The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
The Voice



Beberapa saat berlalu sejak Altair dan yang lainnya berjalan lebih dekat ke arah kastil es itu. Untuk beberapa saat pertama semuanya masih baik-baik saja, namun kemudian awal gelap kembali datang dan menjatuhkan kepingan salju yang tak terhitung jumlahnya kearah mereka.


Angin dingin pun berhembus kencang, seolah berniat menghentikan langkah mereka dan mengusir mereka dari sana. Sesuatu ditempat itu tidak mengizinkan mereka untuk mendekat dan berupaya menghalangi mereka.


" Ugh! Udara dinginnya mulai merembas masuk lagi.." ucap Remilia agak cemas dengan masalah situasi ini.


Yi kemudian menyahutinya, " Aku akan menambah kekuatan ku.." ucapnya.


Namun sebelum ia benar-benar melakukan itu, Altair lebih dulu menghentikan nya. " Tidak! Jangan! Jika kau terlalu banyak memberikan energimu kepada tombak pembelah langit, dia akan terus menyerapnya hingga energi dan vitalitasmu habis!." ucapnya dengan agak panik.


" Apa..?"


" Aku masih belum bisa mengendalikan kekuatan ku sepenuhnya, jadi aku tidak sepenuhnya menekan tombak ini. Selama ini dia dalam keadaan terkunci, dan Lumine yang membantu mengendalikan kekuatan ku. Aku takut jika burung suci yang memberikan kekuatan nya terlalu besar kuncinya akan hancur..."


Itu memang terdengar sangat penting. Terlebih, jika membayangkan sebuah tombak dengan berat massa seperti sebuah bintang terlepas. Dengan kekuatan nya yang juga belum terukur, bisa saja benda ini menjadi bencana yang lebih mengerikan.


Yi pun menganggukan kepalanya mengerti dengan hal itu, tidak ada yang mau mengambil resiko untuk kepunahan total didunia.


Altair juga senang dia mengerti, saat...


Brughh...


" Huh?? Apa itu..??" Aksa terkejut dengan hal itu.


Mereka mendengar suara sesuatu jatuh ke tanah dengan suara yang begitu keras. Dan juga langkah kaki yang menggetarkan salju dibawah kaki mereka, didengar dan rasakan bagaimana pun... itu pasti sesuatu yang besar.


Bugh...


Suara langkah itu berhenti, dan bayangan hitam dengan wujud yang sangat besar muncul didepan penghalang mereka. Itu sangat mengejutkan, mereka yang melihat sebesar apa makhluk itu hampir tidak bisa bernafas dengan benar.


Rupa makhluk itu perlahan tersibak diantara salju, seekor monster dengan tubuh seperti gorila, namun berbulu putih dengan ekor panjang seperti kadal dan kepala banteng.


Groarr...


Dia berteriak ke arah mereka dengan suara keras, dan mengarahkan tangannya yang penuh dengan cakar-cakar tajam kearah mereka.


Melihat itu, Altair pun menarik tombaknya dari posisi awal. Ia mengangkatnya dan segera mengubah penghalang dingin menjadi barrier yang kokoh.


Krrriiitt...


" Khh!!"


Suara dari kuku monster itu yang berusaha mengikis pelindungnya terdengar nyaring, Altair bertahan sebisa mungkin untuk menahan tenaga monster itu. Namun sayangnya, dia belum cukup kuat untuk membuat pertahanan...


Crack... Krak..


" Huh..?!!"


Altair terkejut dengan pelindungnya yang mulai hancur, ia pun segera berbalik menatap teman-teman dan berteriak...


" Mundur!!"


Krak... Prang..!!


Bugh!!


Pelindung itu hancur dan sang monster menghantamkan tangannya ke salju. Disaat yang sama dengan itu, Israhi dan yang lainnya mundur menjauh. Bahkan Altair melemparkan tubuhnya sendiri untuk menghindari serangan kuat itu.


" Wakh! Apa-apaan dengan kekuatan monster itu?!!" Aksa benar-benar terkejut dengan hal yang tiba-tiba itu.


" Tidak mungkin.. pelindungku.." disisi lain, Altair sedikit syok karena monster itu bisa menerobosnya.


Itu adalah pelindung yang diajarkan oleh Zico, tentu saja dia mungkin kecewa karena tidak sekuat yang pernah diperlihatkan oleh Zico. Padahal ia telah berusaha selama bertahun-tahun untuk menguasainya.


" Altair, fokus!"


Ia tersentak ketika mendengar Mira berteriak kepadanya, namun ketika Altair mengangkat kepala nya, monster itu sudah ada dihadapannya...


" Oh tidak... " Altair sepenuhnya sadar kalau itu sudah terlembat untuk menghindar, ketika monster itu mengangkat tangannya diatas kepalanya. " ...Aku akan kena..!" itulah yang dipikirkan Altair.


Syutt... Bughh!...


Namun sebelum tangan besar monster itu menghantamnya, Israhi bergerak lebih cepat dan menerjang dan mendorong dirinya dan Altair untuk menghindar. Keduanya jatuh ditumpukan salju bersama.


Sementara monster itu sendiri, Aksa langsung menembakan bebarapa anak panah dengan racun kepadanya. Diikuti dengan Remilia yang mengikatnya menggunakan rantai dan listrik. Disaat itulah, Derrick masuk dan memenggal kepalanya.


Kepala monster itu jatuh diatas salju dengan cairan yang keluar darinya, namun itu cukup unik...


" Darahnya berwarna ungu." ucap Derrick sembari memandangi pedangnya yang dilumuri darah dari monster tersebut.


" Itu artinya monster itu benar-benar terinfeksi..." ucap Yi kemudian membuat semua perhatian tertuju kepadanya, " ...Dan karena itu, sepertinya benar kalau tempat ini sekarang dikendalikan oleh seorang Ruler. Karena monster sejenis ini akan selalu mengelilingi kekacawan." lanjutnya pula.


" Jadi, kita harus bersiap untuk monster sejenis ini, kan?" tanya Remilia pula.


" Tapi tetap saja... Jumlah benar-benar akan menjadi masalah." Aksa kemudian menyahutinya.


" Aku lebih mengkhawatirkan hal lain."


Derrick mengatakan itu saat perhatiannya kemudian tertuju kepada Altair, karena hal itu perhatian yang lain juga menuju kepadanya.


Altair tak jauh dari sana, masih duduk diatas salju ditemani Israhi. Namun, kelihatannya ada yang aneh dengannya. Itu telah mereka rasakan sejak mereka tiba didesa ini...


" Altair, kau bisa mendengarku? Apa kau baik-baik saja?" Israhi mencoba memastikan nya.


Namun Altair tetap diam dan tidak merespon apapun yang ia katakan, ia seolah terpaku dengan sesuatu yang tidak bisa mereka lihat disana.


" Altair..."


Dia terlihat seperti orang yang dihipnotis oleh sesuatu.


Altair sendiri tidak yakin, namun ia merasakan sesuatu seolah itu adalah dirinya sendiri. Dan itu...


" ... tair.. Altair!!"


" H-Huh??"


Ia kembali sadar ketika Mira telah ada dihadapannya, berteriak memanggil nya dan menggenggam kedua langannya hingga Altair sendiri terkejut. Bukan hanya dia sebenarnya, teman-temannya yang lain juga sama...


" Hei, ada apa? Apa kau terluka??" Aksa bertanya dengan raut wajah begitu khawatir.


" Altair, kumohon katakan kenapa kau seperti ini? Apa yang kau rasakan ditempat ini??" saat Mira kemudian menanyakan sesuatu yang penting ditempat ini. " Aku tahu kau tidak melakukan ini demi desa atau orang-orang didalamnya." lanjutnya pula.


Altair yang mendengarnya sedikit terkejut, tapi kemudian ia mengalihkan perhatian nya ke arah lain. Dia terlihat ragu, bahkan dengan jawaban yang ingin ia katakan sendiri.


" ...Aku tidak tahu."


" Kau tidak tahu??" Mira bingung dengan jawaban itu, apalagi dengan yang lainnya.


Awalnya dia juga yakin kalau dia melakukan ini Karena Altair baik atau karena dia cuma penasaran. Tapi selama perjalanan dia tidak seceria biasanya, dia justru terlihat seperti.... orang yang sedang merencanakan sesuatu.


" Aku merasa... mendengar sesuatu." ucap Altair pula.


" Kau mendengar apa Altair??" Derrick pun juga jadi penasaran dengan itu, pasalnya... tidak ada diantara mereka yang mendengar apapun. Ya kecuali apa yang mereka yakini ada didekat mereka.


" Itu seperti... ada seseorang yang memintaku untuk datang kemari."


Mira langsung terdiam ketika Ia mengatakan hal itu, ekspresi nya seperti tidak yakin atau.. heran?


Yah, itu memang dan semakin membingungkan bagi mereka. Tapi rupanya...


" Maaf... sebenarnya, aku juga mendengar hal seperti itu." Remilia mengangkat tangan nya dan mengatakan hal tersebut kepada mereka.


Membuat semuanya pun jadi menatapnya dengan terkejut. Kenapa hanya mereka berdua yang mendengar hal seperti itu sementara mereka tidak?


" Apa karena Remilia itu pengendali petir, jadi dia bisa mendengar suara yang sangat jauh??" Aksa mulai mempertanyakan hal tersebut.


Yi yang mendengarnya pun menyahuti, " Bisa saja."


" Lalu bagaimana dengan Altair?"


" Mungkin karena dia bisa mengendalikan ruang, secara tidak langsung itu mempengaruhi nya melalui ruang kosong dan mempertajam pendengarannya." jelas Israhi.


" Apa ada hal yang seperti itu?"


" Bisa saja. Meski begitu, orang yang punya kekuatan ruang bawaan adalah hal yang langka. Jadi sulit untuk menjelaskannya dengan detail." Mira pun mengangguk setuju.


Ia pun bangkit berdiri sambil menggendeng tangan Altair yang terus dipegangnya dengan erat.


" Kita akan kembali atau terus maju?" dia pun bertanya kepada mereka.


Memang tidak ada keharusan untuk mereka melakukan itu, Altair juga tidak memaksa mereka. Dia hanya mengatakannya, pendapat pribadi itu adalah hal yang berbeda.


" Ya, kita sudah sejauh ini. Kembali ke desa itu agak terlalu merepotkan. Lagipula kastilnya juga sudah terlihat dari sini." sahut Aksa kemudian, sambil menunjuk bangunan biru putih besar dibelakangnya.


" Memang benar.."


Sejak kemunculan monster tadi badai menang jadi sedikit lebih tenang dan jarak penglihatan pun bertambah, itu mempermudah mereka. Hanya saja... hal tersebut juga membuat monster-monster yang ada, jadi terlihat jelas berkerumun dibalik-balik pohon dan salju tak jauh dari mereka.


" Mereka banyak juga.." Yi berkata demikian setelah melihat semua itu.


Derrick yang mendengar nya pun mengayunkan pedangnya dan berkata, " Ayo bereskan mereka dulu baru lihat apa yang ada disana." ucapnya.


Kalihatannya keputusan sudah bulat...


Mereka akan melanjutkan perjalanan ini.