The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Together



Dua hari setelah kejadian itu, kali ini Altair dan yang lainnya kembali melanjutkan perjalanan mereka setelah cukup lama terhenti ditempat Derrick. Meskipun itu memang bukan perjalanan yang memiliki tujuan, setidaknya bagi Altair... dia melakukan nya untuk mencari tahu keberadaan orang tuanya.


Mereka telah meninggalkan kota sejak beberapa jam yang lalu. Tapi dalam perjalanan yang mereka mulai sekarang, ada yang sedikit berbeda. Dan itu adalah....


" Aku masih tidak percaya kenapa kau juga ikut dalam perjalanan ini." Israhi bertanya-tanya merasa heran dengan orang yang ada disebelahnya saat ini.


Sementara orang disebelahnya itu, Derrick, terdengar mendengus karena perkataannya. " Huh. Apa kau pikir aku akan membiarkan Altair pergi bersama mu begitu saja." dia berkata dengan nada sinis di dalam nya.


Kedua orang itu mulai lagi saling tatap dengan tidak suka satu sama lain, sementara dibelakang mereka, Yi hanya memegangi kepalanya merasa pusing dan menggeleng karena sifat kekanakan mereka itu. Tapi sepertinya itu menarik bagi Altair..


" Ya ampun, apakah kakak selalu bertengkar jika bertemu dengan Israhi??" dia bertanya dengan penasaran tentang hal tersebut. Dia harusnya tidak bertanya.


Dan mereka yang mendengar pun jadi menoleh kearahnya, Israhi adalah yang pertama manimpali hal tersebut. " Tidak, jika orang ini bisa bersikap layaknya dirinya yang kukenal." ucapnya sambil menunjuk Derrick dengan jarinya.


" Sungguh??"


" Ha. Apa yang salah dengan sikapku? Aku hanya tidak bisa mempercayakan Altair kepada orang sepertimu." saat kemudian Derrick pun menengahi hal itu dengan tatapan tajam.


" Kenapa Israhi??"


" Oh, bukankah kau sendiri punya guild yang harus kau urus, tuan ketua?"


" Setidaknya aku punya pekerjaan tetap. Lagipula guild masih berjalan meski aku tidak ada disana, bawahanku bisa diandalkan."


" Lihat siapa yang bicara, tidak bertanggung jawab sekali."


" Kau harusnya melihat dirimu sendiri dulu sebelum menilai orang lain, bocah bawah tanah."


Dan seperti yang di lihat, perdebatan kedua orang itu malah terus berlanjut hingga ke tingkat dimana mereka mungkin bisa saja saling adu pukul. Sementara yang lainnya hanya menatap itu dengan ekspresi risih diwajahnya mereka...


Kecuali Altair yang bingung dengan situasi ini, dan Mira yang mendukung perkelahian itu.


Namun sebelum hal itu benar-benar terjadi, Aksa lebih dulu menengahi. " Baiklah, tuan-tuan. Hentikan hal tidak berguna ini dan lakukan saja sesuatu yang berguna." dia berkata sambil mendorong masing-masing satu pipi dari kedua orang itu hingga kepala mereka menoleh kearah lain.


" Kalian pasti tidak ingin aku meminta Altair meninggalkan kalian, kan??" ancamnya pula dengan ekspresi dingin dan senyuman yang menahan kekesalan.


" Uhh..."


Kedua orang itu pun akhirnya hanya bisa pasrah, Aksa pasti akan melakukan apa yang ia katakan. Jadi mereka harus mengikuti kemauannya..


Dan apa yang dilakukan oleh nya itu, berhasil membuat yang lainnya terkagum-kagum. Bahkan Mira bertepuk tangan dengan hal tersebut..


" Keren, kupikir dia tidak bisa seperti itu." ucap Mira.


" Aku juga sama." sahut Remilia.


" Yah, apapun itu..." ucap Altair kemudian menggantung kata-katanya, dan ia langsung melompat memeluk leher Derrick dari belakang. " ...Aku senang kak Derrick ikut dengan kita!" ucapnya melanjutkan kata-katanya.


Dia sangat ceria dengan itu..


Hal itu membuat yang lainnya ikut tersenyum senang, disisi lain, Israhi hanya mendengus karena itu.


Mereka akhirnya mulai melanjutkan perjalanan itu dengan tenang dan suka cita...


Sementara diatas sebuah bukit, tanpa mereka sadari... Ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan disana. Dia seorang laki-laki, dengan topi tinggi diatas kepalanya dan topeng putih yang tersenyum dan air mata disisi kirinya.


Lebih tepatnya ia memperhatikan Altair...


Saat kemudian ia melepaskan topengnya. Angin berhembus disana menerbangkan rambut coklat pendeknya, dan kedua mata hijaunya yang tajam memiliki pupil unik dengan bentuk silang. Laki-laki itu tersenyum dengan misterius dan kembali berkata...


" Aku harus menyelidikinya lebih lanjut, kuharap Atar tidak akan terlalu mengganggu kedepannya..."


***


Beberapa hari berlalu sejak mereka kembali memulai perjalanan mereka dari titik utama. Kelompok Israhi berjalan menuju arah timur untuk menyambangi desa yang katanya baik dikunjungi saat musim panas karena udaranya yang sejuk dan pemandangan danau biru yang cantik. Dimana ada banyak tempat indah yang bisa di lihat disana.


Perjalanan mereka masih cukup panjang untuk sampai, namun Altair merasa lelah lebih dulu. Jadi Derrick pun menggendongnya selama sisa perjalanan kesana, dan Altair tertidur dengan damai dipunggungnya.


" Aw... Dia terlihat seperti anak kecil yang lucu." ucap Remilia ketika ia melihat Altair yang tertidur dipunggung Derrick.


Saat kemudian Aksa pun menyahutinya, " Mana ada bayi sebesar dia." ucapnya yang mana membuat Remilia menoleh kearahnya kesal.


" Kubilang terlihat mirip, bukan berarti dia benar-benar bayi!."


" Ahaha... Baiklah, baiklah. Maaf."


Aksa langsung saja meminta maaf kepadanya, ketika Remilia mengangkat tangan nya yang mengepal kuat karena kesal.


Remilia jadi mudah marah dengan sesuatu yang berhubungan dengan Altair sekarang, dia benar-benar seperti sister-complex.


Saat kemudian langkah mereka terhenti, ketika Derrick dan Israhi yang berjalan paling depan menghentikan langkah mereka.


" Hm? Ada apa?" tanya Aksa melihat itu.


Sementara kedua orang itu memperhatikan sekitaran dengan waspada...


" Apa kalian merasa ada yang berbeda disini??" Derrick pun kemudian bertanya.


Remilia dan Aksa yang mendengar itu pun saling pandang, kemudian melihat sekitar mereka dengan bingung dan menggelengkan kepalanya.


Yi disamping mereka kemudian menimpali, " Iya. Suhu ditempat ini mulai turun dengan tidak wajar." ucapnya.


" Suhunya??" Aksa dan Remilia pun berkata serempak mempertanyakan hal itu.


Mira yang ada dibelakang pun maju dan menjelaskan hal tersebut, " Suhunya berubah, padahal ini musim panas tapi udaranya kenapa dingin, ya??" ucapnya.


" Ah, kalau dipikir-pikir lagi hal itu memang menggangguku, udara dinginnya seperti mulai membuatku menggigil." Remilia yang mulai menyadari hal itu kemudian berkata demikian.


" Ada yang aneh ditempat ini. Israhi, kau tahu??"


Israhi yang mendengar pertanyaan itu pun kemudian menggelengkan kepalanya, " Tidak. Aku tidak tahu..." dan ia pun menjawabnya seperti itu.


" Ungg..." saat kemudian perhatian mereka teralihkan kepada suara itu. Altair mengerutkan kaningnya terlihat tidak nyaman dan akhirnya bangun... " Uhh... Kenapa dingin??" tanyanya sambil menggosok mata kanan nya.


" Ah, kau terbangun.."


" Kak Derrick... Huh??" ucapan Altair terhenti ketika sesuatu berwarna putih jatuh diatas hidungnya dan itu terasa dingin.


Ia pun kemudian menolehkan kepalanya keatas bersama dengan yang lainnya juga, saat ada banyak benda putih yang lainnya pun juga kembali turun dari langit.


" Salju..."