
Mereka akrab dengan cepat, sambil melupakan kesalahpahaman yang sebelumnya terjadi Altair menceritakan tentang desanya dimasa lalu. Meski sekarang ini tempat itu hanya menjadi pemakaman yang penuh dengan bunga mawar.
Mawar-mawar itu ditaman atas perintah kaisar, demi mengenang desa yang disebut sebagai surga mawar itu...
" Oh, iya. Apa Milya punya musuh?? Kupikir karena itu kesalahpahaman terjadi." tanya Altair meski ragu.
Mylia yg mendengarnya pun tersenyum dan menunduk, kemudian ia pun menjawab.. " Iya, orang-orang jahat yang sudah lama merusak dunia ini. Mereka mempunyai rancana jahat, tapi aku belum tahu apa itu. " jawabnya.
" Karena itu Mylia mencari mereka?? Apakah rencana mereka benar-benar seberbahaya itu??" Altair makin penasaran dengan hal itu, apalagi melihat Mylia yang berusaha menahan sesuatu. Terlihat dari bagaimana ia mengepalkan tangannya saat ini.
" Aku kurang yakin, tapi mereka sedang mencari sesuatu. Mereka bilang itu adalah harta karun yang ditinggalkan Dewa. " jawab Mylia.
" Harta karun... yang ditinggalkan dewa.." gumam Altair agak bingung.
" Iya, meski dibilang harta karun, nyatanya dia adalah manusia. Kelompok itu, bernama kelompok Bintang Fajar, nama yang tidak cocok dengan tujuan mereka." sahut Mylia pula.
Dan itu membuat Altair sangat terkejut, " Tu-Tunggu... Kau bilang mereka kelompok Bintang Fajar?!" tanyanya memastikan lagi.
" Iya, ada apa..?" jawab Mylia bingung.
Sementara Altair, saat ini mengerutkan keningnya marah. Dia ingat pembicaraannya dengan Yin beberapa waktu yang lalu..
_- Flashback...
Saat itu, Altair menanyakan tentang orang-orang yang menyerang desanya..
" Hm? Identitas orang-orang yang menyerang desamu?? Mereka berasal dari kelompok Bintang Fajar. " jawab Yin terhadap pertanyaan nya itu.
" Kelompok Bintang... apa?"
" Kelompok Bintang Fajar, mereka adalah sekelompok orang-orang sekte sesat yang menyembah dewa yang terbuang. Mereka bertentangan dengan kita semua yang mengagungkan para dewa yang masih dalam lingkup empat dewa utama. Karena itu mereka dianggap kelompok sesat dan harus dimusnahkan. Agar tidak mengundang bencana di dunia." jelas Yin panjang lebar kepada Altair.
" Lalu, kenapa tidak dimusnahkan? Bukankah dengan kekuatan Foldes dan Chrysos yang adalah dua kekaisaran terbesar dibenua saja bisa melakukan nya dengan mudah." tanya Altair.
" Tidak semudah itu Altair, kami belum tahu tujuan, kekuatan dan siapa saja yang terlibat dengan kelompok itu. Jika kita gegabah, bisa-bisa malah kita sendiri yang rugi. " jawab Yin pula.
Sementara itu Altair hanya menundukan wajahnya kesal, dia ingin segera melihat kelompok itu musnah dari dunia ini. Orang-orang yang telah menyakiti keluarga nya. Yin juga tahu hal itu, ia pun kemudian menyentuh pundaknya. Membuat perhatian Altair jadi tertuju padanya.
" Altair, aku tahu apa yang kau rasakan. Tapi tolong bersabarlah, kita pasti akan menghilangkan mereka segera. " ucap Yin yang kemudian diangguki oleh Altair.
_- Flashback off
Altair masih merasa baru kemarin ia membicarakan hal itu dengan Yin, sekarang ia tahu lebih banyak dari Mylia.
" Altair... " panggil Mylia yang membuyarkan lamunan Altair.
Altair pun menoleh kearahnya sambil tersenyum, " Iya?"
" Ada apa? Kau kelihatan resah." ucap Mylia padanya.
" Ah... sebenarnya, tempat ini jadi seperti ini pun karena kelompok itu. " ucap Altair sedih, dan itu membuat Mylia sangat terkejut.
" Tentu saja, seperti yang kau dengar hanya aku yang selamat dari tempat ini. Semua orang yang kusayangi telah tiada dimalam itu." ucapnya pula.
Mylia pun meraih tangannya dan menggenggamnya, " Altair.. maafkan aku, aku malah mengungkit ingatan tidak menyenangkan mu." ucapnya merasa bersalah.
Tapi Altair menggelengkan kepalanya, " Tidak. Ini bukan salahmu, lagipula... aku senang karena hal ini aku bisa mengenal temanku lebih banyak." sahutnya sambil tersenyum.
Sementara Mylia terdiam lagi, 'Seorang teman' sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan selama ini, karena ia hanya fokus untuk melakukan misinya melawan orang-orang itu.
" Kau.. mau aku jadi temanmu?" tanya Mylia.
" Tentu saja, kau mau kan?" tanya balik Altair dengan senyuman lembutnya.
Itu membuat Mylia agak terharu. " Tentu saja. " jawabnya yang benar-benar bahagia.
****
Malam cepat berlalu, lalu pagi hari pun tiba tanpa disadari. Matahari terbit memancarkan cahaya hangatnya, dan bunga-bunga bermekaran ditengah embun dan cahaya keemasan dipagi hari.
Pagi ini, Altair sedang mencoba menulis surat balasan dikertas yang sama dengan yang datang padanya waktu itu.
" Hm... Baiklah, selesai!." Altair membacanya untuk memastikan kalau itu sudah bagus.
~[Terima kasih untuk saranmu, sayangnya dia tidak mau menjawab semuanya yang kutanyakan, justru pertanyaanku makin banyak. Aku ingin tahu siapa kamu, bisakah kita bertemu?]~
Altair tersenyum senang merasa itu sudah bagus, sekarang.... ia tidak tahu bagaimana cara mengirimkan surat itu.
" Uh.. andai saja Zico ada disini untuk mengajariku. Semalam aku menyuruhnya pergi ke istana untuk minta izin, tapi kenapa sampai sekarang dia tidak datang-datang juga." gumam Altair agak kesal.
Saat kemudian Altair dikejutkan dengan kertas itu yang melipat dirinya sendiri kembali menjadi bangau, bahkan bangau itu melompat-lompat ditangannya.
" Lu-Lucunya.." batin Altair. Ia pun berjalan kearah jendela dan melepaskan bangau kertas itu, yang mana langsung terbang sendiri tanpa ia perintahkan.
Disaat yang sama, ia juga melihat Zion yang datang dan mendarat tepat dihadapannya.
Kyuu...
Zico menyapa Altair dengan raut wajah kelihatan senang, namun kesenangannya hilang saat melihat wajah Altair justru kelihatan kesal melihat nya. Bahkan ia sampai melipat kedua tangannya didepan dada.
" Dari mana saja kau? Padahal aku menunggumu dari semalam, kanapa tidak datang-datang?" tanya Altair.
Kyuu...
Zico memalingkan wajahnya menghindari tatapan tajam Altair, dan beralasan dia tersesat. Namun kemudian Altair tiba-tiba menggenggamnya dengan kedua tangannya.
" Dasar bohong! Jelas-jelas masih ada sisa biskuit dimulutmu! Rupanya kau habis bersantai-santai sambil makan biskuit kan?! Dasar jahat! " sambar Altair marah.
Kyuu..
Zico pun menundukan kepala dan sayapnya dengan sedih, ia meminta maaf kepada Altair karena sudah berbohong. Altair yang melihat nya pun tidak bisa marah terlalu lama kepada nya, ia hanya menghela nafas kemudian memeluk dan mengusap nya.
" Kalau begitu jangan lakukan lagi. Kau tidak tahu betapa khawatir nya aku karena berpikir terjadi hal buruk padamu. " ucap Altair.
Kyuu...
Dan Zico pun menjawabnya..
" Oh benar, aku harus memetik tanaman obat!" Altair baru ingat hal itu.
Ia pun langsung melepaskan Zico yang mulai terbang dan mengambil sebuah keranjang yang sudah ia siapkan kemudian keluar dari ruangan itu. Ketika Altair memakai sepatunya, Mylia yang melihat nya pun bertanya.
" Altair, kau mau kemana?" tanyanya.
Altair pun menoleh kearahnya dan menjawab, " Aku akan memetik tanaman obat untuk mu."
" Kalau begitu aku ikut. " ucap Mylia pula.
" Eh? Tapi kau masih perlu istirahat. " sahut Altair kelihatan khawatir.
" Tidak apa-apa, hanya memetik tanaman obat 'kan? Lagipula akan membosankan jika disini sendiri. " desak Mylia.
Altair juga berpikir sepertinya tidak akan kenapa-napa jika dia ikut, karena hutan tempat nya biasa mencari tanaman obat juga tidak jauh dari sana.
" Baiklah, tapi jangan memaksakan diri, ya." ucap Altair menyetujuinya.
" Tentu." jawab Mylia pula mengiyakan.
Jadi mereka berdua pun pergi kehutan bersama untuk memetik tanaman obat...