
Saat ini Altair masih berada di ruang takhta, berdua saja dengan Kaisar. Yin dan juga kedua pangeran sudah keluar dari sana karena keinginan Kaisar, padahal Altair tidak ingin di tinggalkan berdua saja disana. Ditambah sejak tadi Kaisar sama sekali belum mengatakan apapun, hanya diam sambil berdiri menatap keluar jendela dihadapan nya saat ini.
" Ya Tuhan, kenapa aku harus mengalami saat-saat tegang seperti ini?? " ucap batin Altair.
" Maaf, ya. Kau pasti merasa tidak nyaman. " ucap Kaisar yang membuat lamunan Altair buyar.
" Tidak, justru ini sebuah kehormatan bagi saya, Baginda. " jawab Altair dengan tenang, meskipun hatinya benar-benar tidak tenang.
Kaisar pun berbalik menatap Altair dan tersenyum, " Kemarilah, lebih mendekat sini padaku. " ucapnya.
Altair ragu untuk melakukan nya, tapi karena itu adalah keinginan Kaisar ia pun tidak bisa menolak nya. Altair pun berjalan lebih dekat dan berhenti disebelah Kaisar, ia ikut melihat kemana Kaisar melihat dari jendela itu. Sebuah taman bunga yang sangat indah.
" Cantiknya.. " ucap batin Altair.
" Itu taman Ratu terdahulu. " ucap Kaisar.
Membuat Altair menolah kearah Kaisar, " Ya? Taman Baginda Ratu?? " sahut nya bingung, ia tidak tahu Ratu yang mana.
" Aku yakin kau sudah dengar, tantang Baginda Ratu Quennevia La Sheillaveteos. Taman itu adalah hadiah dari Baginda Kaisar untuk beliau. " jelas Kaisar.
" Wah, Kaisar terdahulu terdengar sangat romantis. " ucap Altair yang kelihatan nya tertarik sekali mendengar nya.
" Menurut mu begitu?? Tapi sebenarnya, Kaisar terdahulu juga merupakan orang yang suka membuat kekacauan. " ucap Kaisar pula sambil menghela nafas panjang.
Hingga Altair hanya bisa tersenyum saja mendengar nya, " Memangnya boleh membicarakan Kaisar terdahulu seperti itu, ya. " ucap batinnya.
Altair tahu jika Kaisar di hadapan nya saat ini adalah orang yang membesarkan Kaisar terdahulu, tapi ia merasa kalau tidak seharusnya dia mengatakan keburukan Kaisar terdahulu sendiri kepada seseorang seperti dirinya.
" Kau sangat mirip dengan ibumu. " ucap Kaisar pula sambil memperhatikan Altair dengan seksama.
" Apakah anda mengenal ibu saya?? " tanya Altair dengan antusias, jika saja Kaisar benar-benar tahu siapa ibunya dia mungkin bisa memberi tahu dimana dia berada, itulah yang Altair pikirkan.
" Tentu saja aku tahu, tapi sayang sekali kami kehilangan kontak dengan nya. " jawab Kaisar.
" Begitu ya. " sahut Altair pula agak kecewa, hilang sudah harapan nya untuk menemukan nya. " Bagaimana... rupa ibu saya?? " tanya nya pula kepada Kaisar.
" Dia orang yang baik, dan penuh perhatian. Meskipun dia juga bisa dibilang orang yang kejam, tapi dia bukan orang yang semena-mena. Dia memilih rambut dan mata yang berkilau seperti mu, dia adalah wanita paling cantik yang pernah ku lihat, bahkan yang tercantik dibenua. " jelas Kaisar.
Mendengar kata-kata dari Kaisar, Altair jadi bisa sedikit membayangkan tentang ibunya, meskipun begitu ia masih penasaran seperti apa dirinya yang sebenarnya.
" Terima kasih untuk semuanya, Baginda. Juga karena telah mengizinkan saya tinggal di sini. " ucap Altair tiba-tiba.
" Apakah kau ingin pergi?? " tanya Kaisar.
" Saya.. tidak seharusnya ada di sini, saya juga harus mencari keberadaan orang tua saya. Tidak mungkin saya terus merepotkan anda dan juga Tuan Yin. " ucap Altair.
Kaisar menatap Altair yang ada di sebelah nya, mata Altair yang menatap sandu itu penuh kesedihan, tapi sama sekali tidak ada keraguan didalamnya. Akan tetapi... tidak mungkin ia membiarkan Altair pergi begitu saja dari sana.
" Tinggalah disini untuk beberapa waktu, kau tidak bisa pergi ke dunia luar begitu saja. Aku akan meminta Yin untuk mengajarkan beberapa hal kepadamu. " ucap Kaisar.
" Akan tetap... Baginda... " sahut Altair agak enggan menerima nya.
" Ini untuk kebaikan mu, Yin pasti sudah bilang kalau kau memiliki kekuatan yang besar bukan. Kekuatan mu itu terlalu besar dan bisa saja mengamuk jika kau tidak bisa mengendalikan nya. Tolong jangan menolak hal ini. " ucap Kaisar.
Akhirnya Altair pun menerima nya, " Baik, Baginda. " jawab Altair.
******
Setelah kepergian Altair dari ruang takhta, Kaisar masih berdiri di tempat nya menatap keluar jendela. Sementara itu Yin sudah kembali masuk ke dalam sana sesuai keinginan Kaisar.
" Tidak kusangka kalau dia akan ada di sini, padahal kukira dia tidak akan ditinggal sendirian. " ucap Kaisar.
" Apakah menurut anda ramalan itu akan jadi kenyataan?? Kita bahkan tidak bisa mengubungi beliau. " sahut Yin.
Kaisar tahu apa yang Yin khawatirkan, ia pun kemudian menjawab. " Jika hal tersebut benar-benar terjadi, maka kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk nya. Aku hanya berharap kalau hal tersebut tidak akan menyebabkan kehancuran pada dunia. " ucapnya.
Ramalan yang dimaksud oleh Kaisar dan juga Yin.. adalah peringatan untuk masa depan dari Kaisar terdahulu sebelum ia meninggalkan Kekaisaran. Ramalan akan adanya bencana di masa depan, dan kehancuran yang menyertai nya.
" Masalahnya adalah identitas Nona Altair, kan. " ucap Yin pula.
" Kau benar, dia adalah orang yang harus kita lindungi. Penampilan nya saja sudah menjadi masalah yang cukup besar jika dibiarkan, belum lagi soal kekuatan yang tertidur ditubuhnya. Itu benar-benar kekuatan yang sangat berbahaya jika tidak dikendalikan. " ucap Kaisar menyetujui hal itu.
" Mawar dengan duri beracun, kecantikan yang memanggil kematian,... ya. " gumam Yin.
" Yin, bantu dia untuk mengendalikan kekuatan nya. Meskipun tidak sepenuhnya, setidaknya agar dia bisa menggunakan nya dengan baik saja. Kirim surat juga kepada Akademi bintang utara, Kekaisaran Chrysos dan ketiga Klan itu, bilang kalau Altair ada bersama kita saat ini. Aku yakin pihak Akademi yang akan mengabari Penguasa hutan tantang ini. " ucap Kaisar pula.
Tiga Klan yang dimaksud oleh nya, adalah Klan iblis darah, Klan iblis bulan darah, dan Klan Kuno yang tinggal di hutan besar York.
" Baik. " jawab Yin dengan patuh.
" Ah. Kalau perlu... panggil perempuan itu juga untuk menjadi gurunya. " ucap Kaisar lagi dengan tiba-tiba.
" Apa?! " ucap Yin agak berteriak.
Nampaknya ia terkejut karena mendengar kalau Kaisar memintanya memanggilnya Perempuan itu kembali, orang yang sebenarnya tidak ingin ia temui lagi jika bukan terpaksa.
" Sebaiknya jangan panggil dia, Tuan Ning. Jika tidak, mungkin saja kalau seluruh istana ini akan hancur lebur nantinya. " ucap Yin dengan panik kepada sang kaisar.
Kaisar sendiri tertawa mendengar nya, " Hahaha... Kau memanggilku seperti dulu lagi, padahal saat ku minta kau tidak mau memanggilku seperti itu. " ucap Kaisar. Dan ya... dia adalah Ning.
" Aku akan melakukan apapun asal jangan panggil perempuan itu, dia hanya biang masalah!. " ucap Yin pula.
" Oho, aku jadi semakin ingin memanggilnya. Bagaimana ini?? " ucap Ning menimpali.
" Tidak!!... " teriak Yin, ia benar-benar menentang keras hal itu. Entah karena apa atau ada pengalaman apa hingga ia begitu tidak ingin bertemu dengan orang yang mereka bicarakan itu.
***
Disisi lain, perempuan yang sedang dibicarakan oleh Yin dan juga Kaisar Ning itu.. saat ini ada di sebuah bukit, menatap lurus kearah kota Kekaisaran sambil menunggangi tunggangan nya.
" Hm... Sudah lama tidak kembali, bagaimana keadaan kucing itu ya?? " ucap nya sambil tersenyum dengan misterius.