Villainess' Giving Up

Villainess' Giving Up
Serangan Balik



Cuaca yang tadinya cerah berubah menjadi mendung.


Terik matahari tidak lagi membakar kulit tubuh.


Memang, bulan november merupakan bulan dimana musim dingin tiba, maka dari itu hujan sering sekali mengguyur kota tersebut.


Hembusan angin semakin terasa kencang, debu di lantai atap bangunan ikut terbawa arus kencangnya.


Angin berdebu itu menerpa tubuh Suan yang tampak berusaha menundukan kepala Aria agar debu tidak mengenai wajah wanita itu.


Angin kencang tersebut juga membuat helaian rambut panjang Aria yang terurai, bergerak berhamburan tak tentu arah, helaian rambut tersebut juga kadang mengenai wajah Suan di sana.


“Lusa aku akan pergi ke California untuk tanda tangan kontrak, mungkin akan memakan waktu lebih dari sebulan karena aku harus mempersiapkan semuanya.”


Suan membuka suara kembali, ia masih memegang kepala Aria untuk terus menetap di atas bahunya, “Maukah kau ikut bersamaku?”


Laki-laki itu benar-benar berharap Aria akan menuruti permintaannya, ia sangat ingin mengenalkan Aria pada temannya yang juga berada di California karena perusahaan tempat Suan bekerja di masa lalu juga berada di negara yang sama.


Aria menegakan tubuhnya, ia menghadap ke arah Suan sembari menekuk kedua kaki ke belakang, “maaf Suan!” dia tidak memberitahukan alasannya, dia mengetahui bahwa Suan mungkin akan marah padanya tetapi dia memang tidak mungkin berada jauh dari Arkas karena perasaan aneh itu pasti akan muncul dan dia sangat takut untuk merepotkan Suan di sana nanti.


Mata Suan memandang ke arah depan begitu kecewa, ia tahu alasan sebenarnya penolakan dari Aria.


“Hm,” dia mulai berdiri, dia tersenyum kecut, enggan untuk berada di sana kembali karena hatinya terasa sakit dan dia mulai emosi.


Suan melangkah, “berikan aku kesempatan untuk menjadi Sekretarismu, selama sebulan ini aku akan berusaha sekeras mungkin untuk layak bekerja sebagai bawahanmu.”


Lalu terhenti ketika Aria memeluk tubuhnya dari belakang.


Hembusan angin masih menerpa kencang hingga setelan jas yang Suan kenakan ikut melayang-layang, begitupula dengan rambutnya dan juga rambut Aria saat itu.


“Tapi kau istriku.” Suan menolak, ia melepaskan pelukan tangan Aria lalu menghadap ke arah wanita tersebut, “Kau adalah istriku, aku sangat yakin telah sah menikah denganmu saat itu, dan sekarang kita hanya perlu menikah agar publik mengetahui status kita, maka dari itu aku tidak menginginkan istriku untuk bekerja.”


Tubuh Aria mulai bergetar kembali, kakinya tampak menggigil dan hal itu membuat Suan kebingungan, “aku,”


“Aku hanya becanda.” Suan tampak berusaha untuk menenangkan Aria saat itu, “mana mungkin kita telah menikah,” dia sedikit terkejut ketika gigilan tubuh Aria perlahan-lahan menghilang dan Aria tampak menghela nafas lega, “ baiklah, aku akan memberikan kesempatan padamu, jadi berusaha keraslah sampai aku kembali!”


Suan mulai berbalik dan ingin melangkah kembali.


Lagi-lagi dia bertanya di dalam hati tentang keadaan Aria saat ini.


“Suan, aku lelah sekali, rasanya sangat dingin di sini.”


Aria tidak kunjung melangkah, ia tampak memeluk tubuhnya dan mulai merasa menggigil.


Mendengar keluhan Aria, Suan segera berbalik kembali kemudian ia berjongkok, “naiklah!” memberikan punggung untuk wanita yang ia cintai.


Aria segera naik ke atas punggung Suan, lalu memejamkan mata sembari melingkarkan tangan di leher laki-laki tersebut, “Suan, jangan tinggalkan aku!” bahu Suan terasa basah, ia berpikir mungkin itu karena air mata Aria yang jatuh hingga menembus sampai ke kulit tubuhnya.


*********


Suan tersenyum kecut melihat kedatangan ayah Aria ke Apartemennya.


Laki-laki itu tampak sedang memangku Aria yang sedang terlelap tidur di atas Sofa.


Ponsel yang tadinya ia gunakan untuk memeriksa kinerja Aplikasi yang ia buat, ia letakan di samping tubuh Aria yang tertidur miring.


Ia menatap mata ayah Aria yang sedang duduk pada sofa di hadapannya.


“Sejak kapan kau menjadi orang yang sangat licik, Suan?”


Ayah Aria memandang mata Suan dengan tatapan kecewa, ia benar-benar tidak menyangka bahwa Suan mampu menguasai perusahaan Dikintama dan menendang beberapa pemilik saham yang berasal dari anggota keluarga Dikintama, keluar dari perusahaan tersebut.


“Bukankah kau pernah mengatakan padaku bahwa aku harus menjadi lebih hebat darimu ataupun ayahmu, paman?, maka aku telah melakukannya dan sebentar lagi, aku bahkan mampu untuk menghancurkan perusahaanmu jika aku mau.”


Begitu santai Suan berbicara, ia tidak peduli lagi dengan rasa hormat di dalam hatinya karena saat itu, ia benar-benar kecewa pada laki-laki di hadapannya yang telah membuat Aria tiba-tiba berubah, menurut anggapannya.


Ayah Aria meletakan kedua siku tangan di atas paha lalu menyandarkan dagu di kedua tangan yang telah menyatu dan ia kepalkan.


Malam itu, dia masih tidak menyangka bahwa Suan benar-benar nekad menjatuhkan nama baik kakek dan ayahnya sendiri dengan menggunakan perusahaan keluarga Harry sebagai pelopornya.


Ia juga tidak menyangka bahwa setelah saham perusahaan Dikintama jatuh, dengan langkah sigap Suan memaksa para dewan Direksi untuk meminta keluarga Dikintama menjual semua saham mereka agar Suan yang telah mendapatkan hak paten perusahaan ternama dunia, bergabung kembali ke perusahaan Dikintama.


Benar-benar hebat, pikir ayah Aria saat itu. Dia tidak menyangka laki-laki pilihan putrinya adalah laki-laki yang sangat sempurna untuk dijadikan pemimpin perusahaannya.


“Bagaimana dengan istrimu, bukan maksudku mantan istrimu?, kau masih belum memberitahukan pada Aria juga ya paman, kalau kalian sebenarnya sudah berpisah lama dan saat ini, hanya berpura-pura saja di depan Aria.”


Ayah Aria yang tadinya berdiri dan akan melangkah kaki, mulai menoleh kembali ke arah Suan.


“Terlalu banyak tahu sebenarnya tidak baik untukmu, kau akan kecewa atau bahkan jika nanti kau mengetahuinya, hatimu akan hancur dan aku takut, kau akan membuang Aria dan menendangnya keluar dari hidupmu juga.”


Mata ayah Aria mulai memerah dan berkaca-kaca. Malam itu, ia bahkan tidak berhasil membawa Aria untuk ikut kembali bersamanya.


Ketika datang tadi, ia telah mendapati putrinya tertidur lelap, ia bahkan tidak berniat sama sekali untuk membangunkan tidur nyenyak putri semata wayangnya itu.


“Aku bukanlah kau yang suka membuang orang lain, aku pikir, aku lebih menyenangi hidup seperti Orion Anderston yang begitu menyayangi cucunya, tapi tidak ingin memiliki sindrom gelisah darinya..”


“Suan!"


Ayah Aria dibuat geram.


Suan tidak peduli, dia hanya tetap membalas tatapan ayah Aria dengan begitu santai, tanpa merasa bersalah.


“Ya paman, aku bukan lagi pelayan Aria dan perusahaanku juga tidak lagi bergantung padamu.”


Begitu tajam Suan berbicara, laki-laki itu benar-benar mengutarakan isi hatinya yang selama ini terpendam.


Ia kecewa, ia juga marah. Hari itu, ia berjanji akan mencari tahu segalanya meskipun ia menyadari bahwa dirinya mungkin akan menderita, tapi baginya itu lebih baik daripada terus-menerus bertanya tentang keanehan yang tengah dialami oleh Aria.


*********


Aria tampak terbaring pada sofa di ruangan kerja Suan di perusahaan Dikintama setelah ia kembali dari perusahaan Harry untuk melihat keadaan Arkas walau hanya sebentar saja.


Di atas kepala wanita itu, Suan tampak sedang sibuk dengan pekerjaannya di depan layar komputer.


Hari itu adalah hari terakhir ia bersama Suan, sementara besok, Suan harus terbang ke California, maka dari itu Aria tidak ingin menyia-nyiakan waktu walau sedetik saja untuk berlalu dari Suan saat itu.


Sesekali Aria terlentang lalu memandangi wajah Suan yang mampu memikat hatinya, sesekali ia berdiri lalu mencium pipi Suan, hingga Suan kadang dibuat tersenyum lucu melihat tingkah Aria.


Sering kali Aria terpejam lalu tertidur sebentar kemudian setelah bangun, ia bernafas lega karena masih melihat Suan di sana.


Hingga waktu malam tiba, lalu ia melihat seseorang masuk ke dalam ruangan Suan.


“Kakak!”


Aria yang terbaring mulai duduk, ia memandang seorang wanita berambut pendek sejenak lalu menundukan kepala merasa bersalah.


Seorang wanita paruh baya turut masuk ke dalam ruangan tersebut, Dia adalah ibu Suan yang langsung tersenyum memandang Aria.


“Aria, di sini juga ya.”


Wanita itu begitu ramah, tapi keramahannya semakin membuat Aria merasa bersalah mengingat di masa lalu, ia sering membiarkan wanita itu terluka karena pukulan ayah Suan.


“Bibi!”


“Ibu, kenapa harus datang ke kantor?, sebentar lagi aku juga akan kembali ke Apartemen.”


Tanpa menoleh, Suan berkata.


Ia melirik sejenak ketika Ibu dan adiknya telah duduk di samping Aria.


“Yang kemarin, maafkan aku ya Aria.”


Rasa bersalah semakin bertambah ketika mendengar Cecilia meminta maaf padanya.


“Aku,” Suan tersenyum lembut mendengar ucapan Aria yang terdengar lirih, “..yang harusnya meminta maaf padamu karena waktu itu..”


“Hm, baiklah,” sela cepat Cecil yang duduk di sisi kanan Aria bersamaan dengan ibu Suan yang telah menggenggam tangan Aria dan menyingkap helaian rambut Aria ke belakang rambut, wanita itu terlihat benar-benar menyayangi Aria. “Tapi percayalah Aria, aku benar-benar tidak pernah berpura-pura menjadi temanmu, aku sungguh sangat menyayangimu sebagai kakakku, kau tahu,” mata Aria berkaca-kaca, ia belum berani memandang wajah Cecil saat itu, “.. karenamu aku tidak jadi menikah dengan laki-laki tua, karenamu ibu dan ayahku bisa bersama, karenamu kak Suan bisa menjadi orang sehebat ini, jadi Aria, aku benar-benar bersyukur bisa dekat denganmu meskipun kau tidak menyukaiku.”


“Hikkss..hikkss.”


Suan tertawa geli, ia tetap menutup mulutnya ketika mendengar tangisan Aria yang menggelega.


“Kenapa kau menangis?”


Suan tahu bahwa Aria yang ia cintai telah berubah semakin manja namun terlihat berusaha untuk tetap tegar dan kuat saat itu.