigil dan mulai menangis tersebut.
“Kau kenal dia?” dia mulai berjongkok dan bertanya.
“Tidak bu.” Jawab manajer tersebut begitu ketakutan.
“Kau harus tahu, ayahnya adalah pemilik saham kedua tertinggi di perusahaan ini, sekarang kau mengerti?” Ucapan Wakil Direktur benar-benar menjadi pukulan keras bagi manajer wanita tersebut yang mulai menyesal karena telah memukul putri dari seorang dewan direksi perusahaan mereka.
**********
“Kau tahu apa yang kau lakukan?” bentak Harry marah setelah membawa Aria masuk ke dalam ruangan kerjanya dan melepaskan tangan wanita itu.
“Aku hanya memukulnya, itu saja.” Jawab santai Aria sembari membuang wajah dan enggan melihat wajah Harry.
“Aria, kau benar-benar!, sebenarnya apa yang kau inginkan di perusahaanku?, kau tiba-tiba datang lalu membuat masalah, mereka semua tidak mengenalmu Aria, tentu saja mereka berhak memarahimu.”
“Pecat saja dia!” Aria benar-benar mengabaikan kemarahan Harry saat itu, wanita tersebut mulai memandang tajam mata laki-laki tersebut.
“Kau selalu saja, “ Harry mulai menundukan kepala sejenak lalu mengangkatnya kembali. Dia tampak sangat geram hingga gigi-giginya mulai gemeretakan, “...selalu saja berbuat semaumu, kau tahu, kaulah sebenarnya kesialan terbesar dalam hidup Suan, dia menderita karenamu, dia sengsara karenamu lalu sekarang, kau ingin aku ikut menderita sama halnya dengan Suan?” mata Harry mulai memerah, hal itu sontak membuat Aria menundukan kepala dan perilakunya lagi dan lagi mengejutkan Harry yang tadinya telah bersiap-siap terkena pukulan.
“Aku tahu,” Harry terbelalak mendengar jawaban Aria, “aku paham itu, aku hanya ingin wanita itu dipecat saja.”
“Aku tidak bisa melakukannya.” Harry mulai memperpelan suara, ia bahkan turut menunduk sama halnya dengan Aria.
“Hm, aku akan bilang pada ayah...”
“Ayahmu tidak memiliki saham lagi di sini.” Aria yang menunduk langsung mengangkat kepala, ia begitu terkejut mendengar pernyataan dari Harry.
“Jadi kau menghilangkan saham ayahku dari perusahaan....”
“Ayahmu sendiri yang memberikan sahamnya pada Suan.”
“Hm, kau kira masih pantas berada di ruangan ini.”
Deguppp.. detak jantung Aria memompa kencang ketika mendengar suara seseorang yang sangat ia kenali.
Wanita itu bahkan sampai menggenggam erat kedua tangannya karena merasa takut untuk mendengar kemarahan dari pemilik suara yang ada di belakangnya.
“Aku hanya ingin mengambil barang-barangku saja.” Ucap Harry tampak enggan melihat laki-laki yang tak lain adalah Suan lalu meraih sebuah kotak dan memindahkan peralatan kerjanya dari atas meja ke dalam benda tersebut.
“Aria di sini?, pantas saja orang suruhanmu sampai datang ke kantor tadi.” Suara laki-laki lain ikut menambah ketegangan di ruangan tersebut, ia melangkah dengan membawa sebuah kotak di tangan yang akan ia pindahkan ke atas meja milik Harry tadinya.
“Aku tahu, dia pasti tidak akan menyerah begitu saja untuk datang ke tempat ini.” Aria tertegun, ia masih menudukan kepala padahal Suan telah datang menghampiri dan berdiri di depannya. “ Maka dari itu, aku akan membiarkannya terus berada di perusahaan ini dan memaksanya bekerja.” Lanjut Suan lalu meraih tangan Aria dan menarik wanita tersebut untuk mengikuti langkahnya.
“Suan!”
Panggilan Aria diabaikan, Suan terus memaksa Aria untuk mengikutinya hingga membuat Harry yang terkejut sontak mengikuti langkah mereka menuju kembali ke lantai ruangan kerja Arkas berada.
“Direktur Suan.”
“Wahh gila, dia benar-benar Direktur Suan.”
“Suan Dikintama ada di sini, Astaga, jantungku ingin copot rasanya.”
“Suan, ahhh dia tampan sekali.”
Semua karyawan di lantai tersebut mulai berkumpul kembali ketika Suan telah membawa Aria datang ke sana.
“Minta maaf!” perintah Suan yang telah melepaskan tangan Aria saat itu.
“Suan, apa yang dia lakukan?” Tanya Michelle kepada Harry yang telah berdiri di sana.
“Kau tidak ingin melakukannya?” Tambah Suan lagi dengan nada menekan kepada Aria yang tertegun saat itu dan menggenggam erat kedua tangannya disaksikan begitu banyak karyawan di sana. “kalau kau tidak ingin minta maaf maka semua karyawan di bidang pemasaran, saat ini juga harus dikeluarkan.” Mata Aria sontak membelalak, ia mulai menoleh ke arah Arkas yang tampak memandangnya penuh amarah.
“Kenapa kita harus dipecat karena dia?” seru seorang karyawan terdengar berbisik dan begitu kecewa.
“Astaga, aku bahkan hanya diam saja dari tadi.” Tambah yang lainnya.
“Sudahlah Harry, kita pergi saja, Aria juga tidak akan melakukannya.” Ucap Michelle mulai melangkah sembari memegangi kepala karena sangat lelah.
“Michelle, Aria, ber.. lutut.” Ucapan Harry sontak mengejutkan Michelle hingga wanita tersebut berbalik lalu menutup mulut ketika melihat Aria berlutut di depan Suan hari itu.
“Be... benarkah dia Aria?"