
Author pov.
Masih disaat yang sama, setelah menangis histeris sebelum nya kini Altair hanya diam saja. Pikiran nya kosong, sementara dirinya terus terus berlari untuk segara pergi dari desa itu. Mereka melewati setiap tempat dengan hati-hati, jika saja orang-orang yang menyerang desa menyadari keberadaan mereka.
Sedari tadi, Niell juga sama sekali tidak berhenti memegangi tangan Altair yang sedang bersama mereka itu.
" Tenang saja, Altair. Kita pasti bisa mengeluarkan mu dari desa. " ucap Niell menenangkan Altair.
" Tapi kita mau ke mana?? Aku tidak punya tempat tujuan lain selain desa ini. " sahut Altair.
" Kita bisa memikirkan itu nanti, ayo cepat. " jawab Geas pula.
Meraka pun kembali meneruskan jalan mereka untuk bisa keluar dari desa, mereka terpaksa berputar-putar untuk menghindari orang-orang misterius itu. Dan wilayah desa juga ternyata cukup luas dengan banyaknya bangunan yang sudah rusak parah, membuat jalan menjadi cukup sulit dilewati.
" Disana!! Ada yang masih hidup di sana!!. " ketika sebuah suara tiba-tiba terdengar meneriaki mereka.
" Sial, kenapa mereka tiba-tiba ada di depan kita!! " ucap Geas.
" Apa yang harus kita lakukan?? " tanya Niell dengan panik.
" Ayo kembali!. " jawab Geas pula.
Mereka pun terpaksa kembali ke arah mereka datang sebelum nya, Altair yang di tarik oleh Niell pun juga hanya mengikuti mereka berlari. Di situasi seperti ini ia tidak tahu harus bagaimana lagi.
" Pamah.. Bibi.. Kita harus apa??. " tanya Altair.
" Kita lari saja dulu-...!! "
" Akh!. "
Saat tiba-tiba saja, Geas mendorong Altair dan Niell menjauh darinya, saat mereka menuju ke sebuah persimpangan dijalan yang tadi mereka lewati. Disanalah... Mereka disergap oleh orang-orang misterius itu, dan Geas yang menghalangi jalan mereka.
" Pergi! Aku yang akan menahan mereka!. " ucap Geas.
" Jangan bercanda! Kami tidak bisa meninggalkan mu disini! Dan lagi... Altair sudah mencapai batasnya. " jawab Niell pada nya.
Geas pun mengalihkan perhatian nya kepada Altair yang ada di pelukan Niell, seperti yang ia katakan. Altair sudah tidak bisa berlari lagi, dan kakinya banyak terluka.
" Ukhh... "
Jika saja ada jalan lain untuk mereka pergi dari sana, tapi mereka malah semakin disudutkan ditempat itu.
" Haha.. Kalian tidak bisa lari lagi, kan. " ucap salah satu orang misterius itu.
" Jika kami tidak bisa pergi dari sini... Maka kalian juga tidak akan bisa keluar hidup-hidup dari desa ini!! " ucap Geas pula.
Ia berlari menabrakkan dirinya ke tiang kayu yang menyangga sebuah rumah di dekat mereka, seketika rumah itu pun ambruk menghalangi jalan orang-orang misterius itu.
Brukk...
Geas tahu jika hal itu tidak akan berguna untuk menghentikan orang-orang itu, tapi setidaknya hal itu bisa mengukur waktu. Geas pun segera menghampiri Altair dan Niell yang sedang menatapnya di belakang sana itu.
" Niell, berikan benda itu kepada Altair. " ucap Geas dengan wajah serius.
" A, apa kau serius?? Kakek nya bilang benda itu tidak boleh diberikan kepada nya sekarang!. " jawab Niell.
" Tidak ada waktu. Hanya itu juga satu-satunya cara untuk menyelamatkan Altair. " sahut Geas pula.
" Apa yang kalian bicarakan?? " tanya Altair pula bingung.
Duakk...
Saat mereka juga dikejutkan dengan suara keras orang-orang yang sedang mencoba menyingkirkan reruntuhan rumah yang terbakar itu. Niell pun akhirnya mengambil benda yang dimaksud oleh Geas itu, dan memberikan nya kepada Altair.
" Altair, ingatlah ini. Jangan pernah lepaskan kalung ini, juga jangan pernah memberikan nya kepada orang lain. Ini adalah satu-satunya benda yang ditinggalkan ibumu untuk melindungi mu. " ucap Niell kepada Altair, ia pun mengalungkan kalung itu di leher Altair, di sisi lain Altair juga merasakan sebuah dejavu saat melihat kalung itu.
Altair menerima surat yang diberikan Niell itu, tapi ia masih bingung dengan semua itu disaat yang sama ia juga tidak punya waktu untuk berpikir.
" Aku tidak mengerti, tapi kita harus pergi sekarang! Ayo paman, ayo kita pergi. Bibi ayo!. " ajak Altair.
" Kau tahu Altair, sebenarnya kami berencana untuk menikah. " ucap Niell pula.
" Kalian akan menikah?? " sahut Altair terkejut.
" Benar, tapi sepertinya takdir berkata lain. Sekarang kau harus pergi sendiri. " ucap Geas pula.
" Apa..?? Apa kalian juga akan meninggalkan ku?? Tidak! Aku tidak mau!! "
Duakk...!!
Orang-orang misterius itu berhasil menerobos melewati reruntuhan, bahkan sampai menyerang mereka dengan banyak anak panah. Secara naluriah Geas dan Niell pun memeluk Altair untuk melindungi nya dari semua anak panah itu, jadi mereka berdua lah yang terkena.
Air mata kembali jatuh di pipi Altair, diwaktu yang bersamaan ia harus kehilangan orang-orang yang berharga baginya sekaligus. Bagaimana ia bisa bertahan..
" Pa, paman... Bibi... Tidak.. " ucap Altair.
" Hiduplah.. Altair.. Demi kami.. " ucap Geas lemah.
" Kami akan selalu.. Ada disisimu.. " ucap Niell.
Itu.. Menjadi kata-kata terakhir mereka, keduanya mati sambil memeluk Altair yang masih terpaku di tempat nya. Tidak peduli meski dirinya dikelilingi oleh orang-orang jahat, tidak peduli jika api mengurungnya di tempat itu.
" Tidak... Hiks.. Paman.. Bibi... Hiks.. Tidak!! Argghhh...!! "
Tangisan pilu kesedihan nya menggema ditempat itu...
******
Tap...
Disisi lain desa, pasukan Kekaisaran pun tiba di sana secepat yang mereka bisa, sayang sekali mereka tidak sempat menyelamatkan orang-orang yang ada didesa itu.
" Kapten, desa ini sudah terbakar habis. Apakah para penduduknya masih ada yang selamat?? " tanya salah satu pasukan.
" Meski tidak ada yang selamat pun kita tetap harus menolong mereka. " ucap orang yang dipanggil kapten oleh orang itu, atau... Mungkin dia tidak bisa disebut orang, karena dia bukan manusia.
Yin, spirit animal kucing hitam berekor dua. Dialah yang memimpin pasukan Kekaisaran untuk datang ke sana.
Dan tepat dihadapan mereka saat ini, orang-orang yang bertanggung jawab atas kajadian naas ini pun keluar satu persatu. Berkumpul dihadapannya tanpa rasa takut terlihat dari wajah mereka.
" Ho~.. Kupikir kalian akan kabur dari pasukan Kekaisaran. " ucap Yin dengan wajah serius.
" Hahaha... Kalu hanya bawahan saja, untuk apa ditakutkan. Lagipula Kekaisaran ini sudah kehilangan taringnya sejak 100 tahun yang lalu. " ucap salah satu orang misterius.
Yin menggeram marah mendengar itu, " Beraninya kau menghina Kekaisaran ini, akan kubuat kalian membayarnya!!. " ucapnya.
Para pasukan Kekaisaran pun juga marah karena perkataan dari orang itu, membuat suasana di kedua belah pihak menjadi tegang karena perseteruan keduanya. Kedua kelompok itu sudah siap bertarung satu sama lain, sampai kemudian kejadian tidak terduga pun menghentikan mereka..
" Bos.. Bos!! Gawat bos!! " salah satu dari anak buah orang misterius itu berlari terbirit-birit kearah kelompok nya itu.
" Apa yang kau lakukan ini?? " tanya orang yang dipanggil bos oleh orang yang berlari itu.
" Mo, Mons-... Kuhuak!! "
Jlebb... Jlebb.. Jlebb..
Namun belum juga orang itu menyelesaikan kata-kata nya, ia tiba-tiba ditusuk oleh tiga pedang yang entah dari mana asalnya. Orang-orang yang ada di sana, bahkan sampai para pasukan Kekaisaran pun ikut terkejut melihat itu.
Sesaat kemudian, untuk beberapa detik yang singkat, suasana di tempat itu terasa seolah membeku oleh rasa haus darah dan kekuatan yang sangat kuat. Semua orang pun mengalihkan pandangan nya keatas sana, ada seseorang yang melayang di atas mereka dengan melancarkan aura yang amat menekan. Dia adalah... Altair.
" Si.. Siapa..?? " ucap bos orang-orang misterius itu.