
Beberapa hari kemudian, setelah kejadian itu banyak surat yang datang kepada Altair yang menanyakan bagaimana keadaannya saat ini. Jujur Altair hanya membalas yang ia anggap penting saja, sama seperti saat ini... ia sedang menulis balasan surat untuk Daphine, sahabat baiknya.
" Aisha, tolong kirimkan ini untuk Daphine. " ucap Altair pada dayangnya.
Sebenarnya dia baru saja terbebas dari kecurigaan sebagai pelaku keracunan Altair, untung dia dinyatakan tidak bersalah.
" Baik, Nona. " sahut Aisha pula yang kemudian menerima surat itu dan pergi untuk mengirimkannya.
Setelah kepergiannya, Altair sedikit meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Sesuai janjinya kepada Zico, dia beristrirahat selama hampir 4 hari sejak malam itu. Banyak yang sudah terjadi, Lecht juga telah kembali ke Chrysos dua hari yang lalu, setelah meminta Altair datang berkunjung jika punya waktu.
Dan akhir-akhir ini, Rara dan Duke Orzsbet jadi lebih tenang, terlalu tenang jika kau bertanya kepada Altair. Dia tidak yakin mereka telah menyerah begitu saja hanya karena ancaman seperti yang ia lakukan malam itu. Karena macan yang gigih tidak akan berhenti sampai mendapatkan mangsanya.
Lamunan Altair buyar ketika mendengar suara ketukan dipintunya, ia pun menoleh dan berkata. " Siapa?"
" Nona, baginda kaisar ingin bertemu dengan anda. " ucap seseorang dibalik pintu.
Mendengar itu, Altair pun segera bangkit berdiri dan membuka pintu. Dihadapannya, saat ini berdiri seorang pelayan yang berasal dari istana Kaisar.
" Baiklah, aku akan pergi. " jawab Altair kepada pelayan itu, dan ia mengikuti nya dari belakang.
Ia pun berjalan keluar dari Istana Marigold yang selama 4 hari ini tidak boleh ia tinggalkan, rasanya sudah sangat lama sekali sejak saat itu. Altair cukup bosan hanya diam dikamarnya tanpa melakukan apapun lagi.
Bahkan meski ia berusaha membujuk Yin yang biasanya mudah ia bujuk, itu tidak mempan lagi...
Suasana hati Altair bagitu baik ketika ia berjalan untuk menemui Kaisar, namun tiba-tiba.. Itu menjadi buruk ketika ia berpapasan dengan orang yang paling tidak ia sukai. Siapa lagi kalau bukan Rara.
" Haah..." Altair menghela nafas lelah dengan itu, belum juga terjadi sesuatu Altair sudah merasa kesal.
" Wah, wah. Lihat siapa ini, nona Altair. Saya mendengar apa yang terjadi kepada anda beberapa hari lalu, apa anda baik-baik saja? " tanyanya sok peduli.
Altair pun jadi harus menunjukan senyuman terbaiknya, " Terima kasih, saya tidak menyangka kalau anda sepeduli itu. Tapi saya baik-baik saja. " jawab Altair.
" Kelihatan nya begitu. " sahut Rara pula kelihatan kurang senang. " Anda seharusnya bisa lebih berhati-hati, agar anda tidak merepotkan semua orang. Jika saya jadi anda, saya pasti bisa melakukan yang lebih baik. " ucapnya dengan begitu percaya diri.
" Begitu ya.. " sahut Altair tersenyum kosong.
Altair bisa melihat dengan jelas ketidak sukaannya melihat dia baik-baik saja. Tapi jujur saja Altair tidak peduli, meski kesal.
" Ngomong-ngomong... Putri Orzsbet, anda harus berhati-hati agar tidak bertemu dengan orang yang tidak baik. " ucap Altair tiba-tiba.
" Apa?" Rara terlihat bingung dengan kata-kata yang ia dengar dari Altair.
Sementara Altair masih mempertahankan ketenangannya, " Ya, contohnya orang sombong. Jangan sampai anda berteman dengan orang seperti itu. " ucapnya pula.
" Ha. Maksudmu seperti dirimu sendiri?" sahut Rara, jelas-jelas terbalik.
Altair tertawa ringan, " Haha.. Tidak, saya tidak seperti itu. Anda seharusnya tahu seperti apa ciri-ciri mereka dengan sangat baik. Orang sombong itu ditandai dgn tatapan mata merendahkan dan ucapan mereka yg meninggikan dirinya sendiri. " ucap Altair sambil tersenyum tanpa dosa.
" Apa kau pikir kau bisa selamat setelah menghina bangsawan seperti itu? " ucapnya dengan tatapan nyalang.
" Saya tidak berpikir seperti itu. Tapi... " Altair menggantung kata-katanya, ia pun sedikit membungkukan tubuhnya kearah Rara dan menatapnya dengan sinis. " .. Saya yakin putra mahkota tidak akan menyukai perempuan yang hampir membunuh teman baiknya. " bisik Altair dengan seringai yang mengejutkan.
Bahkan Rara sendiri tidak berpikir Altair bisa memasang ekspresi seperti itu, dan kenyataan yang baru saja ia lihat membuatnya semakin kaget. Belum lagi dengan apa yang baru saja Altair katakan, dia tahu kalau dirinya lah dalang dibalik kasus keracunan itu.
Altair yang melihat raut wajah pucat Rara hanya terkekeh, kemudian ia pun menarik diri nya kembali dari hadapan Rara.
" Putri, aku tidak punya dendam padamu. Tapi kau selalu saja menggangguku tanpa alasan, jujur saja itu menjengkelkan. Aku lebih ingin hidup tenang dan juga sepertinya kau sudah dengar... Kalau aku akan segera pergi dari istana. Apa lagi yang kau khawatirkan?? Tidak ada yang menghalangimu, 'kan?" ucap Altair pula dengan lengan didadanya, dan perkataan yang tiba-tiba saja berubah.
" Kau pikir hanya dengan kau pergi dari sini bisa mengembalikan segalanya??" kelihatannya Rara sama sekali tidak puas dengan kenyataan orang yang ia benci akan segera pergi.
Altair hanya bisa menghela nafas karena hal itu, " Jadi apa yang anda inginkan?" tanyanya pula.
" Aku menantangmu bertarung! Dan orang yang kalah harus melakukan apapun keinginan pemenangnya!" ucap Rara kemudian.
" Huh, dia pasti tidak akan menerima itu." batinnya pula dengan percaya diri sekali.
Sementara Altair, dia terdiam sesaat setelah mendengar itu. Ia mengangkat tangannya menutupi mulutnya, tapi kemudian...
" Astaga, ya ampun. Apa anda yakin? " Altair mempertanyakan hal itu dengan raut wajah terkejut yang dibuat-buat.
" Apa..?" membuat Rara yang melihat itu bingung dibuatnya.
Tapi Altair hanya mengangkat kedua bahunya dengan enteng, " Yah, jika itu yang anda inginkan saya tidak punya alasan untuk menolak. " ucapnya pula.
" Te-tentu saja. " sahut Rara pula sambil berusaha menyembunyikan keterkejutan nya, " Huh. Dasar bodoh, kau tidak akan bisa mengalahkanku. Sekalipun kalah, aku akan memanfaatkan peraturan dimana rakyat biasa tidak boleh melukai bangsawan. Bahkan jika dia berada dalam perlindungan Kaisar, dia tetap tidak bisa lolos dari hukum. " batinnya.
Akan tetapi Altair belum selesai bicara, " Kalau begitu, kita bertanding di Koloseum 2 hari lagi, bagaimana?" usulnya kepada sang putri duke yang sedang tidak bisa berpikir dengan jernih karena keyakinan kalau dia akan menang.
" Ya, tentu saja. " jawabnya dengan mudah sekali tanpa memikirkan resikonya.
Disisi lain Altair, mendengar persetujuan dari Rara itu. Diam-diam ia menyunggingkan sebuah seringai lain, " Hmph. Koloseum adalah arena bebas, hukum kekaisaran tidak akan berguna disana. Jadi, meskipun kau berrencana menggunakan hukum dimana rakyat biasa tidak boleh melukai bangsawan, itu sia-sia saja. Kekuatan nya juga jelas ada dibawahku, kau sudah kalah dari awal... Putri. " batin Altair.
Altair selangkah lebih maju dalam menentukan akhir pertandingan itu, dia sudah mempertimbangkan segalanya dari semua sisi. Altair sama sekali tidak punya niat untuk memberi keuntungan kepada Rara.
" Kalau begitu, sampai jumpa di Koloseum 2 hari lagi, Putri Orzabet. " ucap Altair kepada Rara.
" Hmph. Pastikan saja kau tidak kabur, akan ku tunjukan padamu... Mengapa kami para bangsawan bagitu berkuasa. " namun seperti biasa, Rara tidak mau menurunkan harga dirinya dan pergi begitu saja setelah mengatakan kata-kata sombong itu.
" Lihat saja, aku akan membuatmu mencium kakiku. "
Tapi Altair tidak mempermasalahkan hal itu, " Saya sungguh menantikannya. " ucapnya dengan seringai diwajahnya.
" Kita lihat siapa yang akan berlutut nantinya."