
Setelah mendengar nama kelompok yang dicari oleh Israhi dan Altair, Derrick berubah jadi lebih serius. Dia memikirkan itu dengan sangat serius, dan dari ekspresi wajahnya itu bukanlah sesuatu yang baik untuk dikatakan.
Namun itu menarik keyakinan dari mereka yang ada disana...
" Kakak, kau tahu?"
" Aku memang punya. Tapi itu bukanlah informasi yang cukup bagus yang bisa kalian dengar."
" Haha, itu bagus. Aku punya alasan lain untuk menyalahkan mereka."
" Cepat beritahukan saja pada kami."
Dua lebah yang sedang menunggu untuk madu mereka. Yang satu hanya penasaran, dan yang satunya sedang mencari alasan. Begitulah kondisi Altair dan Israhi dimata Derrick sekarang. Tidak peduli seburuk apa, asalkan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, keduanya tidak akan berhenti menganggunya.
Itu membuatnya menghela nafas panjang, " Ha.. aku tidak tahu terlalu banyak karena mereka kelompok yang tertutup. Yang kutahu hanya, mereka sedang mencari sesuatu yang ditinggalkan oleh 'Putri Empat Dunia' didunia ini. Kudengar itu adalah harta tak ternilai yang bisa mengguncang alam semesta, dan membuka segel makhluk kuno yang mencoba melahap dunia." jelas Derrick kepada mereka.
Itu terdengar luar biasa dan mengerikan disaat yang sama, mengingat sesuatu seperti itu bisa memusnahkan mereka dengan mudah. Altair juga pernah mendengar soal harta itu dari Milya. Masalahnya itu, harta apa yang dimaksud?
Diantara mereka yang memikirkan itu, Aksa lah yang pertama angkat suara." 'Putri Empat dunia' terakhir itu, adalah Ratu kekaisaran Foldes, bukan? Ratu Quennevia. "
Karena perkataan nya itu, membuat yang lain sontak mengalihkan perhatian mereka kepada Mira yang saat ini sedang ikut berpikir diantara mereka.
Sadar dengan maksud tatapan mereka semua, Mira hanya mengangkat kedua bahunya dengan ringan. Dia tidak tahu soal peninggalan berharga seperti itu, tidak mungkin juga Baginda Ratu memberitahukan harta apa dan dimana ia meninggalkannya.
Terlalu beresiko dicuri oleh orang lain.
Sampai ia teringat sesuatu, mungkin... tidak semuanya ia tidak tahu.
Tatapan Mata Mira diam-diam segera tertuju kepada Altair, yang tengah berpikir sambil menaruh jari telunjuknya dibibirnya. Mungkin dia yang paling berpikir keras diantara mereka saat ini.
" Aku ingin tahu apa isi pikirannya saat ini..."
Iyah, Mira tidak salah dengan hal itu. Namun, itu ternyata isi kepalanya lebih kacau dari yang ia duga.
" Harta.. segel.. makhluk kuno.. mengguncang alam semesta... Putri empat dunia... melahap dunia.. hukuman.. Bahamut.. Dewi penjaga.. kematian.. Raja para naga.. perang suci... kutukan.. kehancuran... kiamat.. ibu dunia.. ibu.. ib..u.."
" ...tair... Altair..!"
" Altair!!"
" Huh?! Oh... apa?"
Altair terkejut karena Mira tiba-tiba berteriak padanya disana, padahal ia sedang berpikir sekarang.
Sementara Mira hanya menghela nafas karena itu...
Seperti yang diduga, Altair ternggelam dalam pikirannya sendiri. Dia mungkin tidak akan sadar sampai kepalanya menghantam lantai karena terus menunduk dan semakin menunduk kebawah. Meski... itu bukanlah pertama kalinya hal ini terjadi.
Sewaktu di istana juga selalu seperti ini. Ketika dia tenggelam dalam pikirannya, dia tidak akan melihat ataupun mendengar apapun lagi. Dia bahkan pernah tercebur ke kolam karena kecerobohannya itu.
" Altair, aku sudah bilang kalau itu adalah kebiasaan buruk. Terlalu tenggelam dalam pikiranmu akan membuatmu tidak fokus, terlebih dalam pertarungan, itu adalah kesalahan yang sangat fatal."
Altair akan mudah diserang ketika itu terjadi, karena kewaspadaan-nya berkurang drastis.
" Aku tahu guru, maaf." itu bukan berarti dia mau seperti itu. Tapi pikiran nya selalu pergi setiap kali ada sesuatu yang berhubungan dengan dunia dan makhluk kuno.
Itu seolah... dunia mencoba menunjukan sesuatu yang ia lalaikan, namun disaat yang sama ada seseorang yang menekannya tetap seperti sekarang. Dan juga, dia menyadari sesuatu setelah sadar dari lamunannya...
" Apa hanya itu yang kau ketahui?" disaat Yi memastikan hal itu kepada Derrick.
Derrick yang ditanya pun sedikit menganggukan kepalanya, " Iya. Mereka kelompok yang tertutup, tidak banyak informasi yang dikeluarkan dari mereka. Karena itu aku tidak tahu. Bahkan Guild informan saja belum tentu punya informasi seperti itu. Malah, bisa saja salah satu diantara mereka adalah orang-orang yang memiliki hubungan dengan 'mereka'." jelasnya.
Pembicaraan alot itu cukup membosankan, karena tidak ada banyak yang tahu soal sesuatu yang sedang mereka bincangkan. Jika saja kelompok itu lebih terkenal atau terang-terangan. Tapi, bahkan meski kelompok itu sudah ada sejak dulu, keberadaan mereka telah lama terkubur dan kalah pamor dengan cerita dari pertarungan 100 tahun yang lalu.
Orang-orang sekarang dibuai oleh kedamaian yang fana didepan mata, dan tidak menyadari bahaya yang mengincar dibawah tanah.
Namun, situasi membosankan itu segera berakhir saat Altair yang sejak ditegur Mira diam saja angkat suara. " Kakak, maaf aku tidak menyadari hal ini sebelumnya. Tapi... Apa kau terluka?"
" Apa...?"
Itu membuat susana berubah dingin seketika. Derrick yang ditanya pun tidak bisa menyembunyikan wajah terkejut nya karena itu pertanyaan yang berasal dari Altair.
Sementara Israhi dan yang lainnya menatap Derrick dengan mata membutuhkan penjelasan.
Tapi Altair belum selesai bicara, " Aku mencium bau darah.." ia pun mengulurkan tangannya dan menyentuh tubuh Derrick, yang membuatnya tersentak dengan itu. "... Disini. Apa kau terluka parah, kak?." Altair menatap nya lekat meminta kepastian.
Disisi lain, Derrick tetap menjaga mulutnya tertutup rapat-rapat sekarang. Ia bahkan memalingkan wajahnya menghindari tetapan Altair. Itu saja sudah cukup menjelaskan.
Termasuk menjelaskan alasan orang-orang diaula tadi yang begitu sensitive dan waspada apalagi setelah Israhi menanyakan soal dirinya. Mereka ingin menjaga rahasia ini dan melindunginya dari ancaman dengan cara mereka.
" Kakak..."
" Altair.."
Altair berhanti bicara pada suara Derrick yang memanggil namanya, dia mungkin terlalu banyak bicara soal itu. Tapi jika bukan karena itu adalah Derrick, dia tidak akan peduli pada luka orang itu. Sampai saat ini dia telah kehilangan banyak hal...
Hanya Derrick yang bisa mengingat kenangan di GoldenRose bersamanya. Jika Derrick juga pergi... Altair tidak yakin apa yang akan dia lakukan selanjutnya...
Disisi lain Derrick, dia tidak mau membuat Altair khawatir. Namun apakah diam adalah pilihan yang tepat...?
" Altair, aku baik-baik saja. Jadi tolong jangan mengatakan apapun lagi." Meski begitu Derrick tetap pada pendiriannya.
" Apa separah itu..?" sampai Israhi pun ikut masuk dalam percakapan mereka. " Luka apa yang kau dapat, apakah itu parah..?" tanyanya kepada orang yang ada dihadapannya saat ini.
Mereka telah mengenal sejak 7 tahun yang lalu, ketika Derrick dan Israhi secara tidak sengaja tergabung dalam kelompok pembasmian diwilayah tanggara benua, dimana monster mulai berkembang biak disana.
Dia tahu Derrick tidak akan pernah mengatakan lukanya kepada siapapun, bahkan rekannya sekalipun.
Derrick yang mendapat pertanyaan itu darinya pun sedikit ragu, " Itu... tidak separah yang kau pikirkan..." dia ragu karena tahu Israhi tidak mudah untuk ditipu.
Dan ya, seperti yang ia tahu. Saat ini saja dia ditatap Israhi dengan ekspresi tidak percaya. " Mhm... Bagaimana menurutmu, Altair? " ucap Israhi kemudian.
Altair terdiam sebentar, dan kemudian. " .... Aku mencium bau racun." dia mengatakan hal itu.
" Itu cukup." ucap Israhi yang kemudian bangun dari duduk nya dan berjalan mendekati mereka, Altair yang melihat itu pun juga langsung bangun dari pangkuan Derrick. Dan kemudian Israhi langsung menarik lengan Derrick, " Ayo pergi ke ruangan lain dan kami akan memeriksa luka itu." dia tidak main-main mengatakan itu.
Namun Derrick kelihatan tidak nyaman dengan itu, " Aku baik-baik saja. Jadi berhenti bersikap seperti ayahku." dia menolaknya.
" Racun separah apa yang kau dapat sekarang? Sampai kau tidak bisa mengelabui hidung anak itu meski kau menggunakan lilin aroma yang kuat diruangan ini." timpal Israhi sambil mengerutkan keningnya terlihat kesal.
Derrick tahu dia sadar dengan itu sejak mendengar kalau dia terluka dari Altair, namun sesuatu yang dikatakan Israhi kemudian membuatnya terdiam.
" Anak itu sekarang sendirian. Kau tidak akan tahu kapan kekaisaran akan menarik perhatian dari anak itu dan meninggalkannya, jika hal buruk menimpamu juga... menurutmu apa yang akan terjadi pada anak itu?." bisik Israhi ditelinga nya.
Derrick tahu itu hal buruk. Altair yang berdiri dihadapan nya sekarang saja terlihat begitu kosong dan kesepian. Jika terjadi sesuatu padanya.... Altair akan benar-benar sendirian..
" Ha.. Baiklah.." dia akhirnya tidak punya pilihan lagi karena hal itu. Dari pada hal buruk yang ada dikepalanya sekarang menjadi kenyataan.
Israhi dan Derrick serta Altair pun pergi ke ruangan lain untuk memeriksanya sesuai yang dikatakan Israhi. Ia juga sempat bilang pada teman-temannya untuk menunggu dan mengawasi sekitar, jaga-jaga saja jika tempat ini diserang kembali ketika mereka mengatasi masalah Derrick.
Dan teman-temannya pun mengangguk mengerti dengan hal itu. Itu tidak akan berlangsung terlalu lama... Karena seseorang diluar sana menatap tempat mereka berada sekarang dengan senyuman aneh.