The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
That oddity...



Beberapa jam telah berlalu sejak dimulainya duel pada tengah hari, waktu duel ini hampir berakhir saat keduanya telah sampai pada jalan yang cukup jauh dari titik awal mereka masuk. Banyak jebakan yang telah mereka lalui selama itu, bukan tidak mungkin juga ada yang terluka. Namun kedua tim masih tetap enggan untuk menyerah dan terus maju.


Beberapa kali, kedua Altair dan Ninia saling berpapasan dijalan, namun keduanya kemudian menghindar dan mengambil jalan lain. Setidaknya tidak ada pertarungan sia-sia yang terjadi disana.


Kenapa Ninia tidak menyerang Altair saja? Tentu saja karena ada pengawas dalam duel ini, sebisa mungkin dia harus membuat semuanya terlihat seperti mereka yang mengalami kemalangan.


Tapi diluar dugaan ternyata mereka bisa melewati semua jebakan yang telah diubah itu.


Dan saat ini, Ninia dan kelompoknya tengah berhenti sejenak karena didepan mereka.. Ada sungai asam yang bisa melelehkan mereka hingga ke tulang, yang benar-benar lebar.


" Lica, dimana posisi orang-orang itu sekarang??" Ninia pun berpikir untuk memastikan hal tersebut lebih dulu.


Lica yang ada disampingnya pun terlihat berpikir sejenak, ekspresi nya ragu lalu ia pun menjawab..


" Aku tidak bisa merasakan keberadaan mereka, jaraknya terlalu jauh dan dalam." itulah yang ia katakan.


" Tapi... Mereka mengambil arah yang paling panjang dan berputar-putar, itu adalah jalan yang paling lama menuju ke pusat labirin. Jadi mereka mungkin masih jauh dari titik terdalam yang pernah dituju." Reya pun kemudian angkat suara.


" Itu benar, Ninia. Jadi.. jangan khawatir." Lica juga setuju dengan itu.


Sementara Ninia sendiri sedang memikirkan nya, apa yang mereka lakukan memang tidak ada yang salah. Tapi... mengingat kecepatan dan kelincahan mereka dalam mengatasi jebakan, dia agak khawatir.


Satu diantara mereka adalah Elf yang dikenal sangat lincah, satunya lagi memiliki kemampuan kecepatan yang luar biasa. Sementara pemimpin mereka, Altair. Ninia kekurangan informasi tentangnya, tapi melihat semuanya berjalan sesuai seperti yang dia rencanakan.


Ninia merasa kalau dia punya kemampuan pelacakan sama seperti Lica, atau dia punya kemampuan tipe angin yang membuatnya bisa merasakan gesekan udara di dinding labirin.


" Meski begitu kita tidak boleh lengah..." ucap Ninia kemudian, lalu ia pun mengangkat kepalanya menatap sebuah pilar batu disampingnya. " ...Reya, gunakan kekuatan mu untuk merobohkan batu ini kearah sebrang sana." lanjutnya pula yang kemudian menunjuk sisi sebrang dari sungai asam itu.


" Um... Baiklah."


Reya pun kemudian menyahuti dan berjalan mendekat kearah pilar batu itu, ia mengulurkan tangannya hendak menyentuh pilar itu. Saat...


Duakk..


" Ap-.."


Duakk.. Duakk..


" Suara apa itu..?!!"


Mereka mendengar suara menabrak dan sesuatu runtuh dari kejauhan, getaran bahkan sampai ke tempat mereka. Jika begitu... maka itu artinya sesuatu itu berjalan mendekat kearah mereka. Itu sesuatu....


..Yang tidak akan pernah mereka kira.


** Beberapa saat yang lalu, tempat Altair.


" Hum..." saat ini dia tengah berhanti, diam berjongkok sambil memandangi tempat didepan nya dengan ekspresi agak kesal.


" Altair, jangan terlalu dekat. Bagaimana jika kau jatuh ke sana??" saat kemudian Remilia pun memperingatinya.


" Tenang saja. Aku akan baik-baik saja." tapi itulah yang dia katakan.


Saat ini dia tengah memandangi sungai asam yang ternyata juga terbentang sampai ke tempat mereka, namun tidak berhenti sampai disana... disebrang sana. Juga telah ada kobaran api yang menunggu, lalu ada juga ranjau panah.


Ini adalah jebakan kompleks.


Ia pun kemudian menggerutu, " Ini terlalu berlebihan. Mungkin lebih baik jika kita memang menggunakan portal saja." Altair berpikir itu lebih baik, mereka bisa sampai ke tempat harta itu dengan cepat dan bisa keluar dengan cepat pula.


Sementara Aksa terkekah mendengar gerutuan nya itu, " Jika seperti itu, maka artinya curang." ucap nya kemudian sedikit menggodanya.


Mendengar itu membuat Altair tersentak dan sepontan menatapnya, " Curang?! Tentu saja tidak! Tidak ada aturan yang tidak memperbolehkan hal itu." dia mengatakan nya dengan sangat percaya diri.


" Tapi itu memang tidak akan menyenangkan..." lanjutnya pula.


Mereka berdua yang mendengar itu pun hanya tersenyum canggung, jadi Altair ingin permainan yang menyenangkan rupanya? Tapi dibandingkan menyenangkan...


Tempat ini justru menegangkan bagi mereka.


Aksa ingat saat mereka melewati dinding lendir sebelumnya, baunya tidak sedap, disana licin, dan itu seperti akan membasahinya.... itu menjijikan.


Ia lebih memilih direndam diair garam selama 20 hari dari pada ada disana.


Sementara Remilia ingat ketika mereka melewati dinding memantul, dia tidak bisa mengendalikan diri dan terus memantul hingga membuatnya pusing dan mual.


Itu terasa seperti penyiksaan bagi mereka...


" Ini mengerikan..."


Mereka bahkan punya pikiran yang serupa.


Tuk..Tuk..Tuk..


Saat kemudian perhatian mereka teralihkan, kembali kepada Altair yang sedang mengetuk-ngetuk dinding disebelah mereka. Dia terlihat serius sekali mendengarkan suara dari dinding batu itu.


Tuk..Tuk..Tuk..


" Hmm... Lumine, apakah batu ini keras?" dan ia pun bertanya.


" Apa?" Aksa sedikit meragukan pendengaran nya ketika Altair menanyakan hal itu.


Batu mana didunia ini yang tidak keras...?? Ah.. Ada beberapa.


Lumine pun kemudian menjawab Altair...


[Batu itu tidak terlalu keras jika anda yang memukulnya.]


" Kalau begitu lewat sini saja." sahut Altair pula dengan riang, kemudian ia pun berbalik menatap teman-temannya. " Aksa, Lia. Kita lewat sini, aku menemukan jalan pintas ke pusat." ucapnya pula sambil tertawa jahil.


" Huh..??" dan itu terdengar seperti kekacauan ditelinga Remilia dan Aksa.


" Ayo pergi!" Altair kelihatan bersemangat sekali, dan ia langsung berlari... Kearah dinding.


" Tunggu, Alta-..."


Duarkk...


Dua yang lainnya mematung tak percaya ditempat mereka melihat itu, Altair baru saja berlari menembus tembok batu itu hingga berlubang..


Krutuk...


Iya, dia benar-benar melubanginya hanya dengan menabrakkan dirinya sendiri ke dinding itu, seolah apa yang ia tabrak itu adalah sebuah kertas tipis.


" Astaga... Aku ingin tahu, dia itu terbuat dari baja atau apa sih.." Aksa benar-benar tidak habis pikir dengan itu.


Saat kemudian Remilia pun menyahutinya, " Sudahlah, ayo kejar dia." dia pun berlari mengikuti Altair melalui jalan yang telah ia buat.


Aksa yang ditinggalkan sendirian disana pun hanya menghela nafasnya dan mulai mengikuti mereka. Dia benar-benar akan sendirian jika tidak melakukan itu. Sedangkan Altair sibuk menerobos dinding-dinding dihadapannya.


*** Balik lagi ke tim Ninia...


Lalu...


" ...Mereka datang!" Lica mengucapkan hal itu, disaat yang sama dengan..


Brakk..!!


Dinding disebrang sungai asam disana dihancurkan dari belakangnya, dan keluarlah Altair dari kepulan asap dan debu runtuhan batu.


" Hm..??"


Mata Altair juga sempat bertemu dengan Ninia dan teman-temannya yang kelihatan tidak percaya melihat nya muncul dari sana, tapi Altair tidak peduli, dia justru...


" Blee...."


.. dia menjulurkan lidahnya kearah mereka sebagai ejekan. Dan kembali berlari mengikuti jalur didepan sana, meninggalkan Ninia dan timnya dibelakang.


" Tunggu, Altair!."


" Kami.. Uhuk.. Tertinggal dalam debu!."


Dan tak lama, Remilia dan Aksa yang bahkan sama sekali tidak melihat kearah mereka sedikit pun. Dan segera menyusul Altair yang telah menghilang dibalik dinding labirin yang berbelok disana.


Sementara jauh dibelakang mereka, Ninia yang jalannya direbut dan didahului mengepalkan tangannya dengan erat, bahkan hingga darah mengucur turun dari tangannya itu. Dia menggertakan giginya dengan begitu marah karena hal itu, hingga membuat Reya dan Lica khawatir dengannya.


" Reya, cepat! Kita harus segera menyusul mereka!" Dan ia pun mulai berteriak dengan marah.


" I-iya, iya.."


Reya yang disuruh pun jadi panik dan langsung melakukan apa yang dia inginkan dengan terburu-buru, meski tentu saja... Itu bukanlah hal yang mudah.


***


Disaat yang sama diluar sana, dimana orang-orang tengah menonton semua itu dalam rasa kagum, tercengang dan lainnya. Benar-benar fokus dengan layar, dan diantara mereka juga... Ada dua orang yang biasanya bersama dengan Ninia. Tentu saja itu Karlos dan Siran.


Disaat Ninia yang ada didalam layar dimakan oleh kemarahannya sendiri, mereka berdua justru cemas dan merasa ada yang janggal.


" Dia benar-benar menghancurkan tembok itu tanpa melakukan apa-apa, apa dia sungguh manusia??" Karol meragukan apa yang ia lihat sejak awal.


Semua yang dilakukan oleh Altair itu bukanlah hal yang biasa, dia selalu memberikan perasaan dominasi yang benar-benar kuat hanya dengan berdiri diam.


Siran yang mendengar hal itu pun juga mengangguk setuju, " Kau benar. Aku jadi khawatir kalau ini tidak akan berakhir baik, laki-laki bertopeng yang waktu itu datang menemui kita juga mencurigakan." ucapnya pula.


" Apa kubilang? Dia memang tidak bisa dipercaya. Dia juga yang bilang kalau Derrick akan mati karena racun, tapi dilihat bagaimana pun dia sangat bugar tanpa luka sedikit pun."


Iyah, itu memang benar adanya. Mereka yang telah memperhatikan Derrick sejak awal dia menunjukan dirinya disana, sama sekali tidak bisa menemukan keanehan lain darinya. Dia seperti Derrick yang selalu mereka kenal selama ini.


" Mungkin... Laki-laki itu hanya ingin mengadu domba kedua guild kita." dan Siran pun sampai pada asumsi itu dengan semua keanehan ini.


" Laki-laki siapa?" saat kemudian suara itu terdengar dibelakang sana dan membuat mereka berdua jadi terkejut.


Mereka pun dengan sepontan menoleh dan mendapati Israhi tengah berdiri tepat dibelakang mereka dengan ekspresi yang benar-benar serius. Dan tatapannya yang dingin itu berhasil membuat mereka berdua menelan ludah dengan gugup.


" Israhi... Sudah kubilang jangan menakut-nakuti orang seperti itu." dan kemunculannya itu diikuti oleh Yi dari antara penonton.


Dan Israhi yang mendengar ucapannya itu mengerutkan keningnya dalam kebingungan, " Apa maksudmu aku menakutkan?" dan ia pun bertanya.


" Bukan, tapi ekspresi mu wajahmu."


" ...Tidak ada yang salah dengan wajahku."


" Terserahlah, kau benar-benar tidak sadar diri."


Yi hanya tersenyum dan menghela nafas dengan pasrah karena itu, dia menyerah mengingatkan Israhi tentang itu. Sementara Israhi sendiri malah agak kesal dengan itu. Karena itu dia pun memilih untuk tidak terlalu memikirkan nya dan kembali ke petanyaan awal.


" Jadi... laki-laki bertopeng mana yang kalian maksud?"


" Um... Itu.. Sebenarnya, ada seorang laki-laki bertopeng aneh yang datang kepada kami beberapa hari yang lalu. Dia yang memberitahu kami hal-hal soal itu." ucap Siran akhirnya menjawab Israhi.


" Siapa dia?" Israhi kembali bertanya.


" Kami tidak tahu, dia hanya bilang kalau nama nya adalah 'K'. "


Dilihat dari ekspresi yang ditunjukan Karon setelah mengucapkan hal tersebut, seperti nya benar mereka tidak tahu dengan jelas siapa identitas orang yang mereka maksud itu. Namun, keduanya masih ingat dengan jelas apa yang dikatakannya kepada mereka saat itu...


" Kalian bisa memanggilku 'K'. Terlepas dari apa yang aku katakan itu benar atau tidak, itu kenyataan kalau Derrick terkena racun mematikan. Cepat atau lambat dia pasti akan mati, terserah kalian ingin melakukan apa terhadap itu."


Kata-kata itu memang meragukan, jadi mereka ingin memastikan nya. Terlebih karena memang sejak awal mereka punya rasa iri kepadanya yang punya kekuatan lebih dan hebat dalam bertarung. Meski begitu mereka tidak melakukan hal yang membahayakan sampai seperti apa yang dilakukan oleh Ninia saat ini.


Israhi yang mendengar itu semakin yakin dengan kejanggalan yang ia rasakan. Terlebih soal, bagaimana orang itu kalau Derrick terkena racun padahal kondisinya telah dirahasiakan? Lalu, pelaku yang melakukan hal itu, juga telah tewas saat Altair ingin menangkapnya.


Jika begitu, artinya dalangnya adalah orang bertopeng itu. Dialah yang menyuruh orang untuk menyerang Derrick, dan setelah selesai, dia juga membunuh pemimpin kelompok bandit itu sebagai orang satu-satunya yang bertemu langsung dengannya untuk menghilangkan jejak.


" Jadi, apakah orang itu juga menemui kalian lagi setelah Altair mengusir kalian dihari itu?" tanya Yi setelah mendengar penjelasan mereka itu.


Itu terdengar agak memalukan karena mereka ditendang oleh gadis muda, tapi mereka tidak bisa menyangkal hal itu. Dan Karol pun menganggukan kepalanya, " Iya, dua hari setelah itu, dia menemui kami lagi. Tapi karena kami bertiga tidak mempercayainya lagi, mungkin dia mempengaruhi Ninia." ucapnya pula.


" Kami juga tidak tahu bagaimana dia membujuk ketua untuk menyetujui hal konyol seperti ini, bahkan setelah kami berusaha mencegah pun ketua menolaknya." Siran pun kemudian melanjutkan nya.


" Itu terdengar seperti ketua kalian sangat menyayanginya? Apa dia keluarganya? Anak? Keponakan?"


" Tidak, mereka tidak punya hubungan apapun."


" Itulah dia, ketua jadi sangat aneh setelah kami temui ketika Ninia punya ide itu. Beliau biasanya sangat bijaksana dan berpandangan luas, tapi dia tiba-tiba berubah begitu saja tanpa alasan. Dia seperti jadi orang lain."


Israhi tertegun mendengar itu, itulah dia kejanggalan yang ia rasakan dalam duel ini...


Lalu kemudian, ia pun segera mengangkat kepalanya kearah layar itu, situasinya masih sama, namun ia yakin kalau akan terjadi sesuatu didalam labirin.


" ...Kita harus menghentikan duel ini."


" Apa?" Yi menatapnya dengan bingung ketika mendengar itu secara tiba-tiba, bahkan Karol dan Siran juga sama.


" Israhi, ada apa?"


" Kita harus segera memberitahu Mira tentang ini, Yi!."


" Eh! Israhi, tung-... Ck!"


Bukan lagi menjawab nya, Israhi justru berlari pergi dari tempatnya. Dia terlihat begitu terburu-buru sekali setelah mendengarkan penjelasan dari dua orang itu. Yi yang melihat itu juga jadi tidak bisa melakukan apapun dan hanya mengikuti.


Disisi lain, Karol dan Siran yang sama bingungnya hanya saling pandang. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk pergi mengikuti mereka berdua juga untuk pergi ke tempat Mira.


Dan untuk Israhi sendiri, dia memang panik, apa yang dia pikirkan disaat seperti ini? Hanya satu hal yang ada dalam kepalanya...


" Altair dalam bahaya!!"