
Ditempat kerja Yin, ia sedang memeriksa beberapa dokumen yang diberikan kepadanya hari ini. Ada juga beberapa surat yang datang tantang beberapa kejadian terakhir yang harus ia balas.
Saat kemudian perhatian nya teralihkan kepada pintu yang terbuka...
" Wah, Tuan Yin. Anda sibuk sekali, ya. " ucap seseorang pula yang masuk ke sana, namanya adalah Ansel.
" Dari pada kau bicara saja, lebih baik kau membantuku, Ansel. " ucap Yin menyahuti nya.
" Baik, Baik. Tuan asisten mu yang baik ini akan membantu. " sahutan Ansel pun langsung menyahuti.
Sementara Yin hanya menatap nya datar setelah mendengar kata-kata nya itu, jika saja dia bukan asisten nya.. Yin pasti akan memukul kepalanya agar sikap narsis nya itu tidak semakin parah. Tapi jika ia benar-benar memukulnya, Yin jadi khawatir kalau dia nantinya malah akan ngambek dan meninggalkan tugasnya.
Meskipun begitu, pekerjaan nya harus diakui sangat bagus. Karena alasan itu juga Yin mempertahankan nya sebagai asisten pribadi nya.
" Oh, ngomong-ngomong soal Nona itu... " ucap Ansel menggantung.
" Nona yang mana?? " tanya Yin yang masih sibuk dengan kertas-kertas di hadapan nya.
" Ituloh, yang waktu itu anda bawa... siapa namanya?? Ah, Nona Altair. Siapa sebenarnya identitas nya, saya penasaran sekali. " tanya Ansel sambil menopang dagunya, dan menaik turunkan alisnya dengan senyuman yang entah kenapa terlihat menyebalkan.
Pertanyaan itu membuat Yin berhenti sejenak, tapi kemudian kembali melanjutkan pekerjaan nya. " Kau tidak perlu tahu. " jawab Yin acuh.
" Ah~ ayolah, saya penasaran sekali. Karena seperti nya anda maupun Baginda Kaisar sangat akrab dengan nya, meskipun sepertinya Nona Altair kelihatan canggung sekali dengan semua ini. " rengek Ansel pula.
" Karena itu... kau tidak perlu tahu. " ucap Yin menimpali.
Yin tidak suka sekali dengan sikapnya yang merengek-rengek seperti anak kecil jika ingin tahu sesuatu, ia ingat dulu Ansel pernah meminta informasi kepadanya sampai terus memegangi kakinya karena ia tidak mau mengatakan nya. Itu hal yang sangat memalukan.
Drapp... Drapp...
Yin terdiam tiba-tiba, ketika telinga nya yang sensitive itu mendengar suara langkah terburu-buru yang datang ke arah ruangannya. Sesaat kemudian terdengar suara ketukan yang sama terburu-burunya seperti langkah tadi dari luar pintu sana.
Tok.. Tok.. Tok.. Brakk...
" Tuan Yin! "
Dan pintu itu pun langsung terbuka setelah suara ketukan itu, bahkan sebelum ia mempersilahkan orang diluar sana masuk. Ternyata orang yang mengetuk pintu itu, adalah Altair.
" Ah, panjang umur sekali. " ucap Ansel saat melihat Altair datang ke sana ketika ia sedang membicarakan nya.
Namun Altair tidak terlalu menghiraukan nya dan lebih memilih mendekati Yin, " Tuan Yin, maaf untuk ketidaksopanan saya sebelumnya, tapi ada sesuatu hal penting yang ingin saya tanyakan. " ucap Altair yang masih terengah-engah karena lari.
" Tenang lah, Altair. Coba kata-kata semuanya pelan-pelan. " sahut Yin.
" Iyah... Jadi.. Tadi kan saya ada di perpustakaan untuk membaca buku, tapi tiba-tiba... tiba-tiba... " ucap Altair pula menggantung.
" 'Tiba-tiba' ada apa?? " ucap Ansel yang jadi sama bingungnya dengan Altair saat ini, apalagi Yin yang diajak bicara.
" Tiba-tiba... Benda ini muncul dari rambut saya!. " akhirnya Altair mengatakan maksud nya. Ia mengatakan nya sambil menunjukkan makhluk yang muncul di hadapan nya ketika di perpustakaan.
Kyuu...
Makhluk itu bersuara saat melihat Yin, tapi ekspresi nya... hm, jika dijelaskan mungkin bisa dibilang dia menatap Yin dengan wajah datar.
Yin yang melihat nya pun terdiam tak bisa berkata-kata melihat nya. Sangat berbeda dengan Altair yang ekspresi nya bingung+ngeri disaat yang sama, padahal dia yang memegang nya saat ini. Beda Yin, beda Altair, beda lagi dengan Ansel. Ia malah kelihatan gemas melihat makhluk yang dipegang oleh Altair saat ini.
" Apakah dia benar-benar kadal?? " tanya balik Altair, soalnya kelihatan nya makhluk di tangannya itu tidak suka dipanggil kadal.
" Yah, kelihatan nya seperti itu. Apa kau tidak tahu?? " sahut Ansel pula, yang dijawab gelengan kepala dari Altair. " Apa ini pertama kalinya kau melihat kadal ini?? " tanya Ansel lagi.
" Iya. " jawab Altair sambil menganggukkan kepalanya.
" Apa kadal ini tersesat, ya?? " gumam Ansel pula penasaran.
" Mungkin saja. Tapi apa benar dia kadal, sepertinya dia tidak suka dipanggil seperti itu. " ucap Altair menimpali.
Tapi mendengar percakapan mereka itu malah membuat Yin pusing sendiri, " Haahh... Dia bukan kadal, dia seekor Naga. " ucapnya pula menengahi kedua nya.
" Naga?!! " teriak Altair dan Ansel pula saking terkejut nya, apalagi Altair sampai menjatuhkan makhluk yang disebut Naga oleh Yin itu.
Tapi naga itu sempat melompat setelah Altair menjatuhkannya, dan ia pun kemudian duduk diatas meja didekat sana. Sambil ganti dipandangi dengan tatapan was-was dari Ansel, sementara itu Altair kini malah menatapnya dengan terkegum-kagum.
" Wah~ Ini pertama kalinya saya melihat Naga sungguhan sedekat ini. " ucap Altair yang terus menatap naga kecil itu.
" Harus nya ini bukan pertama kalinya, jika kau mengingat kejadian waktu didesa dengan baik. " ucap batin Yin yang mengingat kejadian hari itu, kemudian ia pun berkata, " Namanya adalah Zico, dia seekor naga kehempaan. " ucap Yin pula memperkenalkan Zico.
" Bagaimana anda bisa tahu?? " tanya Altair dan Ansel bersamaan..
" Iya, aku tahu saja. " jawab Yin pula.
Yah, wajar jika orang yang sudah hidup lama seperti Yin bisa tahu banyak hal. Itu lah yang di pikirkan oleh Altair, karena itu ia tidak terlalu menpertanyakan nya. Tapi masih ada sesuatu yang membuat nya penasaran.
" Ah! Tapi... kenapa dia tiba-tiba muncul dari balik rambut saya. Saya kan tidak tahu dia itu milik siapa?? " tanya Altair akan rasa penasaran nya.
" Naga kehempaan bisa membuat ruang dimensi sendiri untuk tinggal, dan muncul dimana pun pemiliknya berada. Jika mengingat dia muncul dari balik rambutmu, dan waktu didesa dia juga muncul mengikuti keinginan mu. Seperti nya dia sudah terikat denganmu sejak kau lahir. " jelas Yin pula panjang lebar.
" Eh?! Waktu didesa dia muncul?! " sahut Altair dengan sangat terkejut.
Ia membayangkan jika Yin sampai bisa melihat nya maka berarti Naga itu sudah sangat besar. Karena ia pernah baca di buku kalau Naga itu makhluk yang paling dekat dengan inti sihir, dan memiliki kekuatan yang sangat besar. Berkali-kali lipat dari manusia.
Mereka makhluk terkuat kedua setelah dewa...
" Uhh.. Bukankah itu artinya saya mencolok sekali waktu itu?? " ucap Altair merasa terbebani.
" Bukan hanya mencolok, waktu itu anda adalah satu-satunya pusat perhatian bagi pasukan kekaisaran. " jawab Ansel dengan santainya, tapi mambuat Altair jadi malu dan semakin terbebani karena nya.
Ansel yang melihat raut wajah yang dibuat Altair itu merasa lucu sendiri, iya, ia juga bisa mengerti akan hal itu. Karena menjadi pusat perhatian adalah hal yang menyusahkan. Tapi kemudian perhatian nya pun teralihkan pada buku yang sedari tadi dibawa oleh Altair, buku yang tidak pernah ia lihat meskipun sering keperpustakaan.
" Nona Altair, buku itu... " ucap Ansel menggangung.
" Hm..? Ah, saya berniat membaca buku ini diperpustakaan saat Zico tiba-tiba muncul, seperti nya terbawa kemari karena saya panik tadi. " jawab Altair pula.
" Apa buku itu benar-benar berasal dari perpustakaan?? Rasanya saya tidak pernah melihat nya, bagaimana menurut anda, Tuan Yin?? " tanya Ansel pula pada Yin.
Yang mendengar nya pun jadi baru menyadari buku yang dibawa oleh Altair, " Oh, buku itu. Aku pernah lihat baginda Kaisar terdahulu sering membaca buku itu, tapi saat aku melihat nya tidak ada satu pun kata-kata yang bisa kubaca. " ucap Yin.
" Benarkah?? Tapi... " ucap Altair pula menggangung.
Plop...