
Esok harinya, Altair menghabiskan waktu dengan jalan-jalan ditaman, dia tidak terlalu ingat bagaimana caranya sampai ke kamarnya, tapi dia merasa tidak melakukan hal yang buruk. Kepalanya memang pusing, tapi hari ini begitu cerah, jadi ia ingin menghabiskan waktu diluar.
" Hei, Aisha. Apa bunga-bunga ditaman ini selalu diganti jika sudah layu, atau tetap dibiarkan seperti ini sejak dulu??" tanya Altair kepada dayang nya, saat ini mereka ada ditaman Quennevia.
" Teman disini tidak pernah disentuh siapapun, kecuali pengurus taman yang menyirami dan merawat tanamannya. Tapi dari yang saya dengar, semua bunga-bunga nya tidak pernah diganti. " jawab Aisha yang sedang memegangi payung untuk Altair.
Altair terkesan dengan itu, artinya bunga-bunga itu tidak ada satupun yang pernah mati dan diganti sekalipun. Usianya bahkan lebih tua darinya.
Ngomong-ngomong soal usia, Altair jadi teringat dengan pembicaraan Ning dan Lecht dipesta semalam. Ia jadi penasaran apakah ada manusia biasa yang hidup panjang dan tidak mengalami penuaan hanya dengan kekuatan nya sendiri.
" Nona, bagaimana jika kita kembali? Cuaca makin panas diluar. " ucap Aisha tiba-tiba yang membuat Altair tersadar dari lamunannya.
" Ouh, benar. Baiklah, ayo kembali. " sahut Altair.
Jadi mereka pun berjalan kembali ke dalam, meninggalkan taman yang indah itu.
Sementara itu di tempat lain, Lecht yang masih ada disana sedang berbincang-bincang dengan Ning diruangannya tentang beberapa hal penting tentang Altair. Kenyataan nya mereka tidak akan bisa mengurung Altair diistana kekaisaran selamanya, sesuai janji yang diberikan oleh Ning, Altair akan segera pergi dari istana kekaisaran seperti yang ia inginkan.
" Kupikir aku bisa membujuknya perlahan-lahan dengan semua kemewahan ini, tapi dia tetap tidak tertarik sama sekali. " ucap Ning kepada Lecht yang ada dihadapannya.
" Yah, kurasa itu sudah sifat yang diturunkan dari orang tuanya. Mereka juga tidak peduli pada harta dan takhta. " sahut Lecht dengan santainya.
" Hei, tapi ini serius. Altair akan segera pergi, tidakkah kau sedikit khawatir padanya? Ya, dia memang punya kekuatan yang besar, tapi pasti banyak orang yang mengincarnya karena hal itu juga. " itulah yang Ning khawatirkan, dan itu bukan lagi rahasia diantara mereka.
" Tentu saja aku khawatir, adikku yang malang sekarang menghilang entah kemana dan sesuatu yang ia tinggalkan tersesat dalam kebingungan. Apa kau tidak berniat memberitahu nya tentang siapa dia yang sebenarnya?? " Lecht penasaran dengan itu, karena dari yang ia lihat Altair tidak tahu sama sekali.
Ning kemudian menyenderkan punggungnya ke kurasi, dan menjawab.. " Diberitahu atau tidak, pada akhirnya dia tetap akan tahu. Untuk saat ini biarkan saja dulu, ini juga salah satu wasit nya. " ucapnya menimpali.
Ya, jika itu yang dikatakan oleh Ning, Lecht tidak bisa mengatakan apapun lagi. Dia hanya ingin menghormati keputusan itu, meski khawatir dengan kemungkinan Altair akan kehilangan kepercayaannya pada mereka. Setidaknya dia berharap anak polos itu tidak akan mudah untuk dipengatuhi orang lain.
Disaat yang sama Altair, dia baru saja sampai dikamarnya. Ia melepas topi yang ia pakai waktu jalan-jalan dan sedikit menghela nafas, udaranya memang panas akhir-akhir ini, karena sekarang adalah awal musim panas.
Perhatian Altair kemudian teralihkan kepada sebuah jus apel diatas mejanya, itu kelihatan begitu segar dan saat ini ia sedang sangat haus.
" Aisha, aku akan meminum jus apel ini. Boleh kan??" tanya Altair, ia ingin memastikan kalau itu bukan milik orang lain.
Aisha yang mendengar nya pun menoleh kepada Altair, " Ya boleh, tapi apa tidak apa-apa, kita tidak tahu siapa yang menyimpannya disana. Lebih baik saya pergi meminta yang lain ke dapur saja. " ucap nya menimpali.
" Kita akan tahu setelah mencobanya. " Namun Altair kelihatan nya tidak peduli hal itu dan langsung meminumnya.
Dan Aisha yang melihat nya pun jadi terkejut, " Ah! Nona Altair, jangan... " ia berusaha menghentikan nya namun itu sama sekali tidak berhasil.
Altair tetap meminumnya, awalnya memang terlihat baik-baik saja, namun tiba-tiba Altair merasa ada yang salah...
" Khuk..!"
Prangg...
" Uhuk! Uhuk! Uhuk!..." Altair tiba-tiba saja batuk-batuk dan muntah darah, itu membuat Aisha sangat syok melihat nya.
" Nona Altair!!" teriaknya dengan panik, ia pun langsung mendekati Altair yang terjatuh dihadapannya.
Disaat yang sama dengan hal itu, pintu kamar Altair terbuka dan Mira pun masuk ke dalam sana. " Altair, aku harus-... Altair?!!" dan itu benar-benar membuat Mira sangat terkejut.
" Apa yang terjadi?!" tanya nya kepada Aisha yang berada bersamanya.
" Nona Altair tadi meminum jus apel itu, lalu tiba-tiba beliau..." jawab Aisha menggantung.
" Ba-Baik.."
Aisha pun langsung bergegas keluar untuk memanggil dokter, sementara Mira memangku Altair yang sudah pingsan naik ke kasurnya. Tak berselang lama dari itu, Aisha pun kembali bersama dengan seorang dokter yang mengikuti nya. Dan Altair pun langsung diperiksa olehnya.
Beberapa saat kemudian, pemeriksaan Altair masih berlanjut dan dokter juga telah memberinya obat. Sementara Mira dan Yin menunggu itu dengan tenang. Ning dan Lecht yang mendengar kabar itu pun juga langsung datang kesana secepat mungkin....
" Bagaimana keadaannya?" tanya Ning kepada mereka yang ada disana.
Mira yang menyadari keberadaan Ning pun langsung berlutut dihadapan nya, " Maaf, yang mulia. Sepertinya.. ada seseorang yang menaruh racun diminuman yang diminum Altair. " jawabnya dengan raut merasa bersalah.
Sebagai orang yang memiliki tanggung jawab untuk menjaga Altair, dia merasa gagal memenuhi tanggung jawabnya dan malah membiarkan Altair celaka.
" Bagaimana dengan pelakunya??" tanya Ning lagi setelah mendengar perkataan Mira.
" Semua yang pernah datang ke kamar ini sebelum Altair keracunan sudah kami kumpulkan di aula dan saat ini sedang diperiksa oleh Ansel. Namun pelaku yang menaruh racun itu diduga adalah pelayan yang baru masuk beberapa waktu lalu, dan ia ditemukan telah tewas dibelakang istana." ucap Yin angkat suara.
" Racunnya??" tanya Lecht pula penasaran.
" Itu racun yang sangat berbahaya dan jarang ditemukan di ibu kota, racun Belladonna. Biasanya ditemukan diwilayah selatan, tempat kekuasaan Marquis Ether. " jawab Mira.
Ning jadi memikirkan itu dengan serius, Marquis Ether adalah orang yang manjaga netralitas, sulit dipercaya jika dia yang menjadi dalang semua ini. Namun jika itu memang benar dirinya, dan putri nya yang menjadi teman Altair itu hanya topeng belaka, maka tujuannya sudah jelas posisi putri mahkota.
Namun pelakunya bahkan belum jelas, jadi mereka belum bisa menyimpulkan hal itu. Masih ada banyak yang harus diselidiki di tempat ini. Saat kemudian perhatian mereka teralihkan kepada dokter yang telah selesai memeriksa keadaan Altair.
" Bagaimana kondisinya, dokter? " tanya Yin kepada nya.
" Keadaan Nona Altair sudah lebih stabil, saya juga sudah memberikan obat untuk beliau. Namun jika Nona Altair telah sadar dan beliau masih merasa tidak nyaman saya akan memeriksanya lagi untuk memastikan. Nona sangat beruntung karena hanya meminum sedikit dari racun nya, jika tidak kondisinya bisa lebih parah dari sekarang. " jelas dokter itu panjang lebar.
" Begitu, terima kasih dokter. " sahut Ning menyahuti.
" Sama-sama, yang Mulia. Saya permisi. " Doctor itu pun keluar dari sana meninggalkan mereka berempat didalam ruangan itu.
Sementara itu, Mira yang mendengar nya dibingungkan dengan ucapan dokter itu tentang kondisi Altair. " Altair meminum setengah dari jus itu, bagaimana bisa dia bilang racunnya hanya sedikit??" ucapnya.
Namun Yin kemudian menyentuh pundaknya, membuat Mira menoleh kearah nya. " Mira, Altair bisa memurnikan racun. Kupikir kau tahu hal itu. " ucapnya menimpali perkataan Mira.
" Aku tidak tahu. " namun begitulah tanggapan Mira.
" Dia akan baik-baik saja, jangan khawatir. " ucap Lecht kemudian yang menarik perhatian keduanya, ia sendiri sedang memeriksa Altair untuk meyakinkan hal itu. " Altair hanya tidur, dia sama sekali tidak menunjukan gejala keracunan setelah tadi. " ucapnya pula menambahkan.
Setelah mendengar itu dari Lecht sendiri, Mira mulai merasa lebih tenang. Karena tidak ada alasan untuk Lecht berbohong tentang apa yang terjadi kepada Altair saat ini.
" Kalau begitu, lebih baik kita membiarkan Altair beristirahat. Yin dan Mira, kalian jaga dia dari luar. Zico yang akan menjaganya didalam. " ucap Ning kepada mereka, ia pun juga melirik Zico yang sedari tadi diam saja diatas lemari melihat apa yang baru saja terjadi dikamar Altair itu.
" Baik. " jawab Yin dan Mira dengan patuh.
Lecht pun mendekati Ning sambil terus menatap Zico diatas sana, " Dia kelihatan tidak peduli sama sekali, hanya karena sudah tahu. " ucapnya.
" Yah, sudah jadi sifatnya. " sahut Ning pula.
Kemudian semuanya benar-benar keluar dari sana, meninggalkan Altair yang tertidur sendirian bersama Naga peliharaan nya itu. Zico yang melihat semua telah keluar pun baru kemudian bangun dan terbang kearah Altair.
Kyuu...
Ia memanggilnya sambil menyentuh wajah Altair, tapi karena Altair benar-benar tidur pulas dia pun ikut meringkuk disampingnya, dan tidur bersama dengan Altair.