The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Lecht



Mendengar apa yang disampaikan kepada Mira padanya, Altair pun jadi berpisah dengan teman-temannya dan pergi ketempat Kaisar bersama dengan Mira. Altair juga penasaran dengan alasan apa Kaisar sampai memanggilnya, dia hanya berharap itu bukan masalah yang buruk.


Tiba-tiba Altair teringat, " Oh iya, Guru. Kenapa guru memakai gaun sekarang?" tanya Altair penasaran.


" Hah? Bukannya kau yang dulu selalu bilang padaku untuk memakai gaun, kenapa sekarang malah bertanya? " tanya balik Mira padanya.


" Ya.. biasanya 'kan meski dikasih tahu, Guru tetap keras kepala dan memakai pakaian kesatria. Jadi aku cukup terkejut karena tiba-tiba begini. " jawab Altair malu-malu.


Mira pun tersenyum dan mengusap kepalanya, " Aku hanya ingin mewujudkan keinginan muridku. Lagipula ini pesta terakhir kita sebelum pergi 'kan? " sahut Mira.


Altair yang mendengar nya pun kemudian tersenyum dan menganggukan kepalanya mengerti.


Akhirnya tiba juga didepan Ning, ia terlihat sedang mengobrol dengan seorang pria berambut pirang. Altair tidak pernah melihat nya sebelumnya, jadi ia menduga kalau dia pasti utusan dari negara tetangga.


" Yang Mulia, Altair ada disini. " ucap Mira pula yang mengalihkan perhatian mereka.


" Apa ada yang anda butuhkan, Yang Mulia?" tanya Altair pula yang penasaran.


" Ah, Altair. Tidak ada yang terlalu khusus juga, hanya saja aku ingin memperkenalkanmu dengan seseorang. Dia adalah Lecht Reus Chrysos. " ucap Ning yang kemudian memperkanalkan orang disampingnya.


" Hallo, Nona Altair. " sapa Lecht pula dengan ramah.


Dan Altair pun juga membungkukan tubuhnya pada Lecht, " Hallo. " sahutnya. Tapi kemudian dia sadar, " Tunggu... Lecht Reus Chrysos itu, bukannya nama Kaisar terdahulu Chrysos. Ja-Jadi... " Altair sangat terkejut karena hal itu.


Sementara Mira, Lecht dan Ning justru hanya tersenyum melihat nya yang begitu terkejut karena hal itu. Altair sendiri dibingungkan, mengapa orang-orang dari masa lalu yang hanya ia baca dari buku kini ada didepannya, dan terlihat begitu muda seolah tidak pernah bertambah tua sejak dulu.


Lecht sendiri, jika dihitung umurnya sekarang sudah 120 tahun lebih, tapi dia seolah terlihat masih 25 tahunan. Bagaimana itu bisa terjadi??


" Altair, berhenti memikirkan hal rumit. Dan fokus dengan percakapan didepanmu. " lamunan Altair akhirnya buyar ketika Mira mengatakan itu.


" Oh, benar. " sahut Altair.


Lecht yang melihat nya pun jadi tertawa ringan, " Maaf karena membuat Nona Altair sangat terkejut, jujur saja sebenarnya dari dulu aku sangat menantikan untuk bertemu dengan mu. " ucap nya pula yang lagi-lagi membuat Altair bingung.


" Kenapa? " tanya Altair penasaran.


" Karena kau begitu terkenal, bahkan sampai ke Chrysos. " namun hanya itu jawaban yang diberikan oleh Lecht.


Altair meragukan hal itu, " Apa aku benar-benar seterkenal itu??" tanyanya kepada Mira.


Namun Mira hanya menggelangkan kepalanya tidak tahu, tapi memang benar... Altair sangat terkenal di Foldes berkat rumor soal putri mahkota itu.


" Ngomong-ngomong, Nona Altair. Apa kau tidak keberatan berdansa satu lagu dengan ku??" tanya Lecht tiba-tiba.


" Ya? Tidak masalah. " sahut Altair pula.


Tapi kemudian Ning menangahi hal itu, " Ha. Kakek tua ingin mengajak anak kecil berdansa, kau pasti bercanda Tuan Lecht. " ucapnya.


Dan Lecht sendiri tertawa menanggapinya, " Haha.. 100 tahun lebih, jauh lebih muda dibandingkan dengan mu yang hampir 5 abad lebih, bukan??" begitulah tanggapan nya.


Sementara Altair yang ada ditengah-tengah nya hanya menatap dengan polos apa yang terjadi didepannya saat ini. Baru kemudian ia dan Lecht pun turun ke lantai dansa dan mulai menari bersama dengan yang lain. Dan melihat hal itu, pasti langsung menerik perhatian orang-orang yang ada disana.


Termasuk para pangeran...


" Kakak lihat, kak Altair menari dengan seseorang. " ucap Habel pada kakaknya ketika melihat itu.


Disisi lain Altair, ia masih penasaran dengan sesuatu yang mengganggu nya. Dia ingin menanyakan hal itu tapi ragu, tapi jika ia tidak menanyakan nya dia juga akan terus penasaran.


Pada akhirnya ia memutuskan menanyakan hal itu, " Anu, Yang mulia, saya tahu ini tidak sopan, tapi saya penasaran. Bagaimana anda bisa tetap terlihat muda setelah waktu berlalu begitu lama??" itulah yang ia tanyakan.


Lecht yang mendengar itu pun kemudian kembali tersenyum, " Bukan hal yang terlalu khusus, hanya saja dulu... Quennevia tiba-tiba datang kehadapanku tanpa pemberitahuan dan langsung menyumpal mulutku dengan sebuah obat yang membuatku tidak menua dan berumur panjang. " ucapnya sambil melirik tempat lain ketika mengingat itu.


Sementara Altair dibuat terkejut karena nya, " Menyumpal? Maksudnya... Apa Baginda Ratu Quennevia memaksa anda memakan obat itu??" tanya Altair memastikan.


Yang kemudian dulu angguki oleh Lecht, " Ya, dia melakukan hal itu. " sahutnya.


Altair tidak bisa berkata-kata lagi mendengar itu, hal yang tidak akan bisa diduga dari sifat seorang Ratu Quennevia. Lagipula itu tidak akan pernah terpikirkan oleh siapapun. Lalu tiba-tiba Altair sadar sesuatu yang lain.


" Oh iya, saya juga penasaran. Sedari tadi anda terus melihat wajah saya, apa ada sesuatu yang salah dengan riasa saya??" tanya Altair.


Lecht hanya menggelangkan kepalanya, " Tidak, hanya saja... melihat mu mengingatkanku pada seseorang. Kau begitu mirip dengan nya. " jawab Lecht yang membuat Altair merasa tersipu.


Rasanya banyak sekali orang yang bilang dia mirip seseorang yang mereka kenal. Dia merasa mungkin karena itu dia terkenal dimana-mana.


" Rasanya aku agak malu. " ucap batin Altair.


Sedangkan Lecht yang melihat itu hanya diam, " Mereka terlihat begitu mirip, tapi sifat mereka benar-benar berbeda. " batinnya.


Pesta berakhir larut malam, semuanya berjalan baik tanpa ada masalah. Setelah para tamu pulang, keadaan jadi agak sepi malam itu. Dan Altair, yang saat ini diantar ke kamarnya oleh Theodore..


" Kau mabuk ya. " Theodore menuntun Altair yang berjalan terhuyung-huyung saat ini.


" Ti-Tidak.. " sahut Altair menimpali nya.


" Mana ada orang mabuk bilang dia mabuk. " ucap Theodore dengan wajah datar saat mendengar itu.


" Guru bilang aku harus menikmatinya sebelum pergi. Sebentar lagi aku akan meninggalkan istana, jadi tidak apa-apa. " jawab Altair pula.


Theodore yang mendengar itu pun jadi terdiam, ia berhenti ditempatnya dan membuat Altair bingung.


" Yang mulia..??" panggil Altair padanya.


Namun Theodore masih bungkam, sampai... " Apa kau... benar-benar akan pergi??" tanyanya dengan suara pelan.


" Apa? " Altair tidak terlalu mendengar itu.


" Apa kau benar-benar harus pergi, Altair? Kupikir tidak apa-apa jika kau tetap disini, kita tetap bisa mencari orang tuamu meski kau disini. " ucap Theodore dengan wajah sedih.


Ia terlihat tidak rela mendengar kalau Altair akan segera pergi, dia mungkin menyadari nya.. setelah menghabiskan waktu 5 tahun bersama dengan Altair, ia jadi cukup bergantung padanya. Ia bahkan terbiasa jika melihat Altair berlarian diistana dan berlatih sampai membaca buku bersamanya. Membayangkan istana tanpa keberadaan Altair didalamnya, itu membuatnya merasa agak kesepian.


Lemunan Theodore buyar ketika ia merasakan sentuhan tangan Altair diwajahnya, dan iya.. Altair sekarang berdiri dihadapannya dan memegangi pipinya dengan kedua tangannya.


" Yang mulia, saya pergi mencari, bukan pergi mati. Kita akan bertemu lagi, jadi jangan merasa kalau anda sendiri. Dunia ini luas, banyak orang disekitar anda. Meski kita berada diantara lautan manusia, kita tetap bisa mengenali satu sama lain. " ucap Altair padanya.


Yang membuat perasaan Theodore sedikit lebih baik, " Kau benar, maaf. Kalau begitu, setidaknya jangan lupa mengirimkan surat padaku ya. " ucapnya yang kembali menuntun Altair ke kamarnya.


Altair yang mendengar itu pun tersenyum, " Tantu saja. " ucapnya dengan sangat yakin.