
Malam itu, dikediaman Duke Orzsbet...
Rara yang mengalami hal tidak menyenangkan (menurut nya), segera mengadukan hal tersebut kepada ayahnya. Dengan emosi yang begitu menggebu-gebu dia bahkan sampai berteriak karena kekesalannya...
" Ayah harus melakukan sesuatu, aku benar-benar tidak menyukai gadis itu!! Bisa-bisanya dia lebih dekat dengan Pengeran Mahkota dibandingkan denganku, padahal dia hanya gadis biasa!." ucapnya penuh amarah.
Duke yang mengetahui perasaan satu-satunya putrinya itu pun mendekati nya, " Tenanglah, sayang. Kau tidak perlu marah-marah seperti itu hanya karena gadis biasa itu. " ucapnya mencoba menenangkan Rara.
" Tapi ayah... Jika dia terus dekat dengan Pangeran Mahkota, bagaimana jika mereka malah terlibat sesuatu?! Bukan hanya buruk untuk keluarga kekaisaran, tapi juga buruk untuk kita! Bukankah ayah sudah berjanji kalau aku akan menjadi Ratu dimasa depan??." sahut Rara pula.
Sebagai anak yang terlahir sebagai bangsawan besar sepertinya, tidak ada satupun hal yang ia inginkan yang tidak bisa terpenuhi. Asalkan dia mengatakan keinginannya, ayahnya akan langsung mengabulkan keinginannya itu.
Kecuali untuk satu hal, yaitu menjadi Ratu di Kekaisaran ini. Itu hal yang sangat berbeda, dan dia harus berjuang seorang diri. Bahkan jika keluarga nya membantunya, belum tentu dia bisa mendapatkan nya.
Sejak pertama kali Rara melihat Theodore, dia sudah jatuh cinta pada pendangan pertama padanya. Namun bagaikan bintang di atas langit sana... mustahil dia bisa menggenggam nya, karena itulah dia sangat terobsesi untuk mendapatkan hati Theodore.
Hal itu makin dikuatkan dengan ekspektasi yang diberikan ayahnya, yang bilang akan menjadikannya Ratu Kekaisaran. Karena dengan begitu, dia bisa terus bersama dengan Theodore.. Dan saat dia melihat Altair yang berdiri disisinya tanpa usaha keras sepertinya, Rara benar-benar dipenuhi kecemburuan.
Kebencian pun langsung tumbuh dalam sekejap, dan itu tidak mudah untuk disingkirkan...
Duke Orzsbet juga menyadari hal itu, putrinya yang begitu ambisius tidak akan pernah melepaskan apa yang dia inginkan, " Ayah, tahu. Ayah, tahu. Putriku tidak usah khawatir, aku akan memikirkan sesuatu untuk menyingkirkan gadis itu. " timpal Duke Orzsbet.
" Benarkah? Ayah berjanji? " tanya nya memastikan nya lagi, yang kemudian diangguki oleh ayahnya. Dan itu membuat nya sangat senang, " Aku sayang ayah!." Rara pun langsung memeluk sang ayah dengan begitu bahagia.
Duke Orzsbet senang putrinya mulai tenang, disamping itu.. dia harus memikirkan bagaimana cara untuk memenuhi keinginannya itu.
" Dia dilindungi oleh Naga, tapi tidak mungkin dia bisa terhindar dari bahaya setiap waktu. Pasti ada saat dimana Naga itu tidak memperhatikannya, sepertinya aku harus mencari orang yang bisa membunuhnya tanpa dicurigai siapapun...." pikir sang Duke dengan sangat serius.
Dan dimalam yang sama, diwilayah yang jarang tersentuh oleh kegiatan disiang hari, tempat di mana kriminalitas berada diperingkat tertinggi di kekaisaran Foldes...
Seorang pria berjubah hitam datang ke sana, lebih tepatnya ke sebuah bar. Menghampiri laki-laki lain yang duduk membelakanginya saat ini...
" Night, ada permintaan yang datang untuk mu. " ucap pria berjubah itu tepat dibelakang nya.
Ia menaruh selembar kertas dengan gambar Altair diatasnya tepat disamping pria itu, yang hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun.
" Dia ada diistana kekaisaran, terserah mau kau apakan asalkan dia menghilang. Kami yang akan menyiapkan jalan untukmu masuk tanpa dicurigai. " ucap pria berjubah itu yang kemudian berbalik pergi usai mengatakan hal itu.
Sementara itu, pria yang sedari tadi diam itu kemudian mengambil kertas itu dan menatapnya dengan seksama...
" Hee... dia cantik. Sayang jika harus dihilangkan." gumamnya dengan suara pelan.
*****
- Esok harinya, diistana kekaisaran.
Altair berjalan menuju ke perpustakaan dengan matanya yang terkunci kepada buku yang ada ditangannya.
" Hm... 'Jantung hutan York, tempat dimana ada perbatasan antara dunia nyata dan dunia roh berada 'world borders', tempat tinggal para spirit guardian dan penguasa hutan. Tempat yang penuh kesucian dan berkah dari dewa, sehingga hampir mustahil untuk datang ke sana.' " gumam Altair ketika membaca bagian dari isi buku itu.
" Aku penasaran seperti apa tempat itu? Apa kau tahu Zico??" tanya nya pula yang kemudian hanya dibalas dengan geraman pelan dari Zico.
Altair hanya tertawa kecil dengan itu, sampai ia menabrak seseorang karena terlalu fokus dengan buku yang dibacanya...
Brukk..!
" Ah! Maaf, apa anda baik-baik saja??" tanya Altair terkejut.
" Haha... Tidak apa-apa. Lain kali anda harus lebih berhati-hati.." jawab orang itu kemudian.
Namun disaat yang sama, Altair merasa ada yang aneh saat ini..." Eh? Aku tidak pernah melihat nya diistana kekaisaran?? Siapa? Pekerja baru, ya?" batinnya bertanya-tanya.
" Anu... Bisakah saya bertanya? " ucap Altair kepada orang dihadapannya saat ini.
" Saya tidak pernah melihat anda diistana, apa... anda baru datang kemari?? " dan Altair pun melontarkan pertanyaan yang ada di dalam kepalanya.
" Ya, saya baru saja datang. Seseorang mengirim saya kemari..." jawab orang itu.
Saat tiba-tiba Altair merasa ada yang aneh." Aku punya firasat buruk."
["Master, energi kutukan keluar dari tangan itu. Cepat lari!"]
Laporan Lumine itu bertepatan ketika orang itu mengulurkan tangan kepadanya dan menyerangnya.
" Zico!"
Altair yang terkejut belum sempat melakukan apapun saat orang itu menyerangnya, ia hanya menyebut nama Zico tanpa ia sadari, namun serangan orang itu terhalang oleh sesuatu yang membuat dua gelombang sihir itu bertubrukan satu sama lain.
Zrrttt.....
Tubrukan gelombang sihir itu bisa dirasakan sampai ke tempat Mira dan Yin yang ada disisi lain istana, terlebih ke ruang kerja Kaisar dimana Kaisar berada saat ini.
Ning mengalihkan pandangan kearah jendela yang ada disampingnya dengan raut wajah penasaran, " Apa itu tadi??" gumamnya.
Disisi lain, Altair... Ia tidak terlalu melihat apa yang terjadi setelahnya, namun saat ini ia terduduk dengan ekspresi terkejut setelah yang terjadi barusan. Namun pria yang menyerangnya tadi sudah tidak ada dihadapannya, entah kemana ia pergi.
" Hah.. hah.. A-Apa yang..."
" Altair! " Suara Mira yang memanggilnya dari kejauhan mengalihkan perhatiannya, " Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" tanya nya sambil membantu Altair bangun.
" Ah, terima kasih, guru. Tapi... yang tadi itu apa ya... Tiba-tiba ada yang menyerangku, tapi kemudian dia hilang... Apa cuma halusinasiku ya??" ucap Altair yang bingung sendiri.
Sementara Mira yang mendengarnya mengerutkan alisnya dengan serius, " Ada penyusup ya... Dimana Yin saat ini..??" ucap batinnya.
Sementara itu Yin, dia pergi keluar istana saat ini. Lebih tepatnya ke hutan dibelakang istana...
Disana ia menemukan seorang anak kecil yang berlumuran darah dan seorang pria yang jadi korbannya...
" Kau langsung membunuhnya? Harusnya kau introgasi dulu, dasar payah." ucapnya kepada anak kecil itu, yang adalah Zico.
" Dia tidak bisa dimaafkan, bisa-bisanya dia menyerang Master terang-terangan dihadapanku seperti itu!" sahut Zico dengan tatapan sangat marah.
Yin hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia mengerti alasan dia sangat marah, tapi masalahnya sekarang mereka jadi tidak tahu siapa dalang sebenarnya dari semua ini. Dan kenapa Altair yang diincar.
Lalu... emosi Zico lebih tidak bisa ditebak dari biasanya. Sejak tuan lamanya menghilang, Naga dihadapannya saat ini jadi terlalu posesif kepada Altair yang jadi tuan barunya. Tidak ada yang bisa menghentikan amarah Naga meski dia masih kecil... Makhluk ini adalah bencana berjalan.
" Aku bisa menebak seseorang yang jadi dalangnya..." ucap Zico tiba-tiba.
Yang kembali menarik perhatian Yin, " Siapa?" tanyanya.
" Orang yang sama dengan yang ada dipikiranmu." jawab Zico singkat, kemudian ia langsung pergi meninggalkan Yin disana.
Sedangkan Yin, mendengar kalau orang yang dimaksud oleh Zico adalah orang yang sama yang ada dalam pikirannya itu membuatnya terkejut, karena dia bisa sebodoh itu...
*****
Malamnya, dikediaman Duke Orzsbet...
Brakk...
" Dia menghilang tanpa jejak?! Yang benar saja, dia benar-benar tidak berguna!!" teriaknya marah.
Yeah, dia marah karna rencananya tidak berjalan seperti yang dia inginkan....