
Altair terus berjalan sambil bersenandung riang keluar dari ibukota, untuk pergi ke desa tercinta nya yang telah lama ia tinggalkan. Desa yang telah membesarkannya, dan desa dimana ia kehilangan semua yang ia cintai.
Sejujurnya, Altair merasa ada yang salah saat ini, namun ia sembunyikan perasaan itu dengan senandung nya.
" Apa dia masih mengikutiku? Siapa? Apa maunya? Kenapa dia mengikutiku? " batin Altair yang gelisah.
Sampai akhirnya, Altair tidak tahan lagi diikuti. Ia berhenti ditengah jalan dan langsung menoleh kebelakang, tepat disaat yang sama orang yang mengikuti nya itu menyerangnya secara langsung.
" Huwaa!! "
Bruakkkk...!!
Altair hampir saja terkena serangannya jika tidak segera menghindar tepat pada waktunya..
" A-Apaan ini? Kenapa kau menyerangku?! tanya Altair kepada orang itu, namun ia sama sekali tidak menjawabnya.
Orang itu menarik keluar pedang yang dibawanya, dan mengarahkan pedang itu pada Altair.
" Tunggu! " ucap Altair pula pada orang berjubah itu, " Aku bukan musuh! Aku tidak tahu siapa kau dan tidak tahu kenapa kau menyerangku, tapi yang pasti ada kesalahpahaman disini! Tolong dengarkan aku terlebih dahulu!. " lanjutnya dengan penuh penegasan.
Untuk sesaat gadis itu masih belum mengatakan apapun, tapi kemudian... " Karena ini adalah tugasku." ucapnya yang kemudian langsung menyerangnya kembali.
Ia terus menyerang dengan bertubi-tubi tanpa memberikan celah kepada Altair untuk menjelaskan apapun. Untung saja latihan dari Mira sangat membantu disaat-saat seperti ini, tidak sia-sia dirinya mengikuti latihan itu.
" Dia bisa menangkis semua seranganku, lumayan..." batin orang itu terkesan dengan keahlian Altair.
Meskipun begitu, serangan demi serangan yang ia berikan sama sekali tidak berkurang...
" Tunggu... Kumohon dengarkan.. " Altair masih berusaha untuk bicara dengan orang itu agar kesalahpahaman ini selesai, tapi hasilnya tetap saja sama. Dan lama-lama ia juga jadi kesal karena tidak bisa melakukan apa-apa selain menghindar, ketika dirinya melihat celah... Altair memegang kedua pundak orang itu dan ia... "... Kubilang, Tunggu!."
Dukk!
Altair menghantamkan kepala mereka satu sama lain sekeras yang ia bisa, dan keduanya pun jatuh bersamaan.
" Aduh.. kepalaku... " rasanya sakit dan pusing, kepala Altair seperti berputar-putar karena hal itu. Altair pun bangkit kembali dan duduk sembari memegangi kepalanya, setidaknya dia tidak mengalami luka lain sekarang.
Perhatiannya pun teralihkan kepada orang yang menyerangnya tadi, saat ini ia terkapar tak berdaya dihadapannya. Tapi itu juga terlihat mengkhawatirkan, hanya karena sundulan dari Altair dia langsung terbaring tak bergerak sedikit pun.
" Anu.. Apa kau baik-baik saja?.." tanya Altair dengan ragu.
Altair menyadari kalau topeng yang ia kenakan sedikit terlepas dari wajahnya, karena dihantui rasa penasaran yang sangat besar akan rupa dari orang dihadapannya. Altair pun perlahan mengulurkan tangannya memegang topeng itu, kemudian membukanya...
" Wah, dia sangat cantik..." batin Altair, saat melihat wajah orang itu, dia wanita yang benar-benar sangat cantik. Dengan wajah putih yang halus, bulu mata lentik dan bibir berwarna merahnya.. " Tunggu... Wanita??" Altair terkejut sendiri dan sedikit menjauh dari wanita itu.
Dia tidak berpikir kalau orang yang menyerangnya itu adalah seorang wanita.. "Apa aku.. baru saja menyakiti seorang wanita.. aku..huh?!." Altair melihat darah, wanita itu terluka.
" Bagaimana ini...??" Dan sekarang ia jadi bingung harus apa.
****
Malam hari...
Ketika wanita itu membuka matanya lagi, yang ia lihat dihadapannya adalah sebuah atap kayu dalam sebuah ruangan yang hanya diterangi oleh sebuah lilin diatas meja. Dirinya terbaring diatas tempat tidur, ditempat yang tidak ia kenal.
Ia pun bangkit dari tidur nya dan menatap sekeliling dengan bingung, " Ini dimana?" gumamnya pelan.
Saat kemudian ia teringat dengan luka yang ia dapatkan sebelumnya, luka itu juga telah diobati. Tertutup dengan rapih dalam perban putih yang membalut tubuhnya.
Krieett...
Wanita itu menoleh dengan waspada ketika mendengar suara pintu, ia ingin meraih pedang miliknya. Namun kini pedang itu berada jauh dari dirinya, gadis itu pun mendecih kesal karena nya.
Ia terus menatap pintu dengan lekat, saat Altair lah yang masuk ke dalam sana...
" Oh, kau sudah bangun." ucapnya ketika melihat wanita itu menatapnya.
Sementara orang yang di maksud terperanjat kaget karena dialah yang telah menolongnya. Altair berjalan mendekati gadis itu sambil membawa nampan berisi makanan dan sebuah ramuan herbal, kemudian ia pun menaruhnya didepan gadis itu.
" Bagaimana perasaanmu? Apakah masih ada yang sakit? Lukamu cukup dalam, tapi untunglah tidak separah itu jadi aku bisa mengobatinya. " ucap Altair dengan ekspresi wajah yang sama sekali tidak menunjukan permusuhan.
" Sekarang, makanlah. Aku membuatkan makanan meski sederhana, aku juga membuat obat untukmu. Dengan meminumnya, itu akan membantu mempercepat penyembuhanmu. Jangan khawatir, aku sama sekali tidak menaruh racun didalamnya. Salahkan." ucap Altair agak mendesak.
" Uhh... " Wanita itu makin bingung, jujur saja dia masih curiga dengan Altair. Namun... Melihatnya yang tersenyum berseri-seri itu membuat kekhawatirannya sedikit menghilang.
Ia pun perlahan mengambil sendok hendak memakan makanan yang disiapkan oleh Altair. Itu terlihat sederhana, mungkin sebuah bubur labu dengan beberapa buah sebagai penutupnya.
" Ada apa? Apa kau tidak suka makanannya?" tanya Altair ketika melihat wanita itu hanya memandangi makanan itu, " Kalau begitu aku akan buat yang lain. " ucapnya pula hendak berdiri.
Tapi gadis itu menghentikannya, " Tidak! Tidak perlu, aku akan memakannya. " ucapnya yang membuat Altair kembali duduk dikurasinya.
Wanita itu pun memakan makanan itu dengan perlahan, mengambil bubur itu dengan sendok ditangannya dan kemudian memakannya dengan perlahan...
" Hm... Ini luar biasa. Padahal ini hanya makanan biasa, tapi rasanya benar-benar enak. Padahal jika aku yang memasak, rasanya tidak akan seenak ini. Apa karena dia sangat pandai masak? Atau karena..." Wanita itu melirik Altair didepan sana, yang terus tersenyum dengan lembut kearahnya. "....Atau karena dia yang memasak?" batinnya pula.
Ia melihat sosok lain yang sangat mirip dengan Altair dari ingatannya, seorang wanita yang selalu tersenyum seperti itu kearahnya. Itu membuat nafsu makannya menjadi lebih baik, hingga ia pun memakan semua makanan yang dibuat Altair dengan lahap.
Altair sendiri yang melihat nya memakan semua itu merasa senang, awalnya dia takut kalau wanita itu tidak akan suka jika hanya itu yang ia buat untuknya.
" Syukurlah, dia sepertinya menyukainya." batin Altair senang.
Sampai beberapa menit kemudian, wanita itu selesai makan dan meminum obat buatan nya. Kini mereka masuk ke dalam situasi canggung satu sama lain, tentang masalah tadi siang.
" Um... Apa yang harus kukatakan padanya?" ucap Altair yang ia sembunyikan dibalik senyumannya.
" Aku harus menanyakan hal itu dulu, tdk! Aku harus minta maaf dulu, karena telah menyerang nya duluan.." bahkan wanita itu juga sedang memikirkan apa yang harus ia katakan dulu padanya.
Situasi hening untuk beberapa saat, sampai kemudian...
" Maafkan aku..!"
" Eh..? "
" Huh..?"
Mereka mengatakan hal itu secara bersamaan sampai membuat satu sama lain bingung lagi..
" Kau duluan.." ucap Altair sambil tertawa canggung.
" Tidak, kau saja. " sahut wanita itu pula.
" Uh... Jadi, sebenarnya aku hanya ingin tahu kenapa kau menyerangku, dan.. maaf karena aku menyentuh barang-barangmu tanpa izin. " ucap Altair pula kelihatan malu-malu.
Sementara perempuan itu memikirkannya, " Apa yg membuatnya resah hanya karena itu?? Aku mengerti soal yang pertama tapi apa masalahnya untuk yang kedua?" batinnya bingung.
Tapi ia pun membalas, " Tidak, jangan memikirkan hal itu. Justru aku yang harus minta maaf karena salah paham, dan terima kasih karena kau sudah menolongku. " ucapnya.
" Sama-sama, aku senang kau baik-baik saja. Tapi kenapa kau bisa terluka seperti itu??" tanya Altair pula penasaran.
" Karena melawan monster. " jawab wanita itu singkat, saat... " Oh! Benar juga, aku tidak tahu siapa namamu. " dirinya teringat hal itu.
Altair juga baru sadar dengan hal itu karena terlalu memikirkan hal lain, " Ah, namaku Altair. Altair Drosera. Kalau namamu? " dan ia pun mulai memperkenalkan dirinya kepada wanita itu.
" Namaku Mylia, senang bertemu denganmu. " sahutnya yang diangguki oleh Altair, " Ngomong-ngomong... kita ada dimana sekarang? " tanyanya pula.
" Kita ada di GoldenRose, desa tempatku tinggal dulu. Meski... sekarang hanya tempat pemakaman yang penuh dengan mawar ditiap sudutnya. " Altair menatap sendu. Setiap kali mengingat kalau desa tercintanya lenyap pada malam itu, ia selalu merasa sangat sedih.
Dan Mylia yang menyadari raut wajah Altair yang berubah muram pun jadi ikut sedih, kabar soal apa yang terjadi didesa GoldenRose terdengar dimana-mana. Ini adalah salah satu tempat paling terkenal di Foldes, jadi tentu saja hilangnya tempat ini berakibat besar.
Dan dihadapannya sekarang, seorang anak yang bahkan belum dewasa. Satu-satunya orang yang selamat dari insiden 'Night of Falling Roses' itu, mengingatkannya pada masa lalunya yang suram.
" Kau baik-baik saja? Apa kau memerlukan sesuatu? Mungkin... sebuah pelukan? " ucap Mylia sambil tersenyum cerah dan merentangkan tangannya.
Altair yang melihat ketulusannya pun jadi terharu, ia tersenyum senang dan langsung menyambut pelukan itu. Ia merasa lebih tenang ketika Mylia mengusap kepalanya dengan lembut.
" Ini hangat..." Altair merasa seperti dipeluk oleh ibunya...