
12 tahun kemudian.
- Altair pov.
Di Kekaisaran Foldes, sebuah desa bernama GoldenRose. Tempat yang sangat hangat dan juga sangat damai, saat ini kami tengah mempersiapkan perayaan berdirinya Kekaisaran yang sudah ada sejak 500 tahun yang lalu. Suasana desa menjadi sangat ramai dan juga lebih hangat lagi dari biasanya, desa yang selalu dipenuhi dengan bunga mawar disetiap sudutnya setiap tahun itu menjadi ciri khas dan keunikan tersendiri desa ini. Karena itu namanya juga menjadi desa GoldenRose, juga karena cerita zaman dulu yang ada di desa ini.
Dikatakan zaman dulu kala, Kaisar negeri ini jatuh cinta kepada seorang wanita yang amat sangat cantik. Lalu sang Kaisar yang kebetulan sedang melakukan tugas didesa ini secara tidak sengaja menemukan setangkai bunga mawar emas, yang terlihat sama cantiknya dengan wanita yang ia cintai, ia pun membawa bunga itu dan menggunakan nya untuk meminang sang wanita pujaan.
Dari rumor yang didengar, kalau bunga tersebut tidak pernah layu meski sudah ratusan tahun berlalu sejak saat itu, karena itu bunga tersebut juga dikenal sebagai 'mawar keabadian', yang ditujukan untuk mengabadikan Ratu Kekaisaran. Dan terus digunakan oleh keturunan keluarga Kekaisaran dari generasi ke generasi, yang menjadi pewaris takhta untuk meminang calon putri Mahkota, atau orang yang nantinya akan jadi Ratu.
Sayangnya bunga itu kini sudah tidak ada di Kekaisaran ini sejak 100 tahun yang lalu, ketika Kaisar terdahulu, Ethan Sanchez Sheillaveteos memberikan nya kepada wanita yang ia cintai.
" Al, bisakah kau hantarkan makanan ini ke meja yang ada di sana. "
" Ah, baik. "
Oh, benar juga. Aku belum memperkenalkan diriku.
Namaku Altair Drosera, aku bekerja sebagai seorang pelayan di sebuah restoran di desa. Karena desa itu dikenal sebagai surga bunga mawar, banyak orang yang datang berkunjung ke mari untuk melihat nya atau sekedar beristirahat dari perjalanan jauh.
Ngomong-ngomong desa ini ada dipinggiran ibu kota Kekaisaran, jadi banyak pengembara atau para pedagang yang singgah di sini. Karena desa ini juga adalah jalur tercepat menuju ke ibu kota Kekaisaran.
" Hei, nak Altair. Kau sudah tumbuh besar rupanya, terakhir kali kulihat kau masih setinggi ini. " ucap seseorang yang sangat ku kenal, ia mengukur tinggiku dengan tangannya.
" Ini sudah 5 tahun berlalu, loh. Paman saja yang kelamaan mengembara. " jawabku dengan ketus, dan aku pun juga menyimpan pesanan yang kubawa itu di meja samping orang itu.
" Haha.. Iya, iya. Jika dilihat sebentar lagi kau mungkin akan lebih cantik lagi. " ucapnya pula kepada-ku, aku sampai malu dipuji seperti itu.
" Jangan mengatakan hal macam-macam, aku tidak mungkin secantik itu sampai perlu dipuji setiap hari. " ucapku pula sambil mengalihkan wajah ku yang mungkin terlihat merona saat ini.
Orang-orang yang ada di sana pun tertawa melihat ku yang malu saat ini, mereka selalu saja seperti itu kepada ku. Ah, orang yang tadi mengajak ku bicara itu bernama Geas, dia adalah ketua pedagang dari desa kami yang selalu berkeliling ke semua tempat di daratan.
Dia sudah mengenalku sejak kecil, bahkan dulu dialah yang selalu mengasuh ku jika kakek dan nenek pergi bekerja. Meskipun aku selalu ingat kalau dia tidak mengajarkan hal baik padaku. Karena aku hanya tinggal bersama dengan mereka, aku sama sekali tidak tahu siapa orang tuaku, kakek dan nenek juga selalu menghindar untuk tidak mengatakan hal itu kepada ku atau ketika aku bertanya.
" Jangan begitu Geas, kau membuat Altair jadi malu. " ucap seorang wanita pula mendekati ku yang masih bersama dengan paman Geas dan kelompok nya.
Dia adalah Niell, pemilik restoran ini, dia juga sudah mengenalku sejak kecil, iya sebenarnya tidak ada yang tidak tahu aku di desa ini. Hanya saja kedua orang ini seperti sudah menjadi paman dan bibi ku sendiri, kami sudah seperti keluarga sungguhan.
" Oh, ayolah Niell. Apa yang aku katakan itu benar bukan?? " sahut paman Geas pula.
" Geas, kau masih saja seperti itu. Ah, benar juga. Altair, ini uang untuk kerja keras mu. " ucap bibi Niell, ia memberikan uang yang ia maksud itu padaku.
" Hwa... Terima kasih, bibi. Kalau begitu aku pergi dulu, aku akan kembali lagi nanti. " ucapku pula dengan sangat girang.
" Hati-hati saat dijalan Altair!. " teriak bibi padaku yang sudah berlari keluar dari restoran.
" Iya!. " sahut ku pula.
Hari ini aku bisa membeli obat untuk nenek, uang yang kudapat dari bekerja sudah lebih dari cukup, meskipun kakek dan nenek bilang aku tidak perlu bekerja, tapi aku ingin membalas kebaikan mereka yang sudah membesarkan ku selama ini.
Aku pun pergi ke arah tempat penjualan obat tak jauh dari restoran tadi untuk membeli obat yang kubutuhkan, namun sebelum pulang aku akan menyempatkan diri untuk pergi ke hutan terlebih dahulu. Kudengar ada banyak buah berry di bukit dekat desa, aku bisa memetiknya dan membuatkan kue kesukaan nenek.
" Hehe.. Nenek pasti suka. "
Hari cepat berlalu, saat aku mencari berry untuk nenek, aku juga mendapatkan beberapa tanaman obat yang cukup berguna untuk menyembuhkan penyakit nenek. Hingga tidak terasa matahari akan segera terbenam.
" Astaga, sudah jam segini. Aku harus pulang. "
Aku pun membereskan barang-barang yang sudah kudapatkan, kemudian bergegas turun dari bukit dan segera pulang. Aku tidak sabar melihat wajah senang nenek ketika aku menunjukkan semua yang kudapat itu.
Namun langkahku terhenti ketika melihat ada sesuatu yang terasa aneh dari desa, kenapa cahaya dari desa bisa seterang itu. Seperti ada sesuatu yang terbakar, apakah warga desa membuat api unggun besar lagi??
Tiba-tiba perasan ku jadi tidak enak, sesuatu mengatakan untuk aku tidak pergi ke sana, karena ada hal yang menakutkan sedang terjadi di desa. Tapi... Aku khawatir pada kakek dan nenek, apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana??
Tanpa kusadari, kakiku pun mulai berlari sekenceng yang aku bisa menuju ke arah desa, aku berhenti tepat di depan mulut hutan di depan desa. Dan hal yang pertama kali kulihat dari desa yang kucintai itu, adalah desa yang berbakar dan orang-orang yang saling bertarung satu sama lain.
" Kakek! Nenek! "
Aku berlari kembali menuju rumah kakek dan nenek, meski harus menerobos api yang membakar seluruh desa, aku bahkan tidak ingat lagi dimana barang yang kujatuh kan karena panik, aku juga tidak sempat melihat sekitar ku sama sekali.
" Altair!! "
Kemudian aku dikejutkan dengan seseorang yang memanggil namaku, saat perhatian ku juga teralihkan kepada rumah yang akan runtuh kearahku. Aku pun menutup mataku rapat-rapat, saat seseorang kemudian datang dan mendorong ku untuk menyelamatkan ku dari runtuhnya bangunan rumah itu.
" Ukh... Altair, kau baik-baik saja?? " ternyata itu adalah bibi Niell.
" Tidak, kakek... Kakek dan nenek bagaimana?? Mereka dimana?? " tanya ku kepada Bibi Niell dengan panik.
" Kita harus pergi lebih dulu, Geas sedang mencari mereka. " jawab bibi Niell.
" Tidak!! Aku tidak mau! Aku mau mencari kakek dan nenek!! " tolak ku.
Aku kembali berlari dari tempat itu, tanpa mempedulikan teriakan bibi Niell yang terus memanggil namaku. Pandangan ku jadi buram karena air mata yang menutupi nya, hingga beberapa kali aku hampir terjatuh karena tersandung bebatuan dan lainnya.
Namun itu sama sekali tidak menghentikan langkahku, akhirnya.. Aku pun sampai di depan rumah tempat ku tumbuh itu. Rumah itu tidak ada bedanya dengan yang lain, terbakar habis oleh api.
" Ka.. Kakek!! Nenek!! Dimana kalian?! " teriakku memanggil mereka.
" Altair, disini!! " saat suara paman Geas pun terdengar di telinga ku.
Aku langsung mengalihkan perhatian ku kearah suara itu, paman Geas, kakek dan nenek selamat. Aku sangat senang melihat nya, dan aku pun langsung berlari kearah mereka.
" Kakek, Nenek! Apa yang terjadi?? Kenapa semuanya jadi begini?? " air mata tak berhenti berlinang di pipi ku.
Apalagi saat melihat kakek dan nenek terperangkap di sini, tempat yang dulunya aman dan indah ini, kini berubah menjadi tempat yang berbahaya dan diambang kehancuran.
" Al.. tair... " panggil kakek dengan suara lemah.
" Disini, aku disini kakek! Bagaimana keadaan kakek?? "
" Altair.. Kau sungguh anak yang sangat baik, kami bersyukur bisa memilikimu di sisi kami. " ucap kakek pula.
" Apa maksud kakek?? Aku akan terus disisi kakek. " ucapku dengan bingung.
" Aku.. uhuk.. uhuk.. Tidak akan bertahan lama lagi. "
" Tidak, kakek bisa bertahan! Aku yakin hal itu, kakek itu kan orang yang kuat! Kakek dan nenek kan sudah janji tidak akan meninggalkan ku sendiri!! "
Aku tidak mau mendengar hal itu, hal yang lebih menyakitkan dari pada terluka karena sebuah sejata itu. Sementara paman Geas dan bibi Niell yang baru saja datang, hanya menatap kearah ku dengan tatapan yang tidak bisa ku artikan.
" Kakek sudah janji, jadi kakek harus menepatinya!! " aku menggenggam tangan kakek dan menempatkan nya dipipiku.
" Altair... Bahkan istriku pun tidak bisa bertahan, apalagi aku juga sudah tua seperti ini. " ucap kakek.
" Ka,Kakek bohong! Nenek hanya sedang tidur saja, dia akan bangun lagi..Hiks.. Paman, katakan pada kakek kalau nenek baik-baik saja kan?? Nenek akan bangun?? "
Tapi paman Geas tidak menjawab ku, ia hanya menggelengkan kepalanya mendengar itu.
" Tidak... Tidak!! Kalian berbohong padaku!! Hiks.. Nenek... Hiks.. Dia baik-baik saja... "
" Altair... " bibi mengusap punggungku dengan lembut, " Tolong jangan seperti itu. " ucapnya yang tidak bisa aku mengerti.
" Tapi.. Nenek.. Hiks.. Nenek... "
" Altair, dengarkan kakek! " kakek pun balik memegang tangan ku yang gemetar dengan tangannya yang kurus itu, " Ada sesuatu.. Uhuk.. Yang ditinggalkan ibumu.. saat dia menitipkan mu pada kami.. " ucap kakek.
" Ibu...?? "
" 12 tahun yang lalu, waktu itu dimalam saat bulan purnama bersinar terang. Ibumu datang ke rumah kakek dan nenek mu, dia menitipkan diri mu pada mereka karena dirinya yang tidak bisa membesarkan mu di lingkungan nya yang berbahaya. " ucap paman Geas yang mulai menceritakan tentang itu padaku, aku tidak tahu kalau mereka juga tahu akan hal itu.
" Apa... Aku.. Bukan cucu kakek dan nenek??
.. Hiks.. Kalau begitu aku siapa?? Ibuku.. Hiks.. Dia membuangku?? Hiks... "
" Tidak, tentu tidak. Ibumu sangat menyayangi mu. " bantah kakek, meski dirinya melemah tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk menjelaskan nya padaku.
" Dia sangat menyayangi mu,... dia menangis...karena harus meninggalkan mu... Tapi dia tidak punya pilihan. Dia wanita malang.. haah.. yang harus memilih.. antara kebahagiaan nya dan keselamatan mu, dia lebih ingin.. Uhuk.. kau aman dan bahagia.. Dia orang yang sangat cantik dan baik.. Tapi dia juga orang yang menyedihkan... Jika.. Suatu hari kau.. uhuk.. Bertemu dengan nya.. Jangan benci dia.. Dia meninggal mu.. untuk keselamatan mu.. " jelas kakek.
" Aku mengerti, aku tidak akan membenci nya!! Hiks.. Tapi kakek juga tidak boleh meninggalkan ku! Hiks.. "
Aku tidak bisa menerima ini, meski aku tahu aku tidak bisa membenci ibuku, tapi aku juga tidak ingin kehilangan kakek dan nenekku,... mereka yang sudah membesarkan ku selama ini.
" Kakek tidak punya waktu lagi... Hah.. Hah... Geas, Niell, segera bawa.. Hah.. Altair pergi dari ini.. " ucap kakek pula.
" Tapi bagaimana dengan anda?? " tanya paman Geas.
" Jangan pedulikan aku.. Hah.. Altair lebih penting.. "
Dengan berat hati, pamah Geas pun mengiyakan ucapan kakek..
" Baiklah, ayo. "
" Tidak, kakek juga harus ikut!! Aku tidak akan pergi jika kakek tidak pergi!! " aku menolak keras, aku tidak ingin pergi.
" Altair... " ucap kakek.
Namun tiba-tiba saja paman Geas menggendong ku secara paksa, dan berlari pergi dari sana bersama dengan bibi Niell juga. Meninggalkan kakek dan nenek di sana.
" Apa yang paman lakukan?!! Kakek dan nenek masih disana, turunkan aku!! Aku tidak mau pergi!! "
Aku memberontak sekuat tenaga, bahkan sampai menendang dan memukul paman. Tapi semua itu tidak berguna sama sekali karena ia juga seorang petarung.
" Maaf, Altair. Ini keinginan terakhir, kakek mu!. " ucap bibi Niell.
" Kau harus selamat, Altair. " ucap paman Geas pula.
" Tidak!!... Kakek!!.. Nenek!!... "