
" Kak Derrick sedang keluar."
Suara tenang dan manis itu mengisi aula yang panas, membuat suasana tegang pun kembali tenang. Semua mata pun langsung beralih menatapnya, gadis muda yang cantik berjalan menuruni tangga dengan tegas. Membuat semua orang terdiam ditempat mereka tanpa bisa mengalihkan pandangan mereka.
Disisi lain, Mira hanya tersenyum lega karena nya. Altair datang tepat waktu, dan dia tidak sendirian, Israhi dan Ian ada tepat dibelakangnya.
Altair terus berjalan sampai ke hadapan orang-orang itu kemudian kembali berkata, " Kak Derrick ada diluar, dan kami tidak bisa mengatakan kemana ia pergi demi menjaga privasi. Jadi jika kau ingin bertemu dengannya, tolong tunggu waktu dimana ia kembali dan silahkan datang lagi." ucapnya berusaha sesopan mungkin karena ini adalah pertemuan pertama mereka.
Dan itu langsung menyadarkan para pengganggu yang datang ke sana, pemimpin mereka pun kembali bicara. " Begitukah. Lalu, kau ini siapa?" tanyanya kepada Altair terlihat tertarik.
" Aku Altair, adiknya." jawab Altair singkat.
Namun sepertinya itu membingungkan bagi mereka...
" Ah, apa Derrick memiliki saudara??" Widen menoleh kearah teman-temannya dengan ekspresi bertanya-tanya.
Tapi Siran menggelengkan kepalanya tidak tahu tentang itu, " Entahlah, yang kutahu dia yatim piatu. Hanya itu."
" Itu aneh. Kami tidak pernah mendengar tentangmu sebelumnya, dimana Derrick menyembunyikanmu selama ini..??"
Altair ingin bilang diistana kekaisaran, tapi jika seperti itu malah akan gawat untuknya. Dia bisa saja dikejar-kejar orang merepotkan saat tahu dia punya hubungan dengan keluarga kekaisaran...
" Aku pergi menjelajahi labirin bersama guruku." pada akhirnya dia berbohong seperti itu.
" Oh begitu, tidak mengherankan kau jadi punya kehadiran yang kuat."
Dan orang itu sepertinya mempercayainya setelah melihat aura samar Altair yang masih terlihat, meskipun ia telah menyembunyikan kekuatannya.
Altair juga tidak ingin mengulur lebih banyak waktu dengan percakapan sia-sia ini, jadi dia langsung keintinya. " Karena urusan kalian sudah selesai, silahkan pergi dari sini." Altair pun berbalik pergi dari sana, tapi sesaat kemudian ia berhenti sejenak dan kembali menoleh. " Oh...! Dan bilang kepada ketua guild kalian, kalau aku menunggu surat permintaan maafnya secara resmi, karena kalian telah membuat keributan disini." ucapnya sambil menatap orang-orang itu dengan tajam.
" Ha. Padahal orang-orang mu yang berniat memukul kami lebih dulu, tapi kenapa kami yang justru harus meminta maaf." perempuan yang ikut dengan mereka, Ninia, itu mulai bicara dengan sombong sambil memainkan rambutnya tidak mengerti dengan situasi disana.
Sementara Altair hanya menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi...
" Kami hanya bertanya dimana Derrick berada, jadi kenapa dia marah? Ada perbedaan yang jelas antara orang pemarah dan orang barbarian. Kau yang menggantikan posisi Derrick seharusnya tahu itu, kan?" dia meremehkan Altair dan orang-orang diaula saat ini.
" Beraninya kau...!!"
Itu kembali menyulut emosi orang-orang, namun Altair mengangkat tangannya sebelum ada perkelahian lain. Melihat itu membuat semua orang sontak kembali diam, semua yang ada disana sudah memahami posisi Altair sekalipun dia bukan anggota mereka.
Altair pun mengangkat kepalanya dengan angkuh dan menatap mereka kebawah, kemudian menaruh jari tangannya didepan mulutnya. " Oh iya? Aku tahu itu. Tapi... kalian lah yang datang kemari tanpa pemberitahuan dan sopan santun, kemudian bicara seenaknya dan menaburkan minyak tanah didekat api. Apa kau tahu? Ada perbedaan yang sangat tipis antara ceroboh dan benar-benar bodoh. Aku jadi bingung, yang barbarian itu kami atau justru diri kalian sendiri." itu adalah kesombongan yang ia pelajari diantara para bangsawan.
Altair bisa melihat Ninia dan teman-temannya tersentak kaget setelah mendengar perkataanya, sesaat kemudian wajahnya memerah karena malu sendiri. Dia mungkin mengadari maksud perkataanya. Tidak ada gunanya dia berpura-pura sok menggunakan kata-kata yang anggun seperti seorang bangsawan jika dia bahkan tidak bisa memandang lawannya dengan benar.
Dia hanya akan terjerumus semakin dalam.
Altair juga bisa melihat nya dengan jelas, teman-temannya yang lain mungkin memang datang untuk mencari masalah. Namun wanita itu berbeda... mata yang penuh dengan hasrat dan keinginan tersembunyi, dia mungkin datang untuk menggoda Derrick atau semacam nya.
Altair hanya menghela nafas karena hal itu, kemudian kembali bicara. " Ini toleransi terakhirku, silahkan pergi dari sini dan kembali saat kak Derrick ada ditempat." ucapnya dengan tegas.
Tapi Ninia sepertinya tidak berniat mundur dari sana begitu saja, " Jangan sombong dulu, kau anak kecil. Apa kau pikir kau bisa bertahan jika mencari masalah dengan Guild kami?" ucapnya sambil menatap Altair penuh kebencian.
" Entah apapun itu, baik Guild maupun sebuah kota, aku bisa meratakannya kapanpun selama aku mau." Altair tidak peduli dengan itu.
" Apa kau bisa mengatakan itu bahkan setelah memulai perang dengan kami?!!" perkataan Altair itu balik memprovokasi Karol, membuatnya menatap Altair dengan begitu marah.
" Beraninya kau meremehkan guild kami!!." Siran juga sama dengannya.
" Nona Altair, kau memprovokasi orang yang salah. " dan Widen mulai memperingatinya.
Orang-orang itu kini mulai kehilangan ketenangan mereka, dan balik menggeram seperti binatang buas kepada Altair. Berbeda dengan Altair yang lebih tenang... nyaris tanpa ekspresi menghadapi mereka.
" Kami akan menganggap ini tidak terjadi jika anda memberikan kompensasi yang jelas." ucap Widen yang memimpin mereka kemudian.
" Omong kosong apa yang kau katakan! Kalian yang membuat masalah disini dan kalian yang ingin mendapatkan kompensasi?! Dasar bajingan picik!" Ian yang mendengar itupun langsung naik pitam. Para anggota lainnya pun bersorak dengan marah karena hal itu.
Sepertinya memang itulah tujuan awal mereka, hanya saja mereka tidak menyangka kalau Altair akan muncul dan ikut terlibat dalam masalah ini.
" Jika kalian tidak ingin melakukan nya, maka perang tidak akan bisa dihentikan." ah, dia seorang pemeras.
" Jadi apa kau pikir kami takut?" Bahkan Israhi yang sedari tadi diam saja pun mulai bicara.
" Ini adalah masalah kehormatan, jadi-...."
" Jadi, apa kau benar-benar menginginkan perang?" Altair memotong ucapannya sebelum orang itu selesai bicara.
Dia berdiri diam dengan wajah gelap hingga orang-orang tidak yakin dengan ekspresi yang ia buat saat ini. Meski begitu, enteh kenapa suasana ditempat itu sekarang berubah menjadi dingin.
Widen merasa gugup untuk sejenak, kemudian kembali bicara. " ...Itu adalah hal yang anda mulai sendiri."
Tantangan yang tidak berarti...
"..... Begitu ya. Apa kalian ingin mencobanya?"
...Dihadapan kekuatan mutlak.
" Khukk..!!"
" Bagaimana mungkin... Kekuatan seperti ini...!!"
" A-Aku tidak bisa bernafas...!"
Itu kekuatan yang sangat besar. Orang-orang tidak percaya kalau kekuatan itu keluar dari anak kecil yang ada dihadapan mereka, bahkan untuk Israhi dan teman-temannya, itu hal yang tidak bisa diterima akal sehat.
Sementara Altair hanya diam menatap orang-orang dihadapannya itu dengan tatapan tajam yang dingin, dia benar-benar marah karena dibuat jengkel dengan berbagai hal dalam sehari. Kemudian ia mengangkat tangannya hendak melakukan sesuatu, saat....
" Altair...." suara itu menghentikannya.
Aura berdarah itu menghilang dan tekanan yang ada diangkat. Orang-orang pun langsung terjatuh dilutut mereka diatas lantai, masih menatapnya tidak percaya. Sementara itu, Altair menoleh kearah lain.
" Ada apa, guru??" tanyanya dengan suara tenang kepada Mira yang masih ada ditempatnya, bersama dengan Remilia dan Yi yang juga menatapnya terkejut.
Sementara itu, Mira meminum bir yang ada untuknya dengan santai kemudian melirik Altair dengan sebelah mata yang tertutup.
" Padahal Derrick menyuruhmu yang jadi bertanggung jawab, tapi kau mengerahkan kekuatan seperti itu disini. Apa kau ingin menghancurkan aura guild dengan itu??" ucapnya dengan santainya.
" Ah..!!" Sementara Altair baru tersadar dengan itu, dia tidak berpikir kalau tempat ini akan runtuh begitu saja ketika dia mengerahkan kekuatan nya. " ...Jika aula guild nya hancur, kak Derrick mungkin akan sedih.." gumamnya pula dengan ekspresi bingung yang masih didengar oleh orang-orang.
Dan itu membuat mereka langsung menatap Altair dengan aneh, tidak mungkin juga Derrick akan sedih karena itu kejadian yang sudah biasa terjadi disana.
Disisi lain, Altair memikirkan itu dengan seksama. Kemudian menganggukan kepalanya setelah menemukan sesuatu, " Baiklah, kalau begitu... " ucapnya menggantung.
Dia berbalik pergi menaiki tangga sambil berkata, " Zico, lempar orang-orang itu keluar dari sini." ucapnya entah kemana.
Orang-orang bertanya-tanya dengan itu, sampai saat orang-orang yang membuat masalah itu tiba-tiba terangkat keudara...
" Ini..!! Apa yang..!"
" Hentikan!.."
" Aaghh...!!"
Dan mereka dilemparkan keluar dari sana, kemudian pintu pun tertutup rapat. Orang-orang hanya diam dengan ekspresi tercengang karena itu...
Begitu pula dengan Ian, sampai suara Altair menyadarkannya. " Ian... Informasi yang kutanyakan tadi..."
" A-Ah! Saya akan membawakannya kepada anda." jawab Ian sedikit gugup dengan itu.
Sementara Altair yang kini sudah ada diatas hanya menganggukan kepalanya kemudian berkata, " Aku akan menunggu diruangan kak Derrick."
" Ba-baiklah.."
Orang-orang pun sedikit menghela nafas lega karena itu, Altair benar-benar tidak bisa disepelekan. Namun mereka juga bersyukur karena dia telah membantu mereka menyelesaikan masalah ini.
Namun masih ada hal yang membuat mereka bingung, " Dari mana anda menemukannya??" tanya Ian kepada Israhi yang berdiri diam disampingnya.
Israhi pun meliriknya kemudian berpikir sebentar, " Kurasa saat dia baru keluar dari ibukota kekaisaran Foldes, karena dia tidak tahu tentang dunia luar. Dan dia bersama dengan ketua pasukan pertama kekaisaran." ucapnya dengan santai.
Sementara Ian melotot karena terkejut dengan itu, " Jadi.. wanita yang dipanggilnya guru itu..?!!"
" Iya, Dia Mira Marlon, salah satu dari pahlawan benua 100 tahun lalu."
Perhatian mereka pun langsung tertuju kepada Mira dan Yi yang sedang tertawa karena menjahili Remilia dengan cabai pedas.
Sementara itu, Ian sedang menerka-nerka identitas Altair. Mendengar sekilas saja dari Israhi, dia jadi yakin kalau Altair punya hubungan dengan keluarga kekaisaran. Mungkin saja karena itu dia tidak tahu soal dunia luar karena identitas dan lingkungan tempat nya timbuh yang terjaga.
Meski begitu... bagaimana bisa anak yang belum pernah terjun kedunia luar memiliki kekuatan sebesar dan seberbahaya itu. Ian jadi harus semakin berhati-hati untuk tidak menyinggungnya...
***
Disisi lain, Altair. Dia sedang duduk bersandar ke kursi dan menutupi wajahnya dengan sebelah tangan. Dia sedang mendengarkan Zico mengomel didalam kepalanya...
" ...Aku tahu Zico, tapi tidak adil jika hanya aku dan kau diam saja." gumamnya sendiri diruangan itu, Zico sedang mengeluh karena permintaan Altair tadi, dia merasa itu merepotkan padahal Altair bisa melakukan nya sendiri.
" ...Lumine sedang meneliti kekuatan asliku, jadi jangan ganggu dia."
Altair menghela nafasnya dengan lelah kemudian duduk tegak..
" Zico, jangan jadi pemalas. Atau aku benar-benar akan memanggilmu kadal seperti tuan Ansel..."
Altair tidak mendengar rengekan lagi, dia menang. Zico paling tidak suka kalau dia dipanggil kadal, atau ditinggalkan oleh Altair.
Tapi tetap ada yang mengganggu Altair. Hari ini dia sangat kesal sekali...
Dimulai dari Derrick yang diserang dengan racun, lalu orang-orang remehan yang menantangnya tadi. Altair benar-benar amat sangat kesal.
Ia pun menumpu kedua tangannya diatas pegangan kursi dan menyatukan keduanya. Altair sedikit membungkuk dan membuat tangan itu ada didepan wajahnya, Altair berpikir....
" Aku harus membuat orang-orang itu segera membayar kesalahan mereka... Dengan harga yang setimpal...!" ucap batinnya dengan tatapan yang begitu tajam.