Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Mereka Berdua adalah Pasangan Suami‐Istri



Aria menangis sesenggukan, ia  yang berdiri di depan rumah Arkas sembari mengingat mimpi buruknya, sesekali menghapus air mata menggunakan punggung telapak tangan.


Hari itu, ia telah menetapkan hati untuk keluar dari rumahnya karena tidak ingin berakhir seperti di dalam mimpinya.


Ia tidak ingin membunuh ibunya, ia juga tidak ingin membunuh ayahnya. Ia takut pada dirinya yang ada di dalam mimpi.


Dia benar-benar sangat ketakutan hari itu, hingga tubuhnya tak berhenti gemetaran.


Aria berbalik, ia memandang sebuah rumah yang telah ia beli dan ia renovasi. Mulanya ia memang berencana untuk memantau keadaan Arkas jika perasaan aneh itu muncul kembali dan tinggal di sana jika ia tidak sempat pulang ke rumah, namun sepertinya, rumah itu akan menjadi rumah menetapnya sampai perasaan aneh dan ketakutan akan mimpinya menghilang.


Hati yang kalut dan penuh kesedihan ia bawa melangkah memasuki perkarangan rumah yang telah disemen dan memiliki beberapa tumbuhan berbunga di dalam pot.


Dia tidak membawa apapun kecuali hanya beberapa lembar uang, kartu ATM dan  juga kunci rumah di tangannya.


Tidak ada lagi mobil mewah, tidak ada lagi tas mewah, sepatu mewah dan perlengkapan mewah lainnya bahkan dia hanya membawa pakaian yang ia kenakan saja, ponsel sekalipun tidak ia bawa.


Kraaakk..


Pintunya ia buka, untuk pertama kalinya ia melihat ruangan dari rumah sederhana yang belum pernah ia tinggali sebelumnya.


Ada sofa, ada perlengkapan rumah tangga lainnya. Hanya saja, ruangan tersebut terlihat begitu mencengkamkan karena dindingnya berwarna merah.


Aria masuk ke dalam lalu menutup pintu dan menguncinya. Setelah menyalakan kontak lampu, wanita itu mulai bergerak mendekati sofa dan duduk di sana lalu menangis sesenggukan dengan meletakan kedua tangan di wajah, “ Hiks hikss..haaa hikkss..” 


Kraaakkk..


Dia terkejut, tangisannya sontak berhenti dan dia terperanjat. Salah satu tangan menahan tubuhnya yang menyamping karena wanita itu memandang ke sumber suara yang berbunyi.


Baaakkk..


Pintu terbuka,


“Hm,” seseorang muncul dari sana dan mengejutkan Aria.


“Haa.. Ka.. kau, kenapa kau ada di sini?” tanya Aria yang telah berdiri dan tercengang memandang orang yang baru saja masuk ke dalam rumahnya tersebut.


“Memangnya kenapa kalau aku ada di rumah istriku?” Suan menghela nafas lega tapi terdengar sangat pelan.


Belum sempat ia melangkah mendekati sofa, laki-laki itu dibuat tersenyum tipis ketika Aria mendekati lalu menarik paksa tangan laki-laki tersebut untuk keluar dari rumahnya.


“Sejak kapan aku jadi istrimu?” dengan sekuat tenaga Aria menarik paksa tangan Suan, lalu setelah Suan bergerak, wanita itu mendorong punggungnya keluar pintu dan mengunci pintunya kembali.


Perlahan-lahan wanita itu duduk, menyandarkan diri di pintu sembari menahan detak jantungnya yang terpacu kencang karena berada bersama laki-laki yang ia cintai.


Takkk.. pintu terdorong, tanggg.. kunci yang masih menempel pada lubangnya, terjatuh.


Kraaakkk..


Suara pintu terbuka, terdengar kembali.


Tubuh Aria yang terduduk sontak tergeser maju dengan cepat.


“Saat SMP, kau tidak ingat ya?” jawab Suan yang telah masuk kembali ke dalam rumah.


“Kenapa kau bisa masuk lagi?” Aria berdiri, ia menghadapkan diri ke arah Suan dan bertanya.


Belum sempat ia menenangkan diri, kini penyebab detak jantungnya terpacu kencang, telah muncul kembali.


“Jadi kau memata-mataiku?” Suara Aria diperkeras, tetapi wanita itu tetap berdiri, enggan mendekati Suan yang telah meraih ponsel di dalam kantung celana dan menggeser layarnya.


“Kau ingin makan apa?” tanpa menjawab, dengan santai Suan mengajukan pertanyaan lain, “aku belum makan apapun jadi sedikit lapar.”


“Jadi kau memata-mataiku?” Aria mengulang pertanyaan.


“Hm,” Suan menjawab dengan santai lalu menaikan kedua kaki ke atas sofa dan melipatnya.


“Suan, aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan, tetapi aku tidak mau pulang ke rumah.” Aria menundukan kepala lalu mulai melangkah pergi dari ruang tamu karena enggan melihat laki-laki di hadapannya terus-menerus yang akan membuat rasa cinta dan hasrat hati untuk menginginkan laki-laki tersebut, semakin bergejolak.


“Memohonlah!”


Perintah Suan menghentikan gerakan kaki yang baru beberapa kali melangkah, “Tadi siang, kau tidak datang untuk memohon, bukan?, jadi sekarang, memohonlah.”


“Suan,...”


“Ahh,” Suan membaringkan tubuh ke atas sofa sembari masih memegang ponselnya secara Vertikal, “sepertinya besok pagi, ada orang yang akan menangis, dipaksa pergi ke kantor sipil.” Sindir Suan mulai membaringkan tubuhnya miring lalu mengembangkan senyuman licik di hadapan Aria yang masih berdiri terkejut.


“Suan!”


“Aku hanya perlu mendaftar saja, sepertinya data pernikahan kita waktu SMP masih ada di sana.” Suan kembali melentangkan tubuhnya, memiringkan ponsel yang tadinya tegak dan mulai bermain game besutan perusahaannya yang masih belum dirilis.


“Suan, bukankah waktu itu umur kita masih belum cukup untuk menikah?, mana mungkin...”


“Aahh aku ingat sekali, ayahmu terpaksa menyetujui pernikahan itu karena kau menangis, memohon-mohon untuk menikah denganku, lalu pernikahan pun terjadi,” 


“Tapi tetap saja pernikahan itu belum terdaftar.” Aria mengertak gigi-giginya, perasaannya dipenuhi dengan kebingungan atas pernyataan Suan saat itu. Dia takut bahwa mimpinya akan menjadi kenyataan, dia juga takut untuk kembali ke rumahnya karena tidak ingin mencelakakan kedua orang tuanya.


“Maka dari itu, aku hanya perlu mencari datanya kembali dan kita telah resmi menikah, lalu menyiarkan beritanya ke publik dan kau menjadi istriku.” Suan duduk kembali namun kali ini dengan melipat kaki dan meletakan kedua tangan di atas lutut. “Aria, ingatlah, kau bukan Nona Anderston lagi karena telah melangkah kaki keluar rumahmu, maka dari itu memohonlah!, atau kekasihmu itu akan menderita karena ternyata dia mencintai istri orang lain.”


Aria tertegun, wajahnya terlihat begitu menyedihkan, ia yang tidak ingin melihat wajah Suan karena mampu mempercepat detakan jantungnya, perlahan-lahan menundukan kepala, “ dia tidak mencintaiku.” Lalu mengungkapkan kebenarannya, “Suan, aku rasa kau ini aneh sekali, kenapa kau memaksa..”


“Aku ingin sekali melihatmu menderita,” selaan cepat Suan membuat Aria sontak memandangnya dengan tatapan sedih, “kau kira aku akan memaafkanmu begitu saja?” pandangan mereka saling beradu,  tatapan tajam Suan bahkan mampu membuat Aria membuang wajah, lalu mulai menundukan kepala dan menurunkan satu kaki disambut dengan kaki lainnya.


“Maafkan aku, Suan, aku mohon batalkan pernikahan kita.” Ucap wanita itu begitu tegar dan begitu berusaha untuk menekan harga dirinya.


“hm, aku akan mencatatnya,” Suan meraih ponsel yang tadinya ia letakan di atas sofa, “ Hm, 9.998, aku menunggumu memohon hingga 9.998 kali lagi, setelahnya aku akan memaafkanmu.” Suan berdiri, ia tersenyum senang melihat wajah terkejut Aria yang tampak tidak dapat menerima keputusan sepihak dari Suan.


“ Suan, bukankah kau ini sangat keterlaluan?” Aria melangkah mengikuti Suan yang telah berjalan menuju kamar satu-satunya di rumah tersebut karena memang rumah itu merupakan rumah sederhana yang tidak seperti kebanyakan rumah mewah lainnya.


“Karena kau telah berani melawanku, maka aku akan mengembalikan hitungannya ke awal, hm,” Suan menghentikan langkah lalu mulai memainkan tangan di layar ponselnya, “9.999.” 


“Suan!”


Aria mencoba meraih ponsel Suan tetapi Suan telah mengangkatnya naik ke atas dan memandang wajah Aria di bawahnya.


Karena tidak ingin bertatapan dengan mata Suan, Aria segera berbalik dan menenangkan diri dari getaran hati akan rasa cintanya yang menggebu-gebu.


“Ahh, lapar sekali tapi tidak ada pengantar makanan di area sini.” Keluh Suan yang telah masuk ke dalam kamar Aria, dari kejauhan.


“Suan, apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan?” teriak Aria masih berdiri pada tempatnya dan enggan untuk masuk, mengikuti Suan.


“Menikah denganmu.” Jawab Suan keras, meluluh lantakan perasaan Aria saat itu.


Senang, takut, sedih, khawatir  dan cemas, semua teraduk menjadi satu hingga membuatnya sakit kepala dan dirinya berjongkok memegang kepalanya tersebut.