
Dia merasa sangat membosankan, menunggu Suan yang tak kunjung kembali hingga malam.
Jeduuuaaarr...
Suara gemuruh terdengar menggelegar di telinga.
Lampu perusahaan mulai dimatikan ketika hampir seluruh karyawan telah kembali ke rumah mereka masing-masing.
Hujan tampak jatuh dari atas langit begitu deras,
“Maaf, aku tidak bisa menemanimu karena ada yang harus aku lakukan.”
Rena mengembangkan payungnya, ia memandang sedih ke arah Aria yang tampak berdiri di teras gedung menunggu kedatangan Suan menjemputnya.
“Aku tahu, Temuilah ibumu dan jangan khawatirkan aku!”
Dengan berlapang dada, Aria membiarkan Rena meninggalkannya hingga hati wanita tersebut mulai terasa hampa kembali.
Ia seperti tidak menemukan sesuatu menarik lagi malam itu.
Pandangan mata Aria mulai sedih, ia terus memandang punggung Rena yang telah berjalan menjauh lalu mulai meraih ponsel ketika tidak lagi dapat melihat tubuh temannya tersebut.
“Suan!” gumam Aria yang sedang berdiri di samping dua orang penjaga keamanan yang tampak duduk dengan sangat sopan di teras gedung.
Tidak ada pesan, juga tidak ada panggilan.
Suan memang sedang bertemu dengan klien penting namun klien tersebut bukan berasal dari perusahaan keluarga Harry melainkan berasal perusahaan keluarga Dikintama.
Pikir Aria, padahal besok adalah pesta pertunangan Harry dan Michelle tetapi perusahaan keluarga mereka tidak juga ditutup hanya untuk sehari saja.
Aria yang sedih dan kesepian mulai berniat untuk pulang ke Apartemen Suan dengan mengendarai bus kota.
Dia tidak berniat untuk menghubungi Suan karena dirinya takut akan mengganggu laki-laki yang ia cintai seperti di masa lalu.
Aria, sungguh tidak ingin Suan membencinya lagi.
Jedduuuuar...
Lagi, Suara gemuruh terus terdengar menggelega berkali-kali.
Ragu-ragu Aria melihat ke samping,
“Kau memiliki payung?” lalu bertanya pada seorang penjaga keamanan di sampingnya.
“Tunggu nona, saya akan membelikannya untuk an..”
“Tidak usah,” sela cepat Aria lalu mengurungkan niat untuk pulang dengan menggunakan bus kota, kemudian melangkah kembali memasuki lantai bangunan pertama yang tak lagi diterangi lampu menyala.
Saat itu ia memilih untuk menunggu Suan di ruang kerja laki-laki tersebut saja.
Terus melangkah lalu masuk ke dalam lift, kemudian ketika sampai ke tujuannya, hati wanita tersebut merasa sangat kesepian.
Dia mulai takut akan kesunyian,
Tidak ada orang di sana, tidak ada Sekretaris Suan yang mungkin telah pulang ke rumahnya.
Ragu-ragu wanita itu melangkah keluar dari pintu lift lalu ketika pintu lift tertutup ia berbalik dan hanya memandangi pintu dengan tatapan penuh kehampaan.
“huh, benar, ternyata kau di sini.”
Suara seseorang yang baru saja muncul dari tangga mengejutkan Aria.
“Arkas!” panggil wanita tersebut ketika melihat Arkas telah mendekatinya sembari membawa dua buah mie cup di kedua tangan.
“Kau mau?”
“Hm,” Aria menggelengkan kepala, ia tidak berminat sedikitpun untuk makan makanan apapun.
“Kau mau?” tanya ulang Arkas sedikit memaksa.
“Aku tidak mau,” tolak Aria cepat dengan mengeluarkan suaranya.
“Belajarlah untuk menghargai pemberian orang lain.” Ucap Arkas sedikit kesal karena dia telah berniat untuk memberikan satu buah mie cup pada Aria tadinya.
“Hm,”
Perlahan-lahan Aria mengangkat tangan lalu meraih sebuah mie cup dari tangan Arkas kemudian mulai melangkah mengikuti laki-laki tersebut mendekati meja kerja Sekretaris Suan sembari memandang Arkas yang telah mengambil kursi milik salah seorang Sekretaris dewan Direksi yang telah mereka lewati ruangannya.
“Waktu itu, aku minta maaf.” Ucap Arkas yang telah duduk sembari meniup asap dari mie yang ia angkat ke udara.
“Kau tidak perlu memaksakan diri, aku mengerti kenapa kau sangat marah waktu itu.”
Aria mulai mengikuti Arkas mengangkat mie dengan garpu plastik yang ia pegang.
“Kau itu memang aneh sekali, menuduh orang yang tidak bersalah begitu sembarang.”
“Tapi dia memang berniat untuk membunuhmu,” Aria yang telah memasukan mie ke dalam mulutnya mulai berdiri dan melangkah.
“Kau mau kemana?” tanya Arkas terkejut dengan perilaku wanita itu.
“Berikan saja padaku, kau tidak perlu membuangnya.”
“Tapi itu bekas dariku.”
Sela cepat Aria mulai melangkah mengejar Arkas yang telah kembali duduk di kursinya.
“Bagimu memang ini tidak enak tapi bagiku ini sangat berharga dan aku tidak peduli kalau ini bekas dari orang lain.”
Ucap Arkas yang telah memakan kembali mie dari mangkuk di atas meja.
“Kau tahu, karena kau dia dipecat.”
Arkas yang mengunyah mie, sedikit tersenyum pahit malam itu.
“Apa?”
Malam itu, Aria merasa sedikit bersalah.
Entah mengapa hatinya saat itu sangat peka terhadap rasa sakit yang dirasakan oleh orang lain.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu?, tapi kalau kau benar-benar ingin melindungiku dan sangat khawatir padaku, mulai sekarang katakanlah apapun yang kau pikirkan tentangku agar aku tahu bahwa saat itu kau hanya ingin melindungiku dan aku janji, aku tidak akan marah lagi padamu.”
Pernyataan Arkas mengejutkan Aria, mata wanita itu mulai berkaca-kaca karena merasa bersyukur malam itu.
“Hm,” Aria menganggukan kepala, “berikan padaku mie itu.” Lalu berniat untuk memakan mie cup pemberian Arkas meskipun ia tidak menyukainya.
“Jangan dipaksa. Kau tidak menyukainya, bukan?”
“Tapi pemberian orang lain harus dihargai, dan aku akan melakukan itu mulai dari sekarang.” Jawab cepat Aria sembari meraih mie cup di atas meja lalu memakannya bersama dengan Arkas.
Malam itu, mereka berdua makan mie di kesunyian ruangan yang bahkan suara hujan sekalipun tidak terdengar.
“Kau akan datang?”
Tanya Arkas sembari menyeruput kuah mie dan memandang ke arah Aria yang telah memasukan mie ke dalam mulut.
“Kemana?”
“Pesta Pertunangan Direktur Harry.”
Arkas menjawab pertanyaan Aria sembari meletakan mangkuk yang kosong di atas meja untuk sementara waktu sebelum membuangnya ke tong sampah.
“Entahlah.”
“Aku harap kau datang karena aku juga akan datang, setidaknya aku merasa tenang karena kau bilang akan melindungiku, bukan?”
Aria tersenyum kecut, ia memahami maksud dari pernyataan Arkas saat itu.
“Kau kira aku akan tertipu, pasti Harry yang memerintahkan padamu untuk memaksaku datang, iyakan?”
Lalu menebak pernyataan tersebut bersamaan dengan pintu lift yang telah terbuka dan Suan telah muncul dari sana.
“Benar atau tidak, aku harap kau datang.” Arkas mulai berdiri lalu melangkah meninggalkan Aria sembari membawa mangkuk mie yang telah kosong, melewati Suan dengan menundukan kepala.
Wajah Suan tampak sedikit marah.
“Maaf, membuatmu lama menunggu.” Lalu mengucapkan kalimat tersebut dengan nada dingin sembari meraih mangkuk mie dari tangan Aria dan duduk di kursi Arkas tadinya.
“Suan, kenapa kau mengambilnya?”
“Bukankah kau tidak menyukainya?” Ucap Suan lalu memakan sisa mie milik Aria saat itu.
“Kenapa kau bisa tahu?” tanya Aria mulai tersenyum senang karena menurutnya, hanya Suanlah yang paling bisa memahaminya.
“Aku mengenalmu lebih dari siapapun di dunia ini.” Ucap Suan sembari mengunyah mie di dalam mulut lalu mulai berdiri, “ Ayo pulang!” dan mengulurkan tangan untuk Aria sembari membawa mangkuk yang masih tersisa kuahnya dan membuang benda tersebut di tempat sampah.
“Suan, aku akan pergi ke pesta Harry.”
Suan tersenyum pahit mendengar ucapan Aria saat itu.
Lagi dan lagi, ia merasa bahwa Aria selalu saja menuruti ucapan Arkas dibandingkan dengan dirinya padahal Suan telah mengajak wanita tersebut terlebih dahulu namun dia menolaknya lalu ketika Arkas yang berbicara, wanita tersebut langsung menerimanya.
“Aku tidak akan pergi.” Ucap Suan mengejutkan Aria.
Laki-laki itu bahkan sampai menggenggam erat tangan Aria karena sedang menahan amarah.
“Lalu siapa yang akan melindungiku jika di sana nanti semua orang membenciku?”
Ucap Aria menghentikan langkah kaki hingga Suan turut melakukan hal yang sama.
“Arkas.” Jawab Suan mulai melepaskan tangan Aria dan melangkah pergi meninggalkannya.
“Suan, sebenarnya kau mencintaiku atau tidak?, kenapa aku merasa sedang tertipu olehmu?”
“Aku akan datang, kau sudah puas.”
Bentak Suan marah lalu mendekati dan meraih tangan Aria kembali lalu menggenggamnya erat malam itu.