The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
A teacher



Setelah kejadian hari itu, pencarian terhadap Ketua Guild Acrenea yang hilang dilakukan dengan segera. Dia ditemukan di sebuah gua tak jauh dari kota bersama dengan Widen, keduanya ditemukan dalam kondisi terkena kontaminasi racun yang parah.


Untuk asumsi sementara yang ada, ketua mereka mungkin diserang oleh Riol atas perintah orang bertopang yang dimaksud oleh Karol dan Siran, juga orang yang berperan sebagai 'Dalang' dari semua kejadian yang ada. Dan Widen yang diam-diam menyelidiki hal itu juga ikut ditangkap untuk menjaga rahasia.


Demi memastikan asumsi itu, Altair setuju untuk membantu mengobati mereka agar bisa memberikan kesakisan lebih lanjut. Sementara Riol sendiri dikirim ke kekaisaran untuk ditahan dan di introgasi.


Disamping itu, Remilia, aksa, Ninia dan dua yang lainnya telah mendapatkan perawatan dan kondiri mereka pulih dengan cepat.


Mira sebagai pengawas selama duel juga telah menulis rincian hal tersebut dan mengirimkan nya ke asosiasi antar guild benua sebagai penjelasan apa yang terjadi.


Dan dengan kesepakatan bersama, Derrick bersama dengan Ketua Guild Acrenea setuju untuk menyelesaikan masalah yang terjadi diantara mereka dengan damai.


- Dan besoknya...


" Baiklah, ini. Tolong antarkan ini kepada perwakilan asosiasi yang datang, Ian. Mereka akan membutuhkannya." ucap Mira yang kemudian memberikan sepucuk surat kepada Ian yang ada dihadapannya.


" Baik." dan Ian pun menerimanya dengan senang hati, namun sebelum pergi, ia teringat sesuatu. " Ah, maaf nyonya. Bolehkan saya bertanya?"


Mira mengangkat kepalanya menatap Ian mendengar itu, kemudian ia pun menyahutinya. " Hm? Apa itu?"


" Saya ingin tahu, apa nona Altair baik-baik saja? Beliau terus tertidur sejak kemarin."


Yah, itu benar. Setelah membantu menyembuhkan Widen dan ketua guild Acrenea kemarin, Altair jatuh tertidur dan masih belum bangun hingga sekarang. Disamping itu, ada Derrick yang kali ini gantian menjaga Altair ditempat nya.


Mira melihat ada raut kekhawatiran dalam ekspresi Ian, dia juga bisa mengerti hal itu. Karena Altair berharga bagi Derrick, dan Derrick penting bagi mereka. Jika sesuatu terjadi kepada Altair, Derrick mungkin...


" Jangan khawatir, dia hanya kelelahan. Dia mungkin bisa berkata dengan percaya diri kalau dia kuat, tapi Altair tetap butuh istirahat untuk pemulihan yang lebih maksimal." Mia pun menjawabnya seperti itu dan tersenyum.


" Ah, begitu. Saya mengerti. Kalau begitu, permisi."


Setelah mendengar jawaban yang ia mau, Ian pun segera pergi dari hadapannya untuk menyampaikan apa yang di inginkan Mira kepadanya.


Mira sendiri tahu, mungkin Ian bertanya bukan hanya khawatir kepada Derrick, tapi juga Altair sendiri. Mereka mungkin baru bertemu dengan singkat, tapi kesan yang didapatkan dari kekaguman lebih membekas daripada yang orang duga.


Orang cenderung mengikuti orang yang ia kagumi dan peduli padanya.


Disamping itu, Mira sedikit bersyukur dengan hal lain. Itu adalah Altair yang tidak membunuh Riol...


" Itu bagus jika dia mengerti betapa berharga nya sebuah nyawa..."


Sejak awal Altair terlihat lembut dan penuh dengan kehangatan, dia selalu seperti itu, tapi dia juga tidak pernah ragu untuk membunuh seseorang yang tidak ia sukai.


Semuanya dimulai dari desanya, itu yang membangunkan iblis dalam dirinya.


Dulu waktu di kekaisaran, dia memang enggan melakukan itu karena dia tidak ingat dengan apa yang telah ia lakukan.


Tapi suatu hari, sekelompok pembunuh bayaran datang ke kamarnya ketika ia membahas sesuatu bersama Zico dan Kaisar. Otomatis tidak ada yang melindunginya.


Semua yang ada di istana bisa mendengar suara keributan itu, dan karena nya Mira dan Yin langsung buru-buru melihat apa yang terjadi.


Namun yang mereka temukan disana, adalah Altair yang berlumuran darah terduduk diam di atas lantai dengan gemetar, menatap kosong entah kemana. Sementara para penyerang itu mati ditusuk sekumpulan pedang. Itu ingatan paling jelas yang ia miliki ketika membunuh seseorang, dan mungkin itulah yang mengubah Altair.


" Itu benar-benar akan menjadi rumit jika dia kehilangan sisi kemanusiaan nya sepenuhnya.." Mira tahu itu kenyataan.


Bagi Altair yang tumbuh sembari mempertanyakan asal usulnya sendiri, dan mengapa ia dilahirkan kedunia ini?


Bertahan dalam kebingungan di dunia yang tidak lagi ia kenal.


Dalam hati dia pasti kesepian karena merasa berbeda dari yang lainnya, dan itu yang akan dimanfaatkan oleh musuh mereka. Mira telah mencoba segala acara agar dia tidak merasa seperti itu, tapi apakah itu benar-benar cukup untuk mengisi kekosongan dalam hatinya??


Mira tidak yakin...


" Urkk.."


Tiba-tiba, sensasi diremas itu kembali muncul. Mira mengerutkan keningnya menahan sakit sementara tangannya meremas dadanya..


" Ughh... Aku tidak boleh seperti ini. Altair masih membutuhkanku..."


Mira masih belum memberikan pelajaran terakhirnya kepada Altair, dia terus berusaha menahan rasa sakit itu demi muridnya yang ia sayangi. Dia ingin melindungi kedamaian muridnya.


["... Ah.. Rasanya senang karena bisa bebas dari kekangan burung jelek itu... Haha..."]


****


- Menara Asosiasi Antar Guild Benua.


Menara Asosiasi berada sekitar 500 meter dari Akademi bintang utara, bangunan tinggi yang menjulang megah ditengah hutan dengan warna perak selalu menarik perhatian. Menara ini memiliki total lantai sebanyak 53.


50 lantai pertama adalah lantai dasar dan lantai yang naik ke atas, dan 3 lantai lainnya adalah ruang bawah tanah dan sebuah penjara dengan kepasitas 500 orang.


Hal penting yang perlu diketahui sebelum datang kesana adalah, harus memiliki izin khusus untuk masuk ke dalam sana. Kecuali kau ingin penghalang mencabik-cabik tubuhmu sebelum kau bisa menyentuh bagian luar bangunan tersebut.


Saat ini : dilantai 48 diatas menara.


Seorang wanita, dengan rambut hijau cerah layaknya daun muda yang pertama kali tumbuh dimusim semi. Duduk diam diatas mejanya sambil membolak balik kertas laporan yang ada ditangan nya.


Dia terlihat sangat serius, sampai kemudian perhatiannya teralihkan kepada lingkaran sihir yang muncul dihadapannya.


" Hm..??"


Seorang laki-laki berusia sekitar 20/21 tahun, dengan rambut merah muda pucat muncul dari lingkaran sihir itu, dan ia langsung menatap orang dihadapannya.


" Professor, ada surat yang ditujukan untukmu." ucap laki-laki itu.


Orang yang disebutnya professor itu pun menatapnya dengan tertarik, lalu ia pun menimpali. " Oh, dari siapa itu Yuhan?"


" Ini dari nyonya Mira Marlon." laki-laki yang dipanggilnya Yuhan itu pun memberikan surat ditangannya kepada orang dihadapannya.


" Mira? Anak itu mengirim surat? Tidak biasanya."


Dan wanita itu menerimanya dengan baik. Ia membuka surat yang diperuntukan kepadanya dan membaca apa yang tertulis didalam. Awalnya dia terlihat biasa saja, saat kemudian keningnya mengerut terlihat tidak senang.


Tak lama, dia pun menaruh surat itu diatas meja dan menatap Yuhan yang ada dihadapan nya ini.


" Jadi... Kalian belum bisa menemukan dalangnya?" tanyanya kemudian.


Yuhan yang mendengar itu pun menganggukan kepalanya, " Iya, maaf professor. Tapi dari jejak dan kesaksian yang ada, mereka berusaha membuat perpecahan. Mungkin itu hanyalah pengalihan dari hal sebenarnya tentang apa yang mereka lakukan."


" Jadi itu mungkin ada hubungan nya dengan organisasi bintang fajar itu..."


Itu adalah masalah besar mereka. Kelompok yang telah lama terbentuk dan diam-diam bergerak memanfaatkan kesempatan dari kekacauan dimasa lalu.


Karena kelompok itu aktif secara rahasia, mereka juga jadi tidak bisa melakukan pencarian secara terang-terangan. Atau itu akan menyebabkan keributan di masyarakat...


Tuk... Tuk.. Tuk..


Wanita mengetuk-ngetuk meja dihadapannya sambil memikirkan kemungkinan yang sedang mereka bahas sekarang...


" Jika mereka punya maksud lain, apa mereka sedang memata-matai Altair...?? Tidak..."


Dia tenggelam dalam pikiran nya sendiri, sementara laki-laki yang masih berdiri diam dihadapannya mulai merasa gugup sejak saat ia terlihat tidak senang dengan isi surat tersebut.


Meski begitu, ia kemudian memberanikan diri untuk bertanya... " Jadi... Apa yang harus kita lakukan... Professor 'Sakura'."


Disisi lain, wanita dihadapannya.... Yang adalah Sakura, menarik ujung bibirnya dan tersenyum sambil menatapnya.


" Yuhan, selidiki lebih lanjut. Untuk lebih pastinya, masukan data kepada 'Atar' untuk mewaspadai hal yang berkaitan dengan mereka, kita harus mengutamakan keselamatan anak itu." Sakura memberikan perintahnya kepada Yuhan, muridnya disana.


" Baik, professor." dan Yuhan langsung mematuhinya tanpa mengatakan apapun lagi.


************************************************



* Yuhan