Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Berat Berpisah



Helaan nafasnya terdengar sangat berat. Ia berdiri berhadapan dengan seorang Direktur yang tampak berwajah pucat.


“Aku mohon mengertilah, nona.”


Direktur yang adalah seorang wanita tersebut meninggalkan Aria di ruangannya setelah meminta Aria mengundurkan diri dari posisinya sebagai Sekretaris wanita itu.


Ini adalah ke sekian kalinya bagi Aria menerima permohonan para dewan Direksi yang menjadi atasannya untuk wanita itu mengundurkan diri.


Aria tidak tahu kesalahannya.


Dia pikir, semua orang hanya diam saja dan tidak menunjukan masalah yang mereka hadapi lalu secara tiba-tiba meminta Aria untuk berhenti bekerja bersama mereka.


Kini hanya tersisa seorang Direktur saja di perusahaan Dikintama.


Dia tidak memiliki pilihan lain selain meminta pada Direktur itu untuk menjadikannya sebagai Sekretaris karena ayah Suan tidak lagi bekerja di perusahaan tersebut dan semua dewan Direksi berada di bawah kepemimpinan Suan yang belum kembali dari California dan juga Suan tidak dapat dihubungi.


Aria berbalik, ia melangkahkan kaki menuju ke satu ruangan yang tersisa.


Ruangan yang berada di lantai bawah dari tempat tersebut.


Semua orang mengatakan bahwa Direktur itu adalah orang gila yang suka marah-marah.


Sebenarnya ia enggan untuk meminta pada direktur itu mengingat dirinya yang tidak mampu menahan emosi selama ini.


Namun, dia harus berusaha, dia sangat ingin berguna untuk Suan nantinya.


Langkahnya terhenti, ia berdiri di depan sebuah pintu dan mulai mengangkat tangan untuk mengetuknya.


Tok...


Praaakk..


Mata Aria memerah ketika pintu yang diketuk telah terbuka.


Dari depan pintu, ia menyaksikan seorang wanita tampak berjongkok menangis, mengutipi lembaran kertas yang jatuh.


“Mulai besok kau tidak usah datang lagi ke ruangan ini.”


Seorang laki-laki tampak keluar tanpa memandang Aria, ia berjalan melewati wanita tersebut dan terlihat sangat acuh tak acuh.


Ia benar-benar tidak mempedulikan Aria yang tadinya berdiri di hadapan dirinya yang membuka pintu.


Tubuh Aria mulai gemetaran, ia takut untuk meminta namun ia tidak memiliki pilihan lain karena hanya laki-laki tersebutlah satu-satunya dewan Direksi yang tersisa.


“Maaf, permisi, bisakah aku meminta waktu anda sebentar?”


Aria berbalik sembari mengejar langkah lebar laki-laki di depannya.


Tetapi ucapannya tidak membuat laki-laki tersebut menghentikan langkah, karenanya Aria terpaksa mengikuti hingga sampai ke Pantry kantor.


“Permisi Direktur.”


Aria menundukan kepala ketika laki-laki yang ia kejar meraih gelas di rak, hingga laki-laki tersebut terkejut dan sepertinya ia mengenali Aria.


“Nona Anderston?”


Aria mengangkat kepala lalu menganggukannya.


“Bisakah anda meluangkan waktu untuk saya?”


Laki-laki itu terlihat terkejut. menurutnya sikap Aria begitu aneh saat itu.


Ia mulai melihat jam tangan, “bisakah kau mengatakannya sekarang?, aku tidak memiliki banyak waktu, nona.”


Dia mulai berbalik setelah meraih bubuk kopi menuju ke arah dispenser yang terdapat beberapa toples gula di sisi kanannya.


“saya melihat anda baru saja memecat Sekretaris anda, mungkin saya memiliki peluang untuk menggantikan posisinya?”


Aria melihat laki-laki itu membuka bungkus kopi lalu memasukan bubuknya ke dalam gelas keramik kemudian meletakan beberapa sendok gula dan menuangkan air.


“Maaf, aku tidak memiliki banyak waktu untuk mengajarimu menjadi seorang sekretaris, nona.”


Laki-laki itu menolak permintaan Aria, ia mulai melangkah sembari mengaduk gula di dalam kopi yang telah ia seduh.


Aria tertegun, dengan cepat ia mengikuti langkah laki-laki itu, “ anda tidak perlu mengajari saya lagi, sudah seminggu ini saya telah menjadi Sekretaris dewan Direksi.”


“Dan kau dipecat, bukan?”


Laki-laki itu menghentikan langkah dan berbalik menghadap ke arah Aria yang tampak menunduk, menganggukan kepala.


“Benar, saya bahkan tidak tahu kesalahan saya apa?”


Gumam Aria merasa begitu sedih saat itu.


“Karena kau memiliki banyak kesalahan maka tentu saja kau dipecat.”


Laki-laki itu mulai melangkah kembali, ia masih mengaduk kopinya sembari berjalan memunggungi Aria.


“Tapi mereka tidak mengatakan apapun tentang kesalahan saya.”


“Karena kau adalah nona besar, maka tentu saja tidak ada yang berani memarahimu dan bahkan menyalahkanmu sekalipun mereka takut.”


Aria mengejar laki-laki tersebut lalu berhenti di depannya.


Ia menghalangi langkah laki-laki itu berjalan.


“Tolong jadikan aku Sekretarismu,”


Aria mulai berbicara informal, ia sangat berharap laki-laki di hadapannya mau menerima permintaannya.


“Maaf, aku juga tidak berani memarahimu, kau adalah istri Suan dan kau juga nona Anderston. “ Laki-laki itu bergeser lalu melangkah melewati Aria kembali, “aku takut dipecat Suan karenamu, nona.”


“Kau boleh memarahiku, kau juga boleh menyalahkanku, bahkan kau..” Aria menguatkan diri untuk berucap, “...boleh memukulku jika aku melakukan kesalahan besar nanti.”


“Lalu setelah aku melakukannya, kau akan menangis dan mengadu kemudian Suan akan membenciku.”


Aria berusaha mengejar laki-laki yang tetap melangkah menuju ruangannya tersebut.


“Aku akan memberimu uang 100 juta jika aku mengadu pada Suan nanti, dan kita akan membuat perjanjian.”


Aria mulai ikut masuk ke dalam ruangannya yang tak terlihat lagi seorang wanita di sana.


“Banyak sekali uangmu nona,”


Laki-laki itu mulai duduk dan meraih kacamata lalu memegang mouse di atas meja setelah menyeruput kopi miliknya.


“Kau tidak takut membuang-buang uang begitu saja, ya.”


“Begitulah caraku menghabiskan uang selama ini, asalkan kau mau mengajarkanku, aku akan meminta ayahku untuk memberikanmu lebih banyak uang lagi.”


Aria tampak berdiri dengan tegak di hadapan laki-laki yang telah memfokuskan diri di hadapan layar komputer.


Ia bahkan tidak melihat laki-laki tersebut melirik ke arahnya bahkan sejenak pun.


“Sayangnya nona, tidak semua orang mau menerima uang suap.”


“Aku mohon, aku hanya ingin membantu Suan saja.”


Aria menundukan kepala, matanya tampak memerah dan memandang lantai tak tentu arah.


“Maka lebih baik kau urungkan niatmu saja, karena aku sangat yakin, kau hanya akan menyusahkan Suan nantinya.” Terang-terangan laki-laki tersebut mengutarakan pendapatnya. Sepertinya ia lumayan mengenal Aria hingga ia bisa menebak watak dari wanita itu.


“Aku,” Aria tidak memiliki pilihan apapun, ia hanya tertegun lalu bergumam, “.. aku akan mengatakan pada Suan bahwa kau sangat berjasa dalam membantuku berubah.”


Aria menyerah, ia tidak lagi memiliki kesempatan untuk bekerja bersama Suan nantinya.


“Baiklah,”


Kali ini laki-laki itu memandang ke arah Aria, “ aku akan membantumu berubah asalkan kau memegang kata-katamu.”


“Be.. be.. benarkah?”


Aria benar-benar terkejut dengan keputusan laki-laki tersebut secara tiba-tiba, matanya tampak berkaca-kaca. Ia memandang laki-laki di hadapannya dengan penuh rasa syukur.


“Hm,” angguk laki-laki itu masih memandang ke arah Aria, “.. tapi jangan lupa untuk mengatakan pada Suan bahwa aku adalah orang yang paling baik padamu di perusahaan ini, kau setuju?”


Aria pikir laki-laki di hadapannya tampak begitu mengagumi Suan sampai menyetujui hal yang tadinya sangat sulit ia dapatkan.


“Baiklah, aku akan mengatakannya.”


“Baiklah kalau begitu,” tatapan mata laki-laki yang tadinya bersahabat saat itu mulai berubah menjadi sangat dingin, “.. periksa lembaran di atas meja ini,” dia menepuk tumpukan kertas di sampingnya, “.. lalu atur ulang jadwalku yang berantakan ini,” lalu melempar sebuah map kuning ke atas lantai, tepat di hadapan Aria. “kau juga tidak boleh pulang sampai aku mengizinkanmu untuk pulang.”


“Tapi ada orang yang harus...”


“Kau bisa mengganti waktu istirahatmu untuk keperluanmu pribadimu. Dan aku tidak menerima alasan apapun lagi.”


Aria tertegun, ia meraih map kuning di atas lantai dan hari itu mulai menguatkan diri, bekerja di bawah tekanan.


**********


“Kau bilang, kau ingin aku mengajarimu, tapi bagaimana mungkin aku bisa mengajarimu jika dasarnya saja kau tidak tahu.”


Paaaakkkk...


Lembaran kertas berjatuhan ketika atasan Aria memukul kertas-kertas tersebut ke wajah wanita itu.


Aria segera berjongkok dan mengutipi satu persatu pekerjaan yang telah susah payah ia selesaikan.


“Belajarlah membuat format yang baik lebih dulu di website sana, lalu mulai ulang kembali sampai kau bisa.”


Laki-laki itu mulai melangkah lalu duduk di kursinya.


Di hari pertama Aria bekerja dengannya, Aria telah menerima kemarahan laki-laki tersebut dan wanita itu tampak pasrah.


Ia mengutipi setiap kertas dengan lapang dada.


“Ah benar, buatkan kopi untukku dulu, jangan terlalu manis dan jangan kekurangan gula!”


Aria menganggukan kepala, dengan gerakan cepat ia menyelesaikan pekerjaan mengutipnya lalu meletakan tumpukan kertas pada meja kerja di depan pintu ruang atasannya lalu bergerak cepat menuju pantry kantor.


*********


Dia memiliki banyak kekurangan.


Menjadi Sekretaris seorang Direktur bukanlah mudah seperti membalikan telapak tangan.


Dia harus duduk berjam-jam di depan layar komputer untuk belajar.


Dia juga harus mondar-mandir menuju pantry kantor karena salah membuat kopi.


Dia harus belajar dimulai dari dasar, dia harus menerima amarah dan terkadang mengutipi kertas dan juga pecahan gelas kaca karena kesalahannya membuat kopi.


Aria membutuhkan Suan, ia sangat merindukan laki-laki tersebut yang tak kunjung memberikan kabar.


Atasannya telah pulang, tetapi ia terpaksa menetap di sana sampai jadwal kerja atasannya diatur ulang.


Jarum jam tangan telah menunjukan angka 2 malam.


“Jadi begini rasanya menjadi Suan?”


Aria bergumam sembari memainkan jari-jari tangan di atas keyboard untuk memperbaiki sebuah lembaran dokumen pada layar komputer di hadapannya.


Hingga segalanya telah selesai, lalu ia mulai mencetak pekerjaannya menjadi lembaran nyata, dan sembari menunggu dokumen selesai dicetak, Aria mulai berdiri dan perlahan-lahan memasuki Lift.


Malam itu, ia sungguh sangat ingin melihat ruangan kerja Suan yang berada di lantai atas dari tempat kerjanya.


Ia memasuki lift dan menuju ke lantai ruangan Direktur utama serta para programmer terbaik, berada.


Lift perlahan-lahan naik lalu ketika telah sampai ke lantai tujuan, benda tersebut terbuka.


Aria mulai melangkahkan kaki, lalu berhenti dan terkejut ketika melihat lantai tersebut masih sangat ramai dipenuhi oleh para pegawai yang bekerja.


Padahal waktu telah larut malam, kebanyakan orang di sana masih tampak cerah dan bersemangat sementara Aria telah sangat lelah.


Sesekali ia memandang ke arah lain, lalu menemukan seorang pekerja tertidur di lantai, depan meja komputer berada.


Pekerja itu hanya menggunakan karpet untuk tidur, ia bahkan tidak memakai selimut.


“Jadi mereka tidak pulang, ya?” tanya Aria pada dirinya sendiri.


“Hallo nona,”


Suara seseorang mengejutkan Aria.


Wanita itu mulai menoleh ke arah sumber suara.


“Iya,”


Aria memandang seorang wanita dengan papan nama yang talinya melingkar di leher lalu membawa tumpukan kertas di lengan tangan.


“Sepertinya anda bukan pegawai IT,” wanita itu memandang papan nama yang Aria kenakan, “Maaf, untuk menjaga privasi para pegawai IT pilihan, pegawai bidang lain dimohonkan untuk tidak datang ke lantai ini kembali ya,” Wanita itu mengusir Aria dengan gaya bicara yang lembut namun memiliki makna, “ silahkan pergi, nona.” Usir wanita itu sembari menekan tombol pintu lift yang ada di samping Aria,


“Tapi,”


“Kalau anda menginginkan sesuatu, anda bisa menghubungi admin kami dari telepon ya nona, maaf tempat ini tidak dibuka untuk pegawai umum.”


Wanita itu masih berdiri, menunggu kepergian Aria.


Lalu setelah pintu lift terbuka, mau tidak mau Aria terpaksa berlalu dari sana sebelum melihat ruangan kerja Suan yang sangat ia rindukan.


Hatinya kalut dalam kesedihan bersamaan dengan pintu lift yang telah tertutup.


Bahkan, hanya untuk melihat ruangan kerja Suan saja begitu sulit bagi Aria.


Tidak seperti ketika wanita itu menjadi tunangan laki-laki tersebut.


Dan juga, para karyawan tidak begitu menandai Aria sebagai tunangan pimpinan perusahaan mereka.


*********


Aria hanya bisa diam,


Ketika seorang kepala petugas kebersihan mendatangi dan memarahinya.


“Kami tidak memiliki banyak waktu untuk membeli bubuk kopi yang baru nona, jadi kami mohon, berhentilah membuang-buang kopi!”


Wanita itu tampak geram, ia meraih pecahan gelas di tangan Aria lalu mulai mengepel lantai ruangan yang kotor, sementara itu, Atasan Aria tampak tidak berada lagi di ruangannya setelah memecahkan gelas kopi yang Aria buat.


“Berapa banyak lagi gelas yang harus dikorbankan?, anda bisa kapan saja mengganti gelas-gelas itu dengan uang anda tetapi bagaimana dengan kami yang kadang tidak sengaja terkena pecahan gelas lalu tangan kami terluka.”


Gumam wanita itu pada Aria yang masih tetap berjongkok, membiarkannya membersihkan lantai.


“Minggir nona, saya ingin membersihkan lantai itu.”


Dia berucap ketus, tetapi Aria hanya terus diam dengan matanya yang berkaca-kaca.


Hari itu adalah hari ketiganya bekerja pada atasan yang sama. Hari itu ia bahkan tidak memiliki banyak waktu untuk mengistirahatkan diri.


Setidaknya dia telah melihat keadaan Arkas baik-baik saja, pikirnya.


Aria mulai berdiri, ia melihat sejenak wajah kecut kepala petugas kebersihan yang tampak tidak menyukai Aria saat itu.


Rasa kantuk mulai menerpa, ia pikir bahwa dirinya memang tidak memiliki cukup waktu istirahat karena selalu menghabiskan waktu bekerja di dalam kantor, dan setelah sampai di apartemen Suan, ia hanya memiliki sisa waktu istirahat 4 jam saja.


Perlahan-lahan Aria yang kini telah duduk di kursi kerja, menyandarkan kepala di atas meja.


Ia mulai memejamkan mata.


Praaakkk..


“Kerjakan!”


Lalu terkejut ketika atasannya telah kembali dan memberikan beberapa lembar tugas lagi padanya.


“Aku akan mengerjakannya nanti, aku perlu istirahat 15 menit saja, kau tahu, akhir-akhir ini aku bahkan kurang is...”


“Kau tahu, Suan bahkan pernah tidak tidur sampai 3 hari, jadi biasakanlah kekurangan tidur mulai dari sekarang!”


Laki-laki itu melangkah pergi, meninggalkan Aria yang langsung menegakan tubuh kembali dan meraih lembaran dokumen yang baru saja ia terima lalu mempelajarinya