The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Woman with blazing red hair



Plopp...


Kata-kata Altair terhenti saat merasakan sesuatu meyetuh kulitnya, sesuatu itu adalah sebuah gelembung, dan lebih banyak gelembung lain nya yang muncul memenuhi ruangan itu.


" Whoaa.... "


Altair terpukau dengan semua gelembung cantik yang tiba-tiba muncul itu, kemudian ia pun mengulurkan tangannya dan menusuk satu gelembung dengan jari telunjuk nya.


Plopp....


" Wah, wanginya harum.. Hahaha... "


Plopp... Plopp... Plopp...


Gelembung itu meletus, dan Altair merasa senang karena nya. Ia pun semakin banyak meletuskan gelembung-gelembung itu dengan kegirangan. Disisi lain, Yin dan juga Ansel yang melihat semua gelembung yang tiba-tiba muncul itu terheran-heran melihat nya.


" Dari mana semua gelembung ini datang?? " ucap Yin bertanya-tanya.


" Entahlah, tapi seperti nya semua gelembung itu terbuat dari sihir. Saya bisa merasakan mana dari gelembung itu, anda juga merasakan nya kan??. " sahut Ansel.


" Iya.... Hah! " Yin baru saja teringat akan sesuatu tentang gelembung seperti itu.


Disaat yang sama Altair yang terus berbalik ke sana kemari dan meletuskan semua gelembung-gelembung itu, mulai merasakan sesuatu yang aneh.


Plopp...


" Eh? Kok, Lama-lama rasanya... Hosh... nafasku... Hosh.... " batin Altair, ia mulai merasa kesulitan dalam bernafas.


" Altair!!. " panggil Yin saat menyadari nya.


" Grrrr....!! "


Zico menggeram marah ketika menyadari hal itu juga, dan semua gelembung itu pun langsung pecah seketika. Sementara itu Altair yang akan jatuh di tahan oleh Yin.


" Altair, kau baik-baik saja?? " tanya Yin dengan panik.


" Hah.. Hah.. Apa... Yang terjadi?? " ucap Altair bingung, ia masih berusaha untuk bernafas seperti biasa.


" Hee... Kau tidak menyenangkan lagi, Yin. Padahal aku ingin melihat nya mengatasi hal itu sendiri. " ucap seseorang pula terdengar di tempat itu, membuat semua perhatian langsung tertuju padanya.


" Kau keterlaluan Mira! " Yin berteriak marah pada perempuan yang ia panggil Mira itu.



Mira Marlon, adalah perempuan yang waktu itu dibicarakan oleh Yin dan Kaisar Ning, dia adalah ketua kesatria kekaisaran 2, seperti Yin yang adalah ketua kesatria kekaisaran 1. Mira sudah pergi mengembara dari Kekaisaran sejak Kaisar terdahulu pergi meninggalkan kekaisaran, sudah pasti umurnya memang sudah lama. Ia bisa awet muda karena dia memiliki darah Elf dari ayahnya. Dan iya... semua gelembung tadi adalah ulahnya.


" Jangan marah begitu, Yin. Aku hanya ingin melihat kemampuannya setelah mendengar desas-desus para prajurit ku. " Mira berjalan dengan santainya menghampiri mereka yang ada disana.


Mira pun berjongkok dihadapan Altair yang masih diam menatap nya, " Nona kecil, bagaimana kau bisa membunuh semua orang yang menghancurkan desamu?? "


Altair yang mendengar pertanyaan dari Mira pun memiringkan kepalanya, ia tidak terlalu mengingat hal itu, entah kenapa... " Hm... Aku tidak tahu. "


Mira yang mendengar nya pun hanya mengerjapkan mata nya dua kali, apa lagi melihat wajah Altair yang kelihatan polos layak nya anak-anak pada umumnya. Dia sama sekali tidak kelihatan seperti orang yang pernah membunuh orang lain.


" Sudah lihat-lihatnya, menjauh sana!. " ucap Yin tiba-tiba, sambil mendorong wajah Mira dari hadapan Altair.


Mira pun jadi menatap Yin dengan kesal, padahal ia hanya bercanda dengan Altair, tapi respon Yin benar-benar belebihan. " Wah, makin hari kau makin kasar ya. Padahal aku sudah lama tidak kembali, tapi begini caramu menyambutku??. "


Sementara itu Altair maupun Ansel hanya menatap pertengkaran mereka itu dengan tatapan bingung. Apalagi Altair yang tidak tahu siapa Mira yang sebenarnya.


" Aku tidak pernah ingin kau kembali, jadi pergi lagi sana. Dan lagi... candaan mu itu berlebihan! Jika terlambat sedikit saja, Altair bisa kehilangan kesadaran, dan aku yang akan mendapatkan masalah dari Baginda Kaisar. " sama halnya dengan Yin yang juga menatap Mira dengan kesal.


" Kenapa memang?? Kau juga sudah mengletuskan semua gelembungnya! "


" Bukan aku!. "


" Hah??. "


Kini Mira menatap Yin bingung, ia pikir Yin lah yang telah menghancurkan sihirnya. Tapi jika bukan dia maka siapa??, begitulah pertanyaan yang ada dibenak Mira.


Kemudian ia pun menoleh kearah Altair dan Ansel, tapi melihat wajah mereka yang bingung dan berekspresi bodoh yang mereka buat seperti itu dihadapannya, ia langsung percaya kalau pasti bukan mereka yang lakukan.


" Kalau begitu siapa??" tanya Mira pula pada Yin.


Yin hanya melirik dalang yang melakukan nya, tentu saja dia melirik Zico yang dengan santainya duduk sambil memperhatian tingkah konyol keduanya. Disaat yang sama Mira yang melihat nya pun kelihatan sangat terkejut, kemudian ia pun menoleh pada Yin lagi meminta kepastian. Dan tentu saja, Yin menganggukan kapalanya.


Melihat Yin yang menganggukan kepalanya, Mira pun semakin tidak bisa berkata-kata, ia tahu siapa itu Zico karena itu dia jadi seperti ini.


Brakk...


Barulah setelah itu ia menutup pintu ruangan Yin rapat-rapat, meninggalkan Altair dan Ansel yang masih belum mengerti dengan apa yang terjadi. Mereka masih menatap pintu yang tertutup itu dengan lekat.


" Umm... Jadi, bagaimana?? " tanya Altair, ia menolah kepada Ansel yang berdisi disamping nya.


Membuat Ansel pun tersadar, " Huh?? " tapi hanya itu yang ia katakan saat menatap Altair.


*****


Pada akhirnya, Altair pun harus kembali sendiri karena Ansel yang tiba-tiba dipanggil oleh salah satu kesatria kekaisaran. Altair juga kini tidak diikuti oleh para dayang lagi, jadi dirinya hanya sendiri berjalan kembali ke istana Marigold.


" Haah... kenapa Tuan Yin dan Nona Mira tiba-tiba jadi sangat serius begitu?? Apa kau tahu kenapa Zico?? " tanya Altair pada Zico yang sekarang sedang duduk dibahunya.


Kyuu...


Dan Zico pun menyahutinya seperti itu, bagi orang lain mungkin perkataan Zico itu tidak bisa dimengerti. Tapi....


" Kau juga tidak tahu, ya.. " Altair bisa mengerti apa yang dikatakan oleh Zico.


Banyak hal yang masih tidak ia ketahui tentang dirinya sendiri dan kedua orang tuanya, ditembah.. Altair merasa kalau Kaisar maupun Yin seoleh dengan sengaja merahasiakan hal itu darinya. Tapi Altair tidak ingin berburuk sangka pada mereka, apalagi Yin maupun Kaisar sangat baik padanya.


Lamunan Altair buyar ketika mendengar suara yang tidak asing ditelinganya, Altair pun menoleh kearah suara itu berasal, ternyata itu adalah pangeran Habel. Altair bertanya-tanya tentang apa yang terjadi, apalagi saat melihat pangeran Habel berusaha untuk memanjat pohon.


Karena terlalu penasaran, Altair pun jadi menghampiri pohon yang berusaha dipinjat oleh pangeran Habel itu.


" Yang mulia, apa yang anda lakukan?? " tanya Altair pada pangeran Habel yang ada diatas pohon sana.


Habel yang mendengar nya pun jadi menoleh kebawah sana, tepat dimana Altair berada. " Um.. Itu.. anak kucing nya.. " ucap Habel kedengaran malu-malu.


Altair yang mendengar nya pun juga jadi menyadari anak kucing yang ada diatas pohon sana, seperti nya anak kucing itu sangat ketakutan karena tidak bisa turun dari atas pohon sana.


" Kalau begitu biar saya saja yang mengambil nya, anda turun saja, yang mulia. Disana berbahaya. " ucap Altair pula pada Habel.


Habel kelihatan ragu untuk menuruti perkataan Altair, namun pada akhirnya ia pun mengangguk dan berusaha untuk turun. Tapi kemudian... Habel secara tidak sengaja terpeleset dan kehilangan cengkraman nya pada pohon itu, pada akhirnya dia pun jatuh.


" Ah!.. "


" Yang mulia!. " teriak Altair kaget, ia pun buru-buru merentangkan tangan nya untuk menangkap Habel.


Srukk...


Dan akhirnya, Habel pun berhasil ditangkap oleh nya. Altair menghela nafas lega karena bisa menangkap Habel, baru kemudian ia pun menurunkan nya.


" Anda baik-baik saya yang mulia?? " tanya Altair.


" Ah, I.. iya.. " jawab Habel yang kelihatan nya masih sangat terkejut.


Altair pun kemudian mengalihkan perhatiannya pada anak kucing yang tadi ingin diambil oleh Habel, " Tunggu disini sebentar, yang mulia. " ucap Altair pula pada Habel, ia pun berjalan mendekati pohon itu lagi. " Hm... tinggi juga. Andai saja aku bisa terbang. " batin Altair.


Ia masih memikirkan bagaimana caranya bisa sampai ke sana, disaat yang sama ia juga tidak menyadari apa yang sedang terjadi. Sementara disisi lain Habel yang melihat nya pun kelihatan tidak percaya.


" Ka... kak Altair.. " ucapnya yang membuat Altair menolah padanya.


Barulah kemudian ia sadar apa yang sedang terjadi, " Hehh?!! " Altair sangat terkejut karena saat ini dia sedang melayang diudara. Padahal sebelumnya ia hanya membayangkan kalau bisa terbang pasti akan menyenangkan, tapi kenapa malah jadi sungguhan??


Dukk...


Altair kembali sadar ketika kepalanya menabrak ranting pohon diatas nya. Rasanya cukup sakit juga.


Altair pun memanfaatkan itu untuk mengambil anak kucing yang ada diatas pohon itu, kemudian kini ia tinggal memikirkan bagaimana caranya untuk bisa turun.


" Tadi... aku memikirkan kalau bisa terbang, dan aku benar-benar terbang. Kalau begitu... " Altair pun memikirkan dirinya yang turun dengan aman dan selamat sambil menutup kedua mata nya.


Dan ketika ia membuka mata nya kembali, ia benar-benar sudah ada dibawah. " Berhasil!. " sorak Altair kegirangan.


Disaat yang sama Habel pun langsung menghampiri nya dengan sangat bersemangat, " Wah.. Hebat, bagaimana kakak melakukan nya?? " tanya nya pada Altair.


" Um... Saya juga tidak tahu, saya hanya berpikir kalau misalkan saya bisa terbang pasti akan sangat menyenangkan. Dan akhirnya saya benar-benar terbang. " jelas Altair, yang membuat pangeran kecil itu semakin melihat nya dengan tatapan kagum.


Sementara itu didalam istana, tepat di depan jendela yang menghadap langsung kearah mereka. Ning yang melihat itu pun hanya tersenyum, apalagi melihat raut wajah Altair yang kelihatan sangat gembira bersama dengan Habel.


" Apa kau melihat nya sekarang, Tuan?? Putri mu sedang tersenyum dengan sangat cerah layaknya matahari. " gumam Ning.