The Last Ruler: The Return of the Goddess

The Last Ruler: The Return of the Goddess
The way is duel



Sementara orang-orang yang ada didalam labirin saat ini, lebih tepatnya Altair dan tim nya. Mereka berlari mengikuti jalanan yang ada, setelah sebelum nya sempat berpisah dijalan bercabang tiga yang pertama. Disana, Ninia dan timnya pergi ke arah kanan, sementara Altair berjalan lurus kedepan.


Remilia dan Aksa hanya mengikutinya tanpa alasan meski mereka penasaran, dilihat bagaimana pun semua orang pasti tahu kalau Ninia lebih tau jalanan didalam labirin dibandingkan dengan Altair yang ada diluar. Jadi mereka ingin tahu kenapa Altair mengambil jalur tengah..


" Altair, kenapa kita tidak mengikuti mereka saja? Itu memang agak curang, tapi itu lebih baik karena kita tidak tahu seluk beluk tempat ini." Remilia lah yang pertama bertanya disana.


Yang mana juga itu diangguki oleh Aksa, " Benar. Mereka mungkin punya peta yang telah mereka buat sendiri, akan lebih baik jika kita merebut itu saja." ucapnya pula.


Namun Altair yang mendengar itu hanya mengilum tersenyum diwajahnya, " Tenang saja. Aku punya sesuatu yang lebih baik dibandingkan peta buatan tangan." ucap Altair dengan percaya diri.


Disaat dua temannya bertanya-tanya dengan maksudnya, sebuah bola cahaya seukuran kapas justru tiba-tiba terbentuk diatas bahu kanan mereka. Keduanya terkejut, meski begitu mereka masih bisa mengendalikan diri. Saat suara yang rasanya pernah mereka dengan sebelum nya muncul dari bola cahaya itu...


[Mengonfirmasi pembagian tubuh... Selesai. Mulai sekarang saya akan memberitahu apa yang diinginkan master meski kalian tidak bersama.]


" Ini..." Remilia terpana dengan itu.


Saat kemudian, Altair pun menjelaskan hal itu. " Mulai sekarang Lumine yang akan menjadi pemandu kita disini, dia telah menyisir seluruh tempat ini menggunakan kekuatan nya. Dan kita akan berbagi informasi melaluinya." jelasnya.


Aksa sampai-sampai terpana dengan itu, " Itu benar-benar hebat Altair. Jadi artinya kau juga tahu dimana kalung itu berada, kan?" tanyanya kemudian.


" Hmph. Tentu saja."


Itu adalah faktanya. Altair dan timnya diuntungkan soal informasi yang ada ditempat ini. Ini memang terkesan curang, namun tidak ada peraturan yang melarang mereka melakukan hal itu. Jadi mereka akan baik-baik saja. Lumine juga bisa menyembunyikan keberadaan nya dengan sempurna, hingga ia bisa terasa tidak lebih dari udara yang tipis, jadi tidak akan ada yang sadar.


Bahkan Lumine juga telah mengetahui letak dan jenis jebakan ditempat ini, lagipula tujuan Altair bukan hanya untuk menang tanpa terluka. Tapi harta labirin ini juga.


Disisi lain, jalur sebelah kanan yang diambil oleh Ninia dan dua temannya. Mereka berlari secepat yang mereka bisa, ketika Lica juga sedang mendeteksi keberadaan Altair dan yang lainnya.


" Mereka masih mengambil jalan yang sama, didepan mereka akan ada ranjau peledak." ucap Lica disana.


Dia adalah orang dengan kemampuan tipe sensor yang bisa merasakan panas tubuh dari makhluk hidup.


" Berapa banyak ranjau yang ada disana?" Ninia yang mendengar apa yang diucapkan olehnya pun bertanya.


" Sekitar... 7 meter. Dimasing-masing dinding dan lantainya, harusnya akan sulit untuk mencari celah karena ranjau itu saling berdekatan--... Tidak, tunggu apa?!!"


" Ada apa, Lica?" Reya yang melihat saudarinya itu tiba-tiba terkejut dan kehilangan panik pun langsung bertanya dengan khawatir.


" Me-mereka... Melewatinya dengan kecepatan yang luar biasa.."


" Apa?!"


Ditempat Altair, beberapa saat sebelumnya...


Mereka masih berlari dengan kecepatan sedang dan teratur, sambil terus waspada jika ada serangan tiba-tiba atau jebakan lain yang muncul mendadak. Saat kemudian Lumine pun bicara..


[Lapor. 1 meter didepan, ada ranjau peledak berjarak 7 meter sepanjang dinding dan lantai, waktu peledakan setelah disentuh adalah... 5 detik.]


Altair yang mendengar itu pun langsung menanggapinya, " Itu waktu yang cukup. Remilia, pimpin didepan!"


" Baiklah."


Ia langsung memberikan rencana dengan informasi singkat itu dan bertukar posisi dengan Remilia. Jadi sekarang ia yang berlari disamping Aksa.


" Aksa, apa kau bisa melakukan sihir peringan tubuh?" Altair pun kemudian bertanya.


Aksa pun kemudian menjawab, " Aku tidak tahu. Tapi tubuh Elf lebih ringan daripada manusia, kurasa..." ucapnya meski terlihat ragu-ragu.


" Kalau begitu, apa kau bisa menahan sengatan listrik??"


" ...Hah??" Aksa terkejut dengan pertanyaan yang satu ini, dan sesaat setelah nya dia sadar kenapa Altair minta untuk tukar posisi dengan Remilia. Bibirnya pun terangkat naik menampilkan senyuman menyadari ide gila itu, kemudian ia pun berkata. " Aku tidak bisa, tapi aku bisa membuat pelindung sendiri."


" Kalau begitu bagus." Altair girang mendengar itu.


Ia pun segera merentangkan tangannya kearah Remilia yang ada didepan sana, tentu saja itu diikuti oleh Aksa juga. Mereka berdua masing-masing memegang satu tangan milik Remilia, tepat satu langkah sebelum melewati ranjau itu.


Remilia yang menerima tanda itu pun sedikit menundukan kepalanya, matanya menajam ketika ia mengaktifkan kekuatan nya. Beberapa kilatan cahaya terlihat mengelilingi disekitarnya, dan ia melesat melalui ranjau itu bersama dengan Altair dan Aksa yang ada dibelakang nya dengan kecepatan yang sama dengan petir.


Tap..


Dan tepat lima detik setelah mereka menginjak lantai itu...


Sriing... Duarr... Bum.. Bum.. Bum..


Ranjau yang mereka injak meledak, memicu yang lainnya juga ikut meledak dibelakang mereka. Asap pekat mengepul dan suara ledakan beruntun terdengar saling menyahuti sebagai tanda kalau mereka telah melewati tempat itu.


Dimana mereka diikuti oleh serangga yang terbang diatas mereka dan melewati semua itu bersama.


Orang-orang disana sedang melihat apa yang ditunjukan oleh serangga itu didalam sana dan bersorak dengan penuh semangat, menjadikan apa yang mereka lakukan sebagai tontonan yang menarik bagi mereka.


" Wah, dia sangat cepat."


" Itu reaksi dan ide yang bagus."


" Tapi bagaimana dia tahu kalau ada jebakan ranjau disana??"


Orang-orang bertanya-tanya dan mengagumi hal itu disaat yang sama. Ada juga yang terperangah, ada yang merasa itu tindakan buruk, dan ada juga yang merasa kalau itu ide brilian.


Apapun itu, orang-orang itu tidak akan pernah tahu tentang apa yang sedang dirancanakan dan apa yang akan dilakukan oleh Altair.


Jika ada yang mengganjal, maka itu adalah kondisi ditempat itu. Letak dan jumlah jebakan yang menghadang Altair dan timnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan tim Ninia yang jebakannya juga relatif mudah. Namun tidak ada yang memperhatikan itu disaat mereka melihat pertunjukan yang lebih menarik.


Kecuali satu orang...


Israhi, dia menatap layar transparan itu dengan ekspresi dingin. Dia yakin itu ulah Ninia yang memanipulasi letak dan jumlah jebakan terlebih dahulu sebelum duel ini dimulai, akan tetapi...


" Kekuatan nya tidak sekuat itu sampai bisa memanipulasi lebirin sebesar ini.. Sebenarnya apa yang terjadi??" perubahan ini tidaklah normal.


Ia pun memutar kepalanya, menatap Mira yang juga sedang memperhatikan dengan serius jalannya duel ini. Dilihat dari bagaimana dia mengerutkan keningnya saat ini, dia pasti juga menyadari kejanggalan yang dirasakan Israhi.


Akan tetapi... Karena tidak ada kesalahan atau hal ekstrernal yang terlihat untuk bisa di jadikan bukti, maka dia hanya diam saja. Ini situasi yang cukup sulit jika dilihat dari sisi pertimbangan keadilan yang ada dan apa yang terjadi pada labirin.


Namun seperti nya, itu bukanlah masalah untuk Altair. Dilihat dari bagaimana dia melewati semua jebakan yang muncul dengan mudah. Meski yang jadi penghalang memang bukan hal yang sulit juga...


Itu seperti hanya bertujuan untuk menguras stamina, hingga pergerakan mereka melambat.


Sebuah ledakan lain terjadi ketika mereka berlari dengan kencang karena sebuah batu menggelinding mengejar mereka dari belakang. Ledakan itu meruntuhkan sebuah pilar batu besar didepan sana hingga menghalangi jalan utama mereka.


" Lumine!." Namun Altair bertindak dengan cepat.


[Master, ada celah sebesar 40 cm dibawah batu, lalu... Bagian atas tidak ditutupi apapun. Anda bisa menggunakan salah satu diantaranya.]


Mendengar itu, Altair pun memberi tanda kepada Remilia dan Aksa yang menatapnya, ia menggerakan tangannya menuju ke atas, dan itu langsung diangguki oleh mereka.


Remilia menekankan kekuatan nya kearah kaki dan melompat keatas sana tinggi yang ia inginkan.


Lengannya yang terulur ke atas batu didepan berhasil mencapatnya, dan ia pun kembali melemparkan tubuh nya kesebrang sana dengan tangan diatas batu itu sebagai tumpuan.


Berbeda halnya dengan Aksa yang lebih memilih melompat silang antara dinding disisi kiri dan kanan mereka. Ia terus berpindah-pindah dan melompat dengan arah yang pasti kemudian menyeberang dengan selamat.


" Woah..."


Altair yang melihat itu terpana dengan cara mereka, dan kemudian ia pun tersenyum tidak mau kalah. Ia sampat menoleh kebelakangnya terlebih dahulu, kearah batu besar yang menggelinding itu. Ia berpikir menghancurkan ini dan yang didepan itu bukan masalah tapi... itu tidak akan menantang.


Itu juga alasan kenapa dia tidak menggunakan portal ruang saja. Itu akan jadi terlalu mudah.


Lalu, Altair pun kembali menatap kearah depan nya dan bersiap... tapi bukan melompat. Ia justru menekuk kedua lututnya, melipat tubuhnya dan meluncur masuk melalui celah dibawah batu.


Itu cukup sulit, karena celahnya yang benar-benar sempit. Namun Altair berhasil, dia keluar dari celah itu dengan selamat kemudian langsung bangun dan menoleh kebelakang saat...


Duakk..!!


Suara ketas terdengar ketika batu besar yang mengejar mereka itu menabrak batu yang menghalangi didepan nya, dan berjabak disana hingga tidak bisa mengejar lagi.


" Hufft..." itu benar-benar mendebarkan karena Altair tidak pernah punya musuh alami yang pernah ia temui selama ini. Bermain seperti ini sangat menyenangkan.


" Ini sangat menyenangkan, tidak sia-sia aku menerimanya...!!" yah, seperti itulah sisi pikiran Altair saat ini.


Ia pun kemudian segera bangkit dan sedikit menepuk pakaiannya yang kotor, ketika ia mengangkat kepalanya lagi... Ia sudah suguhkan dengan ekspresi teman-temannya yang menatapnya dengan ekspresi berbinar. Altair tersentak kaget melihat itu..


" A-Ada apa?" tanyanya agak canggung.


Saat kemudian Remilia langsung memeluknya, " Altair! Tadi itu benar-benar keren!" ucapnya dengan begitu bersemangat.


" Wuaa..!"


" Itu tadi benar-benar hebat, kupikir kau akan melompat melalui atas juga, karena itu aku terus melihat ke sana. Tapi tak kusangka kau muncul dari bawah, itu benar-benar mengejutkan!." bahkan Aksa juga sama bersemangat nya dengan Remilia.


Altair hanya tersenyum karena tidak tahu harus melakukan apa disana, teman-temannya terlihat senang jadi dia biarkan. Disisi lain... Dia yakin gurunya sedang mengomentasi tindakannya tadi dengan ekspresi riang, atau... semacamnya.


Sementara itu...


" Hatsyi!" Mira bersin ditempat nya dan sedikit mengusap hidungnya. " Hmm... Seperti nya muridku yang baik sedang memikirkan gurunya.." dia yakin dengan itu.