The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
Old memories



" Kedua peserta siap!... Bersedia!.. Mulai!"


Pertarungan dimulai, Altair dan Rara yang mendengar itu pun langsung saling menyerang satu sama lain. Rara memiliki kemampuan berpedang yang cukup hebat, namun Altair dan tombak langitnya berhasil mendominasi pertandingan dengan mudah.


Trangg...!!


Swoosh... Swoosh...


Altair memainkan tombaknya dengan sangat lihai, memutar dan memukul Rara dengan bagian yang tidak tajam agar dia tidak terluka parah. Diperhatikan secara seksama, gerakan Altair terlihat begitu indah... seperti sedang menari. Sampai-sampai membuat orang-orang yang melihat hal itu terkagum-kagum dengannya.


" Dia seperti seorang peri yang menari dimedan perang. " ucap Mirion ketika melihat itu, namun ketika ia menoleh kearah Mira. Ia disuguhkan raut wajah terkejut darinya.


" Bukan aku yang mengajarinya. " dan Mira pun menyahutinya seperti itu.


Namun mendengar itu membuat Mirion cukup bingung, " Kupikir kau adalah gurunya. "


" Kenyataan nya begitu, Altair mungkin mempelajarinya sendiri. Dia selalu bilang, ada orang yang menuntunnya didalam mimpi. Dan Altair mempraktekkan nya didunia nyata. " jelas Mira.


Itu terdengar sangat misterius...


Seseorang yang bisa masuk ke dalam mimpinya dan membimbing Altair sampai sehebat itu, dia pasti bukan orang biasa. Apalagi Altair sendiri juga spesial, semua orang berpikir begitu.


Kecuali satu orang...


Trang...


" Ke-Kenapa dia bisa sehebat ini??" Rara yang merasakan bagaimana serangan dari Altair tidak bisa percaya, kalau kenyataan nya.. Altair jauh lebih baik dari dirinya.


" Padahal gerakannya begitu sederhana, tapi karena dia memutar tombak itu keseluruh tubuhnya sehingga sulit ditebak kemana dia akan menyerang. Orang ini... bagaimana bisa dia..."


Altair berusaha mendekatinya, namun ia berhenti ketika Rara mulai menjaga jarak dengannya.


" Bagaimana kau bisa sekuat ini?! Bukannya kau baru saja keracunan?!" tanya Rara benar-benar tidak percaya.


Altair tetap tenang, ia kembali memutar tombak itu ditangannya dan menempatkannya dibelakang punggungnya.


" Itu tidak ada hubungannya bukan? Bagaimana aku bisa menjadi kuat, itu tentu saja karena aku telah berlatih keras selama ini. Demi pergi ke dunia luar dan mencari orang tuaku. " jawab Altair sambil tersenyum kepadanya, itu membuat Rara tersentak kaget.


" Ka-kalau begitu, apa kau tidak takut kalau--.."


" Tidak ada gunanya. "


Altair memotong perkataannya, ketika Rara mulai ragu pada dirinya sendiri, dia pasti akan mengatakan apa yang telah ia pikirkan.


" Meski kau terluka parah sekalipun, aku tidak akan kena masalah apapun. Hukum dikekaisaran ini memang mengatakan, kalau rakyat biasa tidak boleh melukai bangsawan, bagi yang melanggar akan mendapatkan hukuman yang berat. Akan tetapi... Hukum kekaisaran tidak berlaku didalam arena koloseum, tempat ini adalah wilayah tanpa hukum. " jelas Altair pula.


Rara yang mendengar itu tersentak kaget dan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, ia tidak memikirkan hal itu sampai ke sana. Disisi lain, Altair tersenyum puas melihat ekspresi wajah Rara saat ini.


" Yeah, aku sudah merencanakannya. Tapi kau masuk ke dalam jebakan terlalu mudah. " ucap Altair membenarkan isi pikiran Rara saat ini.


" Jadi begitu ya... Dasar licik!!" pekik Rara yang begitu marah mengetahui kebenaran nya.


Ia langsung menyerang kearah Altair lewat depan, tanpa trik, tanpa persiapan. Dia terlihat seolah bertarung hanya karena perasaan marahnya, kemudian mengarahkan pedangnya kepada Altair. Yang jelas-jelas bisa langsung ditangkisnya..


Trangg...


" Tidak akan kumaafkan kau!" ucap Rara begitu marah.


Kiikk..kikk..


Ia berusaha mendorong tombak Altair mundur, namun kelihatan nya kekuatan nya saja tidak cukup untuk melakukan itu.


" Putri Orzsbet, masih ada waktu untuk menyerah sebelum kau lebih malu lagi. Kita bisa menyelesaikan masalah ini dengan bicara baik-baik. " ucap Altair ditengah itu.


Itu sebuah bubuk, Altair yang melihat nya jadi terkejut dan berusaha menghindar, namun terlambat... bubuk itu masuk ke dalam matanya.


" Akh!..." Altair mundur dan menggosok matanya untuk mengembalikan penglihatannya.


" Rasakan ini!." disaat yang sama Rara pun berlari kearah Altair dan berusaha menyerang nya.


Namun Altair masih bisa menghindari semua serangan itu, bekat indra sihir yang telah ia latih begitu keras. Orang-orang yang melihat Rara mulai mendesak Altair pun berbalik kagum dengan Rara, mereka tidak menyadari kalau dia baru saja berbuat curang di Arena.


" Woah, sepertinya keadaan berbalik."


" Putri Duke Orzsbet memang hebat."


Orang yang paling bahagia dengan itu, tentu saja Duke Orzsbet, dia terlihat seperti menantikan saat-saat seperti ini. " Bagus! Rara, kau hanya harus menyerangnya dan berpura-pura tidak bisa mengendalikan kekuatan mu, dengan begitu... meaki dia tewas kau tidak akan kenapa-napa." ucap batinnya penuh pengharapan.


" Cih. Yang licik itu justru dirinya, bisa-bisanya dia berbuat curang seperti ini." batin Altair.


Saat Altair mulai bisa melihat kembali, namun sesuatu membuat Altair terdiam di tempat nya.


" Ti-Tidak..." Altair memasang ekspresi sangat syok ketika ia membuka matanya. Gerakannya pun berhenti, ia terdiam ditempatnya...


" Apa yang terjadi? "


" Nona Altair tidak berkutik sedikitpun. "


" Sepertinya sudah berakhir."


Orang-orang melihat itu dengan agak kecewa, Apa Altair yang tak terkalahkan itu akan tumbang ditangan putri Duke??


Sedangkan disisi lain, para pangeran sedang mengkhawatirkan tingkah aneh Altair yang tiba-tiba itu.


" Kak Altair... akan baik-baik saja 'kan? " tanya Habel benar-benar cemas.


Ia pun menoleh ketika Ning mengusap kepalanya, " Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja. " ucapnya menenangkan.


Sementara Theodore tidak yakin dengan hal itu, " Tidak. Altair terlihat... ketakutan." batinnya.


Bukan hanya dia yang menyadari hal itu, Mira juga melihat nya....


" Altair menangis. " gumamnya saat itu.


" Kau bilang apa?" tanya Mirion yang juga mendengar itu meski tidak terlalu jelas.


" Altair menangis. Aku ragu apa putri duke bisa hidup setelah ini atau tidak. " ulang Mira yang membuat Mirion mengerutkan keningnya mendengar itu.


Ada yang salah, namun Mira sama sekali tidak terlihat peduli dengan itu. Kelihatan nya sudah menebak akhir dari pertarungan ini...


Ketika semua dibingungkan dengan apa yang terjadi diarena, mereka tidak tahu apa yang terjadi kepada Altair. Sementara Altair sendiri, menurutmu apa yang dilihatnya saat ini... dia melihat begitu banyak rumah terbakar dalam api, sama seperti malam itu, iya... malam dimana desanya diserang.


" Hah.. hah.. hah..."


Altair tidak bisa mengatasi ketakutan nya yang itu, ingatan-ingatan buruk saat orang-orang yang ia sayangi tiada satu persatu membuat Altair gemetar dan tidak bisa bergerak. Dia berkeringat sangat banyak, bahkan hampir tidak bisa bernafas dengan benar.


Telinganya berdengung, ia mendengar suara jeritan dan tangisan yang begitu memilukan...


Dan itu juga membuatnya tidak sadar, dengan Rara yang semakin dekat dengan nya... bersiap untuk mengakhiri pertarungan itu.


" Ini berakhir, mati kau!!" batin Rara yakin sekali dengan hal itu.


Saat tiba-tiba.... muncul sebuah kegelapan dari bawah kaki Altair, lebih tepatnya dari bayangan nya. Membuat Rara sangat terkejut. Kegelapan yang pekat itu mengurung mereka didalamnya.


" A-Apa...?!!" dan Rara sama sekali tidak punya kesempatan untuk menghindarinya.