
Malam hari, setelah Altair bicara banyak hal dengan Yin, kini Altair tengah memperhatikan dirinya yang masih dalam rupa yang ditujukan Yin kepadanya. Ia sungguh tidak menyangka kalau wujudnya yang sebenarnya akan secantik sekarang ini. Rambut emas yang bersinar, mata hijau keemasan yang misterius, kulit putih yang memancarkan cahaya. Benar-benar sangat sempurna seperti seorang malaikat.
" Whaa.. Apa ini benar-benar aku?? " batin Altair bertanya-tanya.
Kemudian perhatian nya teralihkan ke sebuah tanda yang tiba-tiba muncul di dahinya, kalau ia perhatian tanda itu mirip seperti bunga red spider lily.
" Tuan Yin bilang kalau tanda ini adalah bukti jati diriku, juga bukti akan kekuatan ku. " batin Altair lagi.
Altair sampai bertanya-tanya seberapa besar kekuatan nya, sampai Yin mengatakan hal seperti itu kepadanya. Dan lalu.. Sebenarnya ada sesuatu yang membuatnya nervous saat ini. Itu terjadi sejak ia mendengar dimana dirinya sekarang.
Saat ini Altair ada di istana Kekaisaran. Benar, istana Kekaisaran Foldes, tempat dimana kaisar dan keluarga nya berada. Altair benar-benar sangat terkejut saat mengetahui hal itu, belum lagi Yin yang bilang kalau dia akan membawa Altair menemui Kaisar.
" Haahh... Banyak hal yang terjadi, dalam waktu yang singkat itu aku pun harus mencari jati diriku. Sebenarnya aku ini siapa?? Dimana orang tuaku?? Aku tidak punya tempat bersandar lagi, kakek dan nenek sudah tiada, begitu pula dengan paman Geas dan bibi Niell. Kalau sudah begitu alangkah baiknya aku pergi ke mana, tidak ada tempat yang bisa kusebut rumah yang ku tahu. " gumam Altair pula.
Altair tenggelam dalam pikiran nya, ia bahkan belum sempat berduka cita untuk orang-orang yang sudah membesarkannya di desa, juga teman-temannya. Dalam sekejap ia telah kehilangan segalanya.
Tak terasa air mata pun jatuh dari pelupuk matanya, andai saja ia bisa mengulang waktu dengan kekuatan yang sudah ia ketahui itu, Altair pasti bisa menyelamatkan semua orang yang ada di desa.
" Ah, benar juga. Surat dari kakek. " ucap Altair.
Ia pun mengusap air mata yang jatuh di pipinya itu, dan bangkit berdiri menghampiri sebuah meja yang ada didepan jendela. Altair pun menarik sebuah laci yang ada di susunan paling atas, Yin bilang semua barang yang dibawa Altair saat itu disimpan disana.
Altair pun kemudian mengambil kedua surat yang diberikan kakeknya, ia duduk di kursi depan meja itu dan membuka surat tersebut. Surat pertama yang ia buka adalah surat dari kakeknya...
[Untuk cucuku tersayang, Altair.
...Aku tidak terlalu pandai merangkai kata dalam menulis surat, tapi aku ingin menyiapkan surat ini jika saja ada situasi tidak terduga terjadi. Tak terasa bertahun-tahun berlalu dengan begitu cepat, semenjak kami bertemu dengan ibu kandungmu....
...Kau pasti akan terkejut sekali mendengar hal ini, tapi kenyataan nya memang seperti itu. Tetapi, janganlah membencinya. Dia wanita paling menyedihkan yang pernah kami lihat, dia terpaksa meninggalkan dirimu....
...Saat itu, dia datang menemui kami dimalam hari dengan tubuh penuh luka sambil membawamu yang masih sangat kecil di pelukan nya, dia meminta kami untuk membesarkan mu dengan air mata yang berlinang. Dia sangat mencintai mu. Meski aku tidak tahu situasi sebenarnya yang dihadapi oleh nya, tapi kasih sayangnya padamu sungguh tulus....
...Sebelum pergi, ibumu meninggalkan beberapa barang untuk mu. Yang pertama adalah sepucuk surat, yang kedua adalah kalung yang kutitipkan kepada Niell, dan yang ketiga adalah gelang yang ada bersama dengan surat yang kuberikan padamu....
...Carilah dia Altair, carilah keluarga mu yang sesungguhnya. Temukan kebahagiaan mu yang sebenarnya, kami juga tetap akan bersamamu apapun yang terjadi....
...Akhir kata : Kami sangat-sangat menyayangi mu, Altair]...
Altair sungguh terharu mendengar kalau mereka sangat menyayangi nya sampai seperti itu, bahkan jika akhirnya dugaan mereka kalau desa hancur itu benar.
" Aku juga sangat menyayangi kalian. " gumam Altair sambil memeluk surat dari kakeknya itu.
Kemudian ia pun beralih kepasa surat yang berasal dari ibunya itu, ia pun mengambilnya dengan sedikit ragu dan kemudian membukanya. Altair pun menarik nafas sejenak, barulah ia membaca surat itu.
[Kepada putriku, Altair.
...Ibu tidak memiliki keinginan selain bisa mendengar mu mengucapkan kata 'ibu' sekali saja. Nak, kamu terlahir di dunia saja sudah merupakan anugrah besar bagi ibu, tapi nampaknya ibu terlalu serakah. Karena ibu yang menginginkan kehadiran mu disisi ku, tanpa memikirkan kebencian yang telah lama tertanam didunia ini....
...Ibu juga minta maaf karena meninggalkan mu, padahal saat itu kamu masih sangat kecil, tapi ibu terpaksa. Kamu tidak perlu bertanya kenapa, cukup tahu kalau ibu melakukan nya demi kamu....
...Meskipun ibu tidak bisa melihat mu tumbuh besar, merasakan dirimu dalam perut ibu saja sudah membuat hati ibu meluap-luap. Ibu sangat bahagia. Dan ibu harap kamu bisa hidup dengan lebih bahagia meski tanpa ibu....
...Tapi ibu juga harus memberitahu mu untuk selalu berhati-hati, banyak orang yang tidak seperti apa yang terlihat dimatamu. Beberapa dari mereka adalah serigala berbulu domba, mereka hanya memanfaatkan orang lain tanpa mempedulikan orang tersebut....
...Satu hal lagi, kamu harus mengingat kata-kata ibu ini untuk kalung yang kamu pakai, "Darah dan air mata akan membawamu kepada kebenaran yang ada... dari kenangan yang telah lama terlupakan. "...
...Suatu hari nanti, semua yang terjadi kepada kami akan kalung itu tunjukkan padamu, kalung itu akan menuntunmu ke tempat kami berada. Kami sangat bersyukur karena kamu dibesarkan oleh orang-orang baik itu, karena itulah......
...Sampai saat itu tiba, tolonglah kamu harus baik-baik saja, kamu harus bisa hidup. Meskipun ini terkesan memaksa, tapi hiduplah tanpa belenggu dengan menyembunyikan identitas mu, jangan pernah membiarkan orang yang mengetahui identitas mu. Kecuali keluarga Kekaisaran Foldes dan Kekaisaran Chrysos, dan beberapa orang yang berhubungan dengan mereka....
...Akhirnya kata,...
...Ibu sangat-sangat mencintai mu, Altair]...
Air mata kembali jatuh membasahi pipinya, Altair sangat ingin mengetahui seperti apa orang tuanya. Ingin memeluk mereka, ingin mendengar kata sayang itu langsung dari mereka. Juga ingin tahu alasan kenapa ia dibesarkan terpisah dari mereka.
" Aku.. Aku ingin bertemu ibu.. Hiks.. Aku juga mencintai ibu, karena itu.. Hiks.. Aku ingin bertemu.. Hiks.. " ucap Altair.
Semalaman itu, Altair menangis karena membaca kedua surat itu, seperti yang dikatakan oleh ibunya. Ia mendapat banyak kasih sayang, tapi disaat yang sama ia juga mendapatkan kesedihan saat kasih sayang itu hilang.
****
- Esok pagi harinya.
Yin terdiam bingung saat melihat Altair pagi ini, soalnya.. Mata Altair terlihat sedikit bengkak saat ini.
" Apakah ada... Masalah?? Matamu bengkak. " tanya Yin.
" Ah, tidak. Itu karena semalam saya membaca surat dari ibu dan kakek saya, saya jadi sedih karena itu hingga menangis semalaman. " jawab Altair sambil tersenyum kikuk.
" Begitukah, baiklah. Bisakah kita berangkat?? " tanya Yin pula, yang diangguki oleh Altair.
Yin membawa Altair yang tinggal di istana Marigold, yang adalah istana putri. Menuju ke istana Kaisar, sembari menjelaskan setiap sudut tempat itu. Altair tidak terlalu mengerti kenapa ia dijelaskan seperti itu, mungkinkah agar ia tahu saja atau mungkin karena Yin berpikir dia penasaran.
Tapi yah.. Altair tidak berpikir kalau itu hal yang buruk, mengetahui tentang asal usul istana Kekaisaran seperti itu.
" Jadi, apakah ada yang ingin kau tanyakan?? " tanya Yin ditengah perjalanan mereka.
Altair menggelengkan kepalanya, " Tidak ada. hanya saja..Apakah saya benar-benar harus bertemu dengan Baginda Kaisar?? " ucap Altair dengan tegang.
Iya, bagaimana ia tidak tegang. Ia akan berhadapan dengan pemimpin Kekaisaran Foldes ini, bagaimana jika ia membuat kesalahan dan akhirnya mendapatkan hukuman. Itulah yang sangat ia khawatir kan.
Namun Yin hanya tersenyum mendengar nya, " Tentu saja, bagaimana pun juga Baginda Kaisar harus mengetahui keberadaan mu. " jawabnya.
" Iya, tapi... " ucap Altair pula menggantung.
" Kau tidak perlu khawatir, bersikaplah biasa. Dan satu hal lagi.. " ucap Yin menggantung, yang mana membuat Altair penasaran. " Saat kau berhadapan dengan Baginda Kaisar, kau tidak perlu memberi hormat pada beliau. " lanjut nya.
" Hah?! Ta, Tapi.. Bukankah itu tidak sopan?? " sahut Altair agak panik.
" Bagi orang lain, Iya. Tapi itu tidak berlaku bagimu. " jawab Yin.
Altair jadi bingung dengan maksud Yin, tapi ya sudahlah ia akan ikuti saja sesuai yang ia katakan. Tapi tetap saja.. Itu tidak mengurangi perasaan gugup yang ia rasakan saat ini, malahan ia tambah gugup. Dan secara tak disengaja, Altair dan Yin juga berpapasan dengan dua orang yang juga hendak menemui kaisar.
" Yang mulia pangeran. Apa anda juga akan pergi menemui baginda?? " tanya Yin kepada kedua orang itu.