
Malam yang sunyi datang ketika mereka masih ditempat itu, aula guild sekarang sepi karena sebagian besar orang yang ada disana telah pulang kerumah mereka masing-masing. Yang ada disana sekarang, hanyalah kelompok Israhi dan Ziria yang memang adalah pengurus tempat itu.
Ziria tidak sendiri, dia bersama Ian dan beberapa orang lainnya, tinggal di Guild bersama dengan Derrick. Namun saat ini mereka punya tugas masing-masing, selain untuk berjaga dan mengawasi sekitaran. Sedangkan Derrick, dia masih belum sadarkan diri dikamarnya, ditemani oleh Aksa yang terus memantau keadaannya dan membuat obat sesuai instruksi yang ditulis oleh Altair. Remilia juga ada disana membantunya.
Sementara Aula Guild saat ini sepi dan gelap, hanya ada sedikit cahaya dari lilin diatas sebuah meja bundar, dimana Ziria, Mira dan yang lainnya berkumpul. Disisi lain, Altair sebagai tokoh utama disini sekarang, sosoknya tidak terlihat sama sekali.
" Altair dimana??" sampai Israhi yang juga ada disana akhirnya buka suara.
Tapi yang lainnya hanya saling pandang dengan ekspresi tidak tahu.
" Entahlah, sejak kejadian tadi siang tidak ada yang melihatnya lagi." ucap Yi menyahuti.
" Ian juga tidak ada ditempat." Ziria juga ikut buka suara diantara mereka.
Karena hal itu, perhatian mereka pun seketika langsung jatuh kepada Mira yang ada diantara mereka. Dia terlihat lebih santai dari orang-orang yang ada disini saat ini, bisa dibilang... terlalu santai.
Sementara itu, Mira yang merasakan tatapan mereka akhirnya mengangkat kepalanya yang sedari tertunduk dan balas menatap mereka yang terlihat penasaran. Namun sayang, Mira hanya mengangkat kedua bahunya dan menggelengkan kepala sebagai jawaban dari pertanyaan mereka itu.
Yi dan Ziria yang melihat itu sedikit menghela nafas agak kecewa, disisi lain... Israhi nampaknya tidak terlalu yakin dengan jawaban itu.
" Aku yakin dia tahu sesuatu..."
***
Sedangkan ditempat lain, disebuah dataran tandus yang luas, ketika kegelapan malam menyelimuti semuanya tanpa celah. Sebuah portal sihir muncul diudara kosong membawa dua orang keluar dari sana.
Itu adalah Altair dan Ian. Dengan mengenakan jubah hitam yang menutupi tubuh mereka, keduanya berbaur dalam kegalapan dan akhirnya tiba ditempat tujuan mereka, atau lebih tepatnya... tempat yang jadi tujuan Altair.
" Mereka ada disini??" tanya Altair yang pertama kali memulai percakapan disana.
Ian yang mendengarnya pun menganggukan kepalanya dengan yakin, " Iya. Itulah isi laporan yang diberikan olehnya." jawabnya kemudian.
Altair pun mengangkat tangannya dan melihat kompas yang ia genggam, dan ia mulai berjalan kearah selatan menurut yang ditunjukan kompas itu, bersama dengan Ian dibelakangnya.
Sekitar 20 meter dari titik awal mereka sampai, ada sebuah jurang dihadapan mereka yang kedalaman nya sekitar 48-50 meter. Altair berdiri dipinggir jurang itu, menatap ke sumber api, yang jadi satu-satunya cahaya ditengah kegelapan malam ini.
Altair melihat ada tenda-tenda disekitar sana, ada juga sekumpulan orang yang sedang berkumpul mengelilingi api unggun yang cukup besar, mereka bernyanyi, menari dan minum. Seperti nya mereka sedang mengadakan pesta yang benar-benar meriah disana.
" Nona Altair..."
Perhatian nya kembali teralihkan ketika suara Ian terdengar memanggilnya dari belakang sana, Altair pun berbalik dan menatapnya. Ada seorang anak... sekitar berusia 12-13 tahun, mengenakan jubah yang sama hitam dengannya berdiri disampingnya.
Ian pun berkata, " Nona, dia adalah Nox. Mata-mata yang saya katakan pada anda." ia memperkanalkan anak laki-laki yang dibawanya saat ini.
Anak bernama Nox itu pun menaruh tangannya diatas dada dan membungkuk dengan hormat, " Halo, nona Altair. Saya telah mendengar tentang anda, senang bertemu dengan anda." ucapnya kepada Altair.
Altair yang melihat nya pun menganggukan kepalanya, " Iya, senang melihatmu baik-baik saja, Nox. " jawabnya.
Mungkin karena hubungannya dengan Derrick, orang-orang di guild jadi memperlakukannya dengan hormat layaknya seorang Nona besar. Altair sendiri tidak terlalu peduli dengan itu, lagipula yang ia pikirkan saat ini adalah hal lain yang lebih penting.
" Katakan padaku Nox... Apa mereka adalah bandit yang telah menyerang kak Derrick?"
" Benar, saya telah mengikutinya sesuai perintah hingga sekarang."
"Bagaimana situasinya?"
Nox menjelaskan dengan cukup detail, seperti yang biasanya bandit lakukan, mereka melakukan penjarahan, penculikan, dan sebagainya, tempat ini adalah lokasi domian sekaligus markas utama mereka. Kelompok ini dipimpin oleh pria bernama Brown, dia orang yang cukup kuat dan kekar untuk jadi pemimpin. Jumlah anggotanya saat ini ada sekitar 27 orang.
Menurut apa yang Nox lihat ketika mengawasi para bandit ini, Brown telah melakukan sebuah transaksi dengan orang-orang misterius dan mendapatkan keuntungan yang besar. Itu menjelaskan alasan mereka begitu senang dan berpesta besar saat ini.
Disamping itu... para perempuan yang ada disana. Baik yang sedang menari atau yang hanya duduk diantara orang-orang itu, mereka adalah korban penculikan dari kelompok ini. Ada juga yang lain, termasuk anak-anak yang dikurung disebuah gua disana, yang dihalangi oleh jeruji besi agar mereka tidak bisa kabur.
Altair yang mendengarnya pun memikirkan itu dengan seksama, jurang ini hanya memiliki dua ujung untuk keluar jika saja naik ke atas tidak dihitung. Arah timur dan barat.
Tapi yang jadi masalah adalah arah timur adalah lokasi yang berbahaya. Itu diluar domian para bandit, dan disana... adalah wilayah jaguar api. Para tahanan tidak bisa kabur kearah sana, dan jalan barat pasti akan ditahan oleh para bandit.
Tadinya Altair ingin melakukan ini dengan tenang, kalau bisa dia ingin menyelinap, membebaskan orang-orang yang diculik dan menangkap pemimpin mereka diam-diam. Tapi kalau seperti ini....
" ....Yah, mau bagaimana lagi. " ucap Altair yang kemudian berbalik dan berjalan lebih dekat ke tepi jurang.
Dan itu membuat Ian maupun Nox bertanya-tanya...
" Nona Altair..??" panggil Ian yang heran.
Tapi Altair hanya meliriknya menggunakan ekor matanya, dan kemudian berkata. " ...Ian. Kau dan Nox turun dan amankan para tahanan jika aku memberi tanda." hanya itu.
Saat kemudian ia melompat turun ke jurang begitu saja.
" Ah..!!"
Dan itu pastinya membuat Ian maupun Nox sangat terkejut, mereka pun buru-buru mendekat dan mengintip apa yang akan dilakukan Altair.
Sementara Altair sendiri yang terjun dari ketinggian terlihat tenang, jubah nya berkibar karena tekanan angin, dan tak lama ia pun berhasil mendarat dengan selamat tanpa luka sedikit pun. Altair pun menurunkan tudung jubahnya dan membuat rambut panjangnya terurai diterpa angin malam yang dingin.
Kemudian ia pun berjalan dengan santai kearah orang-orang yang sedang berkumpul itu...
Altair berjalan dengan sangat pelan dan sunyi, hawa keberadaannya pun sangat tipis hingga sulit dirasakan. Orang pertama yang menyadari keberadaan Altair disana, adalah salah satu wanita yang duduk tertekan diantara orang-orang itu. Ketika itu, dia hanya menoleh karena angin dingin.
" Ah!..."
Namun seketika ia terperanjat kaget karena mendapati seorang gadis muda yang berjalan ditengah malam, mendekat kearah mereka tanpa menyadari bahaya...
" Ah.. kenapa gadis muda itu ada ditempat seperti ini..??" perempuan itu gemetar takut membayangkan hal buruk yang mungkin akan ia alami ditempat itu.
Melihat reaksi aneh dari perempuan itu, laki-laki yang duduk disebelah nya pun ikut melihat kemana dia melihat. Disaat yang sama dengan itu, Altair berhenti melangkah... tepat tak jauh dari mereka.
Pesta itu terhenti karena ucapannya, dan semua mata pun langsung berpusat kepada Altair yang ada disana. Para anggota bandit itu juga ikut tersenyum, menertawakan kebodohan seseorang yang datang menghampiri mereka dengan keinginan nya sendiri.
Sementara para perempuan disana menatapnya dengan terkejut dan khawatir...
Altair sendiri tidak banyak bereaksi, dia hanya memasang raut wajah tanpa ekspresi dan menatap lurus kearah perempuan pertama yang menyadari kedatanganya.
" ....Ada hal yang ingin aku tanyakan.." ucap Altair menggantung. Masih sambil menatap kearah perempuan itu, tapi perempuan itu menggelengkan kepalanya dengan ekspresi yang menyuruhnya untuk cepat pergi. Altair tidak terlalu peduli, dan ia pun melanjutkan kata-katanya. " ...Kudengar kelompok ini dipimpin orang bernama Brown, dimana dia sekarang? Aku ingin menemuinya." lanjutnya.
Semua terdiam, hanya terdengar kikikan kecil dari para bandit disana. Sementara Altair yang tetap manatap lurus, bahkan ketika ia merasakan tangan seseorang yang bersandar dipundaknya. Dia orang yang tadi mendekatinya...
" Ah~ Bos sedang sibuk sekarang. Kau bisa bermain dengan kami sampai dia selesai, setelah itu menemuinya. Bagaimana?" tanya orang itu kepadanya.
Tapi Altair hanya punya satu pendirian, " Tugasku hanya untuk menemuinya." dia tidak peduli dengan hal lain yang ditawarkan.
" Hei, hei, hei. Jangan seperti itu. Tidak perlu terburu-buru, ini juga tidak akan selama yang kau pikirkan. Kami mengadakan pesta disini, tidak ada salahnya untuk ikut bergabung. Benarkah teman-teman?"
Dan pria itu juga tidak mau kalah dengan Altair,...
" Benar, benar."
" Kemarilah bergabung dengan kami.."
" Kau tidak akan mendapat kesempatan seperti ini dua kali."
... Teman-temannya juga sangat mendukung hal itu. Sayangnya, itu dalam artian yang buruk.
Laki-laki yang ada disampingnya itu pun kemudian meraih wajah Altair dan mengangkat dagunya..
" Bagaimana? Bukankah ini akan menyenangkan? Kau tidak bisa menolaknya." tanyanya pula dengan kesan memaksa.
Lagipula tidak ada niatan baik sejak awal. Altair yang ada ditengah situasi itu pun akhirnya menutup mata dan menghela nafas panjang...
Sementara itu diatas tebing, baik itu Ian maupun Nox, mereka terus memperhatikan dengan seksama. Keduanya tidak yakin dengan tanda yang dimaksud oleh Altair, tapi dimata mereka... Altair saat ini sangat perlu dibantu dari orang-orang kotor itu.
" Sampai kapan kita akan terus diam seperti ini, Tuan Ian? Wajah cantik Nona Altair disentuh tangan kotor bajingan itu." Nox yg pertama kali angkat suara terdengar begitu kesal.
Disampingnya, Ian yang mendengar itu hanya bisa memasang ekspresi wajah datar. Nox yang tidak tahu sekuat apa Altair, Nox yang tidak suka dengan orang-orang yang kelewatan, dan Nox yang suka dengan hal-hal yang cantik. Tentu saja dia langsung kesal dengan apa yang terjadi dibawah sana.
" Kita tunggu sebentar, mungkin nona Altair sudah--"
" Ackk!!"
Ucapan Ian terpotong oleh suara jeritan itu, Nox dan Ian pun langsung menatap kembali ke bawah sana dan Nox benar-benar sangat terkejut. Tidak, itu bukan hal yang buruk, tapi bisa saja jadi.
Altair baru saja menyambar tangan laki-laki yang memegang wajahnya dan menggenggam nya dengan sangat erat. Mendengar bagaimana laki-laki itu berteriak kesakitan hingga seperti itu, mungkin cengkaraman Altair cukup kuat.
Orang-orang itu langsung menatap Altair dengan ekspresi tertegun, disisi lain Altair tetap pada ekspresi nya sebelumnya. Saat kemudian dia melepaskan tangan orang itu dan berjalan kearah perempuan yang sadari tadi ditatapnya. Perempuan itu yang melihatnya mendekatpun langsung bangkit berdiri dari duduknya...
Usianya terlihat tidak beda jauh dari Altair...
Saat Altair tersenyum kearahnya dan kembali bertanya, " Kakak. Apa kau tahu dimana orang bernama Brown itu?"
" I-Itu..."
Perempuan itu terlihat gugup dengan pertanyaannya. Saat kemudian ekspresi nya berubah pucat saat melihat sesuatu, Altair juga menyadarinya. Ia menolehkan kepalanya kesamping, menatap seorang laki-laki bertubuh besar berdiri disana.
Dia sangat besar dan tinggi, sampai Altair harus menenggakan kepalanya untuk bisa melihat wajahnya.
Matanya yang menatap tajam terlihat tidak senang, " Hei, anak kecil. Jangan membuat masalah disini." ucapnya kepada Altair.
" Hah?" tapi Altair hanya menaikan sebelah alisnya dengan santai sebagai tanggapan.
" Jangan bertingkah angkuh saat kau tidak tahu dimana kau berada saat ini. Lebih baik kau diam dan ikut kami dengan tenang..."
Laki-laki mengulurkan tangannya ingin menangkap Altair, itu tepat didepan wajahnya. Saat tangan seseorang kemudian muncul diantara mereka, dan mendorong Altair ke belakang.
" Tu-Tuan, tolong jangan marah. Anak ini masih belum tidak tahu apa-apa." ucap orang yang menangahinya itu, dia salah satu dari para penari yang ada disana.
" Apa-apaan kau, minggir."
" Saya mohon. Dia masih sangat polos, saya yakin dia tidak tahu soal aturan itu."
Altair menatap perempuan yang membantunya itu dengan serius, saat tangan seseorang kembali menyentuh pundaknya dan itu membuat Altair menolehkan kepalanya. Dia perempuan yang sebelumnya ia tanya...
" Psstt.... Lebih baik jangan buat keributan atau kau akan dalam masalah. Ikuti saja kemauan mereka sekarang dan cari cara untuk kabur." bisiknya kepada Altair.
Altair mengerti maksudnya, tapi itu bukanlah tujuannya. Ia pun kembali mengalihkan pandangannya ke depan sana, saat suara lain pun kembali menyela diantara mereka.
" ..Siapa yang peduli jika dia tidak tahu apapun.." pria yang sebelumnya mengganggu Altair kembali bangkit sambil memegangi tangannya yang memerah sebelah sebelumnya dicengkram Altair. " Cepat tangkap perempuan kecil itu, dia harus membayar karena telah datang kemari." ucapnya.
Dari ekspresi pria itu, dia benar-benar marah. Rekan-rekannya yang lain juga sepertinya setuju dengan apa yang dia katakan...
Disaat yang sama, para perempuan yang membantu Altair berusaha untuk tetap menjaga Altair dibelakang punggung mereka. Sekalipun keduanya pasti tahu apa yang akan terjadi jika mereka melakukan itu...
Dan Altair yang sedari tadi diam saja pun juga memikirkan situasi itu, " Hm... Mereka ingin aku pergi setelah keduanya jadi tameng. Mereka sangat baik, tapi... Aku tidak berniat membuat seseorang mengorbankan nyawanya disini." batinnya.
Karena itu juga lah, Altair pun akhirnya melangkahkan kakinya maju ke depan sana.
Para perempuan itu tersentak kaget dengan apa yang dilakukannya, penari itu ingin menghentikannya.. Namun ia terhenti ketika Altair menoleh kearah mereka dan kembali tersenyum...
" Tidak perlu khawatir. Tujuanku untuk datang memang.... adalah untuk melakukan pembersihan kecil." ucap Altair kepada mereka.