
Dipenginapan setelah kepergian Altair...
Tok... Tok... Tok..
" Nyonya Mira, Nyonya Mira! Ada sesuatu yang darurat, tolong keluar sebentar!."
Remilia yang tidak bisa menemukan dimana Altair pergi mendatangi kamar Mira dan Yi untuk memberitahukan hal itu, ia bahkan mengetuk pintunya tanpa henti sejak tadi.
Saat tak lama kemudian, pintu itu pun terbuka...
Ceklek...
Dan keluarlah Mira bersama dengan Yi dibelakangnya, mereka kelihatan bingung karena Remilia terus menggedor-gedor pintu sejak tadi.
" Remilia, ada apa??" tanya Mira kepadanya.
" Nyonya Mira, Altair... Altair tidak ada dikamar." ucap Remilia pula menimpalinya, dia benar-benar sangat khawatir dengan keadaan Altair saat ini.
Sementara Mira dan Yi terkejut dengan itu..
" Apa maksudmu hilang? Bukankah dia bersama mu??" tanya Yi kemudian.
" Aku tidak tahu, kami memang bersama saat tidur. Tapi ketika aku bangun karena udara dingin, dia sudah tidak ada. Dan jendela kamar terbuka lebar." jelas Remilia.
Tidak mungkin jendela itu terbuka begitu saja, dan jika seseorang menyelinap masuk tidak mungkin tidak ada jejak disana. Maka kesimpulan nya hanya ada satu, Altair pergi dengan sendirinya.
Bagi Mira itu masuk akal, sejak mendengar cerita itu Altair memang tertarik dengan pegunungan tersebut. Dan memikirkan dia pergi ke sana...
" Dia pasti baik-baik saja, Altair pergi ke pegunungan bersama dengan Zico.." Mira yakin dengan hal itu.
Itu memang terdengar meyakinkan, mengingat sebagai guru, Mira adalah orang yang paling mengenal Altair diantara mereka. Meski begitu, Remilia tetap saja khawatir jika terjadi sesuatu kepada Altair disana.
" Apa tidak apa-apa? Dia bisa saja terluka."
" Jangan khawatir, Remilia. Dia akan segera kembali, aku yakin."
Remilia hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban, kekhawatiran nya tidak berkurang, meski begitu dia ingin percaya kalau hal itu menang benar.
***
Sementara itu Altair, ia telah berada dalam badai selama beberapa waktu. Hingga akhirnya... Ia sampai ke area terbuka, sekitar 200 meter dari gunung. Anehnya ditempat itu tidak ada badai sama sekali.
Ia menatap kesekitarnya dan kebelakang, badai itu mengelilingi pegunungan ini, dan digunungnya sendiri salju turun tidak terlalu lebat. Itu seperti... Ada penghalang khusus yang mengalilingi gunung ini. Ah tidak, badai itu lah penghalang bagi mereka yang ingin masuk ke tempat ini. Altair pun kemudian menundukan kepalanya ke bawah sana, ada beberapa benda hitam yang membeku tepat dijalan yang ia dan Zico lewati sekarang. Itu adalah Atar.
Seperti yang Mira katakan, mereka semua membeku ditengah-tengah badai yang menghalangi mereka.
Altair pun melihat gunung itu dengan seksama, hanya ada hamparan salju saja ditempat itu. Semuanya sangat putih dan juga suram. Saat... Altair melihat es besar berkilau ditempat itu, atau lebih tepatnya.. Kastil es.
" Apa ini? Kenapa ada kasil es ditempat ini??" Altair memegang dagunya memikirkan hal itu.
[" Jangan pikirkan itu, masuk ke dalam dan ambil dia.."]
Groaarr...
Lamunan Altair buyar ketika Zico mengaum keras, dia memberitahu Altair kalau ada sesuatu yang muncul dikastil itu, ketika mereka mendekat kearahnya.
" Apa? Apa yang kau lihat, Zico??" Altair merundukan tubuhnya dan menatap kemana Zico melihat.
Apa yang ia lihat dihalaman kastil itu adalah... Salju berjalan? Bukan, itu monster salju! Dan mereka melempari mereka dengan potongan es dan bola salju raksasa.
" Zico, menghindar!"
Zico melakukan itu, dia terbang dengan lincah diudara. Menghindari setiap serangan yang dilakukan oleh monster salju itu kepada mereka, Zico bahkan beberapa kali melempari bola api kepada monster-monster itu.
Sayangnya itu tidak cukup.
Meskipun beberapa monster terkena serangan itu, yang lain datang lebih banyak dan menyerang mereka dengan serempak. Dan ketika itu, salah satu es yang dilemparkan oleh monster itupun melesat mengenai sayap kanan Zico.
Krooaaaa..!!
" Zico!!."
Naga itu jatuh dari langit setelah kehilangan keseimbangan nya, tentu saja bersama dengan Altair yang ada dipunggungnya. Mereka menukik tajam dan tidak terkendali, dimana Altair berusaha keras untuk bertahan sambil berpegangan kepada sisiknya.
Dan akhirnya, mereka jatuh menghantam tanah yang dipenuhi salju itu...
Brughh...
Karena hal itu juga, Altair terhempaskan dan pegangan nya kepada Zico terlepas. Ia jatuh tak jauh dari Zico.
Altair berusaha bangun ditengah rasa sakit dan dingin yang menerpa kulitnya, dia biasanya tidak akan sedingin itu tapi kenapa tiba-tiba suasana nya jadi sangat dingin. Altair hampir bisa merasakan jari-jari tangan nya membeku.
Namun disamping itu, dia lebih peduli dengan hal lain...
" Zico! Kau baik-baik saja, Zico??"
Ia langsung bangkit berdiri dan berlari menghampiri Zico yang terbaring disalju.
" Zico..."
Hurr.. Hurr.. Hurr...
Nafasnya tersengal-sengal, itu bukan karena luka yang dialami nya. Namun karena rasa dingin yang tiba-tiba meningkat ditempat ini.
Altair tidak percaya ini, bahkan seekor naga yang berada dipuncak piramida ekosistem sebagai makhluk yang menguasai segalanya, sampai seperti ini hanya karena salju dan udara dingin ini. Sayapnya bahkan membeku dalam es.
Air mata kemudian jatuh dari matanya, Altair sedih karena melihat Zico jadi seperti ini. " Maafkan aku Zico... Aku terlalu memaksamu.." ucapnya samping mengusap dan memeluk kepala Zico.
Disamping itu, Altair juga melihat sesuatu... Lebih tepatnya seseorang, ketika mereka jatuh tadi. Dia ada didalam kastil es itu, menatapnya dengan tajam dan memancarkan aura dingin yang sama dengan es dan salju ini.
Mengingat itu membuat dahi Altair mengerut kesal.
" Dia yang sudah membuat Zico-ku jadi seperti ini, aku akan membalasnya..."
***
- Di penginapan.
Ini sudah sekitar 3-4 jam sejak Altair pergi keluar untuk memeriksa pegunungan, tidak ada tanda yang menunjukan kalau dia akan kembali. Karena hal itu, Yi dan Remilia pun akhirnya memutuskan untuk membangunkan para pria yang belum mengetahui soal ini.
Jadi sekarang, mereka semua berkumpul dengan menggunakan ruang tamu penginapan sebagai ruang tunggu.
" Bukankah ini sudah terlalu lama? Dia mungkin tersesat ditengah badai seperti ini." ucap Aksa yang pertama kali angkat suara disana.
Namun Israhi yang mendengar itu justru menghela nafas, " Kau lupa siapa yang kita bicarakan? Orang yang bisa melakukan teleportasi instan dan orang yang bisa membuat portal dimensi." ucapnya mengingatkan.
" Ah..."
Di lihat dari bagaimana Aksa bereaksi ketika ia mendengar itu, seperti nya dia baru ingat.
Bagaimana bisa ia lupa padahal itu baru terjadi beberapa hari yang lalu, dan mereka selalu bersama selama ini.
Saat kemudian perhatian semua orang teralihkan kepada portal ruang yang terbuka di dinding...
Angin dingin dan salju masuk dengan kencang ke ruangan dengan tiba-tiba. Dan sesaat kemudian, Altair keluar dari sana dan langsung bersandar ke dinding disebelahnya ketika tubuhnya terhuyung... Duk!
Portal itu pun kembali menghilang tanpa jejak. Sementara Altair yang dipenuhi dengan bunga es disekujur tubuhnya, terlihat seperti sedang memeluk sesuatu ditangannya.
" Altair! Ada apa..??" Remilia yang melihat hal itu pun sontak bertanya dengan khawatir dan terkejut.
Bukan hanya dia. Orang-orang yang lain juga sama. Mereka langsung berkerumun mendekatinya, disaat Mira kemudian menyentuh kedua pipinya yang kedinginan.
" Astaga, apa yang terjadi? Altair, kau bisa mendengarku??"
Saat kemudian Altair pun memegang tangan Mira dipipinya dan tersenyum, " Aku baik-baik saja, guru. Aku jatuh diatas salju." ucapnya dengan tenang.
" Bagaimana kau bisa berkata seperti itu disaat tubuhmu dipenuhi dengan es??" ucap Derrick kemudian menimpali, ia langsung membungkus tubuh Altair dengan selimut yang tebal dan hangat.
Dan Mira yang berusaha menyalurkan energi panas ke dalam tubuh Altair yang terasa seperti bongkahan es.
" Tapi aku benar-benar baik-baik saja, meski begini aku tidak kedinginan." ucap Altair kemudian.
" Apa maksudmu itu?"
" Sepertinya kekuatan Lumine masih aktif meski dia sedang menyembuhkan diri. Aku tidak kedinginan meski membeku, dan aku tidak kepanasan ditengah api. Itulah yang aku maksud."
" Jadi maksudmu kau tidak bisa merasakan panas dan dingin karena Lumine??" Israhi pun bertanya setelah mendengar itu.
Altair menganggukan kepalanya dengan ragu, ia pikir itu bagus dan menguntungkan karena artinya serangan musuh tidak akan mempengaruhinya. Meski sebenarnya itu bukan hanya karena Lumine, karena semakin Altair terbiasa serangan seperti itu memang tidak akan bisa mempengaruhinya lagi. Sayangnya, itu bukan hal yang dipikirkan oleh Israhi dan Derrick...
Dilihat dari bagaimana reaksi suram mereka saat ini.
Altair jadi panik dengan hal itu, " A-Ayo bahas soal itu lain kali, ada hal yang lebih penting bagiku!." ucapnya, saat kemudian ia pun mengulurkan tangannya kearah Yi.
Zico dengan versi kecilnya ada ditelapak tangan nya saat ini, dan Yi yang melihat itu sampai terperangah tidak percaya. Kemudian Altair pun berkata..
" Tolong bantu cairkan sayap Zico, Yi."