
Dikamar yang dipakai oleh Derrick, mereka bertiga akhirnya sampai ke sana untuk menepati kata-kata Israhi. Dimana Derrick akhirnya menunjukan luka yang ia miliki kepada mereka.
Itu adalah luka yang cukup serius. Hampir seluruh tubuhnya dibalut oleh perban yang kini mulai terutupi oleh darah dari lukanya sendiri. Dan beberapa bagian tubuhnya pun berubah dipenuhi oleh bercak hitam dan mulai melepuh. Baik itu Israhi maupun Altair yang melihat nya memasang ekspresi yang serupa, awalnya mereka tidak yakin.. tapi setelah melihat nya sendiri itu benar-benar sangat buruk.
Israhi yang pertama angkat suara setelah melihat hal itu, " Kau bilang ini baik-baik saja? Derrick, apa kau sudah gila?." ia terlihat kesal dengan kenyataan yang ingin disembunyikan nya itu.
Disisi lain, Derrick hanya menatapnya dengan wajah acuh tak acuh. " Tidak ada yang bisa dilakukan meski aku memberitahukannya pada kalian juga."
Dan kata-kata itu tidak diterima dengan baik oleh Israhi, siapa juga yang suka jika orang yang dikenalnya jadi seperti itu dan tidak mengatakan apapun.
" Kau tahu apa racunnya, kan?!" Israhi berteriak cukup keras sampai terdengar seperti sentakan. Itu pertama kalinya dia marah sampai seperti itu. " Itu adalah racun yang tidak bisa kau sepelekan dengan mudah!."
" Aku tahu. " sahut Derrick pelan, dia sudah mencari tahu sejak dulu. Tentang segala racun dan penawarnya. "....Ini adalah malam gelap." lanjutnya pula.
'Malam Gelap', itu adalah sebutan yang diberikan kepada sebuah bunga langka yang hanya tumbuh didunia iblis. Ia memiliki kelopak bunga hitam pekat yang seperti kegelapan dan daun hijau gelap yang senada dengan bunganya.
Aroma bunga itu begitu semerbak, terutama ketika malam hari dibulan purnama menurut waktu dunia iblis. Itu bisa menyebabkan halusinasi dan gangguan tidur yang parah, bagian bunga nya bisa menyebabkan kecanduan dan jika secara tidak sengaja dikonsumi bisa menyebabkan kelumpuhan yang sulit diatasi. Bagian daun, batang dan akarnya bisa membuat 10 orang dewasa mengalami kejang dan penyakit yang sulit untuk sembuh. Bagi orang yang memiliki fisik yang lemah, semua itu tidak akan berlaku dan orang itu akan langsung menemui sang pencipta.
Namun, yang paling berbahaya adalah, jika seluruh bagian dari bunga itu diekstrak bersama. Itu benar-benar akan menjadi racun yang sangat mematikan, yang bahkan disebut bisa membunuh seekor naga dengan satu botol kecil nya saja, itu akan membunuh dengan cara yang perlahan namun pasti. Ciri dari orang yang terkena racun ini adalah bagian tubuhnya mulai menghitam dan melepuh, disertai dengan mulai melemahnya tubuh dan segera setelah itu korbannya akan kehilangan tenaga untuk menggerakan satu inci mana pun bagian tubuhnya. Biasanya racun itu akan memakan waktu 5 hari untuk membunuh seorang dengan gelar master.
Dan hingga saat ini, belum ada satupun penawar yang bisa menyembuhkan racun dari 'Malam gelap'. Efek dari nya lebih mirip seperti sebuah kutukan daripada racun pada umumnya.
Bunga itu adalah bunga yang bahkan para iblis waspadai karena tidak bisa mengatasi efeknya.
Dan sekarang orang yang ada dihadapan mereka terkena racun itu, Derrick yang itu. Israhi tidak bisa memikirkan kemungkinan paling buruk yang lain sekarang, melihat nya masih terlihat seperti biasa dan bisa berjalan-jalan sesuka hatinya adalah sebuah keajaiban.
Normalnya orang biasa akan langsung terbaring tak berdaya karena hal ini...
" Sial.. katakan sejak kapan kau terkena racun ini dan seberapa banyak..?" tanya Israhi terdengar frustasi, ia mengusap wajah nya dengan kasar tidak tahu lagi harus melakukan apa.
Derrick yang ditanya pun terlihat memikirkan hal itu dengan seksama, sebelum ia menjawabnya. Melihat hal itu, tanpa diberitahu lagi pun Israhi yakin itu sudah cukup lama.
" Orang bodoh ini, apa dia ini monster atau semacamnya? Bagaimana bisa dia masih hidup sekarang setelah terkena racun 'malam gelap' seperti itu..?!" Israhi tidak bisa berkata-kata karena hal itu.
Kepalanya terlalu pusing hanya dengan pembicaraan tidak nyambung dengan orang tidak responsif dihadapannya ini. Ia baru sadar ketika Altair mengambil langkah dan mendekati Derrick yang duduk dihadapan mereka saat ini.
" Tidak ada gunanya juga kita mendebatkan hal ini. " ucapnya yang kemudian membantu Derrick membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. "...Berbaring dengan benar, kak. Aku akan melakukan pengobatan padamu sekarang. " lanjutnya kemudian.
Mendengar hal itu memancing ekspresi tidak yakin keluar diwajah Derrick, " Altair... Racun ini tidak bisa disembuhkan.." ucapnya entah kenapa terdengar pasrah.
Namun Altair hanya tersenyum padanya, lalu ia pun berkata. " ....Tidak ada yang tidak bisa disembuhkan didunia ini, kau hanya harus tahu cara untuk menyembuhkannya. Juga tidak akan tahu kalau kau tidak mencobanya." Altair tidak ragu sama sekali.
" Apa kau benar-benar bisa melakukan nya..?"
" Apa kakak bercanda? Aku ini apoteker terhebat di Foldes."
Altair tidak meragukan kemampuannya sama sekali, karena bahkan Kaisar mengakui bakatnya. Dan kelompok alkimia di Foldes memanggilnya jenius.
****
Sementara itu diruangan sebelumnya, Mira dan teman-teman Israhi yang lainnya masih menunggu dengan tenang. Beberapa menggunakan itu untuk memeriksa catatan soal kelompok Bintang Fajar yang sebelumnya ditunjukan Derrick sebelum pergi. Disisi lain, Mira mengisi waktunya dengan mengelap pedang besar kesayangannya.
" Nona Mira, kau terlihat sangat menyayangi pedang itu." ucap Aksa sedikit menggodanya.
Mira yang mendengar itu pun menoleh kearahnya dan terkekeh. " Iya, aku menyukainya. Ini adalah hadiah yang diberikan oleh Kaisar dan Ratu terdahulu padaku." jawabnya
Dan itu langsung membuat mata Aksa berbinar terkagum-kagum. " Boleh aku menyentuhnya! Apa boleh?! Kumohon!." Dia langsung mendekatinya dengan terburu-buru, seperti anak anjing kepada pemiliknya.
Mira yang melihat itu tersenyum senang, mengingatkannya kepada Altair dulu. Dan ia pun menganggukkan kepalanya kepada Aksa setuju.
Aksa kelihatan begitu terpukau karena pedang itu, dia adalah fanatik paling besar Kaisar Ethan dan Ratu Quennevia. Dia akan selalu bereaksi seperti itu terhadap semua yang berhubungan dengan mereka dan 'para pahlawan' yang mendampingi keduanya memberantas kejahatan.
Bahkan Israhi dan Yi tidak bisa menghentikan tingkahnya yang satu ini dan hanya membiarkan nya saja asal tidak menimbulkan masalah.
" Ngomong-ngomong... apa Altair bisa melakukannya tidak ya??" ucap Yi yang langsung membuat semua perhatian terkunci padanya.
Raut wajahnya terlihat tidak yakin dan khawatir, " Melihat dari sikap Israhi tadi, sepertinya luka Derrick cukup parah. "
" Apa mereka dekat?? Kupikir saat melihat sikap orang-orang dibawah tadi hubungan mereka tidak baik. " ucap Mira penasaran.
" Tidak juga." Yi pun menimpalinya, " Mereka cukup dekat kurasa, hanya saja cara mereka mengungkapkannya itu tidak biasa." lanjutnya.
" Ngomong-ngomong... aku juga cukup khawatir.." ucap Aksa pula yang kemudian menarik perhatian mereka yang ada disana. ".. apa sebaiknya aku ikut melihat, siapa tahu aku bisa membantu."
Itu ide yang bagus. Elf dikenal dengan keahlian mereka dalam pengobatan, mereka murni, terhubung dengan alam dan hebat dalam membedakan dan mengolah bahan obat untuk penyembuhkan penyakit atau racun.
" Baiklah.." Aksa pun segera bangun dari duduknya dan berjalan keluar dari sana.
***
Disisi lain, Altair telah melakukan persiapan untuk mengobati Derrick diruangannya. Termasuk selesai membongkar semua barang dan obat yang bisa ia gunakan untuknya. Ia pun mengambil sepasang sarung tangan putih dan memakaikannya ke tangannya.
Dan Israhi baru saja keluar dari kamar mandi sambil membawa sebuah wadah berisi air, " Altair, aku sudah mencuci dan merendam nya dengan air hangat sesuai yang kau minta." ucapnya berjalan mendekati Altair.
Altair yang mendengar nya pun menoleh kearah Israhi, tersenyum dan menjawab. "Terima kasih, sisanya akan kulakukan sendiri."
Israhi menaruh wadah air itu diatas sebuah meja didekat Altair, ia menatapnya sejenak. Benda didalam wadah dengan air hangat itu adalah puluhan jarum kecil, ia penasaran dengan apa yang akan Altair lakukan sampai suara Altair kembali menyadarkannya.
" Aku ingin bicara dengan orang yang tadi bicara denganmu."
" Ya? Apa...?"
" Orang yang bicara denganmu. Bisa kau membawanya kesini sebentar??"
Sepertinya Israhi tahu apa yang akan dia lakukan, yah dia juga penasaran. "...Baiklah." ucapnya sambil menganggukkan kepalanya, kemudian berjalan kearah pintu.
Disaat yang sama ketika ia membuka pintu, Aksa ada diluar sana hendak masuk ke dalam.
" Oh, kau akan pergi??" tanya Aksa padanya ketika mereka saling berhadapan.
Israhi pun menganggukkan kepalanya pada Aksa, " Iya, untuk membawa tikus kecil." jawabnya singkat kemudian benar-benar pergi.
Aksa hanya menatapnya yang berjalan pergi dengan kepala miring, kemudian ia pun masuk dan menutup pintu untuk memaksimalkan konsentrasi Altair didalam sana.
" Altair, apa kau perlu bantuan?" tanyanya langsung kepada Altair.
" Hm? Boleh, ayo kesini."
" Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
" Aku akan melakukan akupuntur untuk menekan racunnya sementara, aku sudah memberikan kak Derrick obat penghilang rasa sakit untuk meminimalisir rasa sakit yang mungkin timbul karena pembusukannya, sekarang dia sedang tidur. Lalu, aku perlu sempel darah dan racun nya untuk dianalisis. Setelah itu, baru aku bisa membuat obat penawarnya dengan komposisi yang tepat." jelas Altair panjang lebar.
Aksa yang mendengarkannya pun mengangguk dan merasa itu cara yang bagus, setidaknya racun itu bisa dihalangi meski cuma sebentar. Itu juga memberi Altair waktu untuk membuat obat penawarnya, meskipun... itu pasti akan sangat sulit.
" Baiklah, tapi aku tidak tahu soal titik akupuntur nya karena tidak mempelajari hal itu. Jadi kau yang menusukkan jarumnya, ya?"
" Oke.."
***
Sementara itu diaula Guild setelah kedatangan Altair dan Israhi, mereka berkumpul untuk membicarakan masalah ini karena gelisah. Derrick yang mereka kenal tentu tidak suka jika ada orang yang tahu dia terluka, apalagi karena itu bisa menyebabkan kerusuhan dimana orang-orang yang memusuhi mereka menyerang ketika dia lemah.
Karena itu mereka tetap waspada meski terbiasa dengan sikap Israhi yang keluar masuk Guild sesukanya.
" Bagaimana ini wakil ketua? Apa kita harus tetap membiarkan mereka dengan ketua?"
" Kita tidak bisa mempercayai mereka sepenuhnya meski tuan Israhi dan ketua sudah mengenal sejak lama."
" Tapi, kelihatannya ketua dan anak perempuan itu sangat dekat kan? Dia bahkan memanggil nya dengan sebutkan kakak? Atau... mereka memang bersaudara??"
Namun wakil ketua mereka, Ian Blois, menggelengkan kepalanya menanggapi itu. " Tidak, yang aku tahu ketua tidak punya satupun keluarga yang tersisa." ucapnya menyangkal pernyataan itu, dia adalah orang yang sebelum nya sempat beradu argumen dengan Israhi.
Orang yang duduk diposisi wakil ketua sekaligus tangan kanan Derrick, dan orang yang mengurus tempat itu jika Derrick tidak ada ditempat nya. Tentu saja dia jadi orang yang paling setia.
Ian bukannya tidak mengerti dengan perasaan anggota yang lain, ia juga khawatir. Namun jika itu adalah hal yang dilakukan oleh Derrick, dia hanya bisa percaya.
" Aku harap ketua baik-baik saja, sekarang kami harus bagaimana...??"
" Oi!"
Perhatian orang-orang disana pun langsung teralihkan ketika suara itu muncul, semua orang dengan serempak mengalihkan pandangan mereka kelantai atas dimana asal suara itu berasal.
Disana, tepat diatas sana, Israhi menunggu sambil bersandar kepada pagar yang ada dihadapannya. Menatap balik kearah mereka, kemudian ia berkata... " ...Ian Blois, nona kecil ingin bicara denganmu." nada suara Israhi masih sama seperti biasanya, itu tidak sombong ataupun merendahkan. Masih sama dengan sosok netral yang tidak membeda-bedakan apapun seperti yang mereka kenal.
Sementara itu, Ian menelan ludah dalam kegugupan mendengar itu. " 'Nona kecil'... kalau begitu.."
Hanya ada satu orang yang bisa diartikan nona kecil ditempat itu sekarang, orang yang diakui oleh Derrick sendiri beberapa saat yang lalu.... Altair.