The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Assassin's Guild



Matahari mulai tinggi, Israhi dan yang lainnya telah menyelesaikan semua urusannya dikota itu. Orang-orang sangat berterima kasih kepada mereka dan dengan antusias mulai merekonstrusi ulang kota mereka. Perasaan Altair sudah membaik dan mulai berkumpul dengan mereka lagi.


Meski dia harus diserang berbagai pertanyaan dari Aksa karena ia yang memutus ikatan sumpah dengan begitu mudahnya dan soal seberapa besar kekuatan yang ia miliki.


Menyusul hal itu, Mira pun juga telah kembali secepat yang ia katakan sebelumnya. Tidak menunggu waktu yang lama, mereka semua sepakat untuk langsung melanjutkan perjalanan mereka sekaligus untuk mencari informasi soal kelompok 'itu'.


Tempat yang akan mereka tuju kini, adalah... sebuah Guild pembunuh bayaran.


" Hei, Israhi. Kenapa kita pergi ke Guild pembunuh bayaran untuk mencari informasi?" Altair penasaran dengan hal itu.


Dan bukan hanya dia saja, tapi Remilia juga sama. " Benar. Bukankah akan lebih efektif jika kita pergi ke Guild informan?"


" Guild informasi mana mungkin punya info seperti ini, sekalipun ada.. harganya pasti sangat tinggi." Israhi menjawab dengan masuk akal.


Memang benar sih, bahkan terkadang... sebuah informasi lebih berharga daripada status seorang bangsawan. Karena itu mereka yang menjual informasi akan lebih cepat kaya, tapi juga jadi target yang paling dicari.


" Meski begitu... apa yang membuatmu berpikir para pembunuh bayaran tahu hal seperti ini?"


" Karena mereka melakukan pekerjaan kotor."


" Ah..."


Itu kenyataan yang tidak bisa disangkal. Tapi yang membuat mereka bekerja seperti itu juga untuk uang, itulah sumber utama setiap masalah orang-orang.


" Kalau begitu, apa kau tahu Guild mana yang mungkin punya informasi soal 'itu'?" dimata Altair, dia kelihatan begitu yakin dengan tempat yang akan mereka sambangi sekarang.


Aksa yang ada disampingnya pun menjawab, tapi... " Kami mengenal tempat itu, meski... hubungan kami memang tidak terlalu baik. " ia langsung mengalihkan wajahnya dikata-kata yang terakhir.


Ekspresi nya terlihat tidak yakin, atau lebih ke... merasa terbebani.


Itu membuat Altair dan Remilia mengedipkan mata mereka bingung. Israhi kelihatan jauh tidak peduli, tapi Aksa terlihat tidak mau. Disisi lain, Yi terlihat lebih santai. Tidak... dia memang selalu seperti itu, sejujurnya.


Mereka ingin tahu apa yang terjadi antara kelompok ini dan Guild itu, saat... Akhirnya mereka tahu sendiri apa yang dimaksud 'tidak terlalu baik' oleh Aksa.


Lebih tepatnya, benar-benar tidak baik.


Saat mereka sampai dan masuk kedalam bangunan Guild, Altair berpikir kalau itu adalah sebuah bar bernama {Kirial}. Mengingatkannya kepada tempat Titus di Foldes, tapi ketika orang-orang yang ada disana melihat Israhi, semua tatapan langsung tertuju kepada mereka.


" Aku tidak suka ini..." Rasanya Altair ingin menangis.


Tidak masalah jika hanya tetapan biasa saja, namun orang-orang yang ada disana menatap seolah akan memakan mereka. Karena hal itu, Altair pun langsung sembunyi dibelakang Israhi, ditengah-tengah Mira yang ada dibelakang, yang sedang diam-diam menertawakannya saat ini.


Tatapan sinis dan dingin tidak berhenti jatuh kepada mereka, sementara baik itu Israhi maupun yang lain hanya diam tak melakukan apapun. Yah, mungkin belum...


Tak lama dari itu, seorang pria pun datang menghampiri mereka yang ada ditengah-tengah kerumunan anggota guild saat ini. Dia terlihat lebih ramah, tapi senyuman nya sangat membuat tidak nyaman.


" Tuan Israhi, sudah lama tidak melihat anda dan yang lain. Dan kelihatan nya anda mendapatkan dua teman perjalanan baru." ucap orang itu kepada Israhi.


Israhi sendiri yang mendengarnya diam sebentar, sampai kemudian ia bilang. " ...Tiga."


" Ya?"


" Ada tiga orang yang baru."


Ia menegaskan hal itu, tentu saja ada tiga. Terakhir kali dia datang ke sana adalah dua tahun yang lalu, saat itu.. hanya ada dia, Aksa, dan Yi yang ikut dengannya. Dan sekarang ditambah tiga yang lain.


" Oh, begitu. Saya tidak melihat yang ketiga.."


" ...Dia bersembunyi karena takut dengan kalian, kau tidak bisa melihat nya karena dia pendek." Mendengar Israhi berkata seperti itu, Altair yang ada dibelakangnya pun tersentak kaget.


Ia tahu kalau dia lebih pendek daripada Israhi, tapi apa dia benar-benar tidak terlihat sampai seperti itu? Meski begitu dia tidak bisa melakukan apapun karena memang benar, sementara ucapan itu semakin membuat Mira ingin tertawa sampai-sampai ia gemetar karena menahannya.


Dan sekarang bukan hanya dia, bahkan Remilia, Aksa dan Yi juga... selain Israhi yang mengatakan kata-kata itu sendiri. Itu membuat Altair sedikit jengkel.


" Haha... Rupanya begitu. Ngomong-ngomong.. apa yang membuat kalian datang kesini?"


Akhirnya, percakapan sia-sia ini mencapai intinya.


" Dimana 'dia'?" dan sebuah jawaban yang singkat dan padat pun dilontarkan Israhi.


Mendengar kata 'dia' yang dimaksud Israhi, sepertinya semua yang ada disana tahu siapa yang ingin ditemui olehnya. Namun karena hal itu, suasana yang sebelumnya tidak menyenangkan pun berubah semakin dingin.


Itu membuat Altair dan yang lainnya terkejut, karena orang-orang yang ada disana berubah waspada. Bahkan ada beberapa dari mereka yang sudah mengangkat senjata mereka...


Sampai perhatian kembali kepada orang yang bicara dihadapan mereka saat ini.


" Maaf sekali, tapi 'beliau' tidak bisa ditemui saat ini. Silahkan kembali lain kali. " dia mengusir mereka dengan sangat halus, namun auranya kelihatan tidak seperti itu.


Sesuatu mungkin telah terjadi disana saat ini...


" Oh..." tapi kelihatan nya Israhi sendiri tidak berniat untuk mengalah.


Ia ikut menaikkan auranya, matanya bersinar ditengah kegelapan yang muncul disekitar nya, itu lebih besar dari pada milik orang itu.


" Israhi...!"


Bahkan Altair kaget melihat itu.


Aura yang sangat besar dan gelap milik Israhi memenuhi tempat itu, membuat sebagian orang-orang yang sebelumnya mengangkat kepala padanya jatuh berlutut karena tekanan yang begitu berat. Altair merinding dengan itu, namun disaat yang sama.. ada perasaan aneh dalam dirinya merasakan itu. Itu seperti.. perasaan yang sangat lama ia ingat kembali.


Orang yang ada dihadapan mereka masih berusaha untuk berdiri, meskipun kedua kakinya bergetar karena itu.


" Katakan padanya aku tidak bisa menunggu lebih lama. Jika tidak ingin aku menerobos masuk, seharusnya dia tahu apa yang harus dilakukan. "


Kata-kata yang penuh dengan kesombongan, itu bisa jadi bumerang jika dikatakan kepada orang yang salah. Selama mengenal Israhi, Altair tidak pernah melihat nya bicara sesombong itu kepada seseorang, apalagi karena dia memang tidak banyak bicara. Tapi menurutnya dia orang yang baik dan cukup ramah.


Apa dia melakukan nya hanya untuk memprofokasi?


" Hentikan."


Situasi jadi lebih baik ketika suara itu muncul, baik itu Israhi ataupun orang yang ada didepan mereka menghentikan tindakan kekanakan mereka untuk saling menunjukkan aura satu sama lain.


Dan perhatian semua orang pun langsung tertuju kepada seorang pria yang berjalan dari lantai atas menuruni tangga. Seorang pria tampan, dengan sebagian rambut hitam yang cukup panjang terurai dibelakang punggungnya. Dan mata kuning cerah yang terlihat tajam menatap mereka dengan tatapan dingin.


Atau lebih tepatnya... kepada Israhi.


Disisi lain Israhi, dia hanya tersenyum miring kepada nya yang baru muncul dihadapannya setelah ia melakukan sedikit masalah.


Pria itu pun berkata, " Kau masih kekanakan, Israhi. Sudah kubilang jika kau ingin bertemu, seharusnya mengirim surat permintaan lebih dulu. Jangan membuat keributan diaula Guild orang lain." Ketua Guild Pembunuh bayaran Kirial, Derrick Cashel.


Ditengah itu, ada sesuatu yang mengganggu Altair. " Eh?? Seperti nya aku mengenal suara ini... "


Itu suara yang tidak asing ditelinganya. Tapi dia sama sekali tidak bisa melihat orang yang ada didepan sana, meskipun dia berjinjit-jinjit. Pada akhirnya dia tetap tidak bisa.


Disisi lain, percakapan ini terus berlanjut. " Kau seharusnya langsung keluar saat tahu aku datang. Jika kau tidak terlambat keluar, ini juga tidak akan terjadi." Israhi membalas tanpa ada masalah sedikitpun.


" Apa yang kau inginkan. " dan Derrick yang mengalihkannya.


" Informasi."


" Kau datang ke tempat yang salah."


" Tapi hanya kau yang mungkin mengetahui nya."


Percakapan mereka tidaklah terlalu ringan juga tidak terlalu berat, disaat yang lain hanya melihat mereka dalam diam. Keduanya saling bicara satu sama lain tanpa terganggu dengan situasi disekitar mereka.


Disaat yang sama, Derrick yang menghadapi kekeraskepalaan Israhi jengkel sendiri karena nya. Inilah alasan dia malas meladeni nya meskipun keduanya saling kenal satu sama lain. " Jangan coba-coba untuk memaksa-.."


" Kak Derrick!."


" Hm?? Suara ini..."


Suara lain memotong ucapannya sebelum ia menyelesaikannya, diikuti dengan munculnya kepala seorang gadis dengan ekspresi cerah disamping Israhi. Altair tersenyum dengan manis disana, dan langsung menjadi pusat perhatian ditempat itu.


Tidak mungkin Derrick tidak mengenali wajah itu, dan itulah yang membuat nya terkejut. " Altair..!"


" Kak Derrick!." Altair yang tahu dia mengenali nya pun langsung berlari kearahnya dan memeluknya. Dia sangat senang bisa bertemu dengan orang yang ia kira tidak akan pernah ia temui lagi.


Bersamaan dengan itu, ekspresi dingin yang sedari tadi menyertai Derrick pun sedikit melunak. Bahkan dia sedikit tersenyum. Itu membuat semua orang yang melihat nya dibuat syok karena hal itu.


Derrick yang dikenal sebagai orang yang dingin dan tak berperasaan, baru saja tersenyum kepada seorang gadis kecil yang baru pertama kali mereka temui.


Jujur saja, itu pertemuan yang mengharukan. Tapi bagi yang lain,... itu adalah situasi yang horor.


" Ah..!" Altair sedikit tersentak karena Derrick tiba-tiba mengangkat dan menggendongnya di satu tangannya. Sementara tangan Derrick yang lain mengusap wajahnya.


Entah kenapa itu terasa seperti ia memastikan apakah dia benar-benar Altair atau bukan, dan setelah itu... dia pun kembali tak berekspresi. Seperti Derrick yang seharusnya.


" Aku sudah mencarimu ke mana-mana, aku sangat khawatir. " ucap Derrick kepadanya pula, kemudian ia menurunkannya kembali.


" Maaf, kak. Waktu itu, aku dibawa oleh pasukan kekaisaran setelah desa diserang." jawab Altair sambil menundukkan kepalanya dengan ekspresi sedih.


Itu sekitar 9 tahun yang lalu, sejak pertama kali Altair dan Derrick bertemu secara tidak sengaja. Sejak saat itu, Derrick juga selalu datang menemuinya untuk bermain dan bercerita. Namun 5 tahun yang lalu, saat dia mendengar kalau desa itu diserang, Derrick benar-benar kalang kabut.


Yang ia temukan hanyalah sisa-sisa desa yang hangus terbakar.


Meski tahu begitu, dia masih tetap mencari Altair kemana-mana seperti orang gila hingga saat ini, namun sama sekali tidak bisa menemukan satupun jejaknya. Dia kehilangan ketenangan hatinya dan menjadi lebih dingin dan kejam karena kehilangan Altair.


Namun sekarang, gadis yang ia cari-cari selama ini berdiri dihadapannya, baik dan sehat. Itu adalah hal yang sangat ia syukuri. " Asalkan dia hidup dan baik-baik saja, itu cukup untukku."


Derrick menghela nafas dan mengusap kepala Altair dengan lembut. " Haa... Sudahlah, jangan pikirkan itu lagi."


Altair hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia juga sangat bersyukur masih memiliki orang yang telah lama ia kenal. Setidaknya didunia dimana ia tidak mengenal siapapun lagi selain mereka.


Tapi dia melupakan sesuatu, dan Altair baru tersadar dengan situasi saat ini saat Yi berbicara padanya, " Altair, kau... Mengenal balok es ini??"


Altair yang mendengar nya pun menoleh dan sedikit memiringkan kepalanya, " Hm?? Maksudnya kak Derrick?? Ya, kak Derrick dulu selalu main denganku jika datang ke desaku." jawabnya dengan wajah berseri-seri. Sampai-sampai hal itu sulit untuk dipercayai.


Tapi kemudian ia melanjutkan, " Tapi kenapa kakak ada disini??"


Dia belum benar-benar mengerti situasi saat ini...


" Dia bahkan tidak tahu siapa orang ini yang sebenarnya..! " orang-orang ingin mengatakan sesuatu, namun mereka tetap menjaga mulut mereka tertutup.


" Tempat ini milikku." Derrick menjawab dengan singkat, ia pun menatap kembali Israhi dan mengajaknya pergi dengan kepalanya. Kemudian ia menggendeng tangan Altair pergi ke atas bersamanya.


Tentu saja, Israhi dan yang lainnya pun mengikuti dibelakang nya. Ada sesuatu yang harus ditanyakan Derrick tentang alasan mengapa Altair ada bersama mereka. Mereka diajak pergi ke ruangan khusus, yang dipakai oleh Derrick untuk menemui kliennya.


Tempat nya cukup tertata dengan rapi, beberapa lemari kaca ditaruh disana dan ada sesuatu didalamnya. Untuk lebih jelasnya 'sesuatu' yang dimaksud adalah botol-botol racun, beberapa senjata dan hal-hal yang tidak biasa lainnya.


Sangat cocok dengan citra pembunuh bayaran yang dimaksud.


Kini mereka semua duduk dikursi yang ada disana, bersiap untuk menjelaskan tujuan dan informasi apa yang mereka inginkan. Namun ada hal yang cukup membuat tidak percaya ditempat itu.


Tentu saja itu adalah sikap Derrick yang tiba-tiba berubah menjadi lunak, dan Altair yang duduk dipangkuannya tanpa rasa khawatir sedikit pun.


" Makanlah kue ini."


" Apa yang diatasnya itu jeruk?"


" Bukan, itu adalah Grapefruit."


" Itu terlihat seperti jeruk bagiku."


" Ya, anggap saja seperti itu."


Interaksi keduanya sama sekali tidak terlihat canggung meski katanya sudah lama tidak bertemu. Ditambah, mereka berdua sangat dekat. Mereka mungkin menganggap itu hubungan kakak-adik yang baik, tapi dimata orang lain mereka lebih mirip sepasang kekasih.


Sementara bagi Mira dan Yi yang memiliki jalan pikiran serupa, itu terlihat lebih seperti ke singa yang memberi banyak makanan kepada kelinci untuk membuatnya jadi gemuk.


" I-imutnya..."


...Mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak berpikir seperti itu.


" Ini pemandangan yang tidak pernah kupikir akan kulihat darimu. " Israhi pun akhirnya memulai percakapan setelah sekian lama melihat tontonan aneh itu.


Dan itu, langsung menarik perhatian Derrick. " Yeah, aku juga tidak pernah berpikir untuk menunjukan ini padamu." sahut Derrick pula.


Derrick pun menaruh garpu yang ada ditangannya dan mulai bertanya, " Jadi apa yang ingin kau tanyakan?"


" Kami mencari informasi sebuah kelompok. " Altair pun ikut menyahutinya.


" Sebuah kelompok?"


" Iya. Apa kakak pernah mendengarnya...? Tentang kelompok bernama 'Bintang Fajar'?"


Derrick sedikit tersentak, ekspresi wajahnya pun berubah seketika. Dia sedikit meragukan pendengarannya, tapi sepertinya yang ia dengar itu tidaklah salah. "..Kau bilang... bintang fajar?"


...***********...



* Derrick Cashel