Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Bukan bermaksud menolak



Elbram melangkah masuk ke ruangan Suan dengan sangat kesal.


Karenanya, Suan yang tampak sedang menandatangani beberapa dokumen dibuat sedikit enggan untuk melihat laki-laki tersebut.


Langkah Elbram terhenti.


Braaakkkk...


Sore hari itu, ia begitu marah lalu melemparkan sebuah map coklat besar dengan keras ke atas meja.


Suan yang telah menghentikan gerakan tangan dan meletakan pena di atas meja, mulai menyandarkan punggung di sandaran kursi kerjanya lalu memandang wajah temannya tersebut, merasa aneh.


“Karenamu pekerjaanku hari ini semakin bertambah.”


Ucap keras Elbram hingga membuat Suan tersenyum kecut lalu meraih map coklat dan sedikit memandang terkejut dengan lembaran kertas yang telah ia keluarkan.


“Kau kesal tentang ini?” tanya Suan dengan menunjukan kertas yang telah ia keluarkan tersebut.


Elbram yang marah, mulai melemparkan sebuah flashdisk lalu melangkah mendekati sofa dan menghempaskan tubuhnya, berbaring di sana.


“Aria memaksaku untuk memeriksa pekerjaannya, kau tahu, dia memaksa Suan, memaksa...” ucap Elbram dengan nada kesal yang tak terkira, “ dia bahkan menggunakan ruangan kerjaku dan aku terpaksa menunda pekerjaanku karenanya.” Lanjut Elbram begitu kesal sembari memandang langit-langit atap lalu mengacak-acak rambutnya karena merasa tertekan, “ itu semua karenamu, kalau saja kau tidak ikut rapat pagi ini, Aria tidak akan mungkin bekerja seserius itu, dia bilang tidak menyukai teman sekantornya, dia marah-marah tidak jelas padaku, kenapa harus aku yang kena akibatnya, brengsek?” lanjut Elbram begitu emosi hingga urat-urat di dahinya terlihat jelas saat itu.


“Kenapa kau tidak menolaknya saja?”


Suan berusaha keras menahan tawanya, ia sedikitpun tidak merasa bersalah pada Elbram saat itu.


“Kau kenal Aria, bukan?, jika aku salah sedikit saja kau pasti tahu apa yang akan terjadi padaku,”


Elbram mulai duduk, lalu memanggil Sekretaris Suan dari jauh.


“Iya pak.”


“Ambilkan air mineral untukku!” lalu memberikan perintah ketika orang yang dipanggil telah datang.


“Mau bagaimana lagi, sudah terjadi.”


Pernyataan Suan semakin menambah rasa kesal di dalam hati Elbram hingga ingin sekali laki-laki tersebut memukul dinding kalau saja ia tidak mengingat bahwa hal itu menyakiti tangannya.


“Hentikanlah dia!, saat aku meninggalkannya, dia bahkan mulai mempelajari tentang Software. Dia memilahnya, dia juga mengetahui banyak hal tentang aplikasi terbaik akhir-akhir ini. Aku baru tahu ternyata Aria begitu mengenal tentang Software bahkan ia mulai merekomendasikan aplikasi bawaan untuk ide ponsel terbarumu nanti.”


Lanjut Elbram mengejutkan Suan.


Laki-laki itu segera meraih sebotol air mineral dari sekretaris baru Suan, lalu membuka tutupnya dan meneguk isi dari dalamnya.


“Aria mempelajari software?, aku juga baru tahu tentang hal itu.” Gumam Suan yang mulai berdiri, “susun rapi barang-barangku, aku akan mengerjakannya kembali nanti.” Lalu melangkah meninggalkan ruang kerjanya, menuju ke ruang kerja Elbram yang berada tidak terlalu jauh dari ruangannya berada.


***********


Tatapannya terlihat begitu dalam.


Laki-laki itu tampak masih berdiri di depan pintu memandang Aria yang sedang bekerja.


Dirinya masih tidak menyangka dan belum percaya bahwa Aria yang ia kenal sekarang memang telah berubah.


Jauh berubah hanya karena wanita tersebut mulai mengenal Arkas hingga hatinya merasa sakit meskipun di sisi lain, ia juga sangat bahagia.


“Kenapa kau mengambil alih ruangan kerja Elbram?”


Suan mulai melangkah,


Suaranya yang terdengar, mengejutkan Aria hingga wanita tersebut menghentikan pekerjaannya di layar komputer milik Elbram.


“Aku tidak suka berada di ruang kerjaku,” keluh Aria mulai berdiri lalu menghampiri Suan, “mereka mendekatiku seolah-olah menginginkan sesuatu, dan anehnya sebagian dari mereka juga sangat membenciku. Aku ingin tenang, aku butuh ruangan khusus untuk bekerja.” Adukan wanita itu ketika ia telah berdiri di dekat Suan lalu menyandarkan dahi di lengan atas laki-laki yang ia cintai.


“Aku dengar kau mempelajari tentang Software, benarkah itu?” Suan yang penasaran, segera mengajukan pertanyaan tersebut.


Aria tersenyum lalu mengangkat kepala yang tadinya bersandar, “aku adalah Aria yang dibentuk sempurna hanya untuk Suan Dikintama maka dari itu apapun keahlian Suan, aku telah mempelajarinya sejak dulu.”


Suan terkejut, ia sekalipun baru mengetahui hal tersebut karena selama ini dia menyangka bahwa Aria hanya bermain-main saja dan tidak pernah serius kecuali hanya untuk menjadi wanita sempurna di masa lalu.


“Kalau begitu menikahlah denganku!”


Permintaan Suan mengejutkan Aria.


Wanita itu tampak berwajah pucat lalu keringat dingin tiba-tiba muncul dan bercucuran mengejutkan Suan.


“..........”


“Apa?” tanya Suan kebingungan ketika Aria membuka mulut namun tidak mengeluarkan suara.


“Hm,” Aria menggelengkan kepala lalu air matanya turun membasahi pipi.


“Jadi kau menolakku ya?” ucap Suan begitu sedih lalu menggenggam erat kedua tangannya. “... tapi aku tidak akan menyerah, seperti kau yang tidak pernah menyerah di masa lalu.” Lanjut Suan mengejutkan Aria yang langsung meraih pena dan secarik kertas catatan kemudian menunjukannya pada Suan.


“Apa yang kau beritahukan, Aria?” tanya Suan merasa bingung ketika tidak melihat tulisan apapun pada lembaran kertas yang diperlihatkan oleh Aria.


“Hiks.hikss..” tangisan Aria memperpiluh hati Suan yang mengira bahwa wanita tersebut mungkin sangat sedih dengan paksaan menikah darinya.


“Baiklah aku tidak akan memaksamu untuk menikah lagi.” Ucap Suan mulai berbalik lalu melangkah untuk meninggalkan Aria karena rasa sakit di dalam hati.


“Hhikkkss.. aku ingin pulang," ucap Aria menangis sesenggukan.


Wanita itu kini telah jatuh terduduk dan memegangi dadanya yang mungkin terasa sakit hingga membuat Suan menghentikan langkah lalu berbalik kembali ke arahnya.


“Kau yang menolak, kenapa kau yang menangis?” tanya Suan sembari melangkah mendekati Aria saat itu, “ aku akan mengantarmu kembali ke rumah ayahmu.” Lanjut Suan mulai berjongkok, memberikan punggungnya untuk Aria.


“Aku ingin pulang ke rumahmu.” Ucap Aria menolak untuk kembali ke rumah keluarganya.


“Aku lelah sekali, Suan aku ingin cepat pulang.” Sela Aria sembari naik ke atas punggung Suan lalu mengusapkan wajah yang dipenuhi air mata ke setelan jas bagian belakang laki-laki tersebut.


“Pada akhirnya, aku akan selalu menuruti keinginanmu, Aria.” Gumam Suan pelan, mulai melangkah keluar ruangan dengan membawa Aria di punggungnya.


“Aku ingin pulang naik bus saja.”


“Naik bus?” Suan menghentikan langkah kaki karena begitu terkejut dengan permintaan aneh Aria sore hari itu.


“Aria,..


“Aku ingin naik bus, Suan.” Paksa Aria, menyela cepat kalimat penolakan yang tadinya akan dilontarkan oleh Suan.


Suan menghela nafas berat, “kalau begitu tunggulah, aku akan mengambil masker untukmu dan juga untukku, “ Suan menurunkan Aria dari punggungnya, “kau bisa menungguku, bukan?” lalu berbalik dan mengajukan permintaan yang langsung dianggukan Aria saat itu.


***********


“Aku tidak ingin naik bus.” Bentak Aria keras di depan Suan yang saat itu berada di depan sekolah.


Suara keramaian murid-murid yang baru saja keluar kelas mereka masing-masing turut menggema bersamaan dengan teriakan Aria untuk Suan saat itu.


“Kalau begitu kita tunggu saja supir datang?”


Ucap Suan meminta sembari mulai melangkah menuju kelasnya kembali.


Kriicinngg, “ini kunci mobil pak Semi,”


“Aria!” Suan yang telah menghentikan langkah ketika Aria menggenggam erat lengannya, sangat terkejut ketika wanita tersebut memberikan sebuah kunci mobil untuknya.


“Aku ingin kau menyetirkan mobil untukku.”


Pinta Aria sangat memaksa saat itu.


“Aria aku belum mahir mengendarai mobil, aku bahkan masih SMP, anak SMP belum boleh mengendarainya.” Tolak Suan saat itu lalu melangkah dan berniat untuk mengembalikan kunci mobil pada pemiliknya.


“Aku sudah meminta kakek untuk membeli mobilnya, pak semi juga menyetujuinya, karena kau sudah dilatih oleh kakek, harusnya kau sudah bisa menyetirkan mobil untukku.” Paksa Aria saat itu, ia mengambil kembali kunci yang digenggam oleh Suan.


“Aria, sebaiknya kita naik taksi saja.”


“Tidak mau, ayo.” Aria menarik tangan Suan, membawa paksa laki-laki tersebut menuju mobil sedan yang terparkir di samping gedung sekolah.


“Aria...”


“Kau tidak dengar aku, ya?, atau kau mau aku mengadu pada paman?” Aria memberikan kunci mobil kepada Suan, hingga laki-laki remaja itu mau tidak mau memenuhi permintaan Aria.


Ragu-ragu ia memasuki mobil sedan itu lalu menyalakannya baaakkkk, bersamaan Aria yang telah masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya.


“Aria, aku masih belum....”


“Tidak masalah, Aku pikir ini terasa lebih menantang” Jawab Aria begitu santai sembari menyingkap uraian rambutnya ke belakang.


Buurrrrmmmm..


Cirrrrtttt...


Braaaakkkk...


“Haaa...”


“Kau sengaja menabrak pohon, iyakan?” bentak marah Aria, Taaakkk, lalu memukul kepala Suan dengan keras.


“Aku bilang aku tidak bisa melakukannya.” Ucap Suan dengan tubuhnya yang gemetaran saat itu.


“Aku akan bilang pada paman, aku juga akan bilang pada kakek. Kau membuatku kecewa Suan, kau bodoh.”


Teriak Aria yang telah keluar dari mobil bersamaan dengan Suan yang telah membersihkan darah di dahinya.


***********


“Suan maafkan aku.”


Ucap Aria sembari menggenggam erat tangan Suan yang duduk di sampingnya, di dalam bus kota.


Mereka berdua terlihat memakai masker dan duduk pada kursi bagian paling belakang saat itu.


Bus kota telah melaju setelah tadinya berhenti menunggu penumpang masuk.


“Kenapa kau tiba-tiba meminta maaf?” tanya Suan sembari meraih pinggang Aria, lalu membawa tubuh wanita tersebut semakin mendekati tubuhnya kemudian menyandarkan kepala wanita itu di dadanya.


“Aku minta maaf Suan,” ucap Aria lagi ketika mengingat kembali masa lalunya yang selalu menyakiti Suan saat itu.


“Kau ini lucu sekali,” Ucap Suan sembari mengelus rambut samping Aria, “bagaimana kalau kau menikah denganku saja?, lalu aku akan memaafkanmu.” Ucap Suan mengajukan lamaran kembali saat itu.


“........”


“Kau masih tidak mau, ya?” Ucap Suan berusaha keras menahan rasa sakit dalam hati ketika ia tidak kunjung mendengar jawaban Aria yang telah menangis diam, menitihkan air mata dan mengeratkan genggaman tangannya di salah satu tangan Suan.


Suan memandang keluar jendela, tatapan matanya terlihat begitu menyedihkan, “Pasti aku masih belum pantas untuk menjadi Suamimu.” lalu bergumam yang mengejutkan Aria hingga wanita itu melepaskan pelukan Suan lalu memandang mata Suan yang telah memandangnya terlebih dahulu.


“Aku tidak akan menikah dengan laki-laki lain selain dirimu, jadi tunggu aku Suan, tunggu sampai masalahku selesai, aku.......”


“Kau kenapa?” tanya Suan begitu penasaran dengan kelanjutan ucapan Aria saat itu.


“Sudahlah.” Aria menyerah untuk menjelaskan lalu menggeser tubuhnya kembali mendekati tubuh Suan, dan menyandarkan kepalanya di dada laki-laki tersebut lagi.


“Kau kenapa Aria?” gumam Suan pelan begitu kebingungan dengan perilaku aneh wanita di sampingnya.